Cinta Ini Tercipta Dari Kata "Seandainya"

Cinta Ini Tercipta Dari Kata "Seandainya"
#32 ~Kembali Seperti Biasanya~


__ADS_3

...~Kembali Seperti Biasanya~...


Semua terasa sangat melelahkan bagi Kevin, tapi akhirnya semua telah berakhir. Situasi kembali seperti biasanya. Kevin malam itu bergegas kembali ke Rumah sakit untuk menemui Kesya yang sedang marah. Sesampainya di rumah sakit, melihat Kesya sedang berbaring dan tertidur.


Matanya berkedip, Kevin tau kalau kesya hanya berpura-pura tidur. "Berhubung Kesya sudah tidur nyenyak, aku pulang dulu ya, Pak," ucap Kevin kepada Pak Anton. Suara Kevin sedikit keras agar Kesya mendengarnya.


"Pulang sana jangan kembali lagi!" bentak Kesya.


Kevin tertawa terbahak-bahak, "Kamu aneh, aku udah kesini malah pura-pura tidur," ucap Kevin.


Pak Anton yang melihat itu ikut tertawa, "Kalian ini seperti anak kecil saja haha," ucap Pak Anton.


"Pak jangan bilang siapa-siapa ya soal hubungan kami, saya enggak mau tau Bos kita ini menjadi bahan pembicaraan orang lain karena pacaran dengan karyawannya sendiri," ucap Kevin kepada Pak Anton.


"Siap, santai saja dengan saya."


"Bilangin aja, Pak. Biar semua orang tau hubungan saya dengan Kevin. Dia kan takut soalnya ada wanita yang ia sukai di kantor'" ucap Kesya wajahnya terlihat sangat kesal dengan Kevin.


Kevin tersenyum kemudian mendekat ke arah Kesya, Kesya membuang muka tak mau melihat wajah Kevin. "Sepertinya saya harus keluar,"ucap Pak Anton sambil berjalan keluar ruangan.


"Aku sudah tenang, kamu akan baik-baik saja. Tadi aku pergi melihat pelaku penembakan tertangkap dan ditembak mati, karena melawan. Asalkan kamu tau, aku benar-benar takut terjadi apa-apa denganmu," Tangan Kevin memegang tangan Kesya.


Kesya merasa sangat diperhatikan oleh Kevin, wajahnya mulai menatap wajah Kevin kemudian berkata, "Asalkan kamu tau juga, aku dari tadi mengkhawatirkan kamu, mangkanya aku marah-marah menyuruhmu segera kembali kesini." Tangan Kesya memegang pipi Kevin.


Tangan yang terasa sangat halus dan penuh kasih sayang, Kevin tersenyum kemudian mencium kening Kesya. "Sudah larut malam, lebih baik kamu tidur, aku akan menunggu disini."


"Janji jangan pergi lagi!" Tangan Kesya memegang bahu Kevin.


Seketika Kevin kesakitan, "Iya, janji." lirih suaranya sambil menahan sakit.

__ADS_1


"Bahu Mu kenapa?" tanya Kesya.


"Enggak kenapa-kenapa, tadi jatuh terbentur batu."


"Buka bajumu!" bentak Kesya.


"Enggak papa, janganlah malu dilihat kamu."


KevinĀ  berdiri ingin pindah ke sofa untuk berbaring, Kesya menarik baju Kevin dan berkata "Cepat buka!"


Kevin membuka baju, terlihat perban yang sudah membalut bahunya, darah terlihat dari perban itu. "Jujur, bahu Mu kenapa?" tanya Kesya sambil melotot ke arah Kevin.


"Terkena batu, lukanya sedikit dalam terus aku minta tolong ibu membalutnya dengan perban."


"Kamu berbohong!"


"Oke aku akan menceritakan semuanya, tadi aku ikut penyergapan pelaku penembakan yang terjadi di kantor dan orang yang menembak kamu. Kamu tau, kenapa aku ikut penangkapan pelaku ini? karena pelaku ini adalah Pak Tio. Dia sudah tewas di tembak oleh petugas, baku tembak terjadi di depan rumah Pak Tio, ada peluru nyasar ke bahuku."


"Iya, kalau enggak percaya lihat berita."


Benar saja semua stasiun Tv memberitakan kematian Pak Tio yang dianggap sebgai bandar narkoba jaringan internasional. "Cepat periksa lukamu, kamu tertembak tapi seolah-olah seperti biasa saja seperti luka ringan. Periksa di rumah sakit ini agar langsung ditangani."


Wajar saja Kevin merasa biasa dengan luka tembak yang ada di bahunya, karena Kevin sudah terbiasa dengan konflik dan luka tembak. Bahkan Kevin sudah tak mementingkan nyawanya sendiri, yang terpenting adalah keberhasil dalam misi.


"Iya, akan periksa luka ini, sebentar aku pergi ke UGD ya," jawab Kevin sambil memegang bahunya.


Kevin pergi keruang UGD dan meminta perawat menangani lukanya. Setelah dijahit dan mendapat obat Kevin berjalan menuju ruang perawatan Kesya. "Sini di dekatku!" ucap Kesya, air matanya menetes.


Kevin duduk di samping Kesya sambil menatap wajahnya, kemudian menghapus air mata Kesya dengan tangannya, kemudian berkata, "Jangan menangis, aku tidak papa."

__ADS_1


"Maaf semua gara-gara aku, pasti ada sesuatu yang membuat Pak Tio melakukan itu semua. Mungkin karena perlakuanku dengannya. Kamu jadi terlibat dan membahayakan nyawamu," ucap Kesya, air matanya tak berhenti menetes.


"Aku enggak papa, pelurunya hanya meleset. Udah jangan menangis lagi, cengeng. Sekarang aku enggak mau tau kamu pejamkan mata dan tidur." ucap Kevin.


Kesya mengangguk, memejamkan matanya. Kevin menemani Kesya sampai Kesya tertidur pulas, setelah tertidur, Kevin menghampiri Pak Anton untuk menggantikannya menjaga Kesya. Kevin pamit plang karena harus segera melapor dan mengurus jenazah Pak Tio. Sesampainya di kantor pusat intelijen, Kevin langsung melapor kepada atasannya, "Misi selesai Ndan!"


"Kerja bagus, Vin. Untuk sementara beristirahatlah sampai tugas selanjut datang."


"Siap, Ndan!"


Keluar dari ruangan atasannya, Kevin menuju ruang otopsi. Melihat jenazah Pak Tio yang sedang di periksa. Saat sedang melihat jenazah Pak Tio, dipikiran Kevin terlintas bagaimana nasib anak dan istrinya. Anak yang masih kecil-kecil, dan istri yang tidak bekerja.


Keluar dari ruangan otopsi, Kevin pergi menuju rumah Pak Tio. Rumahnya sudah di pasang garis polisi. Kevin ingin menjemput anak istri Pak Tio, dan untuk sementara akan memberikannya tempat tinggal. Kevin ternyata sudah memiliki rumah sendiri, rumah Kevin ini digunakan hanya untuk penyimpanan barang bukti. Tempatnya jauh dari pemukiman, lokasinya di dekat pantai.


Sesampainya di rumah Pak Tio, terlihat anak dan istrinya di depan rumah sedang menangis, masih tidak percaya bahwa suaminya adalah penjahat yang sangat dicari.


"Bu, sabar ya... saya tau perasaan Ibu sangat hancur, bagaimana untuk sementara Ibu dan anak-anak tinggal di rumah saya. Rumah sederhana yang tidak terpakai," ucap Kevin.


"Kenapa ini harus terjadi dengan saya, Vin?"


"Sabar bu, lebih baik sekarang Ibu ikut saya." Kevin membawa mobilnya yang tak pernah digunakan. Mobilnya ini dititipkan di kantor.


Akhirnya istri dan anak Pak Tio mau ikut dengan Kevin. Perjalanan yang lumayan jauh membuat Kevin bingung bagaimana cara menghibur keluarga ini. Istri dan anak Pak Tio sepanjang jalan menangis.


Sesampainya di rumah itu, Kevin berkata dengan istri Pak Tio, "Silahkan tinggal disini, Ibu bisa buka warung karena disini banyak wisatawan datang. Kebetulan rumah ini sudah kosong semua barang-barang sudah saya pindahkan, hanya tersisa kasur dan peralatan rumah tangga."


"Terimakasih banyak Vin, semua peninggalan suami saya akan kami jual dan segera mencari tempat tinggal baru," ucap istri Pak Tio.


"Jika Ibu butuh apa-apa hubungi saya, saya haru pergi sekarang," ucap Kevin

__ADS_1


Istri Pak Tio mengangguk, Kevin pergi kembali kerumahnya. Kevin sampai di rumah jam 5 pagi, masuk kamar, "Akhirnya sudah selesai dan bisa kembali seperti biasanya!" teriak Kevin dalam kamar.


__ADS_2