Cinta Ini Tercipta Dari Kata "Seandainya"

Cinta Ini Tercipta Dari Kata "Seandainya"
#26 ~Hilangnya Barang Bukti~


__ADS_3

...~Hilangnya Barang Bukti~...


Kevin langsung menghubungi pihak terkait, dibantu dengan tim intelejen. Semua berkumpul memeriksa setiap gedung sekitar kantor. Setelah mengantar Tasya, Kevin kembali lagi ke kantor.


Sementara kantor ditutup, semua karyawan pulang, hanya tersisa Kevin dan tim penyidik. Kevin mendapat laporan bahwa salah satu tim penyidik menemukan tempat yang digunakan untuk pelaku menembak. Lokasinya ada di kantor yang dulu digunakan pelaku untuk menembak OB.


"Masih di tempat yang sama, bagaimana pelaku bisa masuk di jam kerja seperti ini, apa pelaku adalah karyawan kantor itu, atau orang yang memiliki kenalan di kantor itu." Kevin berbicara sendiri sambil memegang dagunya.


Semua CCTV kantor sebelah diperiksa, tertangkap kamera ada pria menggunakan jaket, wajahnya tak terlihat, tubuhnya benar-benar tertutup. Lucunya, pria ini tak terekam saat masuk ke kantor. Tiba-tiba terlihat di lorong masuk gudang kosong lantai atas tempat ia menembak.


Saat keluar pria ini tidak membawa senjata, harusnya senjata yang digunakan masih di gudang itu. Tapi tim tidak menemukan senjata, jangankan senjata yang digunakan, selongsong peluru pun tak terlihat.


Kevin justru tidak tertarik dengan gudang itu, ia berfikir bahwa pelaku tak sebodoh yang dibayangkan, menurut Kevin, sepertinya hal yang tidak mungkin, jika pelaku tidak menyadari adanya CCTV di lorong itu. Kevin berjalan menuju balkon kantor.


Di situ Kevin menemukan, ada ruangan kecil seperti gudang hanya saja, ruangan itu sangat kecil. Kevin mencoba membuka pintu ruangan itu, tapi pintunya terkunci dan sangat sulit didobrak.


Terus mencoba mendobrak pintu itu, Akhirnya pintu itu terbuka. Kevin mulai mencari memeriksa ruangan itu, setiap sudut ruangan diperhatikan, benar saja Kevin menemukan sapu tangan, kondisinya seperti masih baru, bukan barang yang lama tidak terpakai.


Kevin mengambil sapu tangan itu, tangan Kevin sebelumnya sudah dipakaikan sarung tangan. Dimasukannya barang bukti itu ke plastik. Setelah itu Kevin mencari lagi, ada kotak kayu yang sangat mencurigakan. Kotak itu terlihat dikunci, Kevin menghancurkan kunci tersebut.


Kagetnya Kevin melihat isi kotak yang adalah peluru. Hanya ada 10 peluru di dalam kotak. Kevin langsung memasukkannya ke plastik. Sebelum dimasukkan ke plastik, Kevin mengeluarkan ponselnya dan memfoto semua barang bukti.


Saat sedang memasukkan peluru ke plastik, tiba-tiba Kevin di bekap dari belakang. Kevin tak sadarkan diri, pelaku membawa semua barang bukti. Anehnya Kevin ditinggalkan begitu saja, pelaku tidak membunuh Kevin, padahal mudah sekali pelaku, pada saat itu jika ingin membunuh Kevin yang sudah tak berdaya.


Setelah membius Kevin, pelaku kemudian pergi, membuka penyamarannya dan pergi menggunakan tali turun ke lantai dasar. Petugas yang masih sibuk menyusuri semua ruangan kantor tak melihat pelaku kabur.


Setelah pelaku berhasil kabur, Kevin masih tak sadarkan diri. Suara telpon terus berbunyi, ternyata yang menelpon adalah Kesya. Kesya mendapat laporan dari bawahannya kalau ada kejadian penembakan di kantor.

__ADS_1


Kesya langsung khawatir dengan kondisi Kevin, karena telponnya tak kunjung diangkat, Kesya langsung bergegas menuju kantor. Kesya menyetir mobil seperti orang kesurupan, kencang bukan main.


Takut kekasihnya kenapa-kenapa, takut orang yang ia sayang hilang dari hidupnya. "Kamu janji enggak bakal pergi," ucap Kesya di dalam mobil. Air matanya terus menetes.


Sesampainya di kantor, Kesya tak diperbolehkan masuk dengan petugas. Tetapi, Kesya memaksa ingin masuk. Akhirnya Kesya diperbolehkan masuk tapi, ditemani petugas. Lari dan mulai mencari Kevin.


Kesya langsung menuju ruangan tempat Kevin biasa bekerja, di ruangan itu tek terlihat satupun orang, kantor itu memang benar-benar sudah kosong tak ada orang di dalamnya. Kesya yang sudah diberitahukan bahwa kantor sudah kosong, masih tidak percaya. Mencari sampai ke atas balkon, akhirnya Kesya putus asa, duduk dan menangis sambil berteriak memanggil nama Kevin.


"Kevin...!"


Tangisnya tak terbendung, benar-benar takut pria yang baru saja mengisi kekosongan hatinya pergi. Ada salah satu petugas yang memberitahukan kepada petugas yang bersama Kesya, bahwa ditemukan Kevin di ruangan yang ada di balkon kantor sebelah.


Semua petugas langsung mengangkat dan membawa Kevin turun. Sambil diperiksa petugas medis. Kevin tidak papa, hanya terpengaruh oleh obat bius. Petugas yang bersama Kesya langsung memberitahukan informasi itu kepada Kesya.


Air mata yang masih deras menetes, badan yang masih gemetar, dipaksa berlari menuju kantor sebelah. Di otak Kesya sudah tidak ada yang berharga selain Kevin. Sesampainya di depan kantor sebelah, Kesya melihat Kevin yang sedang dimasukkan ke mobil ambulan.


Kesya pun, masuk menemani Kevin di dalam mobil, tangisnya semakin menjadi-jadi, Kesya memeluk Kevin sangat erat. "Sayang, bangun kamu janji enggak bakal pergi dari aku!" Kata-kata itu yang keluar dari mulut Kesya yang basah karena air matanya.


Tiba-tiba tangan Kevin merangkul tubuh Kesya, suara lirih keluar dari mulut Kevin, "Aku disini, enggak pergi kemana-mana."


Pelukan Kesya semakin erat tangisnya makin keras, "Aku takut... aku takut banget... kamu kenapa-kenapa!"


"Aku enggak papa," jawab Kevin. Kemudian duduk dan memegang kepalanya, merasa kepalanya sangat pusing.


Kevin menghapus air mata Kesya dengan tangannya, kemudian berkata, "Sudah jangan nangis lagi, aku enggak papa."


"Besok aku pindahkan saja kamu ke kantor cabang yang ada di kota, agar tidak bahaya," ucap Kesya.

__ADS_1


"Jangan ya sayang, aku masih ingin bekerja di kantor ini," jawab Kevin sambil memegang pipi Kesya.


Seketika Kevin mengingat barang bukti yang ditemukannya tadi, menggeledah kantung celananya, kemudian memeriksa tasnya, ternyata barang bukti itu sudah tidak ada. Kevin langsung bergegas menghubungi, petugas yang masih berada di kantor sebelah, "Cari barang bukti di ruangan kecil atas balkon!" isi chat Kevin.


Kevin langsung mengirimi gambar barang bukti yang ia punya. Petugas langsung mencari di ruangan tersebut, tapi tidak ditemukan apapun, "Barang bukti sudah hilang, sudah saya cari ke setiap sudut ruangan, tapi tidak ada. Hanya tersisa tali yang masih menggantung di atap." balas chat petugas itu.


"Sial!" ucap Kevin.


Kesya kaget, kemudian reflek memukul Kevin, "Kamu, marah denganku?" ucap Kesya wajahnya terlihat kesal dengan Kevin.


"Bukan, maksudku sial kepalaku pusing banget."


Kevin langsung membuka ponselnya lagi dan berpesan kepada petugas agar tali yang digunakan pelaku untuk kabur, segera diamankan. Kesya yang melihat Kevin sibuk dengan ponselnya langsung ingin merebut ponsel dari tangan Kevin, tapi gagal. Kevin sigap langsung memasukkan ponsel ke kantung celananya.


"Ih! kamu chat siapa?!" bentak Kesya.


"Ibuku, udah enggak usah dibahas, ayo kita pulang saja. Aku sudah enggak papa."


"Kamu harus ke rumah sakit, harus diperiksa dokter!" ucap Kesya dengan tegas.


"Aku udah enggak papa, ayo pulang ibuku sudah menunggu di rumah. Aku harus mempersiapkan acara ulang tahun ayahku."


"Serius udah sehat?" tanya Kesya.


"Iya sudah, yuk antar aku pulang."


"Yasudah kita berhenti disini saja, Pak berhenti di depan ya," kata Kesya.

__ADS_1


"Kamu ini, minta berhenti udah kaya naik angkot aja haha," Kevin tertawa sambil menjewer telinga Kesya.


__ADS_2