
Rilia terhangun dari tidur nyenyaknya pagi ini, ia merasakan sesuatu dikeningnya, ketika Rilia melihat ternyata sebuah kompresan sudah berada dikeningnya, Rilia segera mengambilnya dan menyingkirkannya dari keningnya.
Rilia lalu bangkit dari tidurnya, tenggorokannya terasa begitu panas dan Rilia ingin minum air dipagi hari itu, setelah Rilia berdiri Rilia merasakan bahwa bumi ini bergetar sehingga membuat Rilia kembali terjatuh diranjangnya.
"Ada gempa!". Ucap Rilia sambil melihat sekitarnya.
Mendengar ucapan Rilia membuat Ibunya segera memeriksanya dan masuk kedalam kamar Rilia, Ibunya terkejut ketika melihat Rilia sudah terlentang dilantai kamarnya.
"Ada apa Rilia? kenapa tidur dilantai? ayo bangun, tidur dikasur aja Nak".
"Ada gempa Bu".
"Ngak ada gempa Nak, ayo bangun, jangan tidur dilantai begitu".
"Aku merasakan dunia ini bergoyang Bu, Rilia takut".
"Mungkin kamu sedang pusing Nak, disini ngak ada gempa, ayo bangun jangan tidur dilantai nanti makin parah sakitnya".
Rili segera bangkit dari tidurnya dengan memegang tangan Ibunya dengan erat, Rilia dapat merasakan bahwa seluruh isi kanarnya berputar putar dikepalanya, setelah sudah tidak tahan lagi untuk berdiri, Rilia menjatuhkan tubuhnya diranjang kamarnya.
"Ibu ambilin makan dulu, setelah itu minum obat ya Nak".
"Aku ngak mau obat Bu, kan Rilia sudah sembuh kenapa harus minum obat lagi?".
"Kemaren malam badanmu panas banget Nak, ngigau panggil panggil Ibu".
"Beneran? aku bilang apa aja Bu?".
"Kamu bilang, 'Bu jangan pergi, Bu jangan pergi' begitu Nak, pas Ibu lihat dikamar kamu, kamunya badannya panas banget udah kayak kompor aja".
"Rilia baik baik saja kok Bu, mungkin kemarin hanya mimpi buruk saja".
"Mimpi apa Nak?".
"Rilia lupa Bu".
"Ya sudah Ibu siapkan makan dulu, biar ngak mimpi buruk lagi, Ibu sangat khawatir Nak kalo kamu panas lagi".
"Iya Bu".
Ibunya lalu meninggalkan kamar Rilia untuk mengambilkan dia makan, sementara Rilia yang tetap tinggal dikamar itu hanya bida berdiam diri sambil mengingat ingat mimpi buruk yang ia alami malam ini, akan tetapi dirinya sama sekali tidak mengingatnya, setelah terbangun semua ingatan tentang mimpinya langsung sirna dan menghilang.
Tak beberapa lama kemudian Ibunya masuk kedalam kamarnya sambil membawakan makanan untuk Rilia, Rilia segera memakannya meskipun ada rasa sedikit mual tapi hal itu tidak menghalangi tekatnya untuk bisa sembuh.
Setelah makan Rilia segera meminum wedang gulanya dan kembali tidur tanpa meminum obatnya, ketika Ibunya masuk kedalam kamarnya ia terkejut karena obatnya sama sekali tidak diminum oleh Rilia.
Ibunya segera membangunkan Rilia, akan tetapi tidak ada respon dari dirinya cukup lama, setelah sekian lama membangunkannya akhirnya Rilia bangun juga dari tidurnya.
"Ada apa Bu?". Tanya Rilia yang sedikit serak karena bangun dari tidurnya.
"Kamu kenapa Nak? Kenapa ketika dibangunkan ngak langsung bangun seperti biasanya? Ayo kita ke puskemas lagi mumpung masih pagi". Ucap Ibunya dengan khawatir.
"Rilia ngak papa kok Bu, hanya ngantuk saja, buktinya Rilia masih bisa bernafaskan?". Tanya Rilia kepada Ibunya.
Ibunya segera memeluk tubuh Rilia, sementara Rilia segera menghamburkan dirinya kedalam pelukan tersebut, pelukan itu begitu hangat bagi Rilia, Rilia merasa sangat nyaman berada dipelukan tersebut.
"Maafin Ibu, Ibu tidak mampu menjadi orang tua yang baik untuk Rilia, jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi yang membuat Ibu merasa sedih ya Nak".
"Rilia tidak akan pernah meninggalkan Ibu, Ibu satu satunya orang yang selalu baik pada Rilia".
Rilia menoleh kearah wajah Ibunya dan melihat setitik air mata dipelupuk mata Ibunya, Rilia segera mengusap air mata Ibunya yang hampir jatuh mengenai pipinya itu.
"Ibu jangan nangis, maafin Rilia, kata Pak Ustadz kalo Ibu menangis karena Rilia, nanti Rilia berdosa karena membuat Ibu menangis, maafin Rilia, Rilia siap menerima hukuman dari Ibu, tapi Rilia mohon Ibu jangan menangis". Ucap Rilia sambil memeluk Ibunya dengan erat.
"Rilia anak yang baik, Ibu sangat menyayangi Rilia".
__ADS_1
Ibunya segera mengusap air matanya sendiri agar Rilia tidak ikut sedih karenanya, Rilia segera meminum obat yang sudah dihaluskan dan disediakan oleh Ibunya sebelumnya tanpa ada paksaan dari sang Ibu.
Hal itu membuat Ibunya tersenyum kembali, meskipun begitu sebenarnya Rilia sangat jijik dengan rasa obat, kepahitan yang ditimbulkan oleh obat membuatnya sedikit mual karena pahitnya akan membekas begitu lama ketika bersentuhan dengan lidah.
Setelah meminum obatnya, Rilia kembali tidur untuk menghilangkan rasa mual yang ia rasakan akibat dari obat tersebut, hal itu hanya bisa dimaklumi oleh Ibunya, setelah Rilia sudah tertidur dengan pulasnya, Ibunya segera pergi meninggalkan kamar tersebut untuk membiarkan Rilia beristirahat.
Rilia terbangun dari tidurnya saat merasakan seseorang tengah menyentuh kakinya sambil dipijat oleh orang tersebut, ketika Rilia terbangun sosok pertama kali yang ia lihat adalah sosok wanita paruh baya yang Rilia kenali sebagai tukang pijat keliling.
Rilia sebelumnya tidak pernah merasakan yang namanya dipijat sekarang mulai merasakannya, ketika dirinya dipijat Rilia terus berteriak kesakitan karena pijatan tersebut, bukan hanya dikakinya saja, melainkan diseluruh tubuhnya juga ikut dipijat oleh tukang pijat tersebut.
Selama kurang lebih satu jam, Rilia terus menahan rasa sakit akibat pijatan tersebut dengan menutup mulutnya agar tidak berteriak lagi, dan menahan air matanya agar tidak jatuh, akan tetapi masih ada air mata dipelupuk kedua matanya.
Tak beberapa lama akhirnya Rilia memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan dari pijatan tersebut, akan tetapi dirinya masih mampu mendengar percakapan antara Ibunya dan wanita paruh baya itu.
"Gimana Mbah? Apa ada yang keseleo atau yang lainnya?". Tanya Ibu Rilia kepada wanita paruh baya tersebut.
"Tidak ada yang salah dengan uratnya, semuanya baik baik saja kok Nak, kalo dilihat lihat anak ini sedang mengalami tekanan batin Nak, sebaiknya untuk beberapa hari kedepan biarkan dia tenang dulu".
"Tekanan batin?".
"Iya Nak, memang itu tidak menyakiti fisiknya, tetapi batinnya sedang terluka, sebaiknya untuk beberapa saat hindari sesuatu yang akan melukai batinnya, seperti adanya pertengkaran keluarga, masalah dengan teman sebayanya, atau apapun itu sebaiknya dihindari dulu".
"Iya Mbah, saya akan mencoba melakukan hal yang terbaik untuk Rilia".
"Kalo begitu Mbah pamit dulu, masih banyak pasien yang ingin dipijat".
"Mari Mbah, saya antar kedepan".
Ibunya segera mengantarkan wanita paruh baya tersebut kedepan rumahnya, Rilia mulai membuka matanya kembali, ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dikatakan oleh kedua orang itu.
"Apa itu tekanan batin". Guman Rilia pelan.
Rilia kembali memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sakit itu agar secepatnya bisa sembuh, ia tidak ingin membuat Ibunya terus menghawatirkan kondisinya seperti ini.
(Author : apapun akan aku lakukan, asal ibuku bahagia)
"Mbah, apa karena saya dan suami saya sering bertengkar jadi anak kami seperti itu?". Tanya Ibu Rilia.
"Bisa jadi itu Nak, aku merasakan ada yang disembunyikan oleh anakmu, mungkin itu adalah harapan kecilnya agar kalian tidak bertengkar lagi".
Wanita paruh baya tersebut bukanlah orang biasa, ia mampu membaca pikiran siapapun, apalagi untuk membaca fikiran anak kecil seperti Rilia, itu adalah hal yang mudah baginya karena anak kecil sangat menyukai mainan tetapi tidak dengan bentakan dan sebagainya.
"Tapi aku, aku tidak bisa menjanjikan hal itu Mbah, sementara suami saya sama sekali tidak mempedulikan perasaanku sebagai istrinya".
"Tetapi jika terus terusan seperti ini, itu juga tidak baik bagi anakmu sendiri, apa dirimu lebih mementingkan egomu daripada anakmu sendiri? Apa kamu ingin menghancurkan mental anakmy sendiri?".
"Tidak Mbah, aku akan usahakan yang terbaik untuk Rilia".
"Jika seperti itu, jangan pernah bertengkar dihadapan anakmu, hal itu bisa menyebabkan mentalnya melemah, dan berujung dengan kehilangan nyawa jika lama lama seperti itu, karena baginya hidup sudah tidak berarti jika harus melihat orang tuanya bertengkar terus terusan".
"Iya Mbah".
Wanita paruh baya tersebut segera berpamitan dari rumah Rilia, Ibunya termenung sendiri didepan pintu rumahnya karena ucapan yang dilontarkan oleh wanita paruh baya tersebut kepadanya.
Jika dipikir pikir lagi, hal itu ada benarnya juga pikir Ibunya Rilia, ia tidak ingin kehilangan anaknya, apalagi kondisi Rilia semakin harinya semakin parah menurut dirinya.
*****
Sore harinya Rilia terbangun dari tidurnya, ia merasakan tubuhnya begitu ringan daripada sebelumnya, Rilia segera bangkit dari tidurnya dan berjalan untuk mencari Ibunya.
"Bu!". Panggil Rilia tetapi tida ada sahutan dari Ibunya.
Rilia berjalan menyusuri sekeliling rumahnya mencari Ibunya akan tetapi dirinya tidak melihat sedikitpun adanya tanda tanda Ibunya berada dirumah itu, Rilia segera duduk diruang tamu rumahnya untuk menunggu Ibunya datang.
"Ibu kemana ya? Kenapa ngak ada dirumah? Aku bosan".
__ADS_1
Rilia tidur dikursi tersebut sambil memandang kearah jam dinding yang terus berputar ditembok rumahnya tersebut, rumah itu begitu sunyi sehingga suara detikan jam dinding mampu terdengar begitu kerasnya ditelinga Rilia.
Tak beberapa lama kemudian akhinya Ibunya datang dengan membawa sekantong plastik ditangan kanannya, Rilia segera bangun dari tidurnya dan menyambut Ibunya yang datang tersebut.
"Ibu dari mana?". Tanya Rilia dengan antusias.
"Ini beli bakpao rasa cokelat kesukaan Rilia kan?". Ucap Ibunya sambil menyodorkan bakpao tersebut.
"Makasih Bu". Rilia segera menerima kantong tersebut dan mengeluarkan isinya.
Bakpao tersebut masih terasa begitu panasnya karena baru saja keluar dari panci penjualnya, hal itu terlihat begitu enak bagi Rilia, tanpa basa basi Rilia segera menikmati enaknya bakpao yang masih panas tersebut.
"Gimana keadaan Rilia?".
"Rilia sudah sembuh Bu, besok Rilia mau pergi kesekolah, Rilia ingin bermain dengan teman teman, Rilia bosan hanya tidur dirumah saja".
Rilia adalah anak yang aktif dalam bermain, sangat sulit untuk menghentikannya melangkah, sehingga tiduran dirumah adalah hal yang membosankan bagi Rilia, Rilia ingin bermain dengan teman temannya dan melakukan hal hal yang mampu membuat orang orang marah kepadanya.
Rilia sangat merindukan teriakan penduduk lainnya karena kenakalannya itu, apalagi ada yang sampai mengejarnya dan ingin memukul dirinya sampai rumahnya.
"Kalo Rilia benar benar sudah sembuh, Rilia boleh kok masuk kesekolah lagi".
"Iya Bu, gimana ya kabar teman teman, sudah lama ngak bertemu mereka".
"Tadi Sony kesini, mau ngajak kamu main, tapi Ibu bilang kalo kamu masih sakit".
"Sony kesini? Kenapa Ibu tidak membangunkanku?".
"Ngak, kamu kan masih sakit, bagaimana nanti kalo dia ngajak kamu main terus, sekarang Rilia harus banyak banyak istirahat jangan main mulu".
"Tapikan, kasihan dia, dia pengen ngajak main aku".
"Rilia harus sembuh dulu baru boleh main, harus nurut sama Ibu!".
"Iya iya Ibu, Rilia akan nurut sama Ibu, tapi kalo Rilia sudah sembuh Rilia bolehkan nakal lagi?".
"Rilia ngak boleh jadi anak nakal".
"Rilia pengen bermain dengan teman teman disawah lagi, mancing disungai, ngambil mangga dipohon milik orang lain, dan banyak lagi".
"Rilia harus sembuh dulu, banyak banyak istirahat biar bisa main dengan teman temannya lagi".
Rilia mengangguk mengiyakan hal itu, Rilia juga ingin secepatnya untuk sembuha agar dirinya bisa bermain lagi dengan teman temannya disawah.
Malam ini Rilia lalui dengan damainya karena tiada lagi pertengkaran keluarga dirumahnya sehingga membuat Rilia merasa bahagia, karena bahagianya itu membuat Rilia sembuh dengan cepatnya.
Rilia sebenarnya tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dirumahnya kali ini, seakan akan hal ini tidak pernah terjadi dengan sendirinya tanpa permintaan dari dirinya, akan tetapi kali ini berbeda, karena pemikiran Rilia masih kekanak kanakan sehingga dirinya tidak memperhatikan hal itu lebih detail.
Kedamaian yang ia impikan akhirnya terjadi juga, hal itu membuat Rilia pulih dari sakitnya dengan cepat, sehingga dirinya mampu bersekolah kembali dan bermain main dengan teman temannya lagi.
*****
Berhari hari kemudian Rilia sedang berada dirumah, setelah dirinya pulih dari sakitnya, Rilia kembali bersikap nakal dan suka sekali membuat para tetangganya tidak segan segan untuk memarahinya seperti kali ini.
Salah satu tetangga terdekat Rilia mendatangi rumahnya dengan perasaan yang begitu marah kepada Rilia, Rilia hanya mampu bersembunyi dibalik punggung Ibunya karena dirinya ketakutan dengan amarah itu.
"Mbak, tolong ya anaknya itu dibilangin, gara gara anak Mbak anak ayam saya mati semua!!". Teriak orang itu sambil memarahi Rilia.
"Rilia ngak salah Tante!". Bantah Rilia yang marahi seperti itu.
"Lalu salah siapa? Apa bisa anak ayam itu gantung diri sendiri diatas pohon? Kalau bukan karena kau mengikatnya! Baru juga menetas sudah kau bunuh saja, emang kau fikir menegaskan anak ayam itu mudah!". Ucap orang itu sambil mengeratkan giginya kepada Rilia.
Pagi ini Rilia melakukan hal yang entah membuat orang tertawa atau marah keduanya mampu berpadu menjadi satu, tertawa karena hanya Rilia yang mampu melakukan hal itu kepada anak ayam milik tetangganya, dan marah karena banyak anak ayam itu mati dengan tragisnya yakni lehernya digantung diatas pohon tanpa rasa ampun.
Tidak ada yang mampu melakukan itu kecuali Rilia yang berani menangkap anak ayam milik tetangganya dan menggantungkannya dipohon depan rumahnya, Ibunya tidak mampu berkata apa apa lagi untuk membela Rilia, karena dalam hal ini Rilia juga salah.
__ADS_1
Memang pohonnya tidak terlalu tinggi, akan tetapi Rilia mampu untuk memanjatnya karena dirinya sangat suka memanjat pohon.