Child Of A Maid

Child Of A Maid
Bab 16


__ADS_3

Kali ini didesa Rilia sedang tersebar sebuah kasus tentang penculikan anak dibawa umur, hal itu membuat Rilia tidak bisa bermain dengan teman temannya secara leluasa seperti sebelumnya, bukan Rilia kalau tidak bisa terhindar dari larangan itu.


Dengan diam diam Rilia pergi kerumah teman laki lakinya yang bernama Sony, Sony mengatakan bahwa kebun coklat yang ada dibelakang rumahnya kini tengah berbuah lebat sehingga Rilia sangat tertarik untuk melihat dan memetiknya.


"Sony... Sony..." Panggil Rilia didepan rumah Sony.


"Eh Li, kau sudah sampe rupanya, yok masuk dulu aku baru beli PS lo, kita main bersama sama yok".


"Aku ngak bisa bermain PS, ngak tau caranya, aku kesini mau minta buah coklatmu, boleh ngak?" Ucap Rilia to the point tanpa basa basi.


"Oh coklat, boleh kok, bentar aku matikan PS ku dulu ya, setelah itu kita kehalaman belakang".


"Oke, aku tunggu disini".


"Siap".


Rilia pun duduk didepan rumah Sony, tak beberapa lama kemudian akhinya Sony keluar dan mengajak Rilia untuk menuju kekebun yang ada dibelakang rumahnya, disana terlihat begitu sangat sejuk dan begitu nyaman untuk digunakan sebagai gubuk tempat bercanda gurau, karena halaman dibelakang rumah Sony begitu bersih karena Kakeknya yang selalu membersihkannya.


"Ngak apa apa nih aku minta coklatmu?".


"Kenapa ngak boleh sih? Biar aku panjatkan saja soalnya banyak semutnya disini, aku tau kau bisa manjat tapi aku tidak yakin kau bisa bertahan dengan gigitan semut".


"Yaudah buruan, aku pengen tau rasanya buah coklat".


"Siap Bos".


Sony pun memanjat pohon itu dengan susah payahnya, bukan hanya ada satu pohon saja akan tetapi ada lima pohon coklat yang ada disana, Sony mengambil 3 buah coklat karena hanya ada itu saja yang sudah matang karena lainnya masih mentah.


"Ayo duduk diangkringan, biar aku ambilkan pisau untuk membelahnya"


"Kau yakin disini aman ngak ada ular? Jangan lama lama ngambilnya aku sedikit takut disini".


"Tumben kau punya rasa takut Li? Biasanya juga tidak pernah tuh ada rasa takut, duduk saja disitu aku ambilkan pisau, ngak lama kok cuma sebentar" Ucap Sony sambil menunjuk kearah sebuah angkringan kayu yang tidak jauh darinya.


"Okelah, cepat kembali".

__ADS_1


"Iya iya aku pasti kembali kok".


Rilia segera berjalan menuju ke angkringan kayu itu sementara Sony segera berlari masuk kedalam rumahnya untuk mengambil sebuah pisau untuk membuka buah yang keras itu, tak beberapa lama kemudian Sony datang kembali.


"Gimana? Aku ngak lama kan?" Tanya Sony dengan senyuman yang dibuat buat.


"Sudah lima abad, kemana saja sih kamu itu?"


"Maaf Lia, aku minum dulu tadi".


Sony segera duduk di angkringan kayu tersebut dan segera membelah buah coklat itu dan memberikannya kepada Rilia, dan Rilia segera menerima buah tersebut dan memakannya.


Buah itu terasa begitu enak dan sedikit asam, bentuk buah didalamnya seperti bongkahan kolang Kaling yang telah tersusun rapi dan berwarna putih bersih, Rilia dan Sony menikmati enaknya coklat itu bersama sama.


"Apa kau sudah dengar tentang penculik Li?" Tanya Sony.


"Iya, bahkan aku sampai lelah mendengar Ibuku terus mengatakan itu, bukan hanya sekali dia berbicara akan tetapi berkali kali sampai sampai aku sangat hafal dengan ucapan itu".


"Kalau begitu kenapa hanya dirimu yang boleh keluar rumah? Yang lainnya mah ngak ada yang bermain kemari karena takut diculik, kau tidak takut Li?"


"Aku malah lebih takut kalo Ibuku marah, tapi kalau dirumah terus juga ngak enak, bosan aku".


"Justru itu, dia malah ngak dirumah sekarang, entah dia pergi kemana, kata orang tuanya sih lagi dirumah Neneknya tuh yang ada didesa sebelah".


"Oh seperti itu, kau sudah dengar belum kalau Ibu Ibu kita sedang merencanakan sesuatu?"


"Sesuatu maksudmu apa Son?".


"Aku dengar Ibuku, Ibumu, Ibunya Bayu, Ibunya Suci, Ibunya Pendik, dan Ibunya Falik besok mau goes untuk nganter kita kesekolah karena takut kita diculik kalau naik angkutan umum".


"Haduh, kenapa jadi begini sih, bukannya itu bisa makin lama sampainya disekolahan? Yah keburu masuk lah, kan jaraknya ada 3 km an".


"Entahlah Li, kita hanya bisa pasrah saja, membantah mereka juga tidak akan bisa".


"Kau benar".

__ADS_1


****


Keesokan paginya Rilia hanya mengikuti perintah Ibunya, Ibunya meminjam sepedah goes kepada tetangganya untuk mengantarkan Rilia kesekolah karena Ibunya tidak bisa naik sepedah motor dan disaat itu tidak banyak warga yang memiliki sepeda motor hanya orang orang kaya yang mampu membeli sepedah motor saat ini.


"Bu, jarak sekolah Rilia kan jauh, biar Rilia dan teman teman naik angkutan umum saja".


"Tidak Lia, banyak penculikan diluar sana yang masih berkeliaran"


"Bagaimana Ibu bisa tau hal itu? Apa Ibu pernah bertemu dengan mereka?".


"Tuh banyak berita di TV tentang penculikan anak, emang kamu mau kalau diculik?"


"Iya ya Bu, Rilia kan hanya khawatir sama Ibu saja, soalnya kan jauh juga sekolah Lia".


"Tidak apa apa, sekalian sama jalan jalan".


Rilia hanya bisa tersenyum menatap wajah Ibunya itu, tanpa Ibunya ketahui bahwa Rilia sudah mengetahuinya sebelumnya karena Sony telah memberi tahukan hal ini kepadanya kemarin, Ibunya tidak akan pergi sendiri kesekolah melainkan dengan Ibu Ibu temannya Rilia juga ikut mengantar mereka.


Mereka pun pergi bersama sama mengantar anak anak mereka kesekolah, Rilia tidak pernah merasa sebahagia ini ketika berangkat sekolah bersama, tak henti hentinya Rilia terus bercerita kepada Ibunya selama diperjalanan menuju kesekolah bersama sama.


Setelah beberapa lama perjalanan menuju kesekolah, akhirnya mereka telah sampai juga didepan gerbang sekolah yang bertuliskan SDN Mojowangi 1, tempat dimana Rilia dan teman temannya menimba ilmu disana.


"Bu nanti kalau pulang sekolah ngak usah dijemput ya, Ibu kan capek, nanti soalnya teman Lia dijemput pake mobil sama saudaranya".


"Benarkah?".


"Iya Bu, tadi Rilia diberitahu sama Suci, kalau Tantenya mau jemput pake mobil nanti siang".


"Alhamdulillah kalau begitu, Ibu sedikit tenang mendengarnya".


"Yaudah Lia berangkat kesekolah dulu ya Bu, Assalamualaikum" Rilia mencium tangan Ibunya.


"Waalaikumussalam"


Melihat Rilia yang mencium tangan Ibunya membuat teman temannya ikut serta melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Rilia saat ini, hal itu membuat para Ibu begitu terkejut dengan sikap anak mereka karena tidak biasanya anak anak mereka melakukan hal itu kepada mereka.

__ADS_1


Rilia menggandeng tangan teman temannya dan bersenandung gembira untuk memasuki sekolah mereka, mereka terlihat begitu bahagia ketika bersama sama dan senyuman diwajah mereka terpancar begitu jelas.


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...


__ADS_2