
...~Pengakuan Pelaku Penembakan~...
Setelah lama menunggu, pelaku tak kunjung siuman. Kevin yang masih khawatir dengan Kesya kemudian pergi ke rumah sakit yang merawat Kesya. Sebelum pergi Kevin berpesan dengan tim yang menjaga pelaku penembakan, "Ingat apa yang saya katakan barusan! Kalau pelaku tidak mau memberikan informasi, habisi saja. Gunakan cara apapun agar orang ini mau berbicara."
Saat di perjalanan tiba-tiba Kevin memikirkan Pak Tio, Kevin yakin sekali kalau Pak Tio terlibat dalam jaringan pengedar narkoba ini. Kevin menghubungi bahannya untuk memata-matai semua aktivitas Pak Tio. Bahan Kevin bergegas melaksanakan perintah. Menuju rumah Pak Tio, dan mengamati pergerakannya.
Sesampainya di rumah Pak Tio, bawahan Kevin berpura-pura menjadi petugas PLN yang ditugaskan memeriksa pencurian listrik. Pak Tio mempersilahkan masuk, dan mulai berpura-pura mengecek semua sudut ruangan. Tapi, Pak Tio juga selalu mengawasi pergerakan bawahan Kevin.
Sebenarnya bawahan Kevin masuk kedalam rumah hanya ingin memastikan keberadaan Pak Tio, dan seandainya ada kesempatan akan memasang CCTV kecil di ruang tamu. Setelah selesai memeriksa, bawahan Kevin langsung duduk di kursi ruang tamu, padahal belum dipersilahkan duduk oleh Pak Tio.
Mengeluarkan kertas yang berisikan pertanyaan tentang pemakaian listrik rumah tangga, sebelum bertanya dan mengisi kertas itu, bawahan berkata, "Pak, maaf sebelumnya. Boleh saya minta air minum?"
Pak Tio sepertinya sedikit curiga, tapi tetap mengambil air minum ke dapur. Kebetulan anak, istrinya sedang tidak di rumah. Tanpa basa-basi bawahan Kevin langsung mencari tempat yang tersembunyi untuk memasang penyadap suara, dan CCTV kecil di pasang di pohon hias pojok ruangan. Setelah terpasang semuanya, bawahan Kevin kembali duduk.
Tak lama kemudian Pak Tio kembali membawa air minum. Bawahan Kevin langsung meminum air tersebut, setelahnya mulai menanyakan semua pertanyaan yang ada di kertas. Tak memakan waktu lama, semua pertanyaan selesai di tanyakan, bahan Kevin kemudian pamit pulang.
Setelah keluar ia langsung pergi ke tempat yang lebih aman, mengendarai mobilnya sambil menghidupkan monitor yang tersambung dengan CCTV di rumah Pak Tio.
Berhenti di tempat sepi, dan mulai mengamati semua aktivitas yang ada di ruang tamu. Terlihat Pak Tio yang sedang berbaring di sofa sedang sibuk dengan ponselnya. Tak ada gerak gerik yang mencurigakan di malam itu.
Beralih ke Kevin yang sedang setia menunggu kekasihnya siuman. Duduk di samping Kesya, kepalanya bersandar di kasur. Kevin merasa sangat lelah, kantuk yang tak tertahan membuat dirinya tertidur.
Keesokan harinya, Kesya sudah siuman. Melihat Kevin yang tertidur dengan posisi duduk, hanya tersenyum, merasa sangat beruntung memiliki kekasih seperti Kevin. Kesya mengelus kepala Kevin sambil berkata, "Makasih sayang, sudah menungguku disini."
Kesya kemudian menggenggam tangan Kevin. Sentuhan tangan Kesya membuat Kevin terbangun. "Alhamdulillah, sudah siuman," ucap Kevin tangannya masih menggenggam tangan Kesya.
Kesya berkata, "Jangan khawatir, aku enggak papa, kok."
"Gimana enggak khawatir, liat kamu tertembus peluru," ucap Kevin, wajah Kevin terlihat sangat serius.
Kesya tersenyum dan berkata, "Makasih ya sayang udah nungguin aku. Kamu luka enggak?"
"Aku enggak ada luka, Siapa ya orang yang melakukan ini semua, ada masalah apa dia dengan kita," kata Kevin.
"Aku curiga ada hubungannya dengan salah satu orang yang ada di kantor ini, apa aku ya yang? aku kan Bosnya."
"Bukanlah, memangnya kamu pernah buat salah sama orang? Menurutku ada kejadian ini ada hubungannya sama kejadian OB, dan Aldo kemarin. Kalau memang ada hubungannya sama kamu pasti enggak sampai melibatkan mereka berdua," jawab Kevin.
__ADS_1
"Yasudah, enggak usah dibahas lagi yang penting kamu enggak papa," ucap Kesya tangannya menyentuh pipi Kevin.
"Kebalik, harusnya aku yang mengatakan itu," jawab Kevin.
"Untukku kamu yang terpenting, bukan diriku sendiri," ucap Kesya dan tersenyum.
Kevin mulai kembali ke mode culunnya, bingung, salah tingkah, hanya bisa menunduk. Kesya yang melihat tingkah Kevin tertawa, menurutnya ini baru Kevin. Sebenarnya Kevin sadar sudah melewati batas, tingkahnya bukan seperti orang culun lagi, mangkanya Kevin mulai kembali bertingkah seperti layaknya orang culun.
"Lihat aku!" ucap Kesya, tangannya memegang dagu Kevin.
Malu-malu, Kevin menatap wajah Kesya. Kesya berkata, "Lain kali kamu harus nurut denganku, kalau aku bilang jangan pergi ya jangan pergi, situasi sekarang sangat berbahaya, aku enggak mau liat kamu kenapa-kenapa!"
"Iya...."
"Jawab iya doang??" Mata Kesya melotot.
Kevin malah mengangguk, muka polosnya terlihat sangat lucu. "Ikutin kata-kataku! Iya sayang. Cepat ngomong gitu!" ucap Kesya.
"Iya sayang."
Kevin mulai dihadapkan dengan masalah yang sebenarnya, wanita yang sangat sulit dimengerti, sudah menurut, tapi malah terlihat seperti orang terpaksa. "Mending lawan penjahat daripada harus melawan sifat wanita yang seperti ini," ucap Kevin dalam hati.
Kevin mulai menunjukkan aksinya merayu wanita, memegang pipi Kesya dan mengarahkan wajahnya ke arah wajah Kevin. Kemudian mencium keningnya. Setelah mencium Kevin kembali duduk menundukkan kepala.
Karena ciuman itu, hati Kesya menjadi berbunga-bunga. Kesya berkata, "Ih bisa aja, kamu ini aneh banget loh yang. Kemarin aja waktu menciumku terlihat sangat keren, sekarang kalem banget."
"Kepercayaan diriku labil, kadang muncul, kadang hilang," jawab Kevin.
"Sekarang masih hilang berarti?"
"Bisa jadi," ucap Kevin.
"Sini yang, mendekat, bahuku sakit jika aku yang mendekat ke kamu." kata Kesya.
Wajah Kevin mendekat, Kesya langsung mencium balik Kevin. "Sudah kembali kepercayaan dirimu?" tanya Kesya.
"Belum," jawab Kevin masih memasang muka polos.
__ADS_1
"Alah, malah minta tambah," ucap Kesya menjewer telinga Kevin.
"Aduh... ampun Bos." Wajah Kevin terlihat kesakitan.
"Haha rasain, nakal sih."
Saat sedang larut dalam kemesraan, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel Kevin. Kevin langsung melihat ponselnya. Ternyata telpon dari petugas yang menjaga pelaku penembakan.
"Telpon dari siapa?" tanya Kesya.
"Dari ibu, mungkin mau tanya kenapa aku enggak pulang, soalnya aku enggak ngomong."
"Yasudah angkat dulu."
Kevin keluar dari ruangan, mengangkat telpon itu. "Halo, gimana apakah sudah siuman?" tanya Kevin.
"Sudah Pak, tapi dengan kondisinya sekarang belum bisa kami introgasi."
"Sebentar lagi saya ke sana, saya sendiri yang akan menginterogasinya. Jaga terus pelaku, jangan sampai lengah!"
"Siap."
Kevin mematikan telponnya, dan menghubungi Pak Anton yang sedang makan di kantin, menyuruh Pak Anton menggantikannya menunggu Kesya. Pak anton langsung menuju ruangan, sesampainya Pak Anton di depan pintu, sudah ada Kevin yang menunggu. Mereka masuk ke dalam, Kevin berkata kepada Kesya, "Aku pulang sebentar, aku harus membantu pekerjaan ibu. Sementara kamu ditungguin Pak Anton."
"Oke... hati-hati di jalan," jawab Kesya.
Kevin mengangguk, kemudian langsung menuju rumah sakit tempat pelaku penembakan dirawat. sesampainya di sana, Tanpa basa-basi langsung menjambak pelaku, dan mengatakan, "Siapa yang menyuruhmu?" Suaranya sangat keras.
Masih terlihat sangat lemas, pelaku tak menjawab. Akhirnya Kevin mengeluarkan pistolnya dari pinggang dan memasangkan peredam pada ujung pistol, seandainya menembak tak terdengar oleh orang lain.
Di ruangan itu hanya ada Kevin dan 1 petugas. "Sabar Pak, jangan main tembak," ucap petugas itu.
Kevin tak menggubrisnya, langsung menaruh ujung pistol di kepala pelaku, "Jawab atau mati!" ucap Kevin.
"Pak Anton..." lirih ucap pelaku.
"Yang benar kamu, jangan berbohong!" bentak Kevin. Pelaku itu hanya mengangguk.
__ADS_1