
"Jabzbjzzbzbzjzbanaksb,"komat kamit Allya sambil mengepalkan tangan nya dirinya merasa sangat kesal terhadap laki laki di sampingnya
"Dimana rumah kamu masih jauh tidak," tanya Rafa karena hampir setengah jam mereka hanya berputar putar saja
"Masih lah orang dari tadi bapak cuma muterin komplek doang," sahut Allya dengan nada kesal sambil menggembungkan pipi imut nya
"Saya juga laki laki normal jika kamu terus berekspresi seperti itu jangan salahkan saya jika saya menggigit mu," kata Rafa
Allya bergidig ngeri mendengar Rafa berkata akan menggigit dirinya apa dia adalah vampir
Rafa kemudian menyetir mobilnya keluar ke jalan raya yang kebetulan Allya tidak asing dengan jalan tersebut yang ternyata letak rumah Rafa tidak terlalu jauh dari kampus nya
Perlahan Allya mulai memberitahu Rafa jalan mana yang harus mereka lewati agar sampai di rumah Allya
Tidak ada percakapan yang terjadi antara mereka selama perjalanan hingga pada akhirnya mereka berhenti di depan rumah yang sederhana namun masih layak di tinggalli
"Jadi ini rumah kamu,"
"Iya mememang tidak sebesar dan semewah rumah milik kamu tapi saya sangat nyaman tinggal disini,"
Allya membuka sabuk pengaman itu dan langsung membuka pintu mobil sport itu ia terlihat bingung karena pintu mobil itu terbuka bukan seperti pintu mobil pada umumnya
Rafa merasa sangat kesal karena Allya meninggalkan dirinya begitu saja tanpa berkata sepatah kata apa pun
Di ajak mampir kek apa gimana malah ditinggalin
Rafa keluar dari mobil itu tidak lama dengan Allya sambil merapikan pakaiannya dan rambut nya
Tentu saja sejak Rafa pergi ke rumah sahabatnya ia sudah memakai stelan jas yang sangat rapi
"Bapak mau ngapain?,"
"Saya mau mampir apa tidak boleh,"
"Tapi saya tidak menawarkan bapak buat mampir,"
"Hei dimana sopan satun kamu wajah aja cantik tapi sopan satun kepada tamu saja tidak ada sedikitpun,"
Cantik apa barusan dia sedang memuji saya tapi dari ekspresi nya di lebih tepat sedang merendahkan saya
"Saya tidak menganggap bapak tamu,"
Rafa sangat kesal mendengar perkataan Allya bagaimana bisa dia sampai suka sama cewek seperti dia
__ADS_1
Mereka berdua tidak berhenti berdebat di halaman rumah Allya yang terletak lumayan jauh dari kota besar
"Kalau bapak mau mampir silahkan tapi rumah saya jelek takut nya bapak nanti alergi,"
"Kalau saya punya alergi saya lebih alergi kepada kamu,"
Allya berjalan kearah rumahnya di ikuti Rafa di belakangnya di setiap langkahnya Allya memikirkan bagaimana cara untuk menjelaskan kepada kedua orang tua nya
Ceklekk.....
Seperti biasa pintu rumahnya tidak pernah di kunci Allya kemudian berjalan ke dalam rumah nya
"Allya pulang ma...mama dimana," katanya sambil melihat kesana kemari
Kemudian seorang wanita paruh baya di ikuti seorang pria yang terlihat sedikit uban di rambutnya berjalan ke arah mereka
Dengan cepat Allya menghampiri wanita paruh baya itu dan memeluknya dengan erat lalu menagis disana
"Maafin Allya ma hiks...hiks...hiks,"
"Mama dan papa sudah tahu semuanya kamu jangan menagis sayang sayang cup...cup...lihat mata mama ingat kamu nggak boleh nangis," ucapanya sambil menenangkan anak nya karena ia tahu jika Allya sampai berlarut larut dalam kesedihan ia akan sangat sulit di tenangkan
Rafa merasa sangat pilu melihat kehangatan keluarga kecil di depannya ingin sekali ia merasakan kehangatan itu juga yang selama ini ia rindukan
Dasar cowok nggak tahu diri nggak lihat apa gue lagi sedih kaya gini
"Waduh waduh ini calon menantu saya ya silahkan duduk," kata papa Allya memecah kan susana yang tadi sedih menjadi hangat kembali
Kusuma tahu jelas siapa sosok di depannya itu karena sebelumnya orang tua Rafa datang ke kediaman nya dan menjelaskan sedetail detail nya tanpa ada yang di tutupi sedikitpun
Kusuma merasa sangat marah dan murka mendengar cerita Herman dan istri nya namun ia bisa bernafas lega setelah meyakinkan bahwa anak mereka akan bertanggung jawab sepenuhnya
Kusuma sebenarnya masih tidak terima dengan kejadian yang menimpa anaknya apalagi Allya akan menyelesaikan S1 beberapa bulan lagi namun apa boleh buat Kusuma hanya bisa menerima kenyataan yang begitu menyakitkan dan dia memikirkan kondisi anak nya saat ini karena ia tahu persis bahwa Allya memiliki masalah pada emosinya
Namun ia merasa sedikit tidak khawatir karena melihat dua orang paruh baya di depannya yang meyakinkan dirinya bahwa mereka akan memperlakukan anak nya sebaik mungkin seperti putri mereka sendiri
Rafa dan Kusuma akhirnya duduk berseberangan dan Allya dan mamanya masuk ke dapur
Kusuma tidak henti henti nya melihat penampilan calon mantunya itu dari bawah sampai atas dengan perasaan kagum
Berbeda dengan Rafa yang merasa sangat canggung dan tidak nyaman di tatap oleh Kusuma
"Om eeee....Allya sekarang di kampus mana?," tanya Rafa dengan gugup ia tidak tahu ia ribuan kali berdebat dengan para prngusaha terkenal di negara ini tanpa ada rasa gugup sekalipun tapi kenapa kepada pria paruh baya didepannya ia merasa sangat gerogi sekaligus rasa bersalah di hatinya
__ADS_1
"Itu di Kampus xxxx ,"
"Ternyata disana kebetulan rumah saya hanya berjarak kurang lebih dua kilometer dari sana," jawab Rafa entah kenapa susunan katanya yang biasa singkat padat dan jelas berubah menjadi kalimat yang berputar putar
Sebenarnya Rafa sudah menyelidiki semua tentang Allya mulai dari tanggal lahirnya riwayat sekolah makanan kesukaan hobi dan seluruh hal yang bersangkutan dengan Allya
"Saya ada dua permintaan yang ingin kamu lakukan untuk anak saya,"
"Apa itu jika saya mamapu saya pasti akan melakukannya,"
Ternyata dugaan Rafa benar baik orang tuanya maupun Allya menganggap bahwa dirinya sangat menyukai Allya sehingga berbuat nekat namun entah kenapa Rafa tidak merasa marah akan hal itu malah dirinya tidak sabar untuk menikahi Allya
Kusuma membisikkan permintaan nya di telinganya Rafa terlihat lesu mendengar permintaan calon mertuanya itu apalagi permintaan yang terakhir ia tidak yakin bisa melakukannya atau tidak
Namun Rafa merasa itu adalah permintaan yang sangat masuk akal apalagi itu menyangkut masa depan dan kondisi Allya
Dengan berat hati Rafa menyanggupi permintaan calon mertuanya itu Kusuma lalu menepuk pelan pundak calon mantunya itu sambil tersenyum yang menandakan ia sudah percaya kepada Rafa
Tidak lama kemudian Allya bersama ibunya berjalan ke arah mereka sambil membawa nampan yang berisi teh hangat dan camilan
Lagi lagi Rafa di buat terpesona oleh kecantikan dan kesederhanaan Allya yang membuat hatinya berdebar tak karuan
Allya mengikat cepol rambut panjang nya sehingga terlihat leher putih mulusnya dengan memakai dress pendek warna merah muda yang sangat serasi dengan warna kulitnya dan celana jeans yang masih ia pakai ingin rasanya Rafa membungkusnya pulang
"Silahkan di minum teh nya," ucap Diana mama Allya
Dengan canggung Rafa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan munyeruput teh hangat di depannya
"Jadi apa kalian sudah siap menikah besok?," tanya Kusuma
"Pufttttt...uhuk...uhuk...uhuk...," Rafa menyemburkan teh yang sedang ia minum
Seketika semua orang menatap Rafa untung saja tidak ada orang di depannya kalau ada pasti orang tersebut akan basah kuyup
"Maaf tante teh nya agak panas," Rafa beralaskan
"Apa besok,"
"Iya kami sudah berdiskusi dengan orang tua calon suami kamu bahwa kalian akan di nikahkan besok,"
"Ma pa sebenarnya kami....,"
Kata Allya terpotong ketika Rafa melotot tajam ke arah dirinya mengisyaratkan agar Allya tidak melanjutkan kata kata nya
__ADS_1