Child Of A Maid

Child Of A Maid
Bab 5


__ADS_3

Pada suatu hari yang cerah benerang, Rilia bermain dengan anak itiknya dihalaman belakang rumahnya sendirian, Rilia bermain pisau kecil untuk memotong rerumputan sebagai bahan masakannya siang itu.


Rilia begitu fokus dengan mainannya dan anak itik tersebut juga berada didekat Rilia bahkan tidur dikaki Rilia, sebenarnya Rilia merasa begitu geli karenaitu, tetapi ia mengabaikannya dan masih kembali melanjutkan masak masakannya.


Tanpa sengaja tangannya kegores oleh pisau tersebut hingga mengeluarkan banyak darah, Rilia begitu panik ketika melihat tangannya yang penuh dengan darah saat ini, ia tidak tau apa yang harus ia lakukan, rasa perih mulai menyelimuti lukanya tersebut.


Tiba tiba anak itiknya tersebut segera menghisap darahnya dan memakan darah yang menetes ditanah tersebut, Rilia yang melihat itu hanya bisa berdiam diri meskipun demikian tangannya juga merasa begitu sakit.


"Eh kenapa Titi memakan itu! itu kan darah". Panik Rilia melihat anak itiknya mulai menghabiskan darah yang ada ditanah tersebut.


Rilia tidak pernah melihat anak itik yang memakan darah, apalagi itu adalah darahnya sendiri, akan tetapi setalah itu lukanya mulai tidak berdarah lagi.


Rilia dapat melihat bahwa luka sayatan itu begitu dalam dijari telunjuknya, ia mengadukan apa yang ia alami kepada ibunya, dan seketika itu juga ibunya segera mencari handsaplas untuk membalut luka yang ada ditangan Rilia.


Rasa sakit yang ada di telunjuknya terasa begitu nyeri akibat sayatan tersebut yang cukup dalam, ia hampir saja mampu melihat tulangnya sendiri karena sangking dalamnya luka tersebut.


Luka itu melambangkan kehidupannya, seberapa keras untuk mengobatinya, luka itu akan sembuh tetapi tidak dengan bekasnya, akan sangat sulit untuk mengobati bekasnya daripada mengobati lukanya.


Rilia menangis ketika tangannya diobati oleh ibunya, karena rasa sakit yang ia rasakan, setelah itu Rilia sama sekali tidak mau menggerakkan tangan kirinya karena jarinya yang terluka begitu dalam.


*****


Beberapa hari kemudian Rilia mengalami sakit demam yang tinggi, ibunya begitu bingung karena demam yang dialami oleh Rilia terus meningkat seiring berjalannya waktu, suhu tubuhnya semakin lama semakin memanas.


Rilia merasa begitu kedinginan akan tetapi tubuhnya terasa begitu panas, kepalanya juga begitu pusing dan ia merasa kepalanya sangat berat untuk diangkat.


Disaat ia sakit sekali pun, orang tuanya masih saja bertengkar, Rilia yang mendengar pertengkaran antara kedua orang tuanya hanya bisa menangis dalam diam, rasa sesak menyelimuti dadanya, dalam keadaan sakit sekalipun ia menangis tanpa suara.


"Kenapa Ayah dan Ibu bertengkar lagi? apa mereka sudah tidak sayang dengan Rilia, Ayah Rilia sakit tapi kenapa Ayah masih mau menyakiti hati Rilia juga? Ibu Rilia sedih apa kalian masih ingin melanjutkan pertengkaran kalian?". Guman Rilia pelan dibawa bantal dan selimutnya.


Beberapa kali ia menghapus air matanya yang menetes tersebut, dalam keadaan sakit sekali pun, luka yang ia rasakan jauh lebih menyakitkan daripada apa yang ia alami saat ini.


"Ayah, Ibu, sampai kapan kalian akan terus seperti ini setiap malam? apakah kalian akan terus begini sampai Rilia mati sekalipun?".


Meskipun usia Rilia masih menginjak 9 tahun, akan tetapi Rilia begitu sangat membenci ketika melihat orang tuanya bertengkar apalagi dihadapannya, ia sama sekali tidak merasakan apa itu kebahagiaan keluarga, apa itu kasih sayang keluarga, dan bahkan ia sama sekali tidak mengenalnya.


Memang hal itu terlihat seperti biasa, akan tetapi bagi anak yang sejak kecil telah mengalami hal semacam itu akan menjadi trauma terbesar baginya, apalagi ketika melihat orang tuanya main kekerasan.


Karena isak tangisnya membuat Rilia terbatuk batuk yang begitu menyakitkannya, alhasil Rilia pun termuntah muntah sehingga sakitnya semakin bertambah parah, seluruh isi perutnya keluar begitu saja karena muntahnya tersebut.


"Rilia kamu kenapa Nak?". Ibunya segera berlari kearah Rilia yang begitu lemasnya setelah termuntah muntah.


Rilia tidak mampu menjawab ucapan ibunya karena tubuhnya begitu lemas, bahkan untuk mengeluarkan suara begitu sulit bagi dirinya, ibunya segera memeluk tubuh Rilia yang panasnya melebihi batas normal.


Kepala Rilia begitu pusing seakan akan seluruh isi kamarnya melayang layang didalam kepalanya, Rilia merasa nyaman berada dipelukan ibunya, terasa hangat dan bau khas tubuh ibunya dapat menenangkan hati dan pikirannya.


Rilia tidak sadarkan diri didalam pelukan ibunya tersebut, entah itu pingsan ataupun ketiduran keduanya sama sama membuat Rilia tidak sadarkan diri, dan bahkan panggilan ibunya pun sudah tidak mampu didengar olehnya.


Dengan pwrlahan lahan ibunya menidurkan Rilia kembali sambil memberikan minyak kayu putih untuk menghangatkan tubuh anaknya yang sedang memejamkan mata itu.


*****

__ADS_1


keesokan paginya Rilia terbangun dari tidurnya, akan tetapi tubuhnya merasakan kedinginan yang begitu mendalam seakan akan udara dingin telah merasuki tubuhnya hingga menembus tulang tulangnya.


Nafasnya terasa begitu panas disetiap hembusan yang keluar dari hidungnya, Rilia begitu lemasnya dengan keduanya matanya yang sayup seakan akan dirinya menahan sakit yang teramat sangat.


Kali ini sakitnya bukan hanya karena demam yang ia alami, melainkan karena pertengkaran keluarganya yang semakin hari semakin memanas daripada sebelumnya seakan akan rumah tersebut sudah kehilangan kedamaiannya sejak begitu lama.


Matanya seakan akan terasa panas jika terus terus terbuka, sehingga Rilia memutus untuk tetap memejamkan matanya sampai rasa sakit yang ia rasakan sedikit berkurang daripada sebelumnya.


Akan tetapi diluar dari harapan, Ibunya segera membawa Rilia ke puskemas terdekat untuk diperiksa, karena Ayahnya yang sibuk bekerja sehingga Ibunya dengan susah payah mengendong Rilia untuk mencari angkutan umum.


Jarak antara rumah Rilia dan jalan raya tersebut ada kurang lebih 1 kilometeran, karena Rilia yang sudah berusia 9 tahun membuat Ibunya begitu kesusahan untuk menggendongnya, tetapi Ibunya tidak pernah menyerah untuk membawa anaknya ke puskemas agar mendapatkan pertolongan.


Meskipun tubuh Ibunya terasa begitu kelelahan, Ibunya sama sekali tidak mengeluh karena itu, demi seorang anak apapun akan dilakukan oleh Ibunya, biar bagaimanapun ikatan batin anak dan ibu jauh lebih kuat daripada ikatan batin anak dan ayah.


"Ibu, Rilia beratkah? biar Rilia jalan saja, Rilia masih sanggup kok". Ucap Rilia diatas punggung Ibunya.


"Ngak papa, Ibu masih kuat kok, Rilia kan masih sakit".


"Tapi Rilia ngak bisa melihat Ibu terus berjalan seperti ini, turunkan Rilia, Rilia masih sanggup berjalan Ibu".


"Ibu ngak papa Nak, Rilia tidur saja digendong Ibu, sebentar lagi kita akan sampai dijalan raya kok".


Rilia menempelkan dagunya kepada bahu Ibunya, Ibunya dapat merasakan hawa panas yang dikeluarkan oleh tubuh gadis kecil yang ada digendongnya itu, hawa itu begitu menyengat diiringi oleh sengatan matahari pagi yang begitu cerah.


Untuk mencapai jalan raya, keduanya harus melewati sungai telebih dahulu, Ibunya berjalan begitu pelan takut terpeleset biar bagaimanapun Rilia masih berada digendongnya saat ini, dengan usaha yang keras Ibunya mampu melewati sungai tersebut meskipun ada duri yang menancap dikakinya sehingga mengeluarkan darah segar.


"Ibu turunkan Rilia sekarang". Rilia mengeteskan airmatanya membasahi bahu sang Ibunda, ia tidak tega ketika melihat darah Ibunya yang menetes membasahi jalanan sawah tersebut.


Meskipun Rilia tidak mampu melihat wajah ibunya itu, akan tetapi Rilia yakin bahwa ibunya terlibat begitu kesakitan, meskipun tanpa ucapan Rilia dapat merasakan keringat yang merembes keluar diwajah dan leher wanita itu.


Keringat tersebut perlahan lahan ikut membasahi kedua tangan Rilia, Rilia yang merasakan tetesan keringat tersebut mencoba untuk menguatkan dirinya meskipun masih dalam keadaan yang begitu lemasnya.


Tiba tiba suhu tubuhnya mulai menurun dan ikut berkeringat didalam perjalanan tersebut, tak beberapa lama akhirnya keduanya sampai ditepi jalan raya, akan tetapi Ibunya tidak melihat akan adanya angkutan umum yang lewat disana.


Ibunya menurunkan Rilia ditepi jalan dan disandarkan dibawa gapura desa tersebut, setelah itu Ibunya berjalan menuju tepi jalan raya untuk mencari angkutan umum yang akan membawa mereka menuju ke puskemas.


"Aku harus kuat demi Ibuku".


Rilia mengenggam erat kedua tangannya, ia tidak ingin melihat Ibunya kesusahan lagi hanya demi membawanya menuju ke puskemas terdekat dari tempat itu, karena disaat itu didesa tersebut masih jarang orang yang memiliki sepeda motor sehingga mayoritas didesa itu kebanyakan berjalan kaki, naik sepeda ontel, maupun angkutan umum.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya ada angkutan umum yang berwarna merah lewat didepan gapura desa tersebut, Ibu Rilia segera bergegas untuk menghentikannya. Melihat Ibunya yang berusaha menghentikan angkutan tersebut, Rilia juga berusaha bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kearah Ibunya berada.


Rilia merasakan bahwa tanah yang ada disekitarnya seakan akan bergoyang begitu kencangnya, pijakan demi pijakan Rilia lakukan demi mendekat kearah sang Ibu, meskipun dalam keadaan seperti ini sekalipun bukan halangan Rilia untuk terus berusaha dan berusaha.


Melihat angkutan umum tersebut berhenti, membuat Ibunya segera menoleh kearah dimana Rilia berada sebelumnya, ia begitu terkejut ketika melihat anaknya sudah ada dibeberapa langkah darinya.


Ibunya tanpa basa basi segera menggendong Rilia dan memasukkannya kedalam angkot tersebut, setelah keduanya sudah berada didalam angkutan umum, Rilia segera menyandarkan kepalanya kepada dada Ibunya yang begitu nyaman untuk Rilia istirahat.


"Ke puskemas Pak!!". Ucap Ibu Rilia kepada supir angkot tersebut dan dibalas anggukan olehnya.


Rilia merasakan pusing dikeningnya yang membuat Rilia merasa bahwa disekitar sedang bergoyang goyang, seakan akan terjadi gempa untuknya seorang.

__ADS_1


Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai juga di puskesmas, Ibunya segera membantu Rilia untuk duduk dikursi antrian sementara Ibunya segera bergegas menuju loket untuk mengantri, karena lamanya diperjalanan membuat darah yang ada dikakinya Ibunya sudah mengering.


"Aku bangga memiliki seorang Ibu seperti dirimu, aku tidak peduli apa kata orang, Ibuku adalah Ibu terbaik yang aku punya, dia adalah satu satunya harta berharga milikku, saat ini maupun selamanya". Guman Rilia yang melihat ibunya tengah mengantri dikejauhan.


Hanya demi membawanya berobat ke puskesmas, Ibunya rela melakukan apa pun agar anaknya lekas sembuh meski harus meneteskan darah karenanya, luka yang ada dikakinya sama sekali tidak menjadi penghalang baginya agar anaknya sehat kembali.


Ibunya merasa sedih ketika anak yang setiap hari selalu ceria dan selalu membikin dirinya marah marah tiba tiba menjadi lemas karena sakit, ia ingin anaknya kembali ceria seperti sebelumnya.


Ibuku adalah Bidadariku yang dikirimkan oleh Tuhan kepadaku, hanya untukku, untuk menjagaku dan diriku adalah malaikat kecil yang dikirim Tuhan untuk membahagiakannya, tiada pengorbanan yang lebih mulia dari seorang ibu yang rela melahirkan, menyusui, dan membesarkan putra putrinya.


Meskipun dalam keadaan lelah, sakit, dan sedih sekalipun, Ibu tidak menginginkan anaknya untuk mengetahui hal tersebut, sebenarnya Ibunya juga tidak ingin bertengkar dihadapan Rilia, akan tetapi karena rumah mereka yang begitu sederhana sehingga mudah didengar oleh Rilia dari luar rumah sekalipun.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya giliran Rilis untuk diperiksa, karena suhu tubuh Rilia sudah mulai turun sehingga menyebabkan Rilia tidak perlu rawat inap, dokter memberikan beberapa resep obat untuk Rilia.


Sebenarnya Rilia merasa gugup karena banyaknya obat yang diberikan oleh dokter tersebut, Rilia tidak mampu minum obat selain dihaluskan, sehingga Rilia harus merasakan pahitnya obat.


Setelah keluar dari puskesmas, Rilia merasakan bahwa tanah yang ia pijak sudah mulai sedikit berkurang getarannya, sehingga dirinya mampu berjalan lebih lama daripada sebelumnya.


"Bu, Rilia bisa jalan sendiri kan?". Ucap Rilia dengan senangnya.


"Rilia sudah sembuh?".


"Sudah Bu, tanahnya juga sudah tidak lagi bergetar seperti sebelumnya".


"Alhamdulillah, akhirnya Rilia sembuh".


Ibunya begitu senang melihat Rilia yang sedang berjalan disampingnya meskipun perlahan lahan, tak beberapa lama kemudian akhirnya ada angkutan umum yang lewat didepan mereka, Rilia dan Ibunya segera masuk kedalam angkot tersebut menuju kerumah mereka.


Bu setelah sampai dirumah, buatkan Rilia kue ya Bu, Rilia tiba tiba pengen makan kue yang warna hijau itu". Ucap Rilia dijalan sambil membayangkan bertapa enaknya kue tersebut.


"Iya Nak, nanti Ibu buatkan Khusus Rilia, Rilia jangan sakit sakit lagi ya, nanti Ibu sedih".


"Iya Bu, Terima kasih Bu".


Diperjalanan Rilia terus menyandarkan kepalanya di dada Ibunya sambil terus bercerita tentang enaknya kue yang ia bayangkan, entah kenapa tiba tiba Rilia rasanya ingin segera memakan kue tersebut.


Kue bikinan Ibunyalah yang paling enak menurut Rilia, Rilia tidak mau dibelikan kue, justru yang Rilia inginkan adalah kue buatan Ibunya yang selalu dibuatkan oleh Ibunya ketika Rilia ingin memakan kue.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai juga di didepan gapura desanya, Rilia segera turun dari angkot dengan bantuan dari sang Ibu.


"Rilia tidak mau digendong lagi, Rilia masih bisa jalan sendiri Bu".


"Yakin mau jalan sendiri?".


"Iya Bu, Rilia kan anak yang kuat, Rilia juga sudah besar".


"Iya,, anak Ibu yang paling kuat, dan paling Ibu sayang".


Rilia begitu senang ketika dirinya dipuji oleh sang Ibu, biar bagaimanapun Rilia tidak ingin melihat Ibunya kecape'an lagi untuk menggendongnya, lagipula jalan yang akan mereka tempuh juga cukup jauh.


Rilia berusaha untuk baik baik saja didepan Ibunya, ia tidak ingin membuat Ibunya harus menggendongnya lagi, bukan hanya karena takut Ibunya kelelahan akan tetapi Rilia juga tidak tega karena kaki Ibunya yang terluka karena duri yang ada disungai.

__ADS_1


****Terima kasih atas dukungannya****


__ADS_2