Cinta Ini Tercipta Dari Kata "Seandainya"

Cinta Ini Tercipta Dari Kata "Seandainya"
#27 ~Nyaris Terbunuhnya Kesya~


__ADS_3

...~Nyaris Terbunuhnya Kesya~...


Sopir ambulan berkata akan mengantarkan mereka berdua ke rumah. Tapi, Kevin menolak, dan ingin turun di jalan. Kesya pun sama ingin turun bersama Kevin. Akhirnya mereka berdua turun di depan minimarket, duduk di kursi depan.


Kesya langsung menelpon sopirnya, menyuruh sopir untuk menjemput mereka berdua. Sopir langsung bergegas berangkat. Kevin yang terlihat sedikit lemas, berdiri ingin masuk ke dalam minimarket untuk membeli minuman. Tapi, Kesya menarik tangan Kevin menyuruhnya duduk kembali, berkata, "Duduk aja, biar aku yang masuk. Kamu mau apa?"


"Air minum aja, leherku terasa sangat kering."


"Oke, tunggu sebentar," jawab Kesya.


Kesya masuk, mengambil keranjang dan mulai mengambil air minum. Bukan hanya air minum yang diambilnya, roti, buah, dan banyak sekali makanan ringan. Padahal Kevin hanya memesan air minum. Setelah selesai memilih semua belanjaannya, Kesya menuju kasir.


Keluar dengan membawa banyak sekali makanan, Kevin terkejut berkata, "Ya Allah... banyak banget, aku kan cuma pesan air minum."


Kesya tersenyum berkata, "Biar kekasihku cepat sembuh."


Kevin tertawa, mengambil air minum yang dibawa Kesya kemudian meminumnya. "Jangan terlalu terang-terangan soal hubungan kita, nanti kalau ada karyawan lain lihat bisa bahaya," ucap Kevin.


"Kenapa memang aku kan Bosnya siapa yang berani denganku, biar saja semua orang tau hubungan kita."


"Jangan... aku enggak mau kamu jadi bahan gunjingan banyak orang, dan aku enggak mau jadi bahan gunjingan banyak orang. Justru karena kamu Bosnya, kita harus merahasiakan hubungan kita," jawab Kevin.


Wajah Kesya terlihat sedikit kecewa, tapi menurutnya ada benarnya juga perkataan Kevin. Kesya mengangguk dengan wajah cemberut. Kevin yang melihat wajah cemberut Kesya, menyelentik kening Kesya.


"Dasar...." Kevin tersenyum.


Mobil jemputan mereka sudah tiba. Sopir keluar dari mobil, membukakan pintu untuk mereka berdua. Kesya dan Kevin masuk kedalam mobil. "Langsung ke rumah Kevin ya Pak. Sudah saya share lokasi, lihat ponsel Bapak," ucap Kesya.


Saat diperjalanan, sopir senyum-senyum sendiri melihat tingkah 2 sejoli ini bermesraan. "Kenapa senyum-senyum Pak?" Kesya berbicara dengan nada yang sedikit keras kepada sopirnya.

__ADS_1


Sopir Kesya ini bernama Pak Anton. Pak Anton berkata, "Saya jadi ingat anak istri di rumah, Non."


"Oiya... Pak, sudah lama enggak pulang ya? Pulang Pak sesekali menjenguk anak, istri. Masih ada sopir lainnya yang bisa mengantarkan saya," jawab Kesya.


"Enggak, Non. Terlepas dari apa yang pernah terjadi dengan saya dan Non yang membantu saya, saya enggak percaya sama sopir lainnya, saya harus menjaga, Non."


"Memangnya pernah terjadi apa?," tanya Kevin.


Kesya dan Pak Anton diam, bingung akan menceritakan kejadian itu atau tidak.


Kevin yang penasaran mengancam Kesya, "Kalau enggak mau cerita, aku enggak mau ketemu lagi."


"Ih... itu kan kejadian yang menimpah Pak Anton, kenapa aku yang diancam?" Kesya mencubit perut Kevin.


Melihat Kevin yang sudah sangat dekat dengan Bosnya, Pak Anton akhirnya mulai bercerita, "Haha... iya saya ceritakan. Dulu saya adalah seorang penjahat, pengedar narkoba. Dengan pekerjaan saya itu, saya bisa mendapat keuntungan yang sangat banyak. Suatu ketika, saya tertangkap oleh polisi. Bandar narkoba yang lebih tinggi, orang yang saya anggap bos mengetahui informasi itu. Mungkin karena takut identitasnya terbongkar, nyawa saya menjadi sasaran gerombolan bersenjata," suaranya seketika hilang, Pak Anton menghela nafas.


Setelah merasa tenang Pak Anton melanjutkan ceritanya lagi, "Waktu persidangan tiba, mobil yang membawa saya menuju pengadilan tiba-tiba diserang oleh segerombolan orang bersenjata, Polisi yang mengawal, kewalahan melawan gerombolan itu. Orang yang saya anggap Bos, bahkan sekalipun belum pernah melihat wajahnya. Singkat cerita, gerombolan bersenjata itu tewas semua melawan Polisi yang jumlahnya bertambah banyak."


"Kalau informasi pastinya saya tidak tau, tapi kata banyak rekan orang itu wanita, sebagian ada yang bilang pria."


"Oke, lanjutkan ceritanya, Pak." Kevin terlihat sangat serius mendengarkan cerita Pak Anton.


"Setelah gerombolan itu kalah, Pengadilan dijaga ketat, tidak ada yang bisa masuk, kecuali petugas. Sidang pertama hanya mengorek semua informasi saksi termasuk saya sebagai pelaku. Sidang-sidang berikutnya, saya selalu dikawal banyak Polisi. Sampailah sidang putusan, saya di vonis 15 tahun penjara."


"Apakah setelah itu tidak ada teror lagi, Pak?" tanya Kevin


"Setelah dipenjara, teror selalu datang. Bahkan nyawa saya hampir hilang saat salah satu tahanan merupakan anak buah Bos narkoba itu. Waktu itu saya sedang tidur di dalam sel tahanan, tiba-tiba salah satu tahanan di ruang yang sama menusuk perut saya menggunakan sikat gigi yang sudah diruncingkan. Petugas yang mengetahui kejadian, langsung masuk membawa senjata, mengancam akan menembak siapapun yang bergerak. Saya langsung dibawa ke rumah sakit. Untungnya nyawa saya bisa di selamatkan." Pak Anton merasa haus, minum sejenak kemudian bercerita lagi,


"Sabar ya haha... Oke lanjut, Singkat cerita setelah saya sembuh, pihak lapas akhirnya memindahkan saya ke lapas yang tidak diketahui orang lain. Saya tetap menjalani hukuman, tapi nama saya di ganti agar tidak diketahui orang yang mengincar nyawa saya. 15 tahun berlalu, saya yang tidak memiliki uang, pekerjaan, serta sudah meninggalkan anak, istri selama 15 tahun bingung ingin pergi kemana. Menjadi seorang gelandangan, dan harus menyembunyikan identitas asli. Saya sempat mempunyai niat akan menjadi penjahat lagi karena sudah tidak tahan menahan pahitnya hidup, untungnya saya bertemu dengan, Bu Kesya."

__ADS_1


Kesya tersenyum malu, Kevin berkata, "Hem... senyummu itu loh... haha."


Lanjut kata Pak Anton, "Haha... Bu Kesya bertemu saya sedang mengambil sisa-sisa makanan di depan rumah makan. Datang langsung memberikan makanan dan menawarkan pekerjaan sebagai sopir, sampai sekarang."


"Pak Anton setelah itu enggak pernah bertemu anak, istri?" tanya Kevin.


"Setelah sebulan saya bekerja dan sudah memiliki uang, saya pulang. Tapi hanya meninggalkan surat, dan amplop yang berisi uang. Di dalam surat itu saya bercerita semua, termasuk saya yang menyembunyikan identitas asli untuk menghindari bahaya yang akan mengancam keluarga. Setiap bulan saya selalu mengiri uang lewat kantor POS."


"Sayang jangan cerita dengan siapapun ya!" ucap Kesya.


"Pasti! Santai aja Pak saya bisa dipercaya," jawab Kevin.


"Terimakasih, sebentar lagi kita sampai, Non."


"Oke... Vin aku mau mampir ke rumahmu, ingin berkenalan dengan ayah ibumu," ucap Kesya.


"Lain kali aja, ayah ibuku sedang pergi, cuma aku di rumah."


"Yasudah aku ingin mampir!" Kesya memaksa mampir.


Kevin yang tak bisa menolak akhirnya memperbolehkan Kesya. Sesampainya di rumah Kevin, Kesya berkeliling, melihat kamar Kevin yang berantakan kemudian Kesya langsung membereskannya.


"Biarin aja, jangan repot-repot," ucap Kevin, malu.


Mereka menikmati teh di balkon atas rumah Kevin. Saat sedang asik bercerita dan bermesraan, ada suara tembakan. Tembakan pertama meleset, Kevin langsung menggandeng Kesya berlari turun, Pak Anton dibawah langsung menyiapkan mobil untuk kabur, turun tangga dengan cepat tapi sayang tembakan kedua mengenai bahu Kesya.


Kesya terjatuh, Kevin langsung menggendongnya dan memasukkan ke dalam mobil. "Cepat, Pak bawa ke rumah sakit!" ucap Kevin.


"Tuan gimana?"

__ADS_1


"Sudah jangan pikirkan saya, cepat bawa Kesya dan ke rumah sakit, kalau bisa cari rumah sakit yang sulit diketahui, lukanya tidak fatal bisa bertahan sedikit lebih lama."


__ADS_2