
Sampainya dirumah, Rilia segera membaringkan tubuhnya diranjang yang ada didalam kamarnya, Rilia merasa begitu kelelahan karena berjalan cukup jauh disaat tubuhnya dalam kondisi yang kurang baik.
hal itu menyebabkan Rilia kembali memuntahkan seluruh isi perutnya, ada setetes darah yang ikut keluar dari dalam mulutnya hal itu membuat dadanya terasa begitu sakit akan tetapi Rilia tidak ingin menceritakan hal itu kepada Ibunya.
Rilia segera mengusapi darah yang ada diujung bibirnya, dan ketika Ibunya masuk kedalam kamarnya, Rilia kembali bersikap seolah olah dia telah baik baik saja, dan mulai bangkit dari tempat tidurnya.
"Bu, aku ingin buat kuenya sekarang, ayo Bu".
"Tapi Nak, kamu kan masih sakit, bagaimana kalau besok saja kalo sudah benar benar sembuh?".
"Ngak mau, aku maunya sekarang Bu, Rilia merasa sangat ingin memakan kue buatan Ibu, Rilia mohon Ibu buatkan ya".
"Ya sudah, Ibu belanja dulu keperluannya, kamu ngak papa kan dirumah sendiri?".
"Aku ngak papa kok Bu, Ibu jangan khawatirkan aku".
"Bagaimana Ibu tidak khawatir kalau anaknya sedang sakit seperti ini".
"Kan Rilia sudah sembuh, besok juga pasti sudah boleh masuk sekolah, apa Ibu tidak mempercayai ucapan Rilia?".
"Bukan begitu Nak, Ibu selalu percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rilia kok, Rilia kan jujur anaknya ngak mungkin Rilia berbohong kepada Ibunya kan".
"Iya Ibu, aku berjanji kepada Ibu, bahwa Rilia tidak akan mengucapkan kata kata bohong kepada Ibu, sekarang dan untuk selamanya". Ucap Rilia sambil tersenyum kearah Ibunya.
Setelah itu Ibunya memutuskan untuk meninggalkan Rilia dirumah sendirian karena ia akan pergi berbelanja keperluan untuk membuat roti kesukaan Rilia, hanya roti buatan Ibunya lah yang mampu menarik minatnya.
Setalah kepergian dari Ibunya, Rilia segera menjatuhkan dirinya diatas ranjang kamarnya, ia menatap kearah langit langit kamarnya seakan akan semuanya sedang bergetar hebat, sementara dadanya terasa sedikit nyeri karena muntahnya keluar darah segar.
"Apa yang terjadi padaku?". Guman Rilia sambil memegangi dadanya yang sedikit nyeri.
Rilia mencoba memejamkan matanya demi menghilangkan rasa sakit yang ia rasakan saat ini, ia memejamkan kedua matanya seakan akan sedang tertidur dengan nyenyaknya akan tetapi dirinya sedang merasakan sakit yang ia rasakan saat ini.
Tak beberapa lama kemudian Rilia kembali membuka kedua matanya saat ia mendengar seseorang sedang membuka pintu rumahnya, tak beberapa lama Ibunya akhirnya masuk kedalam kamar Rilia.
Rilia kembali tersenyum kepada Ibunya dan bersiap siap untuk berdiri karena dirinya ingin membantu Ibunya untuk membuat kue siang ini meskipun dengan menyembunyikan rasa sakit yang ia alami, ia tidak ingin membuat Ibunya kembali khawatir dengan kondisinya apalagi setiap malam kedua orang tuanya sering bertengkar dan berujung Ibunya yang menangis.
Rilia melihat Ibunya yang tengah mengaduk adonan kue untuk dirinya dengan tatapan yang tidak teralihkan kepada hal lain, seakan akan hal yang ia lihat saat ini tidak akan pernah terjadi lagi kepada dirinya.
"Kenapa aku merasa sangat sedih ketikan melihat Ibu membuat adonan kue seperti ini". Batin Rilia.
Rilia menyentuh lehernya dan merasakan bahwa panas tubuhnya kembali meningkat, akan tetapi dirinya tidak ingin mengatakan hal itu kepada Ibunya, Rilia justru langsung menidurkan tubuhnya dikasur dekat dengan dapurnya.
Kepalanya yang pusing mulai menyerangnya lagi tanpa rasa ampun, sehingga ia memutuskan untuk membaringkannya tidurnya kalau terus terusan duduk Rilia tidak mampu untuk tetap menahan rasa sakit yang ia alami.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya adonan kue berhasil dibuat, ketika Ibunya hendak menuangkan adonan kue tersebut kedalam cetakannya masing masing, Rilia segera duduk disamping Ibunya.
"Biar Rilia bantu Bu".
"Emang kamu bisa Nak? Kan Rilia lagi sakit".
"Bisa Bu, kan Rilia sudah bilang kalau Rilia saat ini sudah sembuh besok pasti sudah bisa sekolah".
Rilia segera mengambil alih sendok yang digunakan oleh Ibunya untuk menuangkan adonan kue kedalam cetakannya, dengan hati hati Rilia melakukan itu agar adonan kuenya tidak tumpah berceceran dilantai rumahnya.
__ADS_1
Setelah selesai menunaikan adonan kedalan cetakan, Ibunya langsung memasukkan adonan itu kedalam panci untuk dikukus biar kuenya mengembang dan matang, tak beberapa lama kemudian akhirnya kue kloter pertama akhirnya telah matang dan siap untuk dinikmati.
Rilia segera menaruh kue tersebut kedalam piring kecil yang telah ia siapkan sejak tadi, dengan sebatang sendok disebelahnya, Rilia langsung menikmati kuenya dalam keadaan panas karena baru saja keluar dari panci.
"Bu, kuenya enak banget, Rilia suka".
"Benarkah? ya udah Rilia makan biar perut Rilia ada isinya karena dari kemaren Rilia muntah muntah mulu, setelah itu minum obat".
"Iya Bu, tapi Rilia ngak suka obat, ngak enak, pahit".
"Rilia cepat sembuh biar ngak minum obat lagi Nak".
"Rilia kan memang sudah sembuh, kenapa harus minum obat terus".
"Buat menjaga stamina tubuh juga Nak".
Rilia memang sangat membenci rasa obat, karena tanpa dihaluskan Rilia tidak mampu untuk meminumnya dalam keadaan utuh, hal itu membuat Rilia sangat membenci obat bagi Rilia lebih baik dia disuntik daripada harus minum obat.
Jika Rilia akan minum obat, ia harus menangis dan berdebat lebih dulu dengan Ibunya baru dia akan mau meminumnya walaupun dengan keterpaksaan karena Rilia tidak mampu berdebat terlalu lama dengan Ibunya.
Rilia terus melanjutkan makannya walaupun rasa mual selalu menyelimutinya akan tetapi ia tidak ingin mengeluarkan kue buatan Ibunya dengan sia sia, dan Rilia terus melanjutkan makannya, ia juga minum wedang gula sebagai pelengkap dari makanannya.
Rilia tidak suka minum teh kalau tidak hangat, karena Rilia akan merasa mual jika minum teh apalagi teh yang dingin dan terlalu manis hal itu membuat mualnya kembali tercipta.
Setelah itu keringat Rilia bercucuran pertanda bahwa penyakitnya sebentar lagi akan keluar dari tubuhnya, badan Rilia teras sedikit ringan daripada sebelumnya, hal itu membuat Ibunya merasa senang karena anaknya mulai sembuh.
Penyakit jika dirasakan akan membuat tubuh menjadi lebih sakit daripada sebelumnya, akan tetapi jika ada tekat untuk dapat sembuh pasti akan sembuh dengan keajaiban dari Allah Tuhan semesta alam.
Ibunya mendatangi Rilia sambil membawakan dia obat, hal itu membuat Rilia membulatkan matanya ketika melihat itu, Rilia segera bersembunyi dibalik selimut yang ia pakai sebelumnya agar Ibunya tidak memaksa Rilia untuk meminumnya.
"Ngak mau, obatnya pahit".
"Kalau ngak minum obat besok ngak bisa masuk sekolah".
"Ngak mau!". Rilia terus menggeleng gelengkan kepalanya dibalik selimut tersebut, ia tidak mau meminum obat karena obat itu terlalu pahit baginya.
Tiba tiba Rilia mendengar suara isak tangis dari Ibunya karena Rilia tidak mau minum obat, hal itu membuat Rilia segera membuka selimutnya untuk melihat keadaan Ibunya, akan tetapi setelah ia membukanya ia menemukan Ibunya beada dekat dengannya sambil menyodorkan sendok yang ada obatnya kepada Rilia.
"Rilia ngak mau!". Rilia kembali masuk kedalam selimutnya.
Tiba tiba terdengar isak tangis dibalik selimutnya, Rilia sedang menangis karena ia tidak mau untuk meminum obatnya, Rilia sangat takut dengan yang namanya obat apalagi obat itu sangat pahit dan terus membekas didalam lidahnya.
"Ayolah Nak, dikit saja, nanti keburu wedang gulanya dingin lo, sekali tegukan saja". Bujuk Ibunya.
"Ngak mau Bu, obatnya pahit, Rilia ngak suka".
"Dikit aja Nak, cuma satu tegukan saja, setelah itu langsung minum wedangnya".
"Ngak mau Bu, Rilia ngak suka dipaksa paksa, obat itu ngak enak".
"Kalo Rilia ngak mau minum obat nanti di suntik dokter lo, malah tambah sakit".
"Ya mending disuntik Bu, jadi tidak terasa pahit".
__ADS_1
"Dikit aja, nanti Rilia mau apa, Ibu akan turutin deh".
"Beneran?".
"Iya kalau Rilia mau minum obat".
Rilia terdiam diri didalam selimutnya sambil memikirkan keinginannya, tak beberapa lama kemudian akhirnya Rilia membuka selimutnya dan mau minum obat yang super pahit itu dengan sekali tegukan saja dan langsung sesegera mungkin untuk meminum wegang gula yang manis.
"Rilia boleh minta sesuatu?". Tanya Rilia dengan antusias.
Sesuai persyaratan sebelum ketika Rilia mau meminum obat Ibunya akan mengabulkan satu keinginannya, dan sekarang Rilia menagihnya.
"Rilia minta apa? kalau Ibu bisa, Ibu akan kabulkan".
"Berikanlah Rilia waktu satu hari saja untuk malam ini Bu, Ayah dan Ibu jangan bertengkar lagi demi Rilia malam ini, Rilia ingin kalian damai lagi seperti dulu, kata Ibu guru kalau musuhan nanti Allah marah, hanya satu hari saja, Rilia ingin tidur nyenyak malam ini".
"Soal itu....".
"Apa Ibu tidak mau mengabulkan keinginan Rilia malam ini? Rilia mohon pada Ibu, Rilia ingin tidur dengan damai kali ini, Ibu kan sudah janji kalau aku mau minum obat, Ibu akan mengabulkan satu keinginan Rilia".
"Baiklah, Ibu akan coba malam ini ya Nak, tapi Rilia harus janji jangan sakit sakit lagi".
"Rilia janji sama Ibu, Rilia akan segera sembuh agar bisa bersekolah lagi dengan teman teman".
Ibunya langsung memeluk tubuh Rilia, hal itu membuat Rilia merasa begitu hangat didalam pelukannya itu, Rilia ingin sekali meneteskan air matanya akan tetapi Rilia tidak mau Ibunya sampai melihat dirinya menangis.
Malam ini benar benar terjadi, Ibu dan Ayahnya sama sekali tidak bertengkar hal itu membuat batin Rilia merasa senang karena Ibunya telah menuruti keinginannya agar Rilia bisa tidur dengan nyenyak untuk malam ini saja.
Bulan dan bintang seakan akan tengah tersenyum kepadanya dengan memancarkan cahaya yang bergemerlapan ditengah tengah kegelapan malam yang sunyi dan begitu damai untuk Rilia karena tidak adanya pertengkaran yang terjadi dimalam ini atas permintaan Rilia kepada Ibunya.
Tanpa Rilia sadari bahwa janji tersebut akan menyerangnya sendiri suatu saat nanti, dan dirinya akan terperosok dalam sebuah lubang yang paling dalam karena janjinya tanpa dirinya sadari, Rilia mengucapkan janji itu hanya semata mata dirinya ingin melihat kedua orang tuanya berdamai akan tetapi ia tidak mengetahui akibat dari janji tersebut.
Karena usianya yang masih dikatakan usia anak anak, sehingga dirinya tidak mampu memikirkan sebab dan akibat yang akan ditimbulkan dari tindakannya.
Rilia adalah seorang anak yang selalu menepati janjinya, ia tidak pernah mengingkarinya karena sejak kecil dirinya selalu diajarkan oleh Ibunya untuk bisa menepati janjinya dan tidak pernah mengingkarinya walaupun dengan hal sekecil apapun itu Rilia harus bisa menepatinya.
"Hanya ada waktu sehari untuk berdamai dengan suatu keadaan, apa besok akan kembali seperti semula lagi". Guman Rilia sambil menatap indahnya malam yang bertaburkan bintang bintang dilangit malam.
Kedamaian itu membuat Rilia mampu tidur dengan nyenyaknya seakan akan tidak ada hal yang perlu dipikirkan lagi, Rilia tidur dengan senyuman yang terpancar dari wajahnya yang mungil itu sehingga ketika Ibunya masuk kedalam kamarnya, Ibunya merasa begitu damai ketika melihat Rilia sedang tertidur.
"Ibu sudah menuruti keinginan Rilia malam ini, cepat sembuh sayang jangan membuat Ibumu ini khawatir dengan keadaanmu seperti ini, meskipun tanpa dirimu mengatakan, Ibu mampu merasakan apa yang kamu rasakan Nak, maafkan Ibu, karena Ibu belum bisa menjadi orang tua yang baik untuk Rilia, Ibu akan berusaha untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya hanya untuk Rilia seorang". Ucap Ibunya pelan ditelinga Rilia dan dapat terdengar sebuah isak tangis dari ucapan tersebut.
Ibunya mengatakan hal itu sambil mengusap kepala Rilia dengan pelan, sebenarnya Rilia belum benar benar tertidur sehingga Rilia masih mampu mendengar apa yang dikatakan oleh Ibunya malam itu, usapan tangan Ibunya membuat Rilia merasa begitu tenang.
Setelah kepergian Ibunya dari kamarnya, Rilia tiba tiba meneteskan air mata dengan begitu derasnya meskipun dalam keadaan kedua matanya tengah terpejam, didalam hatinya Rilia merasa senang dengan ucapan Ibunya yang seakan akan tengah mengalirkan sebuah cinta yang begitu damai didalam dirinya.
Tetapi Rilia juga sedih karena adanya isak tangis dari wanita yang begitu ia sayangi itu, air matanya tidak mampu ia kontrol lagi dengan leluasa air itu mengalir dipelupuk matanya, ini adalah sebuah keinginan Rilia, agar mereka mampu berdamai dengan malam untuk saat ini.
Tanpa Rilia sadari bahwa ada sebuah hati yang tengah menangis dimalam yang damai itu, itu adalah hati dari Ibunya Rilia, ia menangis karena melihat suaminya tidak sama lagi seperti dahulu akan tetapi ia tidak berdaya untuk memarahi suaminya itu karena tengah mengingat sebuah janji yang ia ucapkan untuk Rilia siang ini.
Ia ingin memberikan satu malam yang damai seperti yang diinginkan oleh Rilia kepadanya meskipun harus melukai hatinya sendiri, ia juga teringat dengan janjinya kepada Rilia bahwa dirinya akan berdamai hanya untuk malam ini saja.
Meskipun hal itu begitu berat baginya akan tetapi ia harus melakukan hal itu hanya demi anaknya, seorang Ibu akan melakukan apapun hanya untuk membuat anaknya merasa bahagia meskipun harus dengan menyiksa batinnya sendiri.
__ADS_1
Apapun akan dia lakukan agar mampu menciptakan sebuah tawa diwajah anaknya, dia bahkan rela mengorbankan nyawanya asal anak anaknya selalu hidup bahagia dan tidak mengalami nasib yang sama seperti yang ia alami saat ini.
Sementara itu Ayah Rilia sangat tidak mempedulikan bagaimana perasaan Ibu Rilia saat ini, dengan seenaknya dia ber chatingan dengan seseorang dihpnya, sakit hati? iya, Ibu Rilia merasa sakit hati dengan sikap suaminya akan tetapi dirinya masih berada didalam janji yang ia buat kepada anaknya sehingga ia lebih memilih untuk membiarkannya.