
"Lalu kita harus bagaimana Rilia? Agar dia tidak sedih lagi seperti itu?". Tanya Vina dengan nada bingungnya.
Rilia terus berpikir sambil memutar otaknya agar dapat menemukan ide yang cocok untuk membuat temannya itu tertawa lagi seperti sebelumnya, bukan hal mudah jika membuat orang tertawa sementara orang itu sedang merasakan kehilangan yang mendalam.
Rilia tidak memiliki ide lain untuk dapat membuat Nadia kembali tersenyum karena memang dirinya sendiri juga ikut merasa sedih karena kepergian Ayah dari sahabatnya itu.
"Bagaimana kalau kita ajak dia jalan jalan ke sawah belakang?". Tanya Suci dengan ragunya.
"Lalu bagaimana kalau dia tidak mau hm?". Tanya Rilia balik kepada Suci.
"Kenapa kamu over tingking sih Lia, belum juga dicoba".
"Iya aku paham, emang kamu pikir bagus kalau ngajak dia kesawah saat ini? Ayahnya bahkan belum berangkat masak iya kita udah ngajak dia pergi".
"Kau benar Lia, saat ini memang kita tidak bisa berbuat apa apa selain menyaksikannya dalam diam".
"Kapan aku pernah salah? Aku kan selalu benar, kau saja yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku yang selalu benar". Ucap Rilia dengan sombongnya.
"Kau bukan Tuhan yang selalu benar Lia".
"Emang kapan aku pernah menyamakan diriku dengan Tuhan? Aku hanyalah butiran debu jika dibandingkan dengan-Nya dan bahkan aku tidak terlihat, sejak kapan aku menyamakan diriku dengan Allah Tuhan semesta alam? Apa kau sudah gila sehingga berpikiran seperti itu".
"Bukan begitu maksudku Lia".
__ADS_1
"Sudahlah aku tidak ingin berdebat denganmu, apalagi disaat sedang berduka seperti ini".
"Sudah dong, jangan berantem, Nadia sedang sedih tuh, apa kalian ngak kasihan kalau dirinya semakin sedih ketika melihat kalian berantem seperti ini?". Sela Vina.
"Habis dia sendiri sih, berkata begitu sombongnya". Jawab Suci sambil mengalihkan pandangannya dari Rilia.
"Terus apakah dengan itu kau begitu sembrono karena membedakan aku dengan Tuhanku? Ya jelas lah berbeda, aku hanyalah ciptaan-Nya sedangkan Bliau adalah penciptanya". Ucap Rilia sambil berjalan menuju ketempat Nadia berada tanpa mempedulikan teman temannya lagi.
Rilia mendekat kearah Nadia, Nadia yang merasakan kehadiran seseorang disampingnya segera mengangkat kepalanya dan memandang kearah orang tersebut yang tidak lain adalah Rilia.
"Jangan sedih Nad, kamu ngak sendirian kok, kan ada kita yang selalu menemanimu, kamu boleh kok menangis jika memang sudah tidak kuat menahan air mata, tapi sedihnya jangan sampai berlarut larut nanti kita juga ikut sedih lo". Ucap Rilia sambil membentangkan tangannya untuk memeluk Nadia.
"I... ya Lia hiks.. hiks.. hiks". Ucap Nadia yang terus terisak tangisnya.
Rasa sedih memang selalu ada didalam tubuh manusia akan tetapi Allah menciptakan rasa itu karena memiliki tujuannya, setiap selesai menangis kita akan merasa begitu sangat mengantuk hingga akhirnya tertidur dengan pulasnya, setelah tertidur kita akan terbangun dengan badan yang sudah sehat kembali.
Allah tau kamu sedih, Allah tau kamu lelah tapi setiap kesedihan dan kelelahan Allah telah menyiapkan sebuah rencana yang sangat indah untuk hamba-Nya, Allah memberikan rasa ngantuk kepada kita setelah menangis karena Allah tau bahwa tubuh kita sudah terasa begitu lelahnya dan membutuhkan istirahat yang cukup.
Tanpa kita sadari bahwa rasa sedih dan sakit yang kita rasakan saat ini, Allah telah membuat suatu rencana yang paling indah untuk kita, kita hanya mampu merencanakan tetapi hanya Allah yang mampu untuk mengabulkan.
Allah menciptakan sebuah masalah, kesedihan, penyakit, penderitaan dan lain sebagainya bertujuan agar hamba-Nya meminta kepada-Nya dan bersujud kepada-Nya, begitu dahsyatnya kekuatan doa, kita berbisik kepada bumi akan tetapi mampu terdengar oleh langit.
"Lia,, A.. ku tidak menyangka bahwa Ayah akan pergi secepat ini hiks.. hiks... hua".
__ADS_1
"Sabar ya, ikhlaskan kepergianya, memang ini tidak mudah tapi percayalah bahwa Ayahmu sudah bahagia disyurga-Nya dengan para bidadari yang cantik, Allah lebih menyayangi Ayahmu sehingga Allah memintanya kembali untuk bertemu dengannya".
"A..ku tau Lia, ta..pi a..ku tidak siap kehilangannya".
"Aku tau ini berat bagimu, tapi yakinlah bahwa takdir Allah begitu indah, kata Pak Ustadz kita tidak boleh menangis kalau ada orang yang meninggal apalagi itu adalah orang tua kita, nanti rohnya akan tersandung batu".
Nadia menjatuhkan tubuhnya dibahu Rilia, Nadia terlihat begitu sedihnya karena kepergian dari Ayahnya, dirinya tidak menyangka bahwa Ayahnya akan pergi secepat ini padahal tadi pagi Ayahnya baik baik saja, akan tetapi takdir berkata lain bukan usia yang akan menentukan kapan kita akan tiada, tanpa sepengetahuan kita, jika sudah waktunya tiba maka kita akan kembali.
Kita tidak akan tau kapan malaikat maut akan menjeput kita, meskipun saat ini kita baik baik saja akan tetapi kita tidak akan tau kondisi kita beberapa menit kedepannya karena usia manusia terus berkurang seiring berjalannya waktu, jika takdirnya sudah tiba kita tidak akan mampu untuk menghindarinya apalagi menolaknya.
Jika detik ini kita baik baik saja maka bersyukurlah karena kita tidak akan tau tentang kondisi kita didetik berikutnya, karena malaikat maut selalu mengintai kita dan akan bersiap siap untuk mencabut nyawa kita tanpa kita minta sekaligus.
"Arghhh.....". Teriak Nadia.
"Aku tau ini sangat berat hiks... hiks... hiks... tapi percayalah Allah telah menyiapkan segalanya untukmu, jangan pernah menyerah, kami juga merasa kehilangan, aku tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang begitu berarti bagi kita". Ucap Rilia.
Rilia mencoba untuk menenangkan Nadia, ia tidak tau lagi harus berbuat apa untuk saat ini, yang Rilia inginkan adalah membuat Nadia merasa lega sehingga dirinya mampu mengikhlaskan kepergian Ayahnya meskipun hal itu sangatlah sulit untuk dilakukan karena sosok Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya.
Ayah akan sangat menyayangi anak gadisnya, dan tidak akan pernah membiarkan lelaki lain yang menyakitinya, sehingga sang anak akan merasa sangat dicintai begitu tulus oleh satu orang laki laki didunia ini yakni Ayahnya, karena sosok Ayah tidak akan rela jika melihat anak perempuannya menderita apalagi menangis dihadapannya.
Kehilangan seorang Ayah bagaikan sebuah duri yang menusuk kedalam tubuh, Jika kehilangan sosok Ibu akan terasa bagaikan nyawa sudah tidak berarti lagi, karena keceriaan, kenyamanan, perhatian, dan kasih sayang tiada yang tersisa.
Jika mereka kuat maka mental mereka yang akan menjadi taruhannya, apabila mereka sudah tidak kuat maka hanya ada satu jalan keluar yang mereka pikirkan, yakni bunuh diri, seberapa kuat mereka, mereka tidak akan pernah sanggup untuk kehilangan seorang yang paling mereka sayangi.
__ADS_1
... Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...