Cinta Itu Abstrak

Cinta Itu Abstrak
2.


__ADS_3

Laki laki yang sangat mempesoda dari rambut sampai bajunya wajahnya juga tampan kulit sawo matang tapi tidak terlalu hitam.


“Mama siapa ini?” Tanyanya dengan bingung


“Ini teman kakak kamu yang sudah kami angkat menjadi anak sejak pertama kali kami perker kepanti asuhan.” Jelas papa


“Teman kakak? Anak angkat?” Tanyaku balik karena tak tahu apa apa


“Sayang kenalin ini Darma Syahreza, papa mengalihkan saham padanya sebesar 50% dan memang dia bisa diandalkan.” Kata papa


Aku yang hanya mendengarkan dan melihat mama papa karena aku memang tidak terlalu suka dengan apa yang terjadi saat ini, kata kata papa yang membuatku kaget karena aku adalah anak papa satu satunya seharusnya semua saham perusahanan seluruhnya diberikan padaku.


“Sudah sya kita makan dulu nanti masih ada yang papa ingin bicarakan, kasihan itu gibran sudah keliatan sangat lapar”


Melihat gibran bermain dengan mama tapi wajah tampak lesu karena kelaparan.


“Sini sayang makan sama buna, tadi buna bawakan udang tepung sama sayur bayam. Dan buat papa mama ada cap jay sama ayam telur” ucapku tanpa mempedulikan orang itu


“Ayo sayang baca doa dulu” titahku kepada gibran


“Iya buna” setelah membaca doa akupun menyuapinya dengan sangat telaten


“Masakan kamu tambah enak saja sayang” puji mama


“Makasih ma, karena ersya sering mencoba resep resep dan ersya satukan resepnya” jawab ersya


Semua makanan sudah sudah habis tak tersisa darma yang sangat menikmati makanan yang dibawa ersyapun dan berkata “makanan kamu sangat enak”


“Makasih” jawab singkatku


“Buna sudah kenyang, buna tidak makan?”


“Oh baiklah sayang, buna sudah makan tadi jadi masih kenyang”


“Oke buna”


Setelah membersihkan kotak makan, akupun duduk dengan gibran yang kelihatannya mulai bosan dan sekarang dia sedang memainkan hp. Tetapi laki laki itu hanya diam mungkin saja memang dia pendiam, mamapun juga diam dan dia hanya menatapku untuk melihat ekspresiku.


Papa yang menatapku “sya bagaimana resto dan cafemu”


“Baik pa, tadi aku liat grafiknya masih naik.”


“Sya kelihatannya gibran sudah lelah, kamu pulang saja biar diantar oleh Darma “


“Eh tidah usah pa Ersya bawa mobil tadi, nanti gimana mobilnya?”

__ADS_1


“Gampang nanti biar diantar satpam, kasian tuh gibran udah ngantuk banget”


“Darma minta tolong ya anterin ersya sama gibran pulang”


“Iya pak baik saya akan mengantarkanya”


“Mama tidak pulang sekalian?” Tanyaku karena mama diam saja


“Tidak mama disini dulu aja temenin papa”


“Ya sudah ersya sama gibran pulang dulu.” Sambil mencium tangan mama papa diikuti gibran dan darma


“Assalamualaikum mama papa” pamit dimbran sambil melambaikan tangan


“Waalaikumsalam sayang hati hati ya”


“Iya ma” sambil berjalan keluar


Ersya yang berjalan duluan dan mengandeng gibran diikuti oleh darma, para karyawan papanya yang ada dikantor baru melihat gimbran dan mengiranya anak dari ersya.


“Nop kita tidak pernah tau nona menikah dan hamil tapi sudah memiliki anak saja, jangan jangan” karyawan 1


“He mulutmu mungkin saja nona menikah dan hamil waktu dia masih kuliah, ka memang semenjak kuliah nona jarang ke kantor karena kuliahnya diluar kota.” Sanggah karyawan 2


“Udah ini tidak usah mengurus urusan orang jaga sikap aja biar kita tetap kerja disini, anggap semua baik baik saja.”


“Iya juga yaudah kita lanjut kerja aja”


Suasana dimobil sangat dingin ersya yang tidak mau berkata dan keadaan gibran yang baru saja naik sudah tidur, dan Darma yang diam dan tidk mau memulai pembicaraannya.


Setibanya dirumah “makasih” ucapku


“Sama sama saya langsung pulang” jawab darma


Akupun langsung masuk rumah dan menidurkan gibran dikamar setelahnya ak sholat dhuhur dan lanjut ikut membaringkan tubuh untuk beristirahat. Memang gibran sudah lupa dengan papa mamanya aku juga sangat jarang mengajak gibran kepemakaman karena masih terlalu keci.


Ersya mandi dan lanju memasak untuk makan malam, sampainya dapur mama papa barusan datang dari kantor.


“Assalamualaikum sya ”


“Waalaikumsalam ma pa barusan pulang”


“Bentar sayang mama bantu tapi mama bersih bersih dulu nak, gibran dimana ?”


“Istirahat dulu ma, gibran tidur setelah ini ersya bangunkan untuk mandi”

__ADS_1


“Yaudah nak dibantu mbak aja biar kamu enggak capek”


“Iya ma “


“Mbak utik mari kita memasak”


“Mari non kita mau memasak apa ?”


“Apa ya mba, sup ayam aja mba bahanya masih adakan ?”


“Masih ini non, mba keluarkan dulu” didepan pintu kulkas


Bahan disiapkan dan dicuci bersih oleh mba utik dan eraya dengan kelihaiannya membuat bumbu dan memasaknya. Begitu hampir selesai terdengar suara tangisan yang memanggil dirinya.


“Bunaaaaaaa aku atut buna angan pegi” gibran memanggilnya dengan menangis dan mencari ersya


“Mba utik tolong lanjutkan” sambil cepat kilat dia berlari menuju suara itu “sayang buna disini, kenapa mimpi buruk sayang?”


“Buna iblan mimpi buna diambil cama olang, angan ingalin iblan ya buna” sambil sesegukan dia menahan tangis memelukku


“Sayang dengerin buna, sampai kapanpun buna akan tetap sama ibran dan ibran tidak boleh takut kamu kan laki laki hebat” nadanya menenangkan gibran


Tak terasa suara tadi menguncang rumah, dua pasang mata melihat kedekatan seorang ponakan dan tantenya yang sekarang seperi anak dan ibu.


Flashback 🎈


Dulu ketika kakak menikah tanpa restu orang tua dari istrinya membuang dia dan tidak akan pernah mengakui cucunya sampai kapanpun, akhirnya semua kesepakatan keluarga anaknya ditinggal dirumah dan ketepatan kakak seorang tentara. Karena istri sudah meninggal saat berjuang melahirkan. Sampai sekarang mertua kakak tidak penah mencari cucunya, orang waktu istri kakak minggal mereka juga tidak datang


Semua orang melihatku seperti orang yang sudah memiliki anak dan ngomong buruk dibelakangku. Tapi setiap arang yang tahu ceritanya ya mereka biasa aja.


Tidak tahu kenapa semenjak kepulanganku gibran lengket sekali padahal mama yang dari kecil merawatnya tapi semenjak aku merawatnya dia seperti tidak bisa jauh dariku.


Kembali 🎈🎈


“Sudah ayo ibran mandi dan kita bersiap makan malam sayang” sambil mengusam ujung kepalanya


“Iya buna, buna anti alau udah becar ib mau jadi iyonmen bial bisa jada buna.”


“Siyap makanya belajar yang rajin supaya bisa jadi orang hebat okey” jawabku sambil menciumi pimi gembulnya


“Geyi buna, buna dicekola temen temen dijemput cama mama dan papanya ib apan bica ceperti itu” nada sedih dan menahan air mata kelihatan sekali dia iri


“Ibrab yang sabar ya, ibran harus menjadi anak baik dan selalu berdoa pada allah” jawabku degdegan


Mama papa yang mendengar pertanyaan gibran langsung memikirkan perjodohan yang akan mereka putuskan.

__ADS_1


__ADS_2