
“euh....” lenguhan Farah mulai sadar dari pingsan nya .
“periksa dia” arka kemudian keluar begitu saja dari kamar . sudah dua malam ini dia tidak bisa tidur karena apa yang dia lakukan pada Farah . Dania hadir di dalam mimpinya . adik tersayang nya terlihat berwajah muram .
“tuan, nona Farah sedang tidak baik-baik saja kondisi......” Ben tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena di dahului arka .
“biar dia tersiksa ” ia kemudian berlalu tanpa ekspresi .
****
“jihan,apa aku boleh minta sesuatu ” lirih Farah .
“ada apa nona?”
“apa kau tau , di mana arka menguburkan jenazah bik Aminah?”
Jihan menggeleng membuat Farah kecewa. padahal ia berharap lebih pada wanita yang kini tengah menjaganya, lebih tepatnya mengawasi nya .
“seluruh tubuh ku rasanya sangat sakit”
“aku tau nona”
“keluarlah dari sini, aku ingin sendiri ”
Jihan patuh ,ia menunduk lantas keluar dari kamar tempat Farah di rawat .
tak berselang keluar nya Jihan , farah mendengar suara sepatu pantofel mendekat . ia sangat hapal suara sepatu siapa itu .
“ini baru awal” arka berdiri angkuh menatap wajah Farah .
“aku sangat menunggu saat-saat di mana kau memohon untuk di habisi oleh ku ”
__ADS_1
tidak ada respon sedikit pun yang Farah tunjukkan pada arka . ia hanya memilih diam seribu bahasa .
“kau marah, karna bibi tersayang mu itu lebih dulu masuk di dalam tanah ”
“tenanglah, sebentar lagi akan tiba giliran mu ” arka membelai wajah Farah .
“ooóooo ternyata Farah benar-benar marah , aku takut ” lantas ia menggamit wajah Farah .
“hem...... baiklah Farah, aku rasa setelah luka-luka mu sembuh, aku akan ,..Hem....... sepertinya malam pertama kita akan tertunda selama beberapa hari” arka meludah sembarangan seakan jijik dengan apa yang barusan ia ucapkan pada Farah .
ia kemudian keluar dari kamar yang amat sangat menyenangkan untuk di lihat, apalagi membuat Farah semakin tersiksa.
"sebelum itu terjadi,aku akan pergi arka"
****
“tuan, sepertinya orang tersebut sudah lama mengincar , mereka ” Ben memberikan beberapa file penyelidikan nya selama beberapa hari belakangan .
“hem....”
“aku tidak sabar untuk bertemu lagi dengan mu , baby ” ia lantas melihat sebuah foto dari dalam ponselnya . nampak wanita cantik dengan gigi putihnya tersenyum ke arah kamera .
****
“nona, makan lah ini sudah ke tiga hari nona tidak makan apapun , nanti tuan akan semakin murka ” lanjut Jihan yang hanya melihat Farah tengah melamun .
“saya mohon nyonya ”
“jangan dekat dengan ku Jihan, nanti kau akan mati ” lanjut Farah dengan suara yang amat lemah .
“nona” Jihan panik ketika ia mendapati wajah Farah semakin memucat .
__ADS_1
akhirnya Jihan menelpon Ben, dan ia juga menelpon seorang dokter yang memang bertugas untuk memeriksa keadaan Farah . tak berselang lama dari situ Ben dan arka juga telah sampai ke rumah . mereka bertiga tengah duduk di ruang tamu, sambil menunggu dokter memeriksa keadaan Farah .
“maaf tuan” dokter Liana menunduk hormat pada arka .
“silahkan” Ben yang mulai tak sabar mendengar perkembangan kesehatan Farah .
“bisakah untuk saat ini, nyonya farah jangan terlalu di tekan, dia terlalu stress saya takut kondisi nya akan semakin parah ” ucap dokter panjang lebar .
“bagaimana luka nya ?” arka tak mau ambil pusing .
“hanya di bagian tangan saja yang patah tuan , sedang di kakinya hanya bengkak ”
“pulanglah” arka mengusir mereka semua yang berada di rumah . semua nya patuh dan mereka semua keluar dari kediaman arka .
"wanita sialan"
terdengar lenguhan lemah Farah di ranjang, matanya tak sengaja melihat arka yang tengah menatap nya dengan tajam .
“sepertinya pelacur ini tidak tau malu ya ” sindirnya keras .
“aku membencimu ” lirih Farah
“aku sangat-sangat membencimu ”
“haahahahahah kau membenciku, apa kau tidak salah, justru saya yang sangat membencimu ”
“kenapa Dania mempunyai kakak sejahat kamu ”
“diam , diam kau sialan ”arka mendekati farah lantas ia menggamit wajah nya kuat .
“bunuh saja aku ”
__ADS_1
“aku akan membunuh mu , secepatnya ” bisikan arka tajam . lantas ia melepaskan gamitan nya dan keluar dari dalam kamar dan membanting pintu nya keras .
TBC🍁🍁🍁