
Sang fajar sudah menghantarkan sinar matahari untuk cahayanya mencorot ke sela sela jendela kamar ersya. Ersya pun tersadar dengan membuka mata tetapi dia merasakan ada hawa panas, ternyata badan gibran.
‘Ya ampun kenapa badanya panas sekali’, bialangsung pergi ke kamar mandi dan membersihkan badan selanjutnya membawa air dingin diember kecil untuk mengompres gibran.
“Mama, tolong ersya buatkan bubur yaa” nada teriak didepan pintu
“Kenapa sih teriak teriak, suara kamu itu sya”
“Ma gibran badanya panas sekali tapi dia sama sekali tidak membuka matanya.” Duduk disamping gibran dan merasakan kecemasan
“Kita bawa ke rumah sakit saja, yuk kamu siapkan semua sekalian, mama panggil papa dulu.”
Dibantu bibi yang memasukkan baju gibran ketas dan dibawa ke mobil.
“Pak yuk kita kerumah sakit, gibran badanya panas sekali.”
“Mama papa cepat ini gibran sudah mau buka mata” jelas ersya dan berjalan menuju mobil
Pak supir, mama papa masuk mobil dan kamu menuju rumah sakit. Sesampainya rumah sakit langsung masuk UGD dan dokter memeriksanya.
Setelah dokter keluar, “keluarga ananda gibran”
“Saya bunanya dok”
“Anak ibu demam tinggi untung saja cepat dibawa kemari soalnya kau sudah sampai kejang itu sudah fatal. Kami masih melakukan tes darah dan ananda haru dirawat dirumah sakit dulu.”terang dokter
“Oh iya dia tadi memangil buna silahkan anda masuk”
“Mama papa urus kamar dan administrasi dulu nak”
“Baik ma pa” sambil berjalan masuk ruang ugd
“Anak buna cepet sembuh ya nanti kita jalan jalan deh mau kemana ?” Menghibur anaknya
“Buna iblan mau puyang ini tanan iblan diancepin jarum” rasanya ingin sekali menangis
“Maaf bu saya pudahkan anak ibu ke kamar inap” kata suster sambil mendekat
“Baik sus”
“Jangan nagis ya ibran kuat” semangatnya
__ADS_1
Sambil menuju kamar pasien vvip rumah sakit dev telefon, “ Sya kamu enggak kesini lagi?” Nada sudah ngegas
“Gini ya dev ak ijin dulu kamu gantikan aku atau suruh rio saja, anak ak sakit nih sekarang aku dirumah sakit”
“Oh iya udah, kasih tau dimana rumah sakitnya”
“Yaudah dulu” selesai dan mematikan telefonnya.
Tibalah dikamar pasien kamar sudah rapi dengan tas untuk baju ganti mama papa ikut menjaga gibran, tetapi tidak lama hp papa perbunyi.
“Hallo pak ini saya mendapat kabar jika perusahaan yang ada diBelanda ada masalah dan harus bapak yang menyelesaikan.” Kata sekertaris papa
“Baik atur penerbangan besok” jawab papa tegas
“Ada apa pa? Kenapa wajah papa kelihatan tegang sekali?” Tanya mama penasaran
“Di perusahaan belanda ada masalah dan papa harus kesana”
“Biar mama ikut saja pa, kasian kalau papa sendirian disana” kata ersya
“Iya pa mama ikut, tapi gimana gibrankan sedang sakit” kekawatiran mama
“Yaudah papa berangkat sama mama, tapi biar darma yang mendampingi kalian kemanapun”
Papa segera menghubungi asisten untuk memesankan tiket untuk istrinya dan memberi tau darma untuk menemasinya di rumah sakit. Hanya selang 2 jam darma datang dan papa mama pamit pulang untuk menyiapkan keperluan mereka.
“Assalamualaikum” darma salams sambil membuka pintu
“Waalaikumsalam, masuk lah”
“Baik pa ma “ sambi berjalan menghampiri mama papa dan besalaman
Ersy yang hanya melihat dengan kebencian. Ehtah kenapa hati tetap tak mau menerimanya sebagai keluarha, walaupun gibran sudah tertidur lagi aku tetap ada disebelahnya.
Mama nenghampiriku dengan berkata “nak gibran udah tidur, yuk ngombrol disana”. Aku hanya bisa menganggukan kepala dan tak berkata apapun.
Kami berempat duduk dan papa mulai bicara, tidak tahu kenapa perasaan papa akan keberangkatan besok itu berat sekali dan akhirnya papa mengungkapkan isi hati.
“Sya papa udah tua tidak mungkin kuat dan lama menjaga kalian, papa mau kamu menikah dengan darma. Sekali ini saja papa mohon menikahlah dengan darma.”
Mama dan ersya tiba tiba meneteskan air mata, tidak ada angin hujan tadi kenapa rasanya ada sambaran petir dalam hati ersya.
__ADS_1
“Pa ma ersya akan turuti kemauan kalian, tapi aesya mohon meri ersya waktu”
“Mama tau perasaan kamu, nak tapi mama yakin darma ini terbaik untuk kamu. Mama tau mencinta i irang tidak segampang membalik daun tapi cobalah nak.” Mama memelukku dan aku juga memeluknya.
“Darma papa besok akan besok akan mengurus perusahaan yang ada di Belanda papa serahkan perusahaan ini kepadamu dan yang paling utama tolong jaga ersya dan gibran.”
“Baik pak insyaallah saya akan menjaga amanat dari bapak dan saya siap menerima apapun resikonya.” Dengan mantap dia menjawab
“Yasudah papa mama pulang dulu jaga diri baik baik jika masih membutuhkan papa telefon saja ya nak, besok kami berangkat pagi dan kami tidak mampir kesini kami langsung ke bandara” terang papa sambil memeluk dan mencium keningku
“Kami pulang dulu nak” mama papa mait
Selang beberapa waktu, “ kalau mau pulang silahkan.” Nama mengusir
“Saya disuruh jaga anak kesayangan, mana berani saya tinggalkan” nada mengejek sebenernya seneng banget bisa penya waktu memendang dengan bebas.
“Minta tolong titip gibran sebentar, aku mau keluar.”
“Iya jangan lama lama “ beralih ke kursi dekat gibran dan ersyapu n keluar.
“Sudah bangun, mau minum?”
“Emm buna mana?” Sambil mau menangis
“Buna masih beli makan, sudah jangan menangis gibran kan anak hebat. Ada om juga yang jaga gibran”
“Iya om, om om tepayaku satit om “ keluh gibran sambil menangis
“Ib kenapa ib yang sakit mana sayang,” ketepatan ersya masuk dan meliat gibran kesakitan dia dan meliht gibran pingsan ersya histeris. Darma dengan cekatan langsung memanggil dokter dan suster
Gibran di periksa dokter dan darma menemani ersya. Ersya yang menangis sejadi jadinya tanpa sadar berada di pelukan darma, setelah beberapa metit dokter keluar dan memberitau pada ersya. “Maaf keluarga pasien gibran”. Ersya langsung menghampiri dokter “iya dok ada apa, apa penyakit anak saya dok” sontak dokter menjawab “anak ibu masih menjalani pemeriksaan darah yang akan dilab untuk mengetahui penyakit pastinya. Ibu berdoa saja” terang dokter. “Boleh saya masuk?” Tanya ersya pada dokter. Ersya masuk dan memeluk gibran yang kini tanpa sadar.
Darma menelefon papa, “assalamualaikum pak, maaf pak gibran sakitnya semakin serius dan keaadaan ersya sangat terpuruk bapak bisa pulang kapan?”
“Waalaikumsalam nak, maaf papa belum bisa pulang dalam wktu dekat. Tolong kamu jaga mereka untuk papa”
“Baik pa insyaallah saya akan menjaga sekuat tenaga saya”
Kini devsa datang tidak sendiri untuk menemui ersya melainkan dengan investor yang bernama rocki, Kerena tadi mereka melihat lihat lagi apa yang kurang dari pekerjaan mereka dan lanjut untuk menjenguk anak ersya.
✌🏿
__ADS_1
Maaf ya jika ada typo
Selamat membaca