
Sepulang sekolah ketika hujan turun, Rilia bermain dengan teman temannya kesungai dekat dengan rumahnya, dengan bahagianya ia segera melompat kearah sungai tersebut, sungai itu hanya setinggi lututnya saja tetapi arusnya tidak terlalu cepat, Rilia adalah satu satunya perempuan yang berada ditempat itu.
Mereka bermain disungai itu dengan begitu bahagianya, ia juga menggunakan pelepah pisang sebagai media untuk mengapung diair itu, perlahan lahan air itu mulai semakin dalam karena hujan yang terus turun dan mengisi sungai tersebut.
"Heii!!! ayo pulang!!!".
Tiba tiba seorang ibu ibu datang sambil memakai capil untuk pergi kesawah dan membawa sapu ditangan kanannya, ia berteriak kepada Rilia dan yang lainnya, ibu itu adalah bibi Rilia dan juga ibu dari salah satu teman Rilia.
"Larii!!! ada hantuu....". Teriak Rilia.
Mendengar teriakan Rilia tersebut membuat teman temannya segera berlari secepat mungkin dan menjauh dari ibu ibu tersebut, begitupun dengan Rilia. Mereka berlari ketengah sawah untuk bisa menghindar dari ibu ibu tersebut, akan tetapi tak lama kemudian mereka kembali menepi karena tiba tiba petir datang menyambar lahan kosong.
Petir yang tiba tiba datang tersebut membuat Rilia dan yang lainnya merasa begitu takut sehingga mereka memutuskan untuk kembali kerumah masing masing, sesampainya dirumah Rilia justru mendapatkan omelan dari ibunya, tetapi Rilia hanya menanggapi hal itu dengan senyuman seakan akan hal itu bukanlah hal yang perlu ditakuti.
Rilia segera mandi dan berganti pakaian dengan rapi dan hangat, ibunya telah membuatkan Rilia semangkuk mie instan yang telah selesai dimasak, Rilia menikmatinya selagi masih hangat dan hal itu membuatnya merasa begitu senangnya.
*****
suatu hari ketika hujan deras, Ega, Dita, dan Rilia bermain dihalaman belakang rumah Rilia, mereka membuat sebuah kolam kecil untuk mereka berenang, mereka begitu bahagia karena bisa bermain lumpur dan air, sampai akhirnya mereka bertiga mendapatkan pukulan dari orang tua mereka masing masing.
akhirnya mereka pulang kerumahnya masing masing, untuk mandi dan berganti pakaian, setelah itu mereka kembali berkumpul dirumah Rilia.
"Eh Rilia, apa yang harus kita mainkan selanjutnya?".
"Aku punya ide, bagaimana kalo main dikamarku?".
"Main apa tapi?".
"Sudah ikut saja".
"Baiklah".
Ketiganya segera bergegas untuk masuk kedalam kamar Rilia, sementara Rilia mengeluarkan beberapa selimut yang ada dialmarinya untuk membuat sebuah tenda didalam kamarnya, melihat idenya tersebut membuat Ega segera membantunya untuk membuat rumah rumahan tersebut.
Tiba tiba lampu dirumah Rilia mati, karena pemadam listrik, Rilia begitu takut kegelapan sehingga ia berteriak tiba tiba ketika listrik itu padam.
"Ibu!!! aku takut gelap". Teriakkannya memanggil ibunya.
"ibu disini nak, jangan takut". Sahut Ibunya.
Ibunya langsung mendatanginya sambil membawakan sebuah lilin yang sekiranya mampu menerangi Rilia yang sedang menangis ketakutan, Rilia segera datang ketempat dimana lilin itu berada, ia segera memeluk ibunya tersebut.
Mendengar Rilia yang sedang menangis membuat teman temannya minta izin untuk pulang, Rilia memandang lilin itu dengan senangnya dan sesekali bermain dengan cara menempelkan jarinya kepada cairan lilin yang telah menetes, dan cairan itu akan mengering ditangan Rilia.
Malam itu bagi Rilia adalah malam yang panjang karena lampu rumahnya tak kunjung menyala, Rilia tidur didalam dekapan ibunya karena ia begitu sangat takut dengan kegelapan, Meskipun Rilia sudah memejamkan matanya tetapi ia sama sekali tidak bisa tidur, yang ada dibayangan pikiran Rilia hanya ada monster monster yang sedang mencari mangsa, hantu hantu yang bergentayangan, dan juga sesuatu yang begitu mengerikan.
__ADS_1
Tubuh Rilia terus bergetar karena ketakutannya kepada kegelapan, hal itu membuat ibunya mendekapnya dengan erat untuk menenangkan anaknya tersebut, hingga Rilia mampu untuk tertidur dengan nyenyaknya.
*****
Sepulang sekolah Rilia bermain dengan sahabatnya, tak beberapa lama lewatlah sebuah penjual rongsokan yang membawa beberapa anak itik, Rilia segera mendatangi orang itu dan bertanya berapa harga itik tersebut, sementara orang itu mengatakan bahwa harganya sekian dan sekian, Rilia bisa membelinya hanya dengan menjual sampah anorganik.
Rilia terdiam cukup lama mendengar itu, ia segera mendatangi tempat dimana sahabatnya berada, Rilia memberikan ide begitu gila kepada mereka, setelah itu Rilia pulang kerumahnya untuk mengambil beberapa kantong kosong dan memberikannya kepada sahabat sahabatnya itu.
"Apa yang harus kami lakukan Lia?".
"Lalu apa gunanya dengan kantong ini ha?".
"Yang benar saja kamu memberikan ini kepadaku".
Sahabatnya tersebut mulai mengutarakan perasaannya kepada Rilia, entah ide seperti apa yang sedang dipikirkan oleh Rilia, melihat sahabatnya itu berdiri sambil membawa kantong yang cukup besar membuat Rilia tertawa.
"Untuk memunguti sampahlah, lalu apa lagi". Jawab Rilia singkat.
"APA!!!". Ketiga sahabatnya berteriakan bersama sama.
"Tapi Rilia aku ngak bisa, lagian panas juga". Keluh Vina.
"Ngak papa, anggap saja kita sedang bekerja".
Akhirnya ketiga sahabatnya mengikuti apa arahan dari Rilia, mereka berempat segera berkeliling di desa itu sambil mencari sampah botol bekas, tingkah mereka begitu menyita perhatian penduduk didesa itu, karena tidak ada yang bisa melakukan hal seperti itu selama ini.
"Bagus!! menjaga kebersihan".
"Nah desa kita akan bersih kalo begini".
Banyak sekali ungkapan ungkapan yang diberikan kepada keempatnya, Rilia dan sahabatnya terus berjalan mengelilingi desa itu meskipun rasa lelah dan panas keempatnya rasakan, bukan hal mudah untuk dapat mengumpulkan sampah sampah tersebut, terik matahari yang terus membakar kulit mereka tanpa ampun.
Dapat dilihat Vina yang sangat tidak tahan dengan panasnya matahari itu, Vina sesekali berteduh dibawa pohon yang rindang ditepi jalan, sudah banyak sampah yang mereka kumpulkan disiang yang terik itu, sehingga keempatnya mulai duduk dibawa pohon.
"Lelah juga ya harus ngumpulin seperti ini". Keluh Nadia.
"Iya, panas juga, lalu bagaimana dengan orang orang yang selalu bekerja untuk mengumpulkan uang seperti ini". Jawab Vina.
"Aaa... aku ngak mau lagi ngumpulin seperti ini". Teriak Suci.
"Ayolah yang semangat, kapan lagi coba lihat desa ini bersih, lagian ngak ada salahnya kan". Rilia cengengesan mendengar keluhan mereka.
Mereka terus mengobrol disiang itu dibawa pohon mangga yang begitu rindang yang begitu dingin disiang itu, hingga penjual rongsokan itu lewat didepan mereka, Rilia segera menghentikannya dan menukar sampah yang ia dan sahabatnya kumpulkan dengan susah payah dengan anak itik yang penjual itu janjikan.
Rilia dan sahabatnya begitu senang ketika menerima hasilnya, tetapi hanya satu itik yang mereka dapatkan karena sampah yang mereka kumpulkan kurang banyak, sehingga mereka memutuskan untuk Rilia lah yang menjaganya, mereka segera membawa anak itik itu kerumah Rilia dan menyiapkan sebuah kardus bekas untuk menaruhnya didalam.
__ADS_1
"Nak, darimana anak itik ini? kalian ngambil dimana?". Tanya ibu Rilia yang panik ketika melihat anak itik yang mereka bawa.
"Dari hasil memungut sampah bu, terus menjualnya, lalu dapat deh satu anak itik". Jawab Rilia.
Ibu Rilia begitu lega ketika mendengar kejujuran anaknya, awalnya dirinya kira bahwa Rilia dan teman temannya tengah mencuri anak itik milik orang lain, tetapi setelah mendengarkan penjelasan Rilia membuat ibunya bangga dengan apa yang dilakukan oleh anaknya tersebut.
Ibunya segera mengambilkan nasi yang hangat dan diberi sedikit air dan segera memberikannya kepada anak itik tersebut, anak itik itu segera memakannya dengan lahap sampai perutnya mengembung karena kenyang.
Melihat anak itik yang sedang makan membuat mereka merasa senang, entah ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat hewan yang sedang makan dengan lahapnya seperti yang saat ini mereka saksikan, ibu Rilia tersenyum kepada Rilia begitupun dengan Rilia tersenyum kembali kepadanya.
Rilia memegang bulu ituk itu dengan pelannya, bulu itik yang belum tumbuh tersebut begitu lembut dan halus, dan sesekali itik tersebut membuka mulutnya tiba tiba dan membuat Rilia merasa terkejut.
"Lucu banget,, bagaimana kalo diberi nama Titi?". Tanya Rilia.
"Boleh". Jawab mereka serempak.
Siang itu mereka merasa begitu senang karena dapat bermain dengan anak itik itu, hingga waktu memisahkan mereka, mereka segera pulang kerumahnya masing masing untuk bersiap siap pergi mengaji sebelum para orang tua berteriak marah karena mereka melupakan ngajinya.
Ngaji adalah rutinitas mereka setiap harinya, berhubung hari ini adalah hari kamis maka mereka ngajinya dimasjid bersama para kyai, jadi mereka berangkat sebelum adzan ashar berkumandang sekalian mempersiapkan untuk sholat ashar.
Tidak seperti hari hari biasanya, mereka akan mengaji ketika pulang sekolah setelah adzan dhuhur dirumah ustadzah mereka, tetapi dihari kamis mereka diarahkan untuk ikut mengaji kepada beberapa kyai dimasjid.
Tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak mengaji, karena kyai dan juga ustadzah mereka sangat ketat dengan yang namanya mengaji, ketika tidak mengaji sekali mereka akan dikenakan hukuman oleh ustadzah mereka, oleh sebab itu anak anak didesa itu begitu sangat giat untuk berangkat mengaji.
Karena rumah ketiga sahabatnya berada dipojok selatan desa sementara tepat mereka mengaji ada dipojok utara desa sehingga Rilia yang datang lebih awal ketempat mengaji daripada ketiga sahabatnya.
Setelah mereka semua berkumpul dan menyelesaikan sholatnya, para kyai segera memulai pengajian mereka, Rilia dan yang lainnya mendengarnya dengan seksama sesekali memahami materi apa yang mereka dapatkan, materi kali ini mengenai bakti anak kepada orang tuanya.
Meskipun Rilia tidak memahami dengan benar apa yang disampaikan oleh Kyai itu, tetapi Rilia mendengarkannya dengan sangat teliti agar tidak ada kesalahan pahaman yang ia tangkap dalam materi tersebut.
Setelah beberapa lama mengaji akhirnya mereka selesai juga dan segera melanjutkan untuk sholat magrib setelahnya mereka segera pulang agar orang tua mereka tidak mencari mereka karena terlambat pulang dari mengaji, Rilia segera masuk kedalam rumahnya dan menonton tv.
"Bu, ketika lulus SD aku ingin mondok". Ucap Rilia tiba tiba.
Entah mengapa Rilia sangat ingin mondok, seperti yang diceritakan oleh Pak Kyai mengenai dunia pondok, dipondok mereka tidak hanya diajari mengenai membaca Al-Quran tetapi banyak hal yang lainnya, Rilia sangat menginginkan untuk pergi ke pondok untuk menuntut ilmu.
Ibunya hanya bisa mengiyakan biar bagaimanapun ia tidak bisa melepaskan anaknya untuk pergi kepondok, ada rasa tidak rela didalam hatinya ketika Rilia mengatakan hal seperti itu, tetapi bagaimanapun itu adalah impian dari anaknya yang harus ia wujudkan, apalagi impian itu begitu baik yakni menuntut ilmu dari para kyai.
Rilia begitu bahagia ketika ibunya mengiyakan keinginannya tersebut, sampai akhirnya kebahagiaan itu sirna ketika kakaknya mengambil alih acara TV kesukaannya, terjadilah pertengkaran diantara keduanya karena berebutan acara TV, hingga akhirnya Rilia menangis karena ulah kakaknya, hal itu membuat ibunya memarahi kakaknya karena membuat adiknya menangis.
"Adek ngak boleh nonton TV lama lama, senin besok kan adek ujian kenaikan kelas". Ucap kakaknya beralasan.
"Kan masih lama kak, lagian juga masih ada hari esok".
Rilia begitu kesalnya kepada kakaknya, akhirnya mereka terus bertengkar dan kejar kejaran, melihat itu ibunya hanya diam menonton film yang begitu nyata, hingga akhirnya Rilia terjatuh dan menangis.
__ADS_1
Kakaknya segera membantu Rilia untuk berdiri, dan berusaha untuk membuat Rilia terdiam dari nangisnya, jika dirumah itu hanya ada Rilia dan kakaknya saja maka perkelahian antara kucing dan tikus tidak dapat dihindari.