Cinta Atau Suka

Cinta Atau Suka
Canggung


__ADS_3

"Mana bi Inah suruh dia cepat ke kamar saya segera!!!," ujarnya


"Iya tuan,"


Rafa tengah duduk di sebelah Istrinya yang tengah terbaring di atas ranjang ia belum sadarkan diri sejak tadi mata tajam nya tidak lepas dari paras cantik Istrinya itu


Rafa tengah menunggu Ardo yang sengaja ia panggil untuk memeriksa kondisi Istrinya itu ia membersihkan luka Allya di bantu bi Inah


"Maaf lama nunggu abisnya hujannya lebat banget,"


Tidak ada yang menjawab nya hanya tatapan tajam dari Rafa yang membuat Ardo bergidig ngeri di buatnya ia segera mengeluarkan peralatannya dari koper yang ia bawa


Ardo dari tadi hanya bisa senyum senyum sendiri melihat tingkah posesive sahabatnya itu ia belum pernah melihat sahabatnya itu seposesive ini terhadap wanita


Ardo mengeluarkan plester dan akan menempelkannya di pelipis kiri Allya lagi lagi tangannya di pegang dengan kuat oleh sang penjaga pribadi Allya


"Biar gue aja,"


Rafa langsung mengambil plester luka itu di tangan Ardo secepat kilat ia menempelkannya di luka Allya dengan sangat hati hati bahkan bisa di bilang sangat pelan hingga Ardo di buat kesal


"Kaya nempelin apa aja lama banget,"


"Diem lo,"


Rafa menghembuskan nafasnya yang dari tadi ia tahan ia kembali mentap Ardo yang masih berada di sampingnya dengan cepat Ardo turun dari atas ranjang itu


"Kapan istri gue siuman,"tanya nya


"Paling bentar lagi kalau gitu gue pamit dulu,"


"Iya iya pergi sana yang jauh," jawab ketus Rafa sambil melambaikan tangannya ia tidak rela kalau ada laki laki yang memandangi wajah Istrinya apalagi dari dekat bahkan sahabatnya sekalipun entah darimana sifat posesive nya itu berasal


Ardo hanya berdecak sebuah ide jail terlintas di benak nya apalagi kalau bukan untuk membuat sahabatnya itu marah


"Ehemm...gue cuma mau kasih saran aja karena istri lo sedang dalam kondisi seperti ini alangkah baik nya jika tuan Rafa menahan diri untuk malam ini ok,"


Darah Rafa di buat mendidih mendengar perkataan Ardo sang dokter mesum itu


"Pergi nggak lo kalau nggak gue tonjok lo,"


"Iya iya galak amat mentang mentang udah punya istri,"


Sebuah sepatu melayang di udara menghampiri wajah Ardo dengan gesit ia menghidarinya dan langsung berlari dari ruangan itu sebuah pertanyaan bagaimana Ardo bisa jadi lulusan terbaik di universitas nya


"Tuan bibi undur diri dulu," ucap bi Inah


"Iya bi terimakasih,"

__ADS_1


"Sama sama tuan,"


Bi Inah secara keluar dari kamar itu ia menutup pintu kamar itu ia tidak mau mengganggu tuanya itu walupun ia sebenarnya masih ingin di sana setidaknya sampai Allya siuman


Rafa mengelus elus rambut halus Allya ia tersenyum melihat wajah cantik Istrinya itu ia merasa pria paling beruntung di dunia ini


Maaf karena saya bohong karena saya nggak mau kamu saya juga tidak tahu sejak kapan perasaan ini muncul tapi gue nggak mau kehilangan kamu saya sayang sama kamu Allya


Rafa turun dari ranjang itu ia mencari sebuah kursi ia menaruhnya tepat di samping Allya ia duduk disana ia ingin lebih dekat melihat wajah Istrinya


Entah keberanian dari mana Rafa memegang tangan Allya ia menggenggam nya sangat erat ia mungkin ia tidak akan berani melakukanya jika Allya terbangun


Sinar matahari menembus jendela itu hingga membuat Allya tersadar dari tidur nya sinar matahari membuat ia tidak nyaman dengan malas Allya membuka matanya dan mulai mengumpulkan sedikit demi sedikit nyawanya


Allya mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan yang terlihat tidak asing baginya apalagi bau parfum maskulin yang masih teringat jelas di memorinya


"Aduh...,"


Allya meringis kesakitan ia belum menyadari kalau ada orang yang sedang tertidur di samping dirinya sambil menggenggam tangannya dengan sangat erat


Pada saat Allya ingin beranjak dari tempat tidur itu ia tertahan karena tangan kirinya seperti ada yang menahannya ia menoleh ke samping dan melihat tangan kekar dan besar itu sedang menggenggam tangan kirinya dengan sangat kuat


Allya merasa ada yang tidak beres dengan jantung dan pipinya ia merasa jantung nya berdebar debar wajahnya sangat panas seperti sedang berada di depan api unggun apalagi melihat siapa pemilik dari tangan itu yang tidak lain adalah Rafa


Allya mengurungkan niat nya ia tidak mau membangunkan orang di sebelahnya ia kembali membaringkan badannya dengan hati hati dengan senyuman di wajahnya


Tangan gue di pegang ya tuhan maafkan hamba mu ini karena melakukan dosa ehhh...tunggu bukannya gue istrinya jadi enggak apa apa dong berarati kalau saya minta dia....aaaaaaaaaaa


"Tunggu dulu bukannya karena cowok brengsek ini sudah gituin gue,"


Allya sedang berseteru dengan dirinya sendiri ia sangat bahagia namun masih ada perasaan marah dan kesal yang sulit dihilangkan jika melihat pria disampingnya itu


Jama menunjukkan pukul 07.05 dari tadi Allya terus mencuri pandang ke sosok pria yang sedang tertidur itu ia melihat tangan pria itu yang sedang menggenggam tangannya dan tentu saja membuat jantungnya berdebar debar apalagi jika melihat wajah tampannya itu rasanya jantungnya akan keluar dari tubuhnya


Allya mengatur nafasnya dan melihat kearah lainnya namun rasa hangat di tangannya membuat usaha yang di lakukannya sia sia


"Kamu sudah bangun?,"


Allya sangat kaget mendengar suara serak khas seorang pria ketika bangun tidur bulu kuduk Allya berdiri mendengar suara yang menembus ke telinganya ia menoleh ke samping


"Iya sudah," jawabanya


"Apa masih sakit?,"


"Apanya oh ini sudah lumayan cuma agak perih," jawabnya


Rafa mengangguk pelan mendengar jawaban Allya ia sedikit heran melihat tingkah Istrinya yang terlihat sangat gugup menjawab setiap pertanyaan nya bahkan ia tidak berani mentap nya

__ADS_1


"Apa ada yang sakit lagi?,"


"Nggak nggak ada,"


"Itu kenapa wajah kamu merah,"


Allya semakin salah tingkah ia tidak tahu apa yang harus di katakan ia menggerakkan tangan kirinya agar pria itu menyadari kalau dirinya masih menggenggam tangannya ia bisa dibuat mati serangan jantung nanti kalau terus terusan begitu


Rafa menoleh ke tangannya dengan cepat ia melepas genggamannya ia sangat malu karena ia sampai lupa


"Ma maaf,"


"Iya nggak apa apa,"


Suasana menjadi sangat canggung Rafa merasa sangat malu namun ia mencoba untuk stay cool berbeda dengan Allya yang tingkat gugup nya sudah di luar kendali nya


"Kalau gitu saya siap siap ke kantor,"


Allya mengangguk pelan tanpa melihat ke arah Rafa entah perasaan apa yang sedang ia rasakan


"I itu pak saya mau pergi ke kampus boleh kan?," tanya Allya memberanikan diri


"Kalau kamu sudah tidak apa apa tidak masalah,"


"Terimakasih pak,"


Rafa menghentikan langkahnya kemudian berjalan mendekat ke arah Allya yang akan turun dari ranjang itu


Kenapa dia kembali lagi aduh gue harus gimana tenang Allya tenang tenang nggak bisa gue nggak bisa tenang kalau gini caranya


Rafa menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal ia masih merasa canggung jika berbicara dengan Allya


"Eeee...itu di meja saya udah beliin kamu handphone baru kalau kamu nggak suka buang aja dan nanti kamu ke kampus di antar sama sopir,"


"Nanti saya pesan ojek online saja,"


Tolak Allya sambil menundukkan kepalanya sampai sekarang ia masih merasa malu mentap Rafa yang notaben nya adalah suaminya sendiri


"Kali ini kamu nggak boleh nolak saya sudah bayar mahal buat nyewa sopir untuk kamu,"


"Ta tapi pak,"


Rafa mendekat dan mengacak rambut Allya entah angin dari mana sampai sampai ia melakukan itu


"Nggak usah nolak,"


Allya mengangguk pelan apalagi ia merasa wajahnya terbakar lagi setelah melihat Rafa keluar dari sana ia mengembangkan senyuman nya ia memegang kepala dan tangannya bergantian ia dibuat senam jantung di pagi ini

__ADS_1


__ADS_2