Cinta Ini Tercipta Dari Kata "Seandainya"

Cinta Ini Tercipta Dari Kata "Seandainya"
#11


__ADS_3

...Episode 11...


Tasya berkata kepada Kevin, "Vin, udah enggak usah bantu-bantuin mereka lagi."


Kevin hanya diam dan tersenyum, kemudian mengangguk. Tasya kembali ke tempat duduk dan melanjutkan pekerjaannya. Suasana hening, karena semua masih fokus dengan pekerjaannya masing-masing.


Tiba-tiba Pak Tio masuk, "Pekerjaan yang saya tugaskan, dipercepat. Besok harus sudah," ucap Pak Tio.


Aldo dan Mega sangat terkejut mendengar perkataan Pak Tio. "Pak, tolong kalau bisa jangan besok. Mendadak sekali, kami belum siap," jawab Aldo.


"Saya enggak mau tau, besok harus selesai!" Tegas dan lantang suara Pak Tio.


Kevin dan Tasya, hanya diam dan santai, karena semua pekerjaannya sudah selesai. "Mampus gak lu," ucap Tasya dengan suara pelan dan lirih. Ucapan itu untuk Aldo dan Mega.


Pak Tio kemudian pergi dari ruangan tersebut. Mata Aldo melotot ke arah Kevin, dalam hati Aldo berkata, "Gara-gara lu, culun."


Kevin di pelototi malah senyum-senyum. Senyum Kevin kali ini memang meledek, seolah-olah menantang.


"Ngapa lu senyum-senyum?" bentak Mega.


Tasya melihat senyum Kevin malah tertawa terbahak-bahak. "Haha... Pecah kepala mereka Vin, Sombong sih..." ucap Tasya.


Aldo dan Mega tambah panas dengan kata-kata Tasya. Mereka hanya bisa menahan amarah, kemudian fokus mengerjakan pekerjaan yang harus di laporkan besok.


Tasya memutar kursinya ke arah Kevin dan berkata, "Vin, ayok istirahat, makan di kantin."


"Ayok," jawab Kevin.


Sedangkan Aldo dan Mega tetap fokus ke layar monitor. "Aldo... Mega... kita istirahat dulu ya... haha." Tasya tertawa mengejek mereka berdua.


Aldo dan Mega tak merespon perkataan Tasya. Kemudian Tasya dan Kevin pergi ke kantin dan makan di sana. Aldo yang benar-benar sudah pusing dengan pekerjaannya dan tak tahan menahan emosi tiba-tiba menggebrak mejanya.


"Sial! gw udah gak kuat, Gw gak ada ide lagi ini," kata Aldo.


"Ngapa lu gebrak-gebrak meja, gw kan jadi gak fokus." Mega berkata dengan nada yang tidak enak.


"Ya ngapa emang, yang gua gebrak kan, meja gua bukan meja lu!" bentak Aldo.

__ADS_1


Mereka berdua bukannya saling membantu malah ribut satu-sama lain. Pusing dengan pekerjaan di campur emosi, membuat meraka semakin kacau.


Mega keluar dari ruangan. Pergi ke warung dekat kantor, tatapannya kosong dan tidak fokus. Saat menyebrang jalan tiba-tiba terdengar suara klakson panjang.


Mega kaget, bukannya menghindar malah di tempat dan berteriak. "ci... t," suara ban mobil yang di rem. Tabrakan tak terhindarkan, mobil yang menabrak langsung kabur entah kemana.


Semua orang yang ada di sekitar lokasi kejadian berkerumun dan melihat Mega yang berlumuran darah. Kebetulan Kevin dan Tasya melihat kejadian itu, ikut mendekat.


"Ya Allah Vin, itu kan Mega," ucap Tasya.


"Cepat-cepat kita tolong, ambil mobilmu!"


Tasya langsung berlari ke parkiran dan mengambil mobil. Sedangkan Kevin langsung menggendong Mega. Tak banyak bicara, Mega langsung di masukkan ke dalam mobil.


Mobil di gas sekencang-kencangnya. Kevin duduk di belakang sambil memangku kepala Mega yang bocor. "Masih lama apa sampai di rumah sakit?" tanya Kevin.


"Bentar lagi Vin, ini udah mau sampai," jawab Tasya.


Sesampainya di rumah sakit, Tasya turun dan membukakan pintu belakang. Kevin pelan-pelan turun sambil menggendong Mega. Ternyata sudah ada perawat yang mendatangi dan menaruh Mega di stretcher.


Masuklah mereka di ruang UGD. Kondisi Mega yang parah membuat dokter bergegas menanganinya. Semua luka di bersihkan perawat, dan di jahit.


Sedangkan Aldo tau Mega kecelakaan malah diam dan tetap fokus mengerjakan pekerjaannya. Tasya akhirnya hanya menunggu dengan Kevin. "Gimana ini Vin?" Wajah Tasya panik.


"Kita tunggu aja, yakin enggak terjadi apa-apa," jawab Kevin.


Setelah 1 jam menunggu, dokter itu keluar dan berkata dengan mereka berdua, "Anda keluarga pasien?" tanya dokter kepada Tasya.


"Kita berdua temannya Dok, bagaimana keadaan teman saya?" Tasya tanya balik ke dokter.


"Saya harus bicara dengan keluarga pasien, tolong hubungi keluarganya." Dokter berkata dengan seriusnya.


"Maaf Dok biar saya yang bertanggung jawab sepenuhnya, Keluarganya sudah tidak ada!" ucap Kevin.


"Maaf Pak, harus keluarganya," jawab dokter itu.


"Dok teman saya ini harus selamat. Saya semua yang akan bertanggung jawab!" Kevin dengan tegas mengucapkan itu.

__ADS_1


Tasya merasa kaget melihat Kevin seperti itu, biasanya seperti orang aneh, lemes, dan culun, sekarang seperti laki-laki maco.


"Yasudah, ikut saya ke ruangan," ucap dokter.


Kevin dan Tasya duduk di ruangan dokter, dokter mulai menjelaskan kondisi Mega.


"Teman anda mengalami benturan yang sangat serius, tulang keringnya patah dan harus segera di operasi di tambah benturan di bagian kepala sedikit ada pendarahan di otak."


"Tangani secepatnya, Dok!" jawab Kevin.


"Silahkan urus semua persyaratan dan biaya, agar kamu bisa melakukan operasi pada kakinya," ucap dokter.


Kevin dan Tasya keluar, "Vin, untuk biaya biar aku yang tanggung, kamu yang tanda tangan," kata Tasya.


"Enggak papa Tas, pakai uangmu dulu?" Kevin merasa tidak enak dengan Tasya.


"Enggak papa, aku ada banyak uang haha. Santai aja!" Tasya menepuk pundak Kevin.


Semua sudah di bereskan oleh Tasya dan Kevin, tak lama kemudian Mega yang sedang tidak sadarkan diri, langsung di masukkan ke ruang operasi.


Tasya kagum dengan Kevin meski selalu di benci dan di cemooh oleh Mega masih sangat memperhatikan dengan temannya itu. Hanya perasaan yang bisa merubah perasaan orang lain.


Pertolongan mereka adalah salah satu bentuk rasa sayang kepada temannya. Tasya menjadi sadar, perlakuan buruk tidak akan merubah perilaku orang terhadapnya.


Duduk di depan ruang operasi Tasya dan Kevin hanya diam. Kevin menundukkan kepalanya dan fokus berdoa. Tasya malah fokus memandangi Kevin, kagum dan bangga dengan teman culunnya itu.


Selama 3 jam lebih mereka menunggu. Akhirnya dokter keluar dan mengatakan, "Operasinya sukses, dan pendarahan di otak sudah berhenti."


Spontan Kevin dan Tasya mengucapkan, "Alhamdulilah."


Tak lama kemudian, terlihat Mega yang terbaring di pindah kan ke ruang perawatan. Kondisinya masih sangat memprihatinkan, matanya masih tertutup.


Kevin dan Tasya masuk ke ruang perawatan dan menunggu Mega. "Vin, pulang dulu aja. Ganti pakaianmu, lihat tuh berlumuran darah," ucap Tasya.


Kevin menjawab, "Yasudah aku pulang, nanti aku kesini lagi."


"Oke, Oiya jangan lupa bawa air panas ya!"

__ADS_1


"Siap," jawab Kevin.


Sebelum pulang, Kevin menelpon Pak Tio, meminta izin pulang cepat dengan Tasya. Sebagai gantinya Kevin menjamin besok pekerjaan yang diberikan kepada tim sudah selesai semua. Pak Tio mengizinkannya.


__ADS_2