Child Of A Maid

Child Of A Maid
Bab 9


__ADS_3

Tak beberapa lama kemudian mangga mangga itu berhasil diraih oleh teman teman Rilia, Rilia dan teman temannya segera memakan mangga itu secara bersama sama, banyak anak yang melihat kelakuan mereka sehingga ada yang melaporkannya kepada Bapak dan Ibu guru yang ada disekolahan itu.


"Kalian di panggil kekantor sekarang!". Ucap salah satu murid sekolahan itu kepada Rilia dan teman temannya.


"Kenapa kami? Kami tidak melakukan kesalahan". Ucap Rilia sambil memincingkan sebelah matanya.


"Iya karena kalian memakan mangga sekolahan tanpa izin".


"Rilia, gimana ini?". Ucap Suci ketakutan.


"Biar aku saja yang kekantor, kalian kembali saja kekelas". Ucap Rilia kepada teman temannya.


"Tapi bagaimana kalau kamu diomeli sama Bapak dan Ibu guru disana? Apa kamu yakin bisa menghadapinya".


"Hanya masalah kecil, aku bisa kok menghadapinya tenang saja".


Rilia tanpa ragunya segera melangkah kekantor meninggalkan teman temannya yang masih mematung ditempatnya itu, Rilia berjalan menuju kantor dengan diiringi oleh beberapa murid dibelakangnya seakan akan dirinya adalah tersangkanya.


Rilia tidak mempedulikan itu, dirinya terus melangkah menuju kekantor tanpa adanya keraguan didalam hatinya, sesampainya dirinya dikantor murid murid yang mengikutinya tadi tiba tiba membubarkan diri.


"Eih... mereka kabur?". Tanya Rilia melihat murid murid itu membubarkan diri.


Rilia merasa heran dengan mereka, setelah itu dirinya lekas bergegas menuju kekantor sekolah, sesampainya didepan meja kepala sekolah, Rilia langsung diperintahkan untuk duduk didepannya.


Rilia diomeli oleh kepala sekolah itu dengan berbagai macam bahasa yang tidak jelas ditelinga Rilia, seperti segerombolan lebah yang terus mengiang ngiang ditelinga Rilia.


"Kamu itu anak perempuan! Tidak seharusnya memimpin anak laki laki untuk berbuat nakal seperti ini Rilia!". Ucap guru tersebut kepada Rilia.


"Apa salahku Pak? Pohon itu juga berada dilingkungan sekolah, kenapa kami tidak bisa memanennya? Lagian juga sayang kan kalo ngak dipanen nanti mubazir". Bela Rilia ketika diomeli oleh kepala sekolah itu.


"Kamu itu di bilangin masih saja membantah, ini masih di jam sekolah, tidak baik jika dilihat pengawas".


"Kalo begitu, aku akan mengambilnya ketika pulang sekolah".


"Rilia!".


"Kan tadi Bapak bilang, kalo pulang sekolah boleh ngambil, kenapa Bapak malah marah".


"Pusing Bapak dengan sikapmu itu".


"Jangan dipikirkan Pak, aku juga tidak mau Bapak pikirkan".

__ADS_1


"Sudah, kamu kembali kekelas saja".


"Baik Pak, ASSALAMUALAIKUM". Rilia mengeraskan suara dibagian salamnya kepada guru tersebut.


Entah karena jengkel atau bagaimana, Rilia diizinkan kembali kelasnya tanpa diberi hukuman, karena kenakalannya membuat Bapak dan Ibu guru yang ada disekolahnya hanya bisa menggelengkan kepala saja.


Rilia kembali kelasnya dengan senyuman karena tidak mendapatkan hukuman dari guru tersebut, Rilia segera masuk kedalam kelasnya, ketika dirinya masuk seluruh teman temannya segera bergegas mendatanginya dan bertanya kepada Rilia dengan detail tentang apa yang terjadi diruang guru itu.


"Tidak masalah, semuanya baik baik saja kok". Jawab Rilia ketika ditanya teman temannya.


"Apa kamu tidak mendapatkan hukuman?". Tanya salah satu temannya.


"Tidak, justru aku langsung diizinkan untuk langsung masuk kedalam kelas".


"Lah kok bisa?".


"Entahlah, aku juga tidak tau".


"Hebat kamu Li, bisa bebas dari hukuman, aku juga ingin seperti itu".


"Apa kau ingin mendapatkan hukuman juga?".


"Emang kau pikir mudah dimarahi seperti itu? Huh lebih baik seperti itu daripada harus panggilan orang tua".


"Apa kau dapat surat panggilan orang tua Li?".


"Ngak juga sih hehe...". Ucap Rilia sambil cengengesan kepada temannya itu.


"Huh syukurlah, bikin orang cemas aja kamu itu Li".


Rilia segera duduk dibangkunya yang berada disebelah Suci, Rilia memilih bangku paling depan dan dekat dengan meja guru, karena dirinya merasa nyaman berada ditempat itu karena lebih mudah mendengarkan guru ketika sedang menerangkan mata pelajaran.


Pelajaran pun segera dimulai ketika guru mata pelajaran sudah memasuki kelas tersebut, guru mata pelajaran tersebut terus memandangi Rilia yang sedang sibuk dengan bukunya, entah apa yang ia cari.


"Gawat, aku belum mengerjakan PR". Guman Rilia pelan.


"Kau belum mengerjakannya Li? Kita sama". Bisik temannya kepada Rilia.


"Mantap, ada temennya, kau memang yang terbaik".


Melihat muridnya yang sedang terlihat seperti bisik bisik membuat guru tersebut segera mendatangi meja Rilia yang paling dekat dengan meja guru, Rilia yang didatangi tiba tiba itu hanya bisa berdiam diri dan bersikap seolah olah tidak melakukan kesalahan.

__ADS_1


"Kenapa kalian berdua bisik bisik seperti itu?". Tanya guru tersebut kepada Rilia dan temannya.


"Ngak apa apa Bu, hanya merencanakan untuk main pulang sekolah saja, ngak macam macam kok Bu serius". Jawab Rilia dengan mengangkat jari telunjuk dan tengahnya disertai dengan ringisan wajahnya.


"Kalau sekolah ya sekolah jangan bahas mainan, mainan nanti kalo pulang sekolah". Ucap gurunya sambil berekspresi jahat.


"Kalau di bahas pas pulang sekolah kita ngak bisa Bu, kan kita juga harus mengaji".


Kata kata Rilia bagaikan sebuah tombak yang mampu melesat begitu saja hingga mengenai sasarannya, hingga hampir para guru yang pernah mengajarnya tidak bisa berkata kata lagi, meskipun Rilia masih terlihat polos akan tetapi kenakalannya melebihi sikap polosnya itu.


"Ya sudah kalian buka halaman 56, kalian pelajari terlebih dahulu, Ibu masih ada urusan diluar". Ucap guru tersebut kepada murid muridnya.


"Baik Bu". Jawab mereka serempak.


"Kalau bisa jangan kembali ya Bu". Guman Rilia pelan.


Gumanan tersebut tentu saja tidak dapat didengar oleh guru tersebut, akan tetapi gumanan itu mampu didengar oleh teman Rilia yang berada didekatnya saat ini, temannya itu tertawa karena ucapan Rilia.


"Dan, kamu harus bertanggung jawab kalau ada anak yang keluar dari kelas sebelum jam pelajaran habis". Ucap guru tersebut sambil menunjuk kearah Rilia.


"Loh kenapa jadi aku Bu? kan ada ketua kelas". Protes Rilia.


"Mau Ibu hukum?". Tanya guru tersebut sambil tersenyum mengerikan kepada Rilia.


"Tidak tidak, baiklah aku terima itu Bu, tapi untuk hari ini saja ya Bu?". Rayu Rilia kepada guru wanita itu.


"Iya selama kamu tidak nakal akan Ibu maklumi".


"Tapi Rilia ngak nakal kok Bu, Rilia ngak pernah berbohong tuh, kata Pak Kyai Rilia adalah anak yang baik Bu, bukan anak yang nakal".


"Rilia anak yang baik kan? Kalau mau jadi anak yang baik, Rilia harus nurut apa kata Ibu guru"..


"Tapi Rilia selalu nurut kok Bu, ngak pernah membantah juga".


"Kalau Rilia diem, pasti akan lebih baik lagi".


"Baiklah, Rilia akan diam".


"Nah begitu lebih bagus".


Rilia merapatkan mulutnya rapat rapat agar tidak bersuara seperti apa yang dikatakan oleh guru tersebut kepadanya, bahwa Rilia akan terlihat lebih baik lagi ketika sedang diam, sehingga Rilia memutuskan untuk diam selama jam pelajaran itu.

__ADS_1


__ADS_2