
...~Tewasnya Orang Yang Di Anggap Target~...
Membaca chat dari bawahannya, Kevin buru-buru pamit dan keluar dari kafe. Mengambil ponselnya kemudian menelpon bawahan, "Halo, barang bukti apa yang kamu maksud?" tanya Kevin
"Tadi saya melihat target bertemu dengan orang yang sangat mencurigakan warung kopi. Menyamar sebagai pengunjung, dan menguping semua pembicaraannya. Ternyata benar target adalah orang yang menyuruh penembak jitu untuk membunuh orang yang bersama Anda malam itu."
"Kurang ajar, ternyata benar dia pelakunya. Kamu rekam semua pembicaraannya?" tanya Kevin, sambil menahan emosi.
"Sudah saya rekam, bukti videonya juga ada Pak."
"Minta surat penangkapan dari atas, kita tangkap malam ini juga!" Tegas suara Kevin.
"Siap, Pak. Target saya lihat masuk kedalam rumah, kita bisa menangkapnya."
"Kirim tim bersenjata lengkap, target kita sangat berbahaya, jika dia melawan tembak saja ditempat!" ucap Kevin.
Setelah surat penangkapan ada, tim segera menuju rumah Pak Tio, Kevin yang memimpin misi penangkapan, tapi Kevin hanya memantau dari jauh. Identitasnya masih harus dilindungi, takutnya ada anak istri Pak Tio yang melihatnya.
Salah satu tim mengetuk pintu rumah Pak Tio, "Assalamu'alaikum," ucapnya.
Terlihat Pak Tio tidak meresponnya, salam yang kedua, ketiga, sama saja tak ada respon. Kevin memerintahkan mendobrak pintu, akhirnya pintu terbuka dengan cara paksa. Petugas sangat berhati-hati masuk ke dalam rumah, senjata di tangannya standby, jika Pak Tio melawan bisa langsung menembaknya.
Beberapa orang mulai mendekat ke pintu kamar Pak Tio, tak banyak basa-basi petugas langsung menendang pintu. Suasana masih hening tidak terlihat ada tanda-tanda keberadaan Pak Tio. Petugas mulai masuk kedalam kamar, memeriksa ternyata Pak Tio tidak ada di kamarnya.
Petugas di dalam langsung melapor kepada Kevin, kalau target sudah kabur lewat jendela kamar. Ternyata Pak Tio sudah tau kalau dirinya akan ditangkap. Kevin langsung menyuruh sebagian tim yang ada untuk berpencar mengejar Pak Tio.
__ADS_1
Petugas yang di dalam rumah masih memeriksa semua sudut rumah. Tak lama kemudian terdengar suara tembakan beruntun, dan terlihat Pak Tio keluar dari rumahnya. Diluar hanya tinggal Kevin seorang, petugas lainnya sedang berpencar, sungguh cerdik Pak Tio.
Pak Tio sengaja membuka jendela kamar, dan mengunci kamarnya untuk mengelabui lawan. Setelah banyak petugas yang sibuk mencarinya, ia keluar dari persembunyiannya dan menghabis petugas di dalam rumah. Petugas yang tersisa di dalam rumah hanya tinggal 2, semuanya tewas.
Kevin melihat Pak Tio sedang waspada di depan rumah melihat kanan-kiri, kemudian berlari ke arah mobilnya. Tak sempat menghubungi petugas lainnya, Kevin langsung beraksi. Dari kejauhan menembak ban mobil Pak Tio yang baru dihidupkan.
Pak Tio keluar dari mobil kemudian bersembunyi di depan mobil. Kevin berpindah tempat, bersembunyi di belakang pohon menghadap mobil. Pak Tio yang harus segera pergi sebelum petugas lainnya datang, akhirnya memancing Kevin. Keluar dari persembunyiannya sambil mengangkat tangan.
Berjalan, senjatanya dibuang ke lantai. "Aku menyerah," teriak Pak Tio.
Melihat senjatanya sudah di buang, Kevin langsung keluar, senjatanya masih standby menghadap ke Pak Tio. Dari arah pohon yang gelap, Kevin mulai terlihat oleh Pak Tio.
"Kevin, intelejen paling mengerikan berhasil akhirnya berhasil menangkap saya haha," ucap Pak Tio, tertawa sangat keras.
"Diam, angkat tangan! beraninya kamu menyakiti orang terdekatku!" bentak Kevin.
Kevin sangat ingin menembak, tapi ditahannya. berjalan mendekat sambil menyiapkan borgol. Tiba-tiba tangan Pak Tio mengambil senjata yang ada di pinggang tersembunyi bajunya. Kevin yang kaget sudah tak sempat, menembak. Dor... suara tembakan terdengar, Kevin tergeletak di lantai. Peluru menembus bahunya, sebelum Pak Tio menembak Kevin menghindar sehingga tak mengenai bagian vitalnya.
Setelah tergeletak di lantai Kevin berpura-pura mati, darahnya keluar mengalir. Pak Tio yang melihat Kevin sudah tak berdaya, menganggap Kevin sudah tewas. Salah satu petugas mendengar suara tembakan, dan bergegas kembali ke rumah Pak Tio.
Sesampainya di sana, petugas melihat Pak Tio yang masih memegang pistol, petugas itu kemudian menembak ke arah Pak Tio. Tapi sayang sekali tembakan itu meleset. Pak Tio kabur berlari ke arah pepohonan yang gelap.
Sedangkan Kevin berdiri sambil memegang lukanya, "Untuk semuanya, cepat pergi ke arah taman sebelah rumah!" ucap Kevin.
Tim bergegas mencari keberadaan Pak Tio, berlari mengejarnya. Kebetulan rumah Pak Tio sebelahnya adalah kebun buah, banyak pohon tapi minim penerangan. Setelah lama mencari dan mengejar, akhirnya terlihat Pak Tio yang sedang bersembunyi di semak belukar. Kevin yang terluka parah, langsung ditangani salah satu petugas. Lukanya diberi bubuk obat untuk menghentikan pendaran, kemudian dibungkus perban.
__ADS_1
Tim yang mengejar, melapor kepada Kevin kalau sudah ditemukannya target. "Tangkap, hidup atau mati!" tegas suara Kevin.
Pak Tio yang merasa sudah terpojok akhirnya memutuskan akan melawan sampai titik darah penghabisan. Berpindah ke belakang pohon besar. "Bilang kepada atasanmu, Kevin kalau hidupnya tidak akan tenang!" teriak Pak Tio.
Pak Tio mencoba untuk menembak, tapi tembakannya meleset, untuk kali ini Pak Tio tidak akan bisa kabur, karena petugas jumlahnya sangat banyak dan bersenjata lengkap.
Sadar akan hal ini, Pak Tio tapi tetap melawan. Peluru yang ada di pistolnya hanya sedikit, tak mungkin bisa menghabisi petugas. Tembakan Pak Tio dibalas berondongan peluru petugas. Satu tangan Pak Tio terkena tembakan, "Kurang ajar!" ucap Pak Tio, wajahnya terlihat sangat kesakitan.
Pak Tio menembak lagi, kali ini tembakannya mengenai kaki salah satu petugas. Peluru Pak Tio hanya tinggal 1, kabur pun, tak mungkin. Pak Tio keluar dari persembunyiannya dan menembak langsung ke arah petugas, tembakannya meleset. Dorr.... suara tembakan dari arah petugas, mengenai Pak Tio.
Pak Tio tewas di tempat. Petugas langsung mengevakuasi jenazahnya. "Misi selesai, target terpaksa harus ditembak mati karena melakukan perlawanan," ucap salah satu petugas kepada Kevin.
"Bagus, bawa jenazahnya ke rumah sakit kantor pusat," jawab Kevin.
"Siap, Pak!"
"Akhirnya selesai juga misi ini," ucap Kevin.
Penjahat yang hampir membunuh kekasihnya dan sahabat-sahabatnya telah hilang. Hati Kevin merasa sangat lega, tapi tugasnya bukan hanya ini. Masih banyak tugas berbahaya yang menunggu Kevin.
Suara telpon berbunyi, Kesya menelpon. "Halo, maaf tadi aku sedang merayakan keberhasilan rancangan mobil dengan teman-teman," ucap Kevin sambil menahan sakit lukanya.
"Diam! Kembali ke rumah sakit, kalau tidak aku pecat kamu!" bentak Kesya.
Kevin tersenyum mendengar ancaman itu, kemudian tertawa. "Yasudah pecat saja aku," jawab Kevin dengan santainya.
__ADS_1
"Cepat kembali ke rumah sakit!!"