Cinta Itu Abstrak

Cinta Itu Abstrak
13.


__ADS_3

Ersya yang sedang asik dengan pekerjaan dibantu oleh devsa kini merasa aneh karena dia besok harus bekerja di kantor papa bersama Darma.


Sekarang ada Rio, dan “Dev, lo tidak berkencan lagi?” Tanyanya mengejek


“Sya kamu tau dia sekarang sengan si Rocki lo, kemarin aku waktu ke mall ketemu sama dia dan parahnya dia gaya seperti ga kenal sama aku.”


“Parah kamu deb bisanya tidak bercerita sama aku.” Ersya dengan nada merajuk


“Io apa apa sih lo. Jangan gitu dong saya malu, iya jujur aku deket tapi aku tau kalau Rocki itu suka sama kamu sya.”


“Bilangin aja aku nggak mau, apa apaan sih tidak jelas.”


“Hahahahah jangan mau lo jadi pelampiasan, sakit nanti ujingnya.”


“Hahaha sama kaya lo, melampiaskan dan yang jadi subjeknya udah kelar mau nikah dan lo gajadi move on.” Devsa tau kelemahan rio


Tanpa pikir panjang mebekap mulut devsa dan berbisaik, “awas keceplosan lo ga jadi temen gue.”. Tanpa sadar ersya melihat jam tangan sudah masuk jam Gibran pulang, “he udah jam 11 dong. Aku pergi dulu mau jemput Gimbran.”


“Sama aku sya ayo, pekerjaanku juga udah selesai. Daaaaaaa anak garam.” Pamit pada devsa


. . . . .


Setibanya di sekolah Gibran, anak itu langsung melihat bunanya yang menjemputnya. “Buna, i miss you.”


“I miss you too dear, ayo pulang.” Mengandeng tangan anaknya dan menyebrang jalan menuju mobil.


“Hay boy gimana sekolahnya?”tanya Rio meliat gibran masuk ke mobil.


“Hai om Io, asik bemain dna belajal.”


“Siyap belajar yang pinter ya, biar nanti bisa jadi apa ?”


“Polisi.” Wajab teriak karena semangat. “Bener de biar bisa jaga buna ya” tangapan Io. “Siip om.”


“Kita resto buna dulu ya nak, nganterin om Io sama beres beres pekerjaan buna.”


“Iya buna.”


- - - - -

__ADS_1


Beberes di tempat kerja dan pulang ke rumah, Gibran yang sudah mulai leha kini dimobil dia tidur sangat pulas. Sampai tidak terasa sudah sampai rumah, Ersya turun dan mengendong Gibran masuk kekamar.


Entah pada kemana orang rumah tapi kenapa sepi sekali, “mba dimana papa sama mama?” Tanya kepas mbak Utik


“Ada di taman belakang non, biar saya yang temani aden saja.”


“Iya deh mba aku kebelakang ya.”


“Baik silahkan non.” Mba sambil masuk kamar Gimbran untuk menemani dan Ersya berjalan ke taman belakang.


“Assalamaualaikum tuan dan nyonya? Apakah hati ini sehat sehat saja?” Datang sengan langsung memeluk dan mencium tangan papa mama.


“Waalaikumsalam alhamdulillah baik nona.” Jawab papa


“Waalaikumsalam, dimana Gibran nak.”


“Tidur mah mungkin kecapekan tadi ikut aku kerja.”


“Yasudah biarkan saja,” kata mama.


Aku tanpa sengaja melihat wajah papa yang pucat seperti menahan sakit karena keringat yang bercucuran, “papa papa kenapa, apa yang sakit ?”


Mama yang hanya menangis menemani papa dan tak bisa menahannya, Darma ku panggil dan dia datang. “Bagaimana keadaan bapa?” Tanya dengan nafas yang terburu.


“Maaf tapi pak Hendra harus segera dilarikan ke rumah sakit.” Kata dokter


Ambulan datang dan langsung membawa pak Hendra ke rumah sakit. Darma dan mama menemani didalam ambulan, Gibran dan Ersya mengikuti dengan pak ujang.


Sesampainya dirumah sakit langsung masuk IGD dan ditangani lokeh dokter. Mama yang mengangis ditenangkan oleh Darma dan Gibran yang menangis sebab takut, Ersya menguatkan hati dan dirinya untuk tetap tegar.


“Dimana keluarga pasien tuan Hendra ada?” Dokter keluar dari ruang IGD


“Saya dok anaknya.” Ersya langsung berdiri dan menghampiri dokter diikuti dengan Darma.


“Begini setelah kami melakukan pemeriksaan dan observasi pak Hendra mengidap jantung, jadi harus tinggal dirumah sakit dulu untuk kita melakukan observasi lebih lanjut lagi. Maaf saya rasa keluarga harus mensuport apa yang tuan inginkan. Dengan kebahagiaan hati mungkin kesembuan juga mengukuti. Dan selalu berdoa kepada yang maha kuasa.”


“Baik dok terimakasih” ucap Darma karena Ersya hanya menangis.


“Silahkan, maksimal 2 orang masuk untuk melihat kondisi pak Hendra. Saya permisi”

__ADS_1


“Baik silahkan, terimakasih dok.”


Darma dan Ersya yang masuk, pak Hendra yang sudah sadarkan diri tapi keadaan sangat lemas dan lemah hanya bisa melihat dan menangis karena tidak tau apa yang sedang dirasakan.


Dipindakkan dikamar inap, mama yang ngikuti dengan lemah dan keadaanya sangat sendu.


“Ma mama harus kuat, Ersya minta tolong sekali berikan semangat untuk papa jangan malah merasa murung seperti ini.”


“Iya sayang mama akan berusaha, supaya semangat papa bisa sembuh.”


Darma ada di sisi kanan, dan mama duduk disebelah kiri papa dengan Ersya yang berdiri disebelah mamanya.


“Papa sudah lemah dan mungkin tidak bisa kuat menjaga kamu, ersya, dan gibran.” Papa ngambil nafas dan dilanjut, papa memegang tangan ersya darma “tolong jaga semua yang papa sudah jaga.”


Papa mencari tangan ersya dan disatukan tangan mereka. “MENIKAHLAH” sebelum papa tiada.


Detak jantung Ersya terasa berhenti seketika, dan darma menjawab, “Besok kami akan menikah pa, tolong jangan berpikir macam macam papa harus sehat.”


Ersya keluar begitu saja, mama nemandang dan “pa mama keluar sebentar saja.”


“Sya. Berhenti nan sebentar saja.” Mama memeluk dan mengisap rambut Ersya karena mama tau hati anaknya seperti apa.


“Ma tapi ini tidak adil untuk aku, aku biasa jaga diri mama sama ib. Tapi kenapa harus menikah dengan orang itu.” Ersya yang menangis sejadi jadinya dipelukan mamanya.


“Dengerin mama ya kan kamu sendiri yang bilang kita harus beri semangat papa,” mama melepas pelukan san memegang pipi ersya. “Dengerin Darma itu anak baik, mungkin kamu belum merasakan tapi suatu saat kamu pasti akan tahu sya.”


“Maksud mama?”


“Mama mohon sama kamu, mau ya menikah dengan Darma. Demi kesehatan papa sayang.” Sambil memeluk anaknya. Ersya yang memeluluh akhirnya mau dia hanya ingin membahagiakan semua orang.


Mereka masuk ke kamar inap papa, Gibran yang sudah digendong oleh Darma. Papa tidur dan mbak utik yang berpamitan pulang dengan pak ujang.


“Mama Ersya pulang sama pak ujang aja, kasian Gibran. Nanti malam kalau aku kesini lagi.” Sambil mengendong gimbran yang mengeriyipkan mata.


“Besok saja kamu kesini nak, biar mama saja tidak apa apa.”


“Biar mama sama aku aja, kasian nanti kalau Gibran ditinggal.” Sela darma


“Yasudah ma aku pulang dulu,” menedekati papa “papa Ersya pulang, cepat sembuh ya.” Pergi kemobil bersama mba Utik dan pak ujang.

__ADS_1


……………………………bersambung…………


__ADS_2