
Rilia berhenti berbicara sampai guru tersebut meninggalkan ruang kelas, karena ada kepentingan yang mendesak membuat guru itu meninggalkan kelas tersebut, Rilia merasa lega ketika guru itu bergegas pergi dari situ.
Rilia segera menghela nafas setelah berhenti berbicara cukup lama, Rilia segera bergegas untuk menutup pintu kelas tersebut setelah guru itu keluar dari kelasnya.
"Asik... jamkos kita! Jangan ada yang meninggalkan kelas". Ucap Rilia kepada teman temannya.
Teman temannya segera bersorak gembira karena tidak ada guru yang mengajar disana, kelas tersebut mendadak ramai seketika bahkan suara Rilia hampir tidak didengar oleh teman temannya karena kelas tersebut yang cukup ramai.
Rilia hanya bisa mengelus dadanya ketika suaranya sudah tidak didengar oleh telinga teman temannya, Rilia merasa bingung harus berkata seperti apa karena teman temannya begitu ramai seperti itu.
Brakkk....
Rilia memukul meja yang paling dekat dengannya, hal yang dilakukan oleh Rilia tersebut menyita perhatian teman temannya itu, dan mereka segera bergegas menoleh kearah Rilia berada.
"Kalian jangan ramai seperti itulah, nanti bagaimana kalau ada guru yang datang?". Ucap Rilia kepada teman temannya itu.
"Maafkan kami Li, kami lupa itu, baiklah kami berbicaranya akan lebih pelan lagi".
"Kau kan pintar dalam berkata kata Li, kau pasti bisa membuat guru tersebut tidak marah".
"Gampang kali kau berbicara seperti itu, bagaimana kalau aku yang dikeluarkan dari sekolah? Kau ngak akan punya temen lagi kayak aku". Sela Rilia.
"Eh iya ya".
Teman temannya kini lebih nurut dengan Rilia, kelas tersebut bisa dikondisikan karena adanya Rilia didalamnya, jam pulang sekolah pun tiba, seluruh siswa segera bersiap siap untuk pulang sekolah.
Rilia dan teman temannya segera bergegas keluar dari sekolah tersebut, seperti biasa mereka akan menunggu angkutan umum lewat dijalan tersebut agar dapat pulang kerumah mereka masing masing.
Setelah sekian lama menunggu akan tetapi angkutan umum tersebut tidak kunjungan lewat, sehingga membuat Rilia dan teman temannya merasa jenuh dan bosan karena terus berdiam diri ditepi jalan.
"Kayaknya ngak bakal ada angkutan yang lewat deh". Ucap Rilia.
"Kau benar Li, lalu apa yang harus kita lakukan?". Ucap Bayu mengiyakan ucapan Rilia.
"Aku juga ngak tau, emang kau punya ide apa?". Tanya Rilia balik.
"Bagaimana kalau kita nebeng mobil kolbak". Jawab Puji.
"Apa itu mobil kolbak? Baru dengar aku". Tanya Suci.
__ADS_1
"Iya nih, ada ada saja mobil kolbak". Sony mengiyakan ucapan Suci.
"Kalian tidak tau mobil kolbak?".
"Tidak". Jawab mereka serempak.
"Mobil yang biasanya buat angkut barang atau pasir itu loh, yang tempat duduknya hanya depan saja untuk dua orang, masa kalian ngak tau sih?".
"Itu Pickup Ji, Ya Allah, gitu saja tidak tau". Ucap Rilia setelah mendengar penjelasan dari Puji. "Kamu sih aneh aneh aja mobil pickup kau bilang apa tadi? kobelak?".
"Bukak kobelak Lia, tapi korebak".
"Makin aneh aja kau nih". Ucap Rilia sambil cengengesan dengan temannya.
"Ya aku ngak tau lah, kan orang tuaku kalo bilang mobil kolbak kok, bukan pickup, jadi aku ngikutin mereka bilang begitu". Bela Puji yang tidak ingin disalahkan oleh teman temannya.
Teman temannya menertawakan ucapan Puji, yang menurut mereka begitu lucu itu, bagaimana bisa nama mobil bisa diganti ganti begitu, Puji yang ditertawakan seperti itu hanya bisa tersenyum cangguh.
"Tertawalah sepuas kalian". Ucap Puji acuh tak acuh.
Puji berjalan menuju ketepi jalan raya untuk mencari tebengan agar dapat kembali pulang kerumahnya, melihat itu teman temannya segera mengikuti langkah Puji untuk mencari tebengan.
"Bang boleh nebeng ngak? Sampai gang depan aja Bang". Tanya Bayu.
"Boleh ayo naik". Jawab sopir tersebut.
"Gaskeun lah". Ucap Rilia dengan semangatnya.
Teman teman Rilia segera naik kedalam mobil pickup itu, Rilia dan Suci juga ikut naik kedalamnya dengan bantuan teman laki lakinya karena mobil itu terlalu tinggi untuk keduanya panjat tanpa bantuan sedikitpun.
Rilia dan teman temannya sangat menikmati perjalanan itu, sejuknya angin ketika mobil itu berjalan mampu melegakan mereka yang sedari tadi terkena terik matahari yang begitu menyengat selama menunggu mobil pickup melewati jalanan itu.
Setelah beberapa lama perjalanan, akhirnya mereka sampailah disebuah gapura yang cukup besar daripada yang lainnya, gapura tersebut bertuliskan dusun Kembang sore yang terlihat seperti sebuah gapura dijaman Majapahit.
Rilia dan teman temannya segera turun dari mobil tersebut, mereka tidak lupa untuk berterima kasih kepada sopir itu karena telah mengizinkan mereka untuk nebeng sampai didepan dusun itu.
Tidak hanya begitu saja, Rilia dan teman temannya masih melanjutkan perjalanan untuk sampai kerumah mereka masing masing, jalan untuk menuju rumah mereka masih cukup jauh sehingga membuat mereka masih harus berjalan kaki sekitar setengah kilo meteran.
"Rilia apa kau sudah dengar tentang adanya sebuah TPQ baru didekat masjid Baiturrahman didesa ini?". Tanya Suci kepada Rilia ketika keduanya berjalan saling sejajar.
__ADS_1
"Belum, kapan itu mulainya?". Tanya Rilia dengan antusias.
"Besok kayaknya Li, dimulai habis sholat asyar". Jawab Suci.
"Eh iya betul itu, aku juga sudah mulai daftar disitu kemarin". Sela Faliq yang langsung berada diantara keduanya.
"Hem... Boleh juga itu, aku juga mau daftar lah". Ucap Rilia dengan semangatnya.
"Eh tapi bagaimana dengan ngajimu di tempat Ustad Abdul Wakhid?".
"Dua kali lah, habis ke pak ustadz lanjut ke TPQ Baiturrahman gitu saja repot banget".
"Kau serius Li? Waktu mainmu akan berkurang Rilia, dari pulang sekolah terus mengaji di rumah Pak Ustadz, terus mengaji di TPQ Baiturrahman, apa kamu ngak lelah nantinya?". Ucap Sony.
"Itu mah urusan belakang".
Rilia dan teman temannya berpisah dijalan untuk kembali kerumah mereka masing masing, Rilia segera bergegas menuju rumahnya dengan tergesa gesa untuk memberitahukan kepada Ibunya bahwa akan adanya TPQ baru didesa kecil itu.
Sesampainya dirumah, Rilia segera bergegas untuk mengganti pakaiannya dan bergegas menemui Ibunya yang sedang sibuk didapur untuk memasak.
"Bu". Panggil Rilia kepada Ibunya.
"Ada apa Nak?". Tanya Ibunya yang masih berkutat dengan pisau dapur.
"Ada TPQ baru Bu, tapi tempatnya agak jauh, Rilia pengen ikut mengaji disana, bolehkah?".
"Boleh Nak, tapi bagaimana dengan mengajimu sebelumnya? Cari yang dekat dekat sini saja Nak".
"Yakin kamu akan sanggup mengaji didua tempat sekaligus Lia? Ibu harap kalau mengaji jangan setengah setengah, nanti ilmunya ngak barokah".
"Lia yakin Bu, Lia ingin menambah wawasan juga, apalagi diTPQ itu juga diajari cara cara sholat dan lain lainnya".
"Jika kamu sudah yakin, maka pergilah mengaji dengan sungguh sungguh".
"Baik Bu".
Rilia merasa bahagia ketika keinginannya diiyakan oleh Ibunya, Rilia sangat yakin bahwa dirinya akan sanggup untuk pergi mengaji didua tempat sekaligus setiap sorenya tanpa ada kata lelah karena tekatnya itu.
...Jangan lupa like dan dukungannya 😊🙏...
__ADS_1