Cinta Dalam Sepotong Kue

Cinta Dalam Sepotong Kue
Hidup Baru


__ADS_3

Hari demi hari Damar dan Dinda yang kini tinggal di kontrakan di sebelah bang udjo menjalani kehidupan yang sangat sederhana,mereka hidup dari sisa- sisa tabungan Dinda.semua perhiasan dan harta benda nya sudah Di jual satu persatu karena Damar yang lumpuh dan Dinda yang tidak bekerja.sedangkan kehamilan Dinda sudah memasuki bulan ke lima dan perutnya sudah terlihat sedikit membuncit.dengan modal nekat dinda mengandalkan keahliannya membuat kue.ia membuat kue tradisional dan menjajakan keliling kontrakannya setiap pagi.hampir setiap pagi ia menjajakan kuenya tanpa mengurangi rasa tanggung jawabnya sebagai istri.


Pukul 2 pagi Dinda bangun dan mulai sibuk membuat kue setelah selesai ia pun sholat shubuh dan membuatkan sarapan untuk suaminya pukul 6 pagi ia mulai berkeliling menjajakan kuenya sampai pukul 9 pagi jika kue buatannya tidak habis maka Dinda pun menuju ke pasar dan berjualan di pasar. karena kue buatan Dinda sangat enak ia selalu di tunggu para ibu- ibu yang menunggu kuenya untuk sarapan di pagi hari.


Dinda yang dulu adalah seorang gadis yang cantik,dengan kulit yang putih dan terawat kini tidak lagi seperti itu.sekarang kulitnya sedikit menghitam di karenakan sengatan sinar matahari dan badannya kurus sehingga terlihat seperti orang busung lapar karna perutnya yang buncit karna kehamilannya.banyak orang yang menyayangkan Dinda yang sekarang seperti itu apalagi bang Udjo yang melihatnya.Sehingga bang Udjo sering menyuruh Dinda dan Lia untuk berkunjung kekontrakannya Dinda.


Panas kepanasan dan hujan kehujanan begitulah dinda sekarang,uang hasil jualan ia sisihkan untuk makan sehari- hari sedangkan Damar hanya selalu meratapi nasibnya sekarang ia tidak sadar jika tugasnya sebagai kepala keluarga telah di gantikan posisinya oleh Dinda.


Hari ini Dinda hanya mengantarkan pesanan Bu Rini yang memesan banyak kue kepada Dinda sehingga Dinda tidak berkeliling menjajakan kuenya hanya untuk memenuhi pesanan bu Rini.pukul 5 sore Dinda mengantarkan pesanan bu Rini dengan diantar bang udjo menggunakan motor.


Sesampainya di rumah bu Rini Dìnda pun mengucapkan salam dan dipersilahkan masuk oleh anak buah bu Rini yang sudah mengenal Dinda.


Bu Rini adalah pengusaha di bidang katering dikarenakan pesanan kateringnya yang banyak ia sering melimpahkan pesanan kue kepada yang lain termasuk Dinda yang mendapat operan Order dari bu Rini ,tapi tidak semua penjual kue bisa ditawari dan bekerja sama dengan ibu Rini.kareena bu Rini selalu menyeleksi setiap oran yg mau bekerja sama dengan nya baik itu rasa,warna,tekstur,kebersihan .Didalam rumah Bu Rini sekarang tampak banyak anak buahnya yang sedang sibuk mempersiapkan katering pesta malam ini.Dinda pun di persilahkan duduk dan menunggu di ruang tamu setelah bungkusan kuenya di bawa oleh fitri salah satu karyawan katering bu Rini.Dinda yang tidak pernah masuk ke dalam rumah bu Rini karna biasanya ia langsung menghantarkan kuenya ke dapur.sesampainya di ruang tamu Dinda melihat foto bu Rini dan Suami.dan sepertinya Dinda pernah melihat sosok suami dari bu Rini tersebut dan ia pun seperti pernah melihat batu giok di cincin dan gelang bu Rini sehingga Dinda tidak menyadari ternyata bu Rini sudah berada di belakangnnya.


" kenapa suami ibu jelek ya.." ujar bu Rini


" Nggak bu... kayaknya Dinda pernah melihat suami ibu" seru Dinda


" Wah muka suami saya pasaran ya Dinda"


" Dimana kamu pernah melihatnya.? tanya bu Rini lagi


" eeeehm... Dinda nggak ingat bu.


Tak lama kemudian terdengar deru mobil yang telah terpakir di depan rumah.

__ADS_1


" Tuh yang di omongin muncul. panjang umur" seru bu Rini


" Kenapa ma.. " tanya suami bu Rini


" Nggak pa.. ini mbak Dinda katanya pernah ketemu ama papa.tapi nggak tau dimana?


" Suami bu Rini pun kemudian melihat kearah Dinda dan Dinda pun berdiri hendak bersalaman dengan suami bu Rini


" oalaaah... ini mbak Dinda ya istrinya Damar yang waktu itu kecelakaan... seru suami bu Rini yang ternyata adalah pak Permana yang waktu itu telah menolong Damar pada saat kecelakaan.


" eeeh iya.. pak Permana ya.....!" seru Dinda


" Aih.. papa kenal ama mbak Dinda." seru bu Rini


" Iya ma .. yang waktu itu papa ditelpon mama papa lagi di rumah sakit ya sedang menolong suaminya mbak Dinda ini ma..." terangkan pak Permana.


Gimana kabar mas Damar.. tanya Pak Permana


Dinda yang di tanya tentang keadaan Damar kemudian menceritakan semuanya tanpa terasa air mata Dinda pun mengalir. bu Rini yang melihat Dinda menangis ia pun merasa iba dan kasihan melihat Dinda yang masih sangat muda sudah mengalami penderitaan yang sangat berat.ia pun seketika teringat akan anaknya yang kemungkinan bila anaknya hidup akan seumuran dengan Dinda dan kemudian ia pun secara spontan memeluk Dinda.


Pak Permana yang melihat istrinya memeluk Dinda memaklumi sikap istrinya yang pasti teringat akan anak mereka.


" Sudah.. sudah.... kok jadi kayak drama ini." ujar pak Permana


Dinda yang merasakan pelukan bu Rini sangat hangat seperti pelukan mama lulu ibu panti yang telah merawatnya dari bayi enggan untuk melepaskan pelukan itu.Bu Rini pun merasakan hal yang sama. ia merasa seperti telah mengenal Dinda sejak lama dan terasa sperti ia memeluk anaknya sendiri.Kemudian bu Rini pun melepaskan pelulannya dan tersenyum dan tertawa menatap suaminya dan berkata kepada suaminya.

__ADS_1


" Pa... kalau anak kita masih hidup dia pasti seumuran ama anak kita ya pa. yang di jawab oleh anggukan kepala oleh pak Permana.


" Tapi pa.. dilihat- lihat matanya Dinda seperti papa loh... sendu- sendu gimana gitu ujar bu Rina sambil menatap Dinda dan pak Permana bergantian.


" Sendu ya ma..... senang duit. ujar mereka bertiga kompak dan tertawa bersama.


Sejak hari itu Dinda selalu di beri orderan oleh bu Rini dan selalu menyelesaikan setiap orderan atau pesanan kue dengan tepat waktu dan hasilnya pun memuaskan.


Damar yang melihat kerja keras istrinya iapun sebenarnya ingin membantu tapi ia selalu di liputi oleh rasa bersalah yang sangat besar dan membuat dia sering tidak terima jika Dinda menggantikannya sebagai kepala keluarga mencari nafkah, karna Damar merasa harga dirinya jatuh sebagai seorang suami. apalagi Dinda sedang mengandung anak yang dulu pernah ia tolak.rasa bersalah , penyesalan dan ego yang tinggi sering menyebabkan ia lebih banyak diam dan hanya memperhatikan dinda yang sedang bekerja membuat kue.


Hingga hari ini Dinda yang sedang hamil tua sedang memasak air untuk membersihkan tubuhnya dengan telaten Dinda membersihkan tubuh kurus Damar di atas kasur.Dinda tak lupa menggerak- gerakkan kaki Damar untuk mengolahragakan agar tidak kaku.dan Dinda terkejut melihat kaki Damar mulai bergerak dan menekuk sendiri.Dinda pun sangat gembira sehingga ia spontan memeluk Damar dan tak sengaja meneteskan air matanya di bahu Damar sambil berbisik


" Mas kamu kuat mas ."


" kamu harus bisa berjalan mas demi anak kita" seru Dinda


" Dinda kenapa kau sangat sabar terhadap ku kamu tidak pernah marah .padahal aku sering memarahimu , membentakmu dan aku adalah laki- laki yang tak berguna.ujar Damar


"Tidak mas.. Aku tidak pernah marah terhadapmu"


Aku.. adalah istrimu..


kita sama- sama dalam suka maupun Duka."jalas Dinda


Dan mereka pun berpelukan melepaskan kecanggungan, kesalah pahaman yang selama ini mendera mereka.pelukan itu terhenti akibat tendangan dari dalam perut Dinda yang menandakan anaknya pun ikut senang dengan keadaan kedua orang tuanya itu.

__ADS_1


**************Bersambung*****************


__ADS_2