
Seperti ibu-ibu pada umumnya, Zara sedang berbelanja di sebuah Pasar Tradisonal. Alasan mengapa ia tidak berbelanja di tukang sayur komplek tentu saja karena ia tidak mau berurusan dengan ibu-ibu komplek yang mayoritas sangat tidak menyukai dirinya, jadi lebih baik ia menghindarinya daripada harus berurusaan dengan mereka.
Karena hari ini Davina ingin mengantar Elina ke Sekolah jadi Zara lah yang harus pergi ke Pasar sendirian. Ia sekarang sudah mulai bisa menerima kehadiran Davina dan bersikap baik kepadanya, ia pikir tidak ada salahnya Davina ada di Rumahnya setidaknya ia bisa memiliki teman mengobrol karena ia teringat bahwa Hana kini sudah tak lagi tinggal dekat dengannya sehingga membuatnya susah untuk mengobrol.
Zara mulai memilih beberapa jenis sayuran dan juga daging, ia sengaja membeli banyak karena untuk stok persediaan di Rumahnya karena jarak pasar yang lumayan jauh dari rumahnya maka membuatnya malas jika harus bolak balik ke Pasar setiap hari.
Ketika Zara sedang mengambil dompetnya tiba tiba saja ada seorang pemuda yang dengan Cepat mengambil dompet yang dikeluarkan Zara.
“Copetttt!!!” Teriak Zara dengan kencang dan berlari mengejar pencopet itu.
Karena mendengar teriakan Zara seketika orang orang yang berada di pasar itu segera membantu mengejar pencopet itu, sampai akhirnya ada seorang pemuda yang berhasil menangkap pencopet itu, orang orang yang berada di Pasar pun membawa pencopet itu ke kantor Polisi.
“Nih Mbak dompetnya, lain kali hati hati ya soalnya disini emang banyak banget copet.” Ujar pemuda itu sembari memberikan dompet Zara yang diambil pencopet tadi.
“Makasih.” Zara menerima dompet itu dan mendongakan kepalanya kepada pemuda itu dan betapa terkejutnya Zara bahwa pemuda itu adalah orang yang sangat ia kenal bahkan sangat dekat dengannya.
“Loh ternyata kamu Ra.” Ucap Pemuda itu dengan ekspresi sama terkejutnya dengan Zara.
“Lama ya kita gak berjumpa, sejak kejadian itu bahkan kamu entah pergi kemana, dan tanpa disangka kita ketemu lagi disini.” Zara menatap pemuda itu dan tersenyum kepadanya.
“Maafin aku Ra, sebenernya aku lakuin itu semua demi kamu, aku gak mau kamu ingkarin wasiat ayahmu.” Jelasnya pada Zara.
“Tapi bukan gitu caranya Dit, kamu pergi gitu aja tanpa alasan waktu itu dan itu cukup membuat aku terpukul.” Zara mulai berkaca kaca.
“Maafin aku Ra.” Ucap pemuda itu yang ternyata bernama Adit.
__ADS_1
Zara pun segera pergi meninggalkan Adit tanpa ada ucapan sedikitpun, sedangkan Adit yang melihat Zara pergi begitu saja semakin merasa bersalah, ia sebenarnya tidak ingin melakukan hal itu pada Zara tetapi apa boleh buat ia tak bisa melanggar wasiat Ayah Zara.
*
Davina kini sedang membersihkan dapur dan ia melihat Zara yang baru saja pulang dari Pasar tetapi wajahnya tampak sedih ia pun segera menghampiri Zara.
“Eh Mbak Zara udah pulang.” Ucap Davina sembari tersenyum kepada Zara.
“Iya Vin, oh iya aku boleh minta tolong gak sama kamu?” Tanya Zara.
“Iya Mbak mau minta tolong apa?” Balas Davina dengan cepat.
“Hari ini kamu aja ya yang masak soalnya tiba tiba aja aku gak enak badan nih.” Ucap zara.
Davina pun menganggukan kepalanya dan mengambil semua belanjaan yang dibawa Zara, ia merasa sepertinya telah terjadi sesuatu kepadanya karena terlihat dengan jelas matanya sangat sembab seperti habis menangis.
“Kenapa disaat aku sudah mulai lupain kamu, kamu kembali datang? Bahkan aku sudah mencoba menerima kehidupan ku yang sekarang! Tapi saat kamu muncul di hadapanku seketika semua pertahananku mulai runtuh.” Gumam Zara yang kini sudah mulai terisak.
Perlahan air mata mulai membasahi pipi nya, ia kembali menaruh foto itu ke dalam Box dan memasukkan kembali box itu ke dalam lemari. Karena terus mmenangis lama lama ia menjadi sangat mengantuk dan tertidur.
*
“Kenapa Dit? Kenapa!!!” Teriak Zara.
“Maafin Aku Ra tapi aku gak bisa lanjutin lagi hubungan kita.” Ucap Adit.
__ADS_1
“Kamu gak bisa dong tinggalin aku gitu aja kamu perlu kasih tau alasannya!” Tegas Zara.
“Maaf Ra tapi aku bener bener harus pergi ada suatu hal yang gak bisa aku kasih tau ke kamu.” Adit pun mulai meninggalkan Zara yang sudah menangis.
“ADIT!! “ Panggil Zara saat Adit sudah mulai menjauh namun Adit tak menghiraukannya dan terus berjalan meninggalkan Zara.
“AKU BENCI KAMU DIT.” Zara terus terisak mengamati kepergian Adit.
Zara pun seketika terbangun dari tidurnya ia benar benar tak menyangka akan bermimpi tentang kejadian dulu, hatinya kembali sakit mengingat itu semua. Sejujurnya Zara masih belum mengerti apa maksud dan tujuan Adit pergi begitu saja meninggalkannya.
“Ada suatu hal yang gak bisa aku kasih tau ke kamu.”
Zara teringat dengan kata kata yang adit ucapkan dulu, sepertinya ia perlu mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi mengapa Adit tidak bisa menjelaskan semua itu pada Zara.
Saat Zara sedang melamun memikirkan semua itu tiba tiba saja pintu kamar terbuka dan muculah Arka yang baru saja kembali dari Kantornya. Saat melihat Arka, Zara menjadi sadar bahwa kini ia sudah hidup bersama Arka bahkan usia pernikahannya sebentar lagi akan berusia satu tahun.
Namun sejujurnya ia masih belum sepenuhnya mencintai Arka, ia selama ini hanya mencoba berdamai dengan keadaan yang sudah menjadi takdirnya. Ia mulai menerima Arka dan berharap bahwa lama kelamaan ia bisa mencintainya.
“Heyy kenapa kok kamu ngelamun aja?” Tanya Arka yang menyadarkan lamunan Zara.
“Ehh engga kok Mas.” Sangkal Zara dan langsung mencium punggunng tangan Arka.
Arka tersenyum melihat istrinya itu dan langsung menccium keningnya, Zara yang diperlakukan seperti itu menjadi sangat bersalah karena ia tak seharusnya masih mengharapkan lelaki lain. Ia pun bertekad untuk melupakannya dan melanjutkan kehidupan seperti biasanya, meskipun memang hatinya belum sepenuhnya untuk Arka tapi baginya Arka sudah sangat menyayanginya jadi ia mulai merasa nyaman bersama nya.
“Yaudah Mas, sekarang kamu mandi dulu abis itu kita makan ya.” Ucap Zara dengan lembut dan mulai membantu melepaskan Jas dan dasi yang dikenakan oleh Arka.
__ADS_1
Dengan senang hati Arka menurut saja apa yang dikatakan istrinya itu, lalu ia pun segera masuk kamar mandi, sementara Zara ia langsung pergi ke Dapur untuk membantu Davina menyiapkan Makanan.