
Pernikahan mereka di adakan secara tertutup dan hanya di hadiri oleh orang orang dekat mereka namun Rafa mengecualikan ketiga sahabatnya yang ngotot ingin melihat resepsi pernikahan mereka secara langsung
Di gedung pernikahan
Allya sudah memakai gaun pengantin warna putih tengah mondar mandir apalagi kalau bukan karena rencana nya untuk menggagalkan pernikahan mereka tidak berhasil
Beberapa menit yang lalu
Di sebuah ruangan sudah berkumpul lengkap antara keluarga Allya dan Rafa
"Ehemm...ada yang ingin saya bicarakan," ucap Allya membuat mereka melihat ke arah gadis cantik itu
"Ada apa sayang?," tanya Ana
"Se sebenarnya begini tante om dan semua saya ingin mengatakan kebenaran antara saya dengan Rafa begini saya sama Rafa belum melakukannya jadi saya ingin membatalkan pernikahan ini karena saya tidak memiliki alasan untuk melanjutkan pernikahan ini," jelas Allya membuat suasana menjadi semakin membingungkan
"Dari mana kamu tahu kalau saya belum apa apain kamu," sahut Rafa sambil berjalan mendekati Allya
Rafa mengenakan jas hitam yang sangat pas melekat di badannya seketika Allya di buat terpesona oleh penampilan laki laki itu namun ia segera mengalihkan pandangannya
"Karena saya merasa tubuh saya masih biasa biasa saja dan juga kemarin kamu juga bilang begitu," kata Allya dengan gerogi ia tidak berani menatap mata Rafa secara langsung
"Kemarin sebenarnya saya berbohong dan juga saya sudah....," kata Rafa sambil melihat genit tubuh Allya
"Bohong ," bantah Allya dan wajahnya sudah semerah tomat
"Yang saya katakan benar dan juga waktu itu kamu tertidur jadi kamu tidak dapat merasakan nya kalau saya...," ucap Rafa sambil memainkan jari telunjuknya
Wajah Allya semakin memerah apalagi ada keluarga nya dan juga keluarga Rafa yang menyaksikan perdebatan mereka
Sabar Allya pasti dia sedang bercanda
"Kamu bercanda kan,"
"Saya serius dan karena adalah pria yang bertanggung jawab jadi saya mau nggak mau harus nikahin kamu," entah berapa kali Rafa berbohong
"Sudah sudah sekarang sudah waktunya kalian bersiap siap karena sebentar lagi acaranya akan di mulai," potong Ana dia sudah pusing mendengarkan mereka
Apa dia serius dengan yang dia katakan kalau iya berarti dia sudah melihat semuanya ya tuhan kesucian yang sudah saya jaga bertahun tahun di renggut cowok nyebelin itu
"Apa yang sedang kamu lakukan," ucap Rafa membuat Allya tersadar dari lamunannya
Rafa mendekati Allya dan lansung menggandeng tangan Allya dengan paksa
"Ka kamu mau ngapain dasar mesum,"
"Menurut lo,"
"Lepasin nggak,"
__ADS_1
"Bisa diem nggak tinggal nurut doang susah amat,"
Allya memalingkan wajahnya dan dengan paksa harus menggandeng tangan Rafa
Telapak tangan yang besar dan kokoh itu melekat pas di tangan mungil Allya rasa hangat menjalar di seluruh tubuhnya hingga jantungnya yang dibuat bedegub kencang seperti seseorang tengah memainkan genderang tepat di sampingnya
Perasaan apa ini kenapa jantung gue deg degan
"Tunggu masih ada yang kurang,"
Rafa memegang pipi Allya dan menarik ke atas memaksa Allya untuk tersenyum
"Sakit tau,"
"Mukanya jangan di tekuk gitu dong sudah jelek nanti tambah jelek lagi," goda Rafa
"Biarin,"
Resepsi pernikahan mereka sudah selesai di laksanakan sekarang Allya dan Rafa sudah resmi menjadi sepasang suami istri di mata agama dan negara
Di halaman parkir gedung resepsi Ardo Ferdian dan Dito berjalan beriringan menuju ke mobil mereka masing masing mereka kompak memakai kemeja motif batik dan celana bahan warna hitam
"Wah gila si kalau gue yang nikah sama dia pasti gue akan pajang dia di kamar setiap hari biar cuma gue yang bisa lihat dia," ujar Dito terbayang bayang wajah istri sahabatnya itu
"Inget woyy dia udah jadi istri sahabat kita mau elo nggak di anggep sahabat lagi ama monyet,"sahut Ferdian
"Jangan dong entar yang traktir gue makan siapa masa kalian mana mungkin,"
"Gue jadi tambah semangat ingin cepat cepat cari cewek yang kaya punya monyet,"
Tidak ada orang yang tahu pernikahan mereka kecuali keluarga dan sahabat Rafa bahkan teman teman Allya sekalipun tidak ada yang mengetahui nya
Setelah acara yang di bilang singkat itu selesai Kusuma dan Diana mengantar anak perempuan nya iti ke kediaman Rafa yang juga akan menjadi rumah Allya
Allya tengah berada di dalam mobil sport di samping suaminya itu dengan wajah kusut di iringi oleh beberapa mobil di belakangnya mereka
"Kamu kenapa si?,"
Allya tidak menggubris pertanyaan Rafa ia memalingkan wajahnya
"Kalau ada orang nanya itu di jawab,"
"Denger nggak aku ngomong," kesal Rafa karena dari tadi Allya hanya menatap keluar jendela mobil itu
Di pikiran Allya terbayang bayang apa kata teman teman nya nanti kalau mereka tahu kalau dirinya sudah menikah apalagi dadakan nggak kebayang gosip yang akan menghantui dirinya nanti
Allya menutup rapat rapat telinganya karena dari tadi laki laki yang tidak lain adalah suami nya itu terus mengomel karena dirinya tidak menggubris setiap pertanyaan yang keluar dari mulut suami nya itu
Dari kejauhan terlihat rumah mewah berlantai tiga itu dan dengan cekatan satpam di bantu dengan tukang kebun membuka gerbang rumah yang menjulang tinggi itu
"Turun,"
__ADS_1
"Iya saya tahu," jawab Allya dengan malas
Rafa dan Allya berjalan berdampingan menuju pintu besar itu di ikuti oleh keluarga mereka dan tidak ketinggalan ada trio buaya disana
"Allya mama sama papa pulang dulu ya kamu baik baik disini," ucap Tini sembari memeluk anak perempuan nya itu
"Ma jangan tinggalin Allya,"
"Dengerin mama sekarang kamu sudah punya suami jadi kamu harus tinggal bersama dia,"
Allya melepas pelukan hangat mamanya itu sambil mengusap air matanya yang tanpa ia sadari mengalir begitu saja
"Jagain anak bapak baik baik ya nak," ucap Kusuma sambil menepuk pundak Rafa
"Siap pak,"
"Saya percaya sama kamu," kata Kusuma mengakhiri pembicaraan mereka
Saya percaya sama kamu
Kata yang mampu membuat seorang CEO perusahaan yang terkenal itu terdiam di tempatnya beberapa saat ia bertanya pada dirinya sendiri apa dia bisa menjaga kepercayaan seorang ayah
Sebuah kata kata terlintas di benak Rafa sambil melihat sosok Allya yang kini menjadi istri nya orang tua nya mendidik dan mengasuh nya dari kecil hingga dewasa tapi ketika ia sudah dewasa dengan mudah nya mereka menyerahkan anak mereka kepada laki laki yang mungkin mereka belum mereka kenal sepenuhnya
Rafa memandangi punggung kedua mertuanya itu terlihat di balik senyuman mereka terdapat rasa sedih yang sulit untuk mereka gambarkan
Flash back
Di sebuah taman di pusat kota
Matahari sudah tak terlihat lagi di gantikan oleh remang remang cahya bulan Rafa sedang menunggu seseorang sambil tak henti henti nya mengutak atik ponsel di tangannya ingin rasanya ia meninggalkan tempat itu karena orang yang ia tunggu tak kunjung datang namun ia tetap menunggu di sana
Terlihat dari kejauhan seorang pria paruh baya mendekati nya dengan baju kerja terlihat keringat masih mengucur di wajahnya ia menyapa nya sambil tersenyum dan melambaikan tangannya
"Kamu sudah menunggu lama ya maaf bapak harus kerja lembur hari ini,"
"Tidak apa apa om,"
"Jangan panggil om dong panggil bapak kan sebentar lagi kamu akan menjadi menantu bapak," ucapanya sambil tersenyum Rafa hanya tersenyum mendengar perkataan Kusuma
"Jadi ada apa pak?,"
"Saya tidak perlu basa basi lagi ini menyangkut putri bapak yang sebentar lagi akan menjadi istri kamu,"
Rafa menatap Kusuma dengan wajah serius namun pria paruh baya itu malah tersenyum ke arahnya
"Tidak perlu tegang begitu,"
"Hhh...sebenarnya saya bingung mau mulai dari mana kami merawatnya dari ia mulai melihat dunia ini kami sangat menyayangi nya lebih dari siapapun kami adalah orang yang pertama kali memeluknya sepanjang malam dan sekarang kami akan menyerahkan semua tanggung jawab kami kepada kamu karena kami menganggap kamu bisa membuat dia hidup lebih bahagia saya tahu kejadian yang menimpa kalian namun saya percaya dengan seiring berjalan nya waktu kalian bisa saling mencintai satu sama lain saya percaya itu dan ini pesan terakhir dari saya jika kamu sudah tidak mencintai nya lagi jangan kasar kepadanya jangan marah kepada nya kamu bilang kepada saya saya akan membawa nya pulang,"
Kusuma berkata sambil tak henti henti nya ia tersenyum ke arah Rafa namun bisa terlihat mata dan wajah yang mulai keriput itu sedang menahan air mata nya sebuah pelukan mengakhiri pertemuan mereka pria paruh baya itu pergi sambil memakai topi warna putih yang terlihat lusuh itu
__ADS_1