Child Of A Maid

Child Of A Maid
Bab 4


__ADS_3

Hari hari terus berlalu sampai ujian kenaikan kelas pun sudah terlaksana, setelah pengambila raport, Rilia dan teman temannya berkumpul dibawa pohon jambu biji, mereka juga memanjat pohon tersebut sambil memakan buahnya.


"Gimana hasil ujian kalian?". Tanya Ega.


"Lumayan bagus, tapi ngak bisa sampai ke peringkat 10 besar". Jawab Rilia acuh tak acuh.


"Aku malah peringkat 20, kamu sih masih mending Lia, daripada aku". Keluh Suci.


"Aku malah ngak tau, belom aku lihat, aku cuma lihat kalo sudah naik kelas gitu aja". Jawab Sony dengan santainya.


Mereka terus bercanda tawa, semuanya memanjat pohon milik orang, meskipun begitu mereka masih saja memanjatnya, karena lebatnya buah yang dihasilkan oleh pohon tersebut sehingga menarik perhatian dari Rilia dan teman temannya.


"Eh, Rilia aku dengar kamu sudah penyobek kertas jawaban dari Faliq, benar kah?". Tiba tiba Ega menanyakan hal tersebut kepada Rilia.


"Iya, kenapa?". Rilia menjawabnya dengan kesalnya.


"Itu ngak baik Lia, kan kasihan dianya harus menulis ulang setiap jawaban, emang kamu ngak dimarahin sama bapak ibu guru penjaga?".


"Biarin salah sendiri dia menyontek, emang siapa suruh dia mengangguku, kena marah sih, tapi ngak papa aku kuat kok hahaha.....". Jawab Rilia sambil cengengesan.


Teman temannya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Rilia, biar bagaimanapun Rilia tetap salah karena dia telah menyobek kertas ujian milik Faliq sehingga Faliq menulisnya ulang.


Setelah semuanya sudah kenyang karena memakan jambu mereka segera bergegas kesungai untuk mencari ikan, Rilia tak lupa membawa jaring, ikan ikan itu akan diberikan kepada anak itik milik Rilia sebagai makanannya, setelah ikan ikan itu terkumpul Rilia segera memberikannya kepada anak itik.


Tak beberapa lama kemudian mereka pulang kerumah masing masing, Rilia segera masuk kedalam rumahnya dan tidur dilantai karena dinginnya membuatnya menyukai itu, Rumah Rilia pun sangat sejuk meskipun kecil tetapi Rilia sangat bersyukur bisa tinggal ditempat itu.


Meskipun demikian, Rilia sering mendengar kedua orang tuanya bertengkar terus menerus, setiap malam Rilia selalu menangis ketika kedua orang tuanya saling beradu mulut sampai Rilia tertidur dengan airmata yang berlinang.


*****


Rilia bangun dari tidurnya, karena ia liburan sekolah sehingga ia tidak dibangunkan ketika pagi hari dengan suara ibunya yang terus berteriak, tiba tiba Rilia mendengar suara Bela didepan rumahnya hal itu membuat Rilia segera bergegas menuju suara itu.


"Ada apa Bel?". Tanya Rilia.


"Eh Lia, apa ayahmu masih jualan cilok? aku mau beli".


"Maaf Bel, ibuku belum membuatnya kalo pagi pagi gini, nanti siang kesinilah lagi, kalo jam segini belum ada". Jawab Rilia.


"Oh iya udah Lia, nanti aku kesini lagi".


"Iya".


Rilia kembali masuk kedalam Rumahnya, ia tidak menemukan keberadaan dari ibunya, ia bertanya kepada neneknya kemana ibunya pergi, neneknya berkata ibunya tadi pagi pagi sudah berangkat kesawah, ibu Rilia adalah seorang buruh tani sehingga ibunya pergi kesawah dipagi pagi.


"Kenapa aku tidak dibangunkan". Guman Rilia.


Siang harinya Rilia bermain dengan Ega, rumah Ega berada didepan rumahnya, Rilia terkejut ketika melihat Ega juga mempunyai anak itik yang sama seperti milik Rilia.


Ega mengajak Rilia untuk membawa anak itiknya menuju kesungai, karena seringnya diberi makan ikan membuat anak itik tersebut lulut dengan perkataan Rilia, Rilia menyetujui hal itu dan keduanya segera bergegas kesungai yang ada halaman belakang rumah keduanya.


Kedua anak itik tersebut begitu senang ketika dibawa kesungai untuk mencari makan, hingga siang harinya akhirnya keduanya mengajak anak itik itu kembali ke kandangnya, ketika Rilia mengajak anak itik itu kembali Rilia berjalan sambil mundur tanpa sengaja ia menginjak anak itik milik Ega sehingga membuat anak itik itu tewas seketika.


Ega sangat marah dan tidak terima kalau anak itiknya mati begitu saja, ia langsung mengambil anak itik Rilia dan membantingnya ditanah, Rilia tidak tinggal diam ia segera menarik tangan Ega dan mengambil anak itik miliknya dan membawanya pergi.

__ADS_1


"Lia, akan ku bunuh anak itikmu!!". Ancam Ega.


Rilia segera masuk kedalam rumahnya dan menutup semua pintu rumahnya tanpa terkecuali termasuk cendela rumahnya, ia menyembunyikan anak itik tersebut kedalam kamarnya dan menaruhnya didalam kardus.


Rilia begitu takut kalau anak itiknya sampai dibunuh oleh Ega sehingga ia menyembunyikannya dikamarnya, Ega terus memukul mukul pintu rumah Rilia karena ia tidak terima bahwa anak itiknya mati begitu saja, Rilia melakukan itu tanpa sengaja, kalau dia bisa mengulangnya kembali ia tidak ingin menginjak anak itik milik Ega.


Dari balik jendela kaca rumah Rilia, Rilia melihat Ega sedang membawa celurit untuk menakut nakuti Rilia yang berada didalam rumahnya, ibu dari Ega dan juga ibu dari Rilia sedang pergi kesawah untuk mencari uang, sehingga dirumah itu begitu sepi.


Ega terus melontarkan perkataan perkataan yang mampu membuat Rilia merasa marah, Rilia melihat sekeliling halaman Rumahnya dan menemukan sebuah kayu yang terbuat dari bambu cukup panjang, Rilia segera keluar dari rumahnya untuk mengambil kayu tersebut.


setelah itu terjadilah perkelahian antara keduanya, tetapi celurit ditangan Ega segera terlepas dari tangannya karena beratnya celurit tersebut, sehingga Rilia mempunyai kesempatan yang cukup banyak untuk memukul Ega.


Karena kurangnya keseimbangan sehingga Ega terjatuh ketanah karena kayu itu membuatnya terjatuh dengan kerasnya, Ega menangis dengan kerasnya karena ini, melihat Ega yang menangis membuat Rilia segera masuk kedalam rumahnya dan mengunci pintu rumahnya dengan erat.


Rilia memang dikenal dengan kenakalannya ketika ia masih kecil, ia adalah orang yang kalau marah terlihat begitu tegaan kepada teman temannya, ia juga sering berkelahi dengan teman laki lakinya, ketika berebutan jambu, menyobek kertas ujian, memukul temannya hingga menangis, dan banyak lagi.


Karena masa kecil adalah masa dimana belum mengenal apa itu yang baik dan apa itu yang buruk, bagi Rilia jika bisa membalaskan sakit hatinya itu adalah sesuatu yang menyenangkan, berbeda ketika ia tidak bisa membalas apa yang dilakukan oleh teman temannya kepadanya.


Suci adalah teman baik Rilia sejak kecil, karena ia selalu bersama jadi Suci sangat memahami bagaimana sikap Rilia, tetapi karena sikap Suci yang baik dan lemah lembut membuat keduanya tidak pernah berselisih satu sama lain, sehingga tidak ada masalah diantara keduanya, berbeda jauh ketika dengan teman yang lainnya.


Teman temannya lebih menyukai Suci daripada Rilia, karena Rilia memiliki watak keras kepala dan juga sangat suka berkelahi dengan mereka yang sering menganggunya, ia tidak akan segan segan untuk membalasnya.


Ibu Rilia sering berpesan kepada Rilia, siapapun yang menganggumu maka balaslah jangan ada kata takut agar dirimu tidak diinjak injak oleh mereka, jangan jadi pengecut yang selalu mengadu kepada kedua orang tuamu, begitulah pesan yang sering disampaikan oleh ibunya kepada Rilia.


Hari itu bagi Rilia adalah hari yang panjang karena ia menunggu ibunya pulang dari sawah, ia sama sekali tidak mau membukakan pintu rumahnya meskipun masih terdengar tangisan Ega yang mengelegar, jikalau Rilia keluar itu juga tidak baik, bisa saja Ega tiba tiba mencelakainya lagi.


Rilia terus memperhatikan jam yang ada didinding rumahnya, bagi Rilia tanpa melakukan apapun itu sangat mustahil bisa dilalui, sehingga ia lebih memutuskan untuk bermain dengan anak itiknya sampai tertidur dengan nyenyak, Rilia tidak pernah tidur siang sehingga siang itu Rilia langsung tertidur.


Tok tok tok


"Rilia buka". Tiba tiba terdengar suara ibunya yang menyuruhnya untuk membuka pintu itu.


"Iya bu sebentar". Rilia segera bergegas membukakan pintu.


Setelah pintu terbuka, nampak ibunya yang habis pulang dari sawah, ibunya menyodorkan segenggam buah ciplukan kepada Rilia, dengan senang hati Rilia langsung mengambil buah buah itu dan memakannya dengan lahap.


Buah ciplukan adalah buah yang bentuknya bundar seperti kelereng, rasanya seperti tomat tetapi lebih manis dan enak.


Dibungkus dengan kelopak buah yang imut, biasanya mudah dijumpai disawah sawah yang berada didesa, setiap kali ibunya habis dari sawah, ibunya selalu membawakan kadang kala ibunya membawakan buah pepaya yang diberi oleh pemilik sawah kepada ibunya.


Kehidupan didesa itu begitu menyenangkan, bisa berpetualang disawah, mencari ikan disungai, dan bahkan buah buahan diladang yang ada disawah, Rilia sangat senang ketika berada didesa tersebut.


Bukan hanya kehidupan didisa yang begitu menyenangkan, akan tetapi ada banyak hal yang belum pernah diketahui oleh orang orang kota mengenainya, seperti indahnya makan bersama, manjat pohon mangga ataupun anggur jawa (Juwet), apalagi mandi sungai.


Rilia menikmati enaknya buah ciplukan sendirian, meskipun dari luar terdengar orang yang tengah marah marah ngak jelas karena Rilia membuat Ega menangis.


"Ada apa Rilia?". Tanya Ibunya ketika mendengar suara itu.


"Maaf Bu, Rilia ngak sengaja membuat Ega menangis, salah sendiri dia membuatku marah, aku kan ngak sengaja nginjek anak itiknya terus dia mau membunuh anak itikku juga". Cerocos Rilia kepada ibunya.


"Bagus, jangan mau kalah, harus berani menghadapi kalo memang Rilia ngak salah, Rilia kan cuma ngak sengaja, Rilia sudah minta maaf kan?".


"Sudah Bu, tapi dia malah makin marah kepadaku".

__ADS_1


Rilia selalu ingat kata kata ibunya untuk tidak pernah mengalah kepada siapapun, agar dia tidak pernah dibully maupun menjadi kalah kalahan oleh yang lainnya.


Ibunya juga bilang 'Tidak papa berkelahi asalkan bukan anak Ibu yang memulai lebih dulu, jangan jadi pengecut yang hanya bisa berlindung dibalik orang lain untuk menjadi pemenang, tetapi jadilah pemberani yang berani melangkah dengan sendirinya' begitulah kata kata Ibunya yang selalu terdengar ditelinganya.


Rilia memang anak yang nakal tetapi senakal nakalnya dia, dia tidak pernah membuat masalah terlebih dahulu kepada orang lain, sebelum orang itu membuat masalah kepada Rilia.


Rilia adalah anak yang memiliki latar belakang sebagai anak buruh tani, kepribadiannya begitu sangat keras kepala dan selalu ingin menang sendiri akan tetapi memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat dan bijak.


*****


pada suatu hari yang cerah, Rilia sedang bermain dengan teman temannya disebuah gubuk yang ia buat, gubuk itu terbuat dari dedaunan pisang dan beberapa karung beras sebagai alasnya.


Hal sederhana seperti itu akan terlihat begitu menyenangkan bagi Rilia dan yang lainnya.


Rilia adalah anak yang cukup periang dan dikenal didesa tersebut, siapa sih yang tidak kenal Rilia? Karena sikap Rilia yang suka berjelajah dan periang diantara yang lainnya didesa itu sehingga banyak orang yang mengenal tentang Rilia.


Dan setiap ada kejadian yang menarik perhatian orang orang desa akan berkata 'Wah itu anaknya Mbak Sri, bikin masalah mulu' karena sikap Rilia yang seolah olah menjadi pimpinan dari anak anak desa membuatnya begitu terkenal didesa itu.


Bukan hal baru bila mendengar orang orang berteriak memanggil Ibunya hanya karena hal sepele yang dilakukan oleh Rilia, sehingga keluarga Rilia tidak terkejut sedikit pun karena tingkah anak mereka.


Ibunya bahkan sering mengurung Rilia dirumah akan tetapi Rilia selalu dapat lolos dari kurungan itu melalui cendela yang ada dikamarnya, meskipun cendela itu terlihat tinggi hal itu bukanlah halangan untuk Rilia yang sedang berusaha.


"Mari makan teman teman". Ucap Rilia sambil menyodorkan cemilan kepada teman temannya digubuk buatannya.


"Aku minta yang ini ya Rilia". Ucap Sony sambil menunjuk ke cemilan itu.


"Iya ambil aja, lagian beli ini juga pake uang tabunganku".


"Makasih Rilia".


"Iya, ayo yang lainnya ambil aja jangan sungkan sungkan".


"Iya Rilia". Jawab mereka serempak.


Digubuk kecil itu terdapat sekitar 7 orang anak yang namanya Sony, Ega, Puji, Tarno, Bayu, Pendik, dan Rilia sendiri, meskipun kecil akan tetapi itu muat dihuni oleh beberapa anak lagi, seperti biasa rata rata anak yang ada disitu adalah anak laki laki kecuali Rilia seorang.


Rilia merasa begitu bahagia karena dapat berkumpul dengan teman temannya, meskipun kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama karena pertengkaran Ibu dan Ayahnya yang selalu membuat Rilia menangis dikala malam hari.


Apalagi setelah ayahnya mendapatkan pekerjaan baru hal itu membuat Rilia merasa Ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaannya daripada bercanda gurau dengan Rilia.


Rilia tidak mau memikirkan hal yang dapat membuatnya menangis disaat ini karena akan mendapatkan bully an dari teman temannya karena gadis yang selama ini begitu tegar tiba tiba nangis, hal itulah yang tidak disukai olehnya.


"Oh iya teman teman, ini sudah hampir sore ayo pulang, nanti kita ketemu ditempat ngaji ya". Ucap Rilia yang menyadarkan teman temannya bahwa waktu sudah mendekati sore.


Teman temannya pun setuju dengan Rilia, mereka segera berpisah sampai disini untuk bersiap siap pergi mengaji, mereka tidak ingin mendapatkan hukuman dari Ustadzah karena telat dalam berangkat mengaji.


Rilia dan teman temannya segera meninggalkan tempat itu dan menuju kerumahnya masing masing untuk bersiap siap pergi mengaji.


Kini gubuk yang tadinya ramai mendadak berubah menjadi sepi karena ditinggalkan oleh pemiliknya untuk pergi mengaji.



~~~Jangan Lupa Mampir Juga Dikarya Pertamaku 'Apa Salahku Pa' Ya Teman Teman~~~

__ADS_1


~~~See You~~~


__ADS_2