Child Of A Maid

Child Of A Maid
Bab 12


__ADS_3

Rilia terbangun dari tidurnya karena suara dari Ibunya yang terlihat begitu gelisahnya, Rilia segera bangkit dari tidurnya dan menghadap kearah Ibunya, Ibunya tiba tiba menyuruhnya untuk mandi dan membersihkan tubuhnya.


"Ada apa Bu? Kenapa terlihat seperti itu?". Tanya Rilia dengan penasarannya.


"Mbah nyaimu tiada Nak".


"Hah? Kapan itu Bu?". Ucap Rilia yang terkejut karena Mbah nyai yang dimaksud oleh Ibunya adalah Ayah dari Nadia, Ayahnya adalah adik kandung dari Nenek Rilia.


"Baru saja Nak".


Tak beberapa lama terdengar suara siaran di spiker masjid mengenai kematian dari Ayah Nadia, Rilia tidak menyangka bahwa pagi tadi adalah terakhir kalinya dirinya bertemu dengan Ayah dari Nadia.


Seketika Rilia teringat tentang pertengkaran antara anak dan ayah tersebut yang terjadi kepada Nadia dan Ayahnya ketika Rilia main kerumah Nadia, sedangkan Nadia meminta uang jajan kepada Ayahnya.


"Bu beneran Ayah Nadia sudah tidak ada?". Tanya Rilia yang masih ragu dengan siaran yang ada dimasjid depan rumah Nadia, tempat Rilia menimba ilmu di TPQ Baiturrahman.


"Iya Nak, ayo kesana untuk bertakziah". Ajak Ibunya.


Rilia segera bergegas untuk membersihkan tubuhnya, dan bersiap siap untuk berangkat ke rumah Nadia lewat jalan setapak yang ada dibelakang rumahnya dan jalan tersebut dikelilingi oleh sawah sawah yang cukup luas.


Rilia dengan cepatnya segera bergegas menuju kerumah Nadia, meskipun keduanya berjalan diantara teriknya matahari yang sangat menusuk kedalam tulangnya.


Sesampainya disana Rilia segera bergegas menuju ketempat dimana Nadia sahabatnya berada, Nadia segera memeluk sahabatnya itu dengan menyembunyikan isak tangisnya didada Rilia.


"Yang sabar ya Mbak Nad, kata Pak Ustadz kita harus mengikhlaskan kepergiannya supaya Ayah kamu diberi kelancaran ketika berjalan menuju jembatan shiratal mustaqim".


Jembatan Shiratal Mustaqim adalah titian yang akan dilalui oleh setiap umat Islam di hari akhir. Setiap Muslim akan melewati titian ini setelah ditimbang amal dan perbuatannya semasa hidup.

__ADS_1


Jembatan itulah yang akan menentukan hukuman yang akan kita dapatkan karena perbuatan kita ketika masih berada dialam dunia, disanalah orang orang banyak yang gagal untuk mencapai puncaknya dan hanya orang orang yang berhati baik yang bisa melaluinya dengan mudah.


Nadia terus saja menangis dan mencurahkan segala isi hatinya kepada Rilia, Rilia yang melihat itu hanya bisa berdiam diri untuk menahan air matanya yang terus memberontak untuk lepas dari pelupuk matanya, melihat temannya yang menangis seperti itu membuat Rilia ikut menangis tersedu sedu.


Melihat tangisan Nadia, Rilia kembali teringat tentang pertengkaran yang terjadi antara Ibu dan Ayahnya disetiap malam hari sehingga membuatnya sering menangis tanpa suara didalam kamarnya.


Kisah hidup seseorang telah tercatat dengan rapinya di lauhul mahfud sehingga tidak ada orang yang mampu menghindari apapun yang telah ditakdirkan untuk mereka, dan Allah berkata jadi maka jadilah.


Yang bisa kita lakukan hanyalah pasrahkan segalanya kepada Allah dan berusaha sebisa mungkin untuk melakukan yang terbaik yang kalian bisa, pasrah bukan berarti menyerah kepada takdir melainkan berusaha semaksimal mungkin membuktikan bahwa Allah maha segalanya dan Allah tidak akan merubah nasib seseorang sebelum orang itu merubah nasibnya sendiri.


Rilia mampu merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Nadia saat ini, kehilangan sosok seorang yang ia sayangi adalah hal yang paling menyakitkan yang lukanya tidak akan mudah untuk disembuhkan apalagi dihilangkan walaupun dalam waktu yang cukup lama.


Mereka tidak akan mampu merasakan apa yang sedang kamu alami saat ini, tidak ada yang mengetahui kecuali dirimu sendiri, seberapa berat luka tersebut, akan jauh lebih berat untuk menyembunyikannya.


"Aku tidak menyangka Ayah akan pergi secepat ini Li". Ucap Nadia sambil sesenggukan.


Meskipun Rilia masih tinggal bersama dengan keluarganya akan tetapi kehangatan keluarga sudah tidak lagi ia rasakan yang ada hanyalah dirinya yang terus saja bosan berada dirumah dengan kebisingan pertengkaran yang terjadi antara Ibu dan Ayahnya.


Memang akan terlihat simpelnya tentang pertengkaran itu bagi mereka, akan tetapi bagi seorang anak, mereka akan merasakan bahwa keluarganya sudah tidak sama lagi seperti dulu dan mereka tidak menyukai jika terus terusan berada dirumah.


Rilia sudah tidak kuat lagi untuk melihat temannya yang menangis seperti itu, Rilia pun memutuskan untuk menjauh dari temannya untuk sementara sampai air mata yang ada dipelupuk matanya berhenti untuk mengalir.


Rilia berjalan menuju ketempat yang cukup sepi disekitar rumah Nadia, tak beberapa lama disusul oleh sahabat Rilia yang bernama Vina, Vina melihat Rilia yang menghindar dari keramaian sehingga membuat Vina mengikutinya.


"Ada apa Li?". Tanya Vina yang membuat Rilia sangat terkejut.


"Ngak apa apa, kenapa kamu disini?". Tanya Rilia balik kepada Vina yang tiba tiba muncul dibelakangnya.

__ADS_1


"Ngak apa apa juga, kenapa kamu menangis?".


"Ngak ada, mungkin kamu salah lihat kali". Ucap Rilia menghapus air matanya yang belum menetes.


Rilia tidak ingin terlihat lemah dihadapan teman temannya meskipun itu adalah sahabatnya sendiri, Rilia tidak pernah menceritakan apa yang terjadi kepadanya kepada siapapun kecuali Ibunya sendiri.


Sehingga sosok yang paling dekat dengannya adalah Ibunya, meskipun tanpa bercerita sosok Ibu akan selalu mengerti tentang perasaan anaknya hanya dengan menatap wajah yang anak, akan tetapi tidak semua anak mampu mengerti tentang orang tuanya.


Orang tua rela mengorbankan nyawanya hanya demi anaknya akan tetapi sang anak belum tentu mampu dan peduli tentang orang tuanya, orang tua membesarkan anak anaknya hingga mereka sukses akan tetapi setelah anaknya sukses anaknya bahkan tidak mampu untuk menjaga orang tuanya.


Orang tua akan mengantarkan anaknya kedepan pintu dunia yang sangat luas, akan tetapi anak anaknya yang telah sukses kebanyakan mengantarkan orang tuanya kedepan pintu panti dan lain lainnya tanpa mempedulikan perasaan orang tuanya.


"Sebenarnya aku juga sedih melihatnya menangis seperti itu, tapi kita juga tidak bisa berbuat apa apa untuk membuatnya tertawa". Ucap Vina yang membicarakan Nadia.


"Kau benar Vin".


"Lalu apa yang harus kita lakukan Li? Apa kau sama sekali tidak mempunyai ide untuk hal itu? Kau kan paling pintar untuk membuat orang lain tertawa".


"Rasanya ide ku sudah mentok deh Vin, udah tidak bisa mikir lagi".


"Harus bisa Li, kita juga tidak bisa tinggal diam melihat Nadia menangis seperti itu bukan?".


"Iya juga, tapi bantu mikir lah! aku benar benar tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini". Ucap Rilia dengan kesalnya kepada Vina, Rilia sendiri bahkan tidak punya ide yang bagus untuk membuat Nadia tertawa lagi.


"Kau benar, aku juga tidak punya ide untuk hal itu".


Keduanya hanya bisa saling berpandangan sambil memikirkan tentang ide yang akan mereka jalankan untuk membuat Nadia tertawa kembali seperti sebelumnya meskipun tawa tersebut tidak mencerminkan perasaan Nadia saat ini.

__ADS_1


...Jangan lupa like dan dukungannya ...


__ADS_2