
Ini adalah hari pertama Rilia masuk kedalam TPQ Baiturrahman, setelah pulang dari mengaji dirumah Pak Ustadz, Rilia segera bergegas menuju ke TPQ tersebut dengan semangatnya.
Sesampainya disana, TPQ itu kini penuh dengan murid murid baru sehingga kedatangan Rilia yang telat menyita perhatian mereka, pandangan seluruhnya kini terarah kepada Rilia.
"Maaf Ustadz saya telat". Ucap Rilia sambil menghela nafasnya setelah berlari.
"Ngak apa apa ini hari pertama, kenapa bisa telat Nak?". Tanya Ustadz itu dengan lembutnya kepada Rilia.
"Karena saya mengaji dulu sebelum berangkat kemari Ustadz, lain kali saya akan berusaha untuk berangkat lebih awal".
"Baiklah, silahkan duduk dan gabung dengan teman teman yang lainnya".
"Terima kasih Ustadz".
Rilia segera bergegas bergabung dengan yang lainnya, tak beberapa lama kemudian akhirnya pengajian itu dimulai, Rilia mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh Ustadz itu tentang pengertian hari akhir.
Rilia mendengarkan ucapan Ustadz tersebut sampai jam menunjukkan pukul 5 sore, dan saatnya jam untuk pulang kerumah masing masing.
Rilia dengan hari gembira bergegas menuju kerumahnya meskipun dengan jarak yang lumayan jauh daripada yang lainnya, jarak tersebut bukanlah hal yang dikhawatirkan olehnya, meskipun jaraknya jauh jika hati kita senang maka jarak tersebut akan terlihat begitu dekat dan tidak terlalu membebankan diri hal itulah yang dilakukan oleh Rilia saat ini.
Sesampainya didepan rumah Rilia langsung bergegas masuk kedalamnya setelah mengucapkan salam kepada Ibunya, Rilia menceritakan pengalamannya hari ini kepada Ibunya tentang apa yang ia lakukan di TPQ barunya.
Rilia merasa begitu senang ketika dirinya sedang bercerita kepada Ibunya, seakan akan semuanya terasa begitu menyenangkan dengan adanya sebuah TPQ baru, meskipun jaraknya jauh bukan halangan seorang Rilia untuk menimba ilmu agama.
Rilia adalah anak yang ceria dan aktif dalam kesehariannya meskipun dirinya terkenal dengan julukan anak yang bandel dan nakal karena sering membimbing teman temannya untuk melakukan hal hal yang membuat orang disekitarnya marah.
Meskipun demikian Rilia tidak pernah berbicara bohong kepada orang lain, Rilia adalah anak yang jujur, baik hati, dan sering menolong teman temannya yang kesusahan ataupun orang orang yang ada didekatnya tanpa membeda bedakan.
__ADS_1
Rilia juga telah mengenal yang namanya minuman yang memabukkan ataupun jenis obat obatan sejak ia kecil karena Ayahnya sehingga dirinya sangat hafal dengan bau bau barang yang haram, akan tetapi dirinya tidak pernah merasa penasaran dengan hal seperti itu.
Jika dilihat lihat Rilia adalah anak yang polos dan lugu akan tetapi jika mengikuti kesehariannya orang orang terdekatnya akan tidak mudah percaya dengan apa yang ia lihat, Rilia paham dengan betul apa itu minuman haram dan apa itu perbuatan perbuatan yang tidak patut untuk ditiru dan akan menyesatkan dirinya sendiri.
Hal itu membuat Rilia selalu bertindak dengan hati hati karena dirinya tidak ingin terlibat dalam hal hal seperti itu, meskipun dirinya masih seorang anak kecil yang masih berusia 9 tahun akan tetapi dirinya begitu mengetahui apa yang dilarang dan apa yang diperbolehkan dalam hal agama karena dirinya sering mengaji kepada Ustadz Ustadz yang ia kenal.
****
Pada suatu hari ketika Rilia sedang bersama dengan Nadia untuk pergi bermain bersama, saat itu Rilia pergi kerumah Nadia, pada saat itu Nadia masih berselisih dengan Ayahnya karena tidak diberi uang jajan.
Rilia merasa sedih ketika temannya bertengkar dengan Ayahnya, sementara dirinya sangat merindukan kebersamaan dengan Ayahnya yang tidak pernah ada waktu untuk dirinya walaupun hanya sebentar saja.
Perlahan lahan Rilia berjalan mundur untuk menghindari pertengkaran itu, sampai akhirnya dirinya sampai didepan pintu rumah milik Nadia, Rilia segera bergegas pulang kerumahnya karena takut dengan kemarahan dari seorang Ayah kepada Anaknya.
Sesampainya dirumah Rilia segera diajak oleh Ayah dan Ibunya untuk pergi berwisata dengan keluarganya untuk pergi jalan jalan, Rilia merasa sangat senang ketika diajak jalan jalan oleh orang tuanya, akan tetapi setiap kali pergi berekreasi Ayahnya selalu tidak ikut masuk kedalam wisata justru Ayahnya hanya akan menunggu mereka ditepi jalan.
Rilia dan Ibunya segera bergegas menuju masuk kedalam area wisata Waterboom yang ada di kota tersebut, Rilia sangat senang ketika dapat main air dan berseluncur bersama dengan Ibunya.
"Ayo". Ajak Ibunya kepada Rilia.
"Boleh?". Tanya Rilia keheranan karena Ibunya jauh lebih bersemangat daripada dirinya.
"Kenapa tidak Nak?".
"Ayo!". Ucap Rilia yang semakin bersemangat.
Rilia beserta Ibunya kini tengah bersenang senang di Waterboom tersebut, ketika Rilia sudah kelelahan keduanya segera bergegas untuk pulang, dari kejauhan Rilia dapat melihat bahwa Ayahnya tengah berada ditepi jalan dan Rilia segera berlari kearahnya.
__ADS_1
"Ayah!".
Ketika jarak Rilia dan Ayahnya begitu dekat, Rilia dapat melihat bahwa Ayahnya sedang menelpon seseorang, akan tetapi ketika mendengar Rilia berteriak memanggil dirinya, Ayahnya dengan siaga segera menyembunyikan telponnya dengan sesegera mungkin seperti seorang maling yang tengah terpergok.
"Ayah tadi bicara sama siapa?". Tanya Rilia kepada Ayahnya.
"Ngak ada". Jawab Ayahnya.
"Ada apa ini?". Tanya Ibu Rilia yang baru saja sampai ditempat keduanya.
"Kenapa Ayah bohong? Ayah bicara sama siapa? Kenapa harus pake sayang sayangan?". Batin Rilia ketika mendengar jawaban dari Ayahnya.
"Ngak apa apa, ayo pulang". Ajak Ayah Rilia.
"Ngak jalan jalan dulu Yah? Kenapa langsung pulang? Tadi Ayah bilang mau ajak jalan jalan ketaman dekat sini". Ucap Rilia yang merasa kecewa dengan ajakan dari Ayahnya.
"Lain kali saja Li". Ucap Ayahnya.
Rilia hanya bisa berdiam diri tanpa membantah ucapan dari Ayahnya itu, Rilia diajarkan oleh guru ngajinya bahwa tidak boleh membantah setiap ucapan kedua orang tuanya selama itu baik, mengajak pulang bukanlah hal yang buruk.
Rilia segera naik kesepedah motor Ayahnya disusul oleh Ibunya yang ikut naik, Ayahnya segera mengendarai sepeda motor tersebut dengan lumayan kencangnya daripada biasanya.
Sesampainya dirumah, Rilia segera masuk kedalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang mulai lelah itu, sementara Ibunya memilih untuk tidur didepan TV sambil menonton TV, setelah menurunkan Rilia dan Ibunya, Ayahnya segera bergegas pergi dari situ, Ayahnya bilang bahwa masih ada keperluan dikantor tempat dia bekerja.
Rilia sama sekali tidak mempedulikan hal itu karena dirinya sama sekali tidak mengerti tentang urusan pekerjaan, sementara Ibunya tidak ingin membikin keributan lagi dengan suaminya itu karena takut Rilia akan terluka lagi.
Rilia pun tertidur dengan lelapnya karena kelelahan disiang hari ini, tak beberapa lama kemudian Ibunya membangunkan Rilia dengan cemasnya, Rilia tiba tiba terbangun dari tidurnya karena mendengar kecemasan dari Ibunya.
__ADS_1
"Ada apa Bu? Kenapa Ibu terlihat seperti itu?". Tanya Rilia dengan bingungnya.
Entah apa yang dialami oleh Ibunya itu? next bab selanjutnya ya :) Jangan lupa like dan dukungannya