Cinta 2 Hati

Cinta 2 Hati
BAB 18. Sebuah Keputusan


__ADS_3

Setelah kejadian kemarin Zara pun tersadar bahwa tidak sepantasnya ia mengingat kejadian masa lalu nya, ia sadar sekarang ia sudah tidak mempunyai hubungan apapun dengan Adit ia sebenarnya merasa tidak enak kepada suaminya karena kemarin ia sedikit cuek kepadanya karena memikirkan Adit. Zara pun mulai melupakan tentang pertemuannya dengan Adit dan akan berfokus pada kehidupannya yang sekarang.


Pagi ini tentunya seperti biasa Zara akan menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga nya yang tentunya dibantu oleh Davina, ia kini merasa mulai akrab dengan Davina yang ternyata ia tak seburuk yang dipikirkan.


“Vin tolong tuangin nasi goreng nya ke mangkuk yang agak besar ya.” Ucap Zara.


“Iya Mbak.” Balas Davina dengan senang hati.


Setelah menyusun berbagai menu sarapan akhirnya Elina dan juga Arka langsung menyantapnya dengan cepat dan setelah selesai mereka segera berangkat karena takut jalanan yang kondisinya sangat padat di pagi hari.


Zara dan Davina pun mengantarkan mereka sampai depan rumah, sebelum berangkat tentunya Elina berpamitan terlebih dahulu kepada Zara dan juga Davina.


“Mah aku berangkat dulu ya.” Ucap Elina dan langsung mencium tangan Zara.


“Iya sayang belajar yang rajin ya.” Balas Zara sembari mengelus puncak kepala Elina.


Setelah berpamitan dengan Zara kini Elina beralih ke Davina.


“Ibu Elina berangkat Sekolah dulu ya.” Pamit Elina sembari mencium tangan Davina juga.


“Iya sayang hati hati ya.” Balas Davina dengan lembut dan langsung mencium kening putri nya itu.


Setelah berpamitan Elina dan Arka pun langsung berangkat, sedangkan Zara dan juga Davina tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada Elina yang sudah berada di dalam Mobil.


Ternyata tanpa disadari mereka sedaritadi sedang diperhatikan oleh beberapa orang ibu ibu dan ternyata ibu ibu itu pun menghampiri mereka berdua.


“Mbak Zara ini siapa ya? Kok saya gak pernah liat?” Tanya Ibu itu dengan penasaran.


“Ini Ibu kandung Elina Bu.” Balas Zara tersenyum.


“Loh kok tinggal serumah sih Mbak! Kan gak baik ada perempuan lain tinggal satu rumah apalagi kan Mbak Zara juga punya suami.” Celeteuk ibu ibu lain yang tentunya saja sangat menusuk hati Davina.


“Maaf ya ibu ibu kalian semua jadi salah paham gini, saya disini cuma sementara aja kok. Secepatnya saya akan pindah dari rumah ini.” Balas Davina dan Zara pun segera menepuk tangan Davina sebagai tanda bahwa ia harus mengehntikan ucapannya itu.

__ADS_1


Davina pun tersenyum menatap Zara, “Gak apa apa kok Mbak.” Gumam Davina pelan dan Zara pun mengerti.


“Ooh yasudah kalau begitu, kalau bisa jangan lama lama ya Mbak disini nya soalnya nanti bikin orang jadi salah paham apalagi kan Mbak Zara sudah bersuami.” Ucap ibu ibu itu lagi.


Davina hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya, dan setelah itu ibu ibu komplek itu pun segera pergi meninggalkan mereka.


*


Setela kejadian tadi pagi Zara, Arka dan juga Davina mulai membicarakan masalah tempat tinggal Davina. Sejujurnya memang betul yang dikatakan oleh ibu ibu tadi, bawa tidak baik ada perempuan lain yang tinggal serumah dengan laki laki yang bukan mahramnya.Tentu saja itu pasti akan membuat kesalah pahaman warga sekitar.


“Gak apa apa kok Mbak aku nanti bakal cari kontrakan aja.” Ucap Davina.


“Tapi aku gak mau kamu bawa pergi Elina, aku bener bener gak bisa kalau Elina ninggalin aku.” Balas Zara dengan cepat.


Mereka bertiga saat ini benar benar sangat bingung, karena Zara selama ini sudah terbiasa hidup dengan Elina dan pastinya jika Elina dibawa oleh Davina itu akan membuatnya merasa sedih tapi disisi lain Davina pun punya hak atas Elina karena bagaimanapun juga Davina adalah ibu kandungnya yang sudah melahirkannya.


“Kalau gak gini aja, jadi nanti Davina bakal aku cariin tempat tinggal dan soal Elina aku punya solusi, gimana kalau setiap tiga hari sekali Elina ganti gantian nginepnya jadi kan lebih adil.” Jelas Arka.


“Boleh Mas aku setuju kok.” Balas Davina.


Mereka pun akhirnya sepakat dengan keputusan itu dan mulai memberitahukannya kepada Elina dan tentunya saja Elina masih tetap merasa senang karena ia masih bisa bertemu dengan Zara dan juga Davina.


*


Hari ini Arka dan juga Zara mengantarkan Davina ke tempat tinggalnya yang baru, waktu untuk sampai ke rumah Davina mungkin kurang lebih sekitar 20 menit. Dan untuk sekarang jatah Davina untuk menjaga dan mengurus Elina selama tiga hari yang kemudian nantinya akan bergantian dengan Zara sampai seterusnya.


“Gimana Vin kamu suka gak Rumah barunya?” Tanya Zara.


“Suka kok Mbak suka banget malah.” Jawab Davina sembari mengamati Rumah yang akan ditempatinya sekarang.


Rumah yang ditempati Davina tidak lah mewah, hanya rumah sederhana dengan halaman yang dipenuhi dengan berbagai tanaman.


“Sayang hari ini kamu disini dulu ya sama Ibu nanti tiga hari kemudian Ayah bakal jemput kamu lagi ke rumah Mama.” Ucap Arka dengam lembut.

__ADS_1


“Iya Ayah.” Elina pun langsung memeluk ayahnya dengan erat.


“Jagain ibu kamu baik baik ya sayang.” Ucap Arka lagi , Elina pun menganggukan kepalanya.


Melihat kondisi ini Zara pun mulai berkaca kaca, sebenarnya ia ingin selalu bersama Elina tapi sekarang ia harus ikhlas teradap kondisinya saat ini.


Elina menghampiri Zara yang terlihat berkaca kaca, “Mama jangan sedih ya, nanti tiga hari lagi Elina bakal ke rumah Mama.” Ucap Elina sembarri memeluk Zara dengan erat.


“Iya sayang, kamu baik baik disini ya kalau kangen bisa telpon Mama ya.” Zara membelai lembut rambut Elina.


*


Rumah kini terasa sepi, setelah Arka pamit kembali ke kantor Zara hanya duduk sambil menonton Televisi yang sebenarnya tidak ia tonton sama sekali. Pikirannya sudah jauh kemana mana, baru saja ditinggal Elina beberapa jam yang lalu ia sudah mulai merasa kesepian, seakan akan waktu tiga hari adalah waktu yang sangat lama untuknya.


Untuk mengatasi kebosanannya Zara pun berniat untuk membuat kue brownis coklat agar mala nanti ia bisa memberikan cemilan kepada Arka. Ia pun mulai menyiapkan segala perlengkapan dan bahan bahannya di Dapur.


Saat ia sedang memasukkan telur ke dalam mikser ada sebuah panggilan masuk dan saat itu juga Zara menjadi sangat senang karena yang menghubunginya adalah sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Hana.


“Halo Naaaaa.”


“Halo juga Ra,lama nih gak nelpon kamu aku kangen.”


“Sama Na aku juga tau.”


“Kamu makanya main ke Bandung apa Ra aku kangen.”


“Iya iya nanti kalau suami ku libur aku bakal ajak kesana deh.”


“Oke ditunggu! Oh iya Elina gimana kabarnya?”


“Oh iya ada banyak hal yang mungkin belm kamu ketahui ya semenjak kamu pindah.”


“Oh ya?! Ada apa Ra ceritain dong!”

__ADS_1


Zara pun mulai menceritakan semuanya dengan detail kepada Hana, dan tentunya saja Hana pun menjadi sangat syok mendengar nya karena ia tak menyangka dengan kedatangan ibu kandung Elina.


__ADS_2