
Kini Elina tengah berada di sebuah ruangan yang sangat gelap, ia benar benar tak sadar mengapa ia bisa berada di ruangan ini. Karena ia merasa asing dengan tempat itu ia pun menangis dan terus menerus memanggil mama dan ayahnya.
Ia mulai memperhatikan sekelilingnya yang terlihat sangat mengerikan karena tak ada seorang pun yang berada di ruangan itu.
“Mamaa… Ayah… kalian dimana tolongin Elina.” Elina berteriak sekencang kencangnya berharap ada yang bisa mendengar suaranya dan membantunya keluar dari ruangan yang menegerikan itu.
Elina pun mulai mengingat apa yang senenarnya terjadi pada nya dan akhirnya Elina mengingat semua kejadian hingga bisa membuat nya berada disini.
*Flashback
Setelah mereka membeli pakaian mereka semua beranjak untuk menuju Salon, namun saat itu Elina melihat ada sebuah toko boneka dan ia melihat di dalamnya terdapat boneka tedy bear lalu ia pun memasuki toko itu tanpa sepengetahuan Zara dan juga Hana.
Saat Elina tengah melihat boneka tersebut tiba tiba ada seorang pemuda yang menghampirinya, umurnya kira – kira sama dengan mama nya ia pun mulai bertanya tanya pada Elina.
“Adik kok kamu sendirian aja kamu lagi apa disini?” Tanya pemuda itu.
“Aku lagi liat boneka tedy bear ini om.” Jawab Elina sembari terus memandangi boneka itu.
“Ooh jadi kamu suka boneka ini, kalo gitu ikut sama om yuk kesana sebentar nanti bakal om beliin boneka nya buat kamu.” Bujuk pemuda itu dan Elina pun langsung menyetujui nya dan mengikuti pemuda itu.
Namun ketika mereka sudah sampai di sebuah lorong yang agak sepi langsung saja laki – laki itu membekap mulut Elina menggunakan sapu tangan yang sudah ia berikan obat bius, sehingga dalam sekejap Elina menjadi tidak sadarkan diri.
Pemuda itu kemudian membawa Elina ke sebuah Rumah kosong yang letaknya jauh dari keramaian, sehingga akan menyulitkan banyak orang untuk menemukan keberadaannya.
“Anak ini sumber uang untukku, dilihat dari penampilannya pasti dia anak orang kaya.” Gumam pemuda itu sembari mengamati Elina dan menampilkan senyuman jahatnya*.
Elina kini sudah mengingat kejadian yang menimpa nya sekarang, ia benar benar merasa bersalah tak meminta izin terlebih dahulu pada mama nya sehingga membuatnya berakhir di sebuah tempat yang ia tak tahu dimana lokasi nya.
Elina kini hanya terdiam menangis meratapi nasibnya yang entah akan diapakan setelah ini. Namun tiba tiba ada sebuah langkah kaki yang menghampiri ruangan tempat ia berada dan tampak lah seorang pemuda yang tadi menjanjkan akan memberikan boneka kepada nya.
“Halo adik manis, kamu udah sadar.” Ucap pemuda itu sembari mengelus kepala Elina yang justru membuat Elina semakin takut dan menangis.
“Om aku mau pulang aku mau ketemu mama sama ayah.” Elina menatap pemuda itu dengan berlinang air mata, ia benar benar memohon agar di lepaskan dari tempat ini.
“Boleh kok sebentar lagi kamu bakal pulang tapi sekarang kamu harus kasih nomor hp orang tua mu dulu baru nanti kamu bboleh pulang.” Uccap pemuda tersebut dengan senyuman penuh arti.
Mendengar ucapan pemuda itu Elina segera menyebuutkan nomor handphone mama nya, untungnya Elina sudah menghafal nomor mama nya karena dulu mama nya pernah berpesan untuk menghafalkannya agar jika sesuatu terjadi pada Elina ia bisa meminta bantuan orang lain untu menghubungi nya.
“Anak pintar kamu tunggu dulu ya sebentar.” Pemuda itu lalu bergegas keluar dari tempat itu dan mulai mengubungi keluarga Elina.
__ADS_1
*
Sudah satu hampir seharian penuh mereka mencari Elina tapi Elina tak kunjung ditemukan, Zara benar benar merasa frustasi ia benar benar bingung harus kemana lagi mencari Elina, sejak tadi ia tak henti henti nya menangis.
Hingga akhirnya Hana memberitahu Arka jika Elina menghilang dan saat itu juga Arka langsung menyusul mereka ke Mall.
Sejak tadi Hana, Arka, dan juga Zara sudah berkeliling ke seluruh bagian yang ada di Mall tetapi Elina tak kunjung ditemukan bahkan mereka juga sudah meminta bantuan security untuk mencari nya tetapi hasilnya pun sama saja.
Mereka semua benar benar bingung kemana perginya Elina sampai sampai tidak ditemukan keberadaannya di Mall ini.
“Mas gimana ini kemana Elina mas.” Zara terus terusan menangis, ia benar benar khawatir pada Elina.
“Udah sayang kita tenang jangan panik, kalo panik kita gak akan bisa nemuin jalan keluarnya.” Ujar Arka sambil terus menenangkan Zara.
Saat mereka sedang memikirkan cara untuk menemuka Elina tiba tiba saja Handphone Zara berbunyi ia melihat bawa nomor tersebut tidak ada namanya, ia pun mengangkat panggilan itu dan terdengar suara asing di telinga Zara.
“Halo ini siapa ya.” Ucap Zara pada seseorang yang menelponnya.
“Kamu pasti sedang mencari anak mu kan.” Balas Pemuda itu.
“TOLONG CEPAT KATAKAN DIMANA DIA?” Zara berteriak pada pemuda itu namun pemuda itu hanya tertawa sehingga membuat Zara khawatir pada putri nya itu.
“Aku akan membawakannya sekarang tapi tolong jangan sakiti Elina, dia putriku satu satu nya.” Zara memohon kepadanya dengan sangat sungguh sungguh.
“Kamu tenang saja putri manis mu tidak akan ku apa – apa kan asal uang itu segera mendarat saat ini juga dan ingat jangan pernah kamu berniat membawa polisi atau anak mu tidak akan selamat.” Ujar pemuda tersebut dan langsung mematikan sambungan telepon nya.
Hana pun segera bertanya pada Zara setelah sambungan teleponnya terputus, “Ra ada apa?” Tanya nya dengan cemas.
“Elina diculik dan orang yang menculiknya meminta tebusan uang 100 juta saat ini juga.” Jelas Zara.
Mendengar penjelasan Zara semua yang ada disana menjadi semakin cemas dengan Elina dan mulai mempersiapkan strategi agar Elina bisa mereka ambil dengan selamat.
Tinggg…
Suara notifikasi di handphone Zara kembali berbunyi dan langsung saja Zara membukanya dan terdapat sebuah Alamat dimana letak Elina saat ini.
Gubuk tua di Hutan pinus
Setelah mengetahui Lokasi Elina berada mereka semua lebih dahulu kembali ke rumah untuk membawakan uang tunai 100 juta itu dan juga menyusun strategi agar penculik itu bisa segera ditangkap.
__ADS_1
*
Kini mereka semua telah berada di rumah disana juga sudah terdapat salah satu rekan Arka yang merupakan anggota kepolisian, mereka semua telah menyusun rencana untuk menangkap penculik itu.
“Bro gimana , lu udah siapin semua pasukan lu kan buat nanganin ini.” Tanya Arka pada Reno rekan kerja nya.
“Tenang aja semua udah beres yang penting lu ikutin semua procedur yang tadi udah kita rencanain.” Balas Reno yang dijawab anggukan oleh Arka.
“Mas ayo kita berangkat aku takut Elina kenapa kenapa.” Ujar Zara.
Mereka semua pun mulai bergegas menuju lokasi Elina disekap, rencana nya nanti yang akan masuk duluan adalah Arka dan yang lainnya akan bersembunyi agar penculik itu tidak langsung mengambil tindakan jahat saat itu.
Saat ini mereka semua sudah berada di dekat lokasi semua nya mulai mengambil posisi sesuai rencana, Arka pun mulai mendekat ke rumah kosong itu dan berteriak memanggil penculik Elina.
"CEPAT KELUAR!! SAYA SUDAH BAWA UANG YANG KAMU MINTA, KEMBALIKAN ANAK SAYA SEKARANG.” Teriak Arka dengan kencang dan akhirnya munculah seorang pemuda dari dalam rumah tersebut sambil membawa Elina.
“Akhirnya lu dateng juga, mana sini uang nya.” Pemuda itu langsung merebut koper yang berisi uang itu dari Arka, lalu segera membiarkan Elina untuk menghampiri Arka.
Tanpa si penculik itu duga datang lah polisi yang saat itu sudah keluar dari tempat persembunyiannya sehingga membuat dirinya seketika menjadi panik, namun tanpa di duga keluarlah komplotan si penculik itu dari dalam rumah yang jumlahnya kurang lebih ada 10 orang. Benar benar di luar dugaan kalau penculik itu juga membawa komplotan sedangakan polisi disitu hanya berjumlah 2 orang.
Pemuda itu tersenyum sinis, “Lu pikir gua bodoh, gua udah hafal lu pasti bakal bawa polisi meskipun udah gua larang.”
Komplotan itu langsung menyerang polisi itu namun disitu mereka membawa benda tajam sehingga membuat Arka dan juga polisi tersebut harus ekstra hati hati.
Kini Zara dan juga Elina hanya diam menangis dan juga bergidik ngeri saat melihat Arka dan juga Polisi itu berkelahi dengan para komplotan penjahat yang kini tengah melakukan serangan serangan kasar kepada semuanya.
Saat Arka tengah menangkis salah satu penculik tiba tiba saja seorang pemuda tengah membawa pisau itu menghampiri Arka dan ingin menusuknya tetapi Zara segera berlari untuk menggeser Arka agar tak terkena tusukan pisau itu tetapi justru malah Zara yang terkena.
“Zaraaa…” Teriak Arka saat pisau itu menancap tepat di pundak Zara, kemudian saat mereka lengah para pemuda itu langsung melarikan diri dan segera diikuti oleh Para polisi.
“MAMA!” Pekik Elina dan segera menghampiri mama nya yang kini setengah tersadar.
“Sayangg kamu gak apa apa kan, kamu pasti bisa bertahan kita ke rumah sakit ya.” Arka mulai mengangkat Zara menuju mobilnya untuk segera dibawa ke Rumah Sakit.
Hana yang sedari tadi hanya menunggu di mobil menjadi sangat panik ketika melihat Zara yang kini sudah berlumuran dengan darah dan juga Elina yang menangis.
“Zara kenapa Mas?” Tanya Hana cemas.
“ceritanya panjang Na sekarang kita ke rumah sakit dulu kasian Zara.” Hana hanya menangguk dan terus menenangkan Elina yang tak henti henti nya menangis.
__ADS_1