
...Episode 22...
Sebelum pulang kerja, Kevin pergi ke lantai paling atas. Tempat OB mencurigakan bekerja, Kevin ingin mencari informasi lebih lanjut tentang OB itu. Naik menggunakan lift, sampai di lantai teratas.
Masuk kedalam gudang, Kevin terus mengamati barang-barang yang ada di situ. Masih sama seperti sebelumnya, hanya ada perkakas yang tidak terpakai, berjalan lagi sampai ke tempat Kevin menemukan surat yang pertama kali ditemukannya.
Karena ruangan yang gelap, Kevin menggunakan senter hpnya. Mengamati lantai, tapi tak menemukan apa-apa, lampu senternya mengarah ke tembok, kagetnya Kevin menemukan tanda panah ke balkon atap kantor.
Merasa ada yang aneh dan sangat mencurigakan, Kevin langsung berlari sambil menggenggam pestol di tangannya. Sesampainya di balkon atap kantor, Kevin bergerak sangat berhati-hati. Melihat kebelakang tidak ada apa-apa, melihat ke depan sama tidak ada apa-apa.
Kepalanya menengok ke arah kiri, Kevin langsung berlari, ternyata Kevin melihat OB itu sedang berdiri di ujung balkon. Sepertinya OB tersebut akan bunuh diri. Kevin yang melihat itu mendekat perlahan sambil menyembunyikan pestol yang ia pegang.
Kevin berkata, "Apa yang kamu lakukan, cepat menjauh dari situ," rayu Kevin.
OB menjawab, "Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, aku ingin mati saja."
"Aku bisa bantu kamu menyelesaikan masalahmu, jangan sia-siakan hidupmu." Kevin berbicara sambil mendekat secara perlahan.
"Jangan mendekat, aku akan langsung melompat jika Anda selangkah berjalan mendekat!" bentak OB itu.
"Seberat apapun masalahmu, pasti bisa diselesaikan, ayo kita selesaikan bersama."
"Apakah Anda tau, sebelum Anda datang ke perusahaan ini semuanya baik-baik saja, aku tidak terlibat dengan penjahat itu," ucap OB itu.
"Apa maksudmu?" tanya Kevin.
__ADS_1
"Saya tidak tau siapa Anda, yang jelas ada seseorang yang mengincar Anda. Bahkan orang itu tidak pernah melihatkan wajahnya kepada saya. Setiap malam saya selalu mendapat surat ancaman sekaligus perintah, jika tidak menjalankan perintah anakku akan dibunuh." OB itu berteriak seperti menyalahkan Kevin.
"Oke kita bicarakan masalah ini, sebagai gantinya saya akan menyelamatkan anakmu," ucap Kevin.
"Maaf sudah terlambat, anakku sudah diculik dan dijadikan sandra, kemarin ada tugas yang tidak bisa saya selesaikan, surat itu datang berkata anakku akan dibunuh malam ini." OB itu berbicara dengan nada yang sangat emosional, tetes air matanya tidak berhenti.
Kevin pada saat itu merasa ada yang aneh, beranggapan jika memang OB ini berniat bunuh diri, kenapa harus memberikan petunjuk di gudang dan bagaimana bisa ia memprediksi Kevin pergi ke lantai atas. Kevin tetap siaga dengan senjatanya, mencoba untuk memahami daerah sekitar, Kevin percaya semua ini hanyalah jebakan.
Kevin sengaja dipancing untuk pergi ke balkon atap kantor, karena sudah tak percaya dengan omongan OB itu, Kevin berkata, "Jika memang dengan cara bunuh diri bisa menyelesaikan masalahmu, silahkan lompat."
Terlihat wajah OB itu seperti kebingungan, OB itu malah berlari mendekat ke arah Kevin sambil membawa pisau yang di ambil dari pinggangnya. Kevin langsung menghindar, dan melawan OB itu. Singkat cerita, perkelahian itu dimenangkan oleh Kevin, tangannya di tendang oleh Kevin sampai pisau yang ia pegang terpental.
Kevin menodongkan pistol di kepala OB itu, Kemudian Kevin berkata, "Siapa yang menyuruhmu?"
OB itu hanya terdiam, tak mau menjawab pertanyaan Kevin. Wajahnya sudah babak belur dihajar Kevin, salah satu lengannya cedera parah karena tulangnya patah. OB itu meringkuk kesakitan.
Akhirnya OB itu menjawab, "Saya tidak tau siapa yang menyuruh, semuanya benar setiap malam selalu ada surat perintah dan ancaman terhadap saya, anak saya menjadi sandera. Terakhir, saya ditugaskan untuk membunuh Anda, dengan cara menjatuhkan Anda dari balkon. Jika saya gagal, anak saya akan dibunuh."
Tiba-tiba suara OB itu terdiam, dibarengi muncratnya darah dari kepala OB tersebut. Peluru sudah menembus kepalanya, Kevin langsung berlari ke arah tempat yang aman, bersembunyi di salah satu tembok.
Kevin melihat di depan matanya, OB itu tertembak dengan peluru sniper, Kevin menenangkan dirinya, memancing dengan kayu yang ada disebelahnya, mengeluarkan ujung kayu, langsung disambar dengan peluru.
Merasa tak sanggup melawan sendirian, Kevin langsung menghubungi kantor pusat intelijen. Saat mendengar dari Kevin, semua langsung bergerak tim pemberantas menuju lokasi keberadaan Kevin.
Dengan senjata yang lengkap dan menggunakan pakaian seperti orang biasa, tim pemberantas sudah sampai di depan kantor Kevin. Kevin memberikan informasi, bahwa pelaku ada di gedung sebelah kantornya. Lantai Paling atas terlihat ada yang bersinar menyilaukan, menandakan pantulan cahaya dari lensa senjata.
__ADS_1
Tim langsung bergegas masuk ke gedung itu, petugas keamanan kantor disuruh diam. Awalnya tim di hentikan, tetapi setelah menunjukkan kartu identitas, petugas keamanan malah menuntun jalan cepat menuju atap kantor.
Sesampainya di atap, tim tak melihat ada seseorang di sana, hanya selongsong peluru yang telah terpakai. Jumlahnya ada 2, sepertinya sengaja ditinggalkan. Pembunuh yang sangat profesional, bergerak sangat cepat dan tak terlihat.
Mayat OB itu, akhirnya di bawa oleh tim pengamanan, Kevin disembunyikan agar orang-orang di kantornya tidak mencurigainya. Sesampainya di kantor pusat intelijen, Kevin bercerita semua informasi yang di dapatkan dari OB.
Atasan hanya mengatakan, "Sungguh sangat berbahaya lawan kita ini, jika memang identitas mu sudah diketahui, lebih baik kita hentikan misinya, nanti kita cari waktu yang pas untuk mengganti petugas menyelesaikan kasus ini."
"Jangan Pak, saya sudah terlibat dalam permainan target kita, lebih berbahaya jika petugasnya diganti. Jika memang pelaku berniat menghabisi saya, waktu di atap tadi, saya yang harusnya ditembak." ucap tegas Kevin.
"Terus bagaimana, Vin?"
"Apapun yang terjadi, saya harus selesaikan tugas ini. Tapi, saya minta tolong sekali lagi, perketat perlindungan keluarga saya," ucap Kevin.
"Baik kalau memang itu yang kamu mau, Vin. Saya akan tambah tim untuk menjaga rumahmu dan mengawal secara diam-diam keluargamu."
"Terimakasih Pak, saya akan selesaikan tugas ini ini secepat mungkin, agar tidak ada korban lagi," ucap Kevin.
Setelah semua sudah terlihat biasa saja, Kevin kembali ke kantor. Di kantor sudah tidak ada karyawan yang bekerja, hanya ada petugas keamanan di sana. Kevin izin masuk ke kantor, dengan alasan ada barangnya yang tertinggal.
Tak lama, datang banyak kepolisian, untuk olah TKP. Kevin di cegat oleh salah satu Polisi, Polisi itu mencurigai Kevin. Polisi itu bertanya, "Kenapa Anda masih di kantor?"
"Ada barang yang tertinggal, Pak."
"Barang apa yang tertinggal?" tanya Polisi itu.
__ADS_1
Merasa menghalangi pergerakannya, Kevin langsung menarik polisi itu dan memberikan kartu identitas yang menandakan ia adalah anggota spesial. Polisi itu langsung diam tak berdaya, mempersilahkan Kevin bergerak bebas.
Kartu identitas itu hanya memberikan keterangan kebebasan bagi pemilik untuk menyidik semua kejadian. Bukan identitasnya sebagai intelijen. Tugasnya untuk mempermudah pencarian barang bukti dan informasi. Semua Polisi hanya diberitahukan, jika ada yang memegang kartu identitas seperti ini, jangan banyak bertanya, langsung lepaskan dan biarkan melakukan apapun yang ingin dilakukan.