Child Of A Maid

Child Of A Maid
Bab 8


__ADS_3

Rilia masih bersembunyi dibalik Ibunya, dirinya sangat takut untuk menatap wajah seseorang yang ada dihadapan keduanya saat ini, wajah itu terlihat begitu menakutkan bagi Rilia yang masih anak anak.


"Tolong Mbak, jangan marah marah seperti itu pada anak kecil, itu ngak baik, iya saya tau Rilia sa....".


"Rilia ngak salah Bu".


Sebelum Ibunya menyelesaikan perkataannya, Rilia segera menyahutinya, ia tidak ingin mengakui kesalahannya itu, dan bagi Rilia, Rilia tidak melakukan kesalahan dalam hal itu.


"Lalu salah siapa?". Tanya orang itu dengan nada yang sedikit lebih tinggi daripada sebelumnya.


"Salah anak ayammu sendiri". Ucap Rilia dengan songongnya.


"Bagaimana bisa jadi salah anak ayamku? Emang mereka bisa manjat pohon dan gantung diri sendiri? Yang benar saja!". Ucap orang itu tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Rilia dan juga cara Rilia mengatakannya membuat dirinya merasa tersinggung.


"Ya iya lah, kalo ngak niat memelihara ayam tuh ngak usah dipelihara, bikin rusuh aja, salah sendiri anak ayammu masuk kerumah, siapa suruh dia masuk, pake acara berak didalam lagi". Ucap Rilia dengan mengutarakan seluruh isi hatinya.


Rilia sangat marah ketika ada anak ayam yang masuk kedalam rumahnya apalagi sampai meninggalkan kotoran dirumahnya sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap didalam rumah, hingga akhirnya Rilia menangkap satu persatu anak ayam itu dengan mengunci pintunya agar anak ayam itu tidak keluar dari rumahnya.


Setelah menangkap semua anak ayam itu, Rilia segera mengikat lehernya dan menggantungkannya dipohon, meskipun awalnya Rilia dikejar kejar oleh induk dari anak ayam tersebut akan tetapi setelah dirinya memanjat pohon induk tersebut tidak mampu mengejarnya.


"Kau!! Mbak kalo ngak bisa mendidik anak itu bilang Mbak, anak ngak ada sopan sopannya bukannya dimarahi malah diam saja". Ucap orang itu yang kehabisan kata kata untuk menyahuti ucapan Rilia akhirnya dia lebih memilih untuk memarahi Ibunya.


"Mbak, apa hak anda meragukan didikanku? Keluarga saja tidak, seharusnya Mbak sendiri yang ngaca! apa Mbak sudah merasa paling benar disini sekarang? Saya ngak terima Mbak kalau sampai didikan saya diragukan seperti ini". Ucap Ibu Rilia dengan tegasnya.


"Ibuku ngak salah, salahmu sendiri kalo mau peliharaan ayam itu ditaruh dalam kurungan, bukan dilepaskan". Ucap Rilia dengan kesalnya dan sedikit mengejek orang yang ada didepannya meskipun masih bersembunyi dibalik punggung Ibunya.


"Kamu!!". Ucap orang itu sambil mengepalkan tangannya kearah Rilia.


"Wek...". Ejek Rilia sambil menjulurkan lidahnya.


"Awas saja nanti kamu ya". Ucap orang itu dengan geramnya.


"Aku ngak takut wekkkk...". Tingkah mengejek Rilia semakin menjadi jadi kepada orang yang ada didepannya itu.

__ADS_1


Meskipun dengan nada mengejek, Rilia tidak merasa bersalah sedikitpun karena apa yang dia lakukan hanyalah karena ayam tersebut yang masuk kedalam rumahnya apalagi sampai masuk kedalam kamarnya.


Kamar Rilia hanya tertutup oleh tirai kain dan tidak diberi pintu kayu sehingga dengan leluasa ayam tersebut masuk kedalam kamarnya hingga membuang kotoran didalamnya, hal itu membuatnya begitu sangat marah dengan ayam tersebut.


Dengan keadaan marah, tetangga Rilia pergi dari tempat itu walaupun dengan mulut yang tidak berhenti untuk mengomel, sementara Ibunya hanya bisa diam karena tingkah anaknya kali ini yang membuat dirinya ribut dengan tetangga sebelah rumahnya.


"Nak, lain kali ngak boleh begitu ya, ngak baik". Ucap Ibunya.


"Habis orang itu nyeselin, udah tau anak ayamnya yang salah masih saja marah sama Ibu". Ucap Rilia sambil menajukan bibirnya dengan cemberut.


"Lain kali jangan diulangi perkataan perkataan seperti itu".


"Kan Ibu juga yang mengajarkan kepadaku kalo jangan mau ditindas oleh orang lain, Rilia hanya melakukan apa yang Ibu perintahkan kepadaku saja, biar tetangga tetangga tidak semena mena kepada kita". Ucap Rilia merasa bersalah kepada Ibunya.


Sejak kecil Rilia diajarkan oleh Ibunya bahwa tidak pernah merasa takut selama kita benar, tetap pada pendiriannya sendiri dan tidak akan tumbang hanya karena pendapat orang lain kepada hidupnya.


Rilia juga tidak diajarkan untuk tunduk kepada orang lain meskipun Rilia umurnya beda jauh dari orang lain, selama orang lain mampu menghormatinya maka dirinya akan jauh lebih hormat kepada mereka.


Rilia adalah gadis pemberani diantara teman temannya, Rilia anak yang sangat aktif dalam kegiatan kegiatannya selama ini dan begitu sangat dikenal di seluruh penduduk desanya karena kenakalannya dan juga memimpin teman temannya untuk melakukan hal hal yang membuat para orang tua merasa marah kepada anak mereka masing masing.


Jika ditanya siapa biang keroknya, mereka akan menjawab Rilia lah orangnya, Rilia tidak pernah tunduk kepada orang lain kecuali Ibu dan guru ngajinya akan tetapi dirinya sering membuat guru disekolahnya sampai kewalahan menghadapi sikap Rilia.


Banyak sekali hal hal yang dilakukan oleh Rilia dikelasnya seperti menyobek kertas ujian milik temannya, istirahat sebelum waktunya, bahkan pernah mengajak temannya untuk membuat kerusuhan dikelas dan masih banyak lagi sehingga membuat gurunya begitu pusing menghadapi sikap Rilia.


Didalam pikirannya, dirinya diselimuti oleh keheningan disetiap tempat yang ia datangi dan perasaan sedih yang begitu luar biasa dalamnya karena pertengkaran yang terjadi dirumahnya sehingga dirinya lebih mengapresiasikannya kepada lingkungan sekitarnya.


Meskipun dibalik sikap nakalnya, Rilia memiliki hati yang begitu baik dan kasih sayang yang cukup luas kepada teman temannya sehingga dirinya disukai oleh teman temannya karena sikapnya tersebut.


Ibunya tersenyum kearah Rilia, ia tidak menyangka bahwa ucapannya itu benar benar dilakukan oleh Rilia saat ini, Ibunya menyuruh Rilia untuk masuk kedalam rumahnya karena waktu tidur siang sudah tiba.


Rilia pun menuruti apa kata Ibunya dan langsung masuk kedalam kamarnya untuk tidur siang..


*****

__ADS_1


Siang ini disekolah Rilia, Rilia sedang duduk dibangkunya sendirian karena sahabatnya Suci tidak masuk kesekolah, tak henti hentinya dirinya terus menatap kearah jam dinding yang ada didepan untuk menantikan bel pulang sekolah.


Dirinya begitu bosan kali ini, karena Sahabatnya tidak masuk kesekolah, bermain dengan teman laki lakinya pun tidak seasik ketika bersama sahabatnya.


"Kamu kenapa Rilia? Kenapa tidak bersemangat sekali hati ini?". Tanya Bayu kepada Rilia.


"Aku bosan". Jawab Rilia dan langsung menjatuhkan dirinya dibangkunya.


"Eh Rilia, mangga belakang sekolah berbuah lo, ayo kita ambil bersama sama". Ucap Puji dengan semangatnya.


"Benarkah?". Tanya Rilia yang langsung mengangkat kepalanya dengan tegapnya.


"Yoi man".


"Ayo kesana". Ajak Rilia dengan semangatnya.


Rilia segera berjalan menuju belakang sekolahnya dan diikuti oleh teman temannya dari belakang, ketika dirinya sampai dibelakang sekolah tersebut ia dihadapkan dengan pagar sekolah yang cukup tinggi didepannya.


"Bagaimana sekarang?". Tanya Puji.


"Bagaimana lagi selain manjat pagar". Ucap Rilia dengan santainya sambil menatap kearah Puji.


"Tapi kita cewek Rilia, bagaimana bisa manjat pohon mangga setinggi ini". Ucap Suci yang nampak ragu dengan ide yang diberikan oleh Rilia.


"Kita memang tidak akan memanjatnya sendiri, lalu apa gunanya ada cowok cowok ini Ci? Kalau mereka tidak bisa memanjatnya".


"Kenapa jadi kami yang harus memanjatnya?".


"Lalu kalau bukan kalian siapa lagi? Apa aku yang harus memanjatnya? Aku kan pakai rok pendek masak iya bisa memanjat pohon setinggi ini".


"Yaudah yaudah biar kami saja, untung kami anak yang sabar". Sela Bayu.


"Iya buruan lah, keburu ada guru yang masuk kekelas". Ucap Rilia sambil mendorong dorong tubuh temannya itu.

__ADS_1


Dua anak teman laki lakinya hanya bisa pasrah dengan ucapan Rilia, akhirnya keduanya segera memanjat pohon mangga tersebut dengan hati hati dan merasa ngeri ketika mengetahui banyaknya semut merah yang berada dipohon tersebut.


__ADS_2