
Devsa yang melihat temannya terpuruk ikut sedih, karena iya tau kalau ersya sangat mencintai dan menyayangi gibran. “Kamu sudah sadar nak, buna mohon jangan tinggalin buna, kamu kuat kamu bisa sembuh okey.” ersya tak kuasa menahan tangis
“Buna tenapa nanis ib endak papa , buna ib aus” gibran yang melihat buna dan dia juga kehausan,akhirnya dia minum dengan banyak dan hati ersya mulai tenang
“Buna ib inin ayah ib inin pas sekola bica di antal cama dijemput ayahnya cepeti temen temen.” Terang gibran
“Iya makanya ib berdoa dan selalu jadi anak yang baik ya.” Jawab ersya karena bingung mau jawab apa lagi
Darma yang hanya melihat percakapan mereka dan melihat muka kebingungan ersya ikut mendekat dan “gibran kan ada om jangan takut sendirian ya, kalau mau gibran juga boleh panggil om ayah.” Sambil tersenyum mendekat
“Benel ib boleh pangil ayah” muka gibran terlihat kegirangan,tapi muka ersya yang sangat tidak suka.
Tak lama devsa akhirnya masuk melihat itusemua sangat tersentuh. Dia berpelukan dengan ersya dan berkata, “aku tadi sama Rocky tapi dia pulang duluan karena masih ada yang harus dia kerjakan.” Ersya yang masih dengan wajah susah “biarin udah, dev aku serahkan semua tanggung jawab resto dan cafe kekamu dan bisa minta tolong sama rio dan ebi okey. Aku mau fokus sama gibran dulu.”
“Iya sya kamu tenang aja aku bakal bantu kamu, oiya ini makanan buat kamu tadi aku beli dikantin. Makan ya jangan lupa jaga kesehatan aku pamit dulu semoga gibran cepat sehat.” Pamit devsa
Gibran yang dengan aksik mendengarkan cerita dari darma menambah rasa kesal ersya padanya. Tidak tau kenapa ersya sangat sangat ingin menyuruhnya pergi.
Ersya ingin menelefon papa untuk mengabarkan kabar gibran, tapi belum sampai mengambil hp dokterpun masik untuk memberitahu hasil chek up darah.
“Permisi bu, ini hasilnya negatif semua jadi anak ibu hanya demam saja. Saya buatkan resep ini bisa ibu tebus di apotek bawah saya permisi dulu, eh maaf ibu kemungkinan besar anak ibu sedang tertekan jadi seperti ini” terang dokter
“Baik dok terimakasih saya akan melakukan yang terbaik untuk anak saya.”
“Baik saya permisi bu. Selamat sore”
Ersya mendekat kegibran “sayang buna tinggal sebenter ya, buna mau ambil obat sayang”
“Biar saya saja yang mengambilnya kasian gibran jika kamu tinggal” mengambil resep dari tangan ersya dan pergi untuk mengambilnya
“Ib boleh buna tanya sesuatu?”,
“boyeh buna da apa?”
“Menurut ib om darma baik, sayang tidak sama ibran?”
__ADS_1
“Om baik banet juda cayang, temarin kita je timezone”
“Okey iyaa buna tidak diajak, sekarang ib bersih bersih badan sama buna dulu ya”
“Iya buna ib cayang banet sama buna i lop buna”
“I love you more sayangnya buna”
Selesainya ersya mandi juga, mereka menelefon vidio mama. Telefon berdering tidak lama diangkat oleh mama “assalamualaikum ma”, mama pun sudah tersenyum duluan “waalaikumsalam sayang, gibran sudah sehat?”
“Sudah mama gibran sudah sehat” jawab ersya sambil memandang anaknya.
“ mama kapan ini pulang”
“Lusa kami pulang nak kamu baik baik yaa, mama yakin kamu pasti bisa menghadapi semua.”
“Iya udah dulu ma ad dokter visite. Assalamualaikum maa”
“Waalaikumsalam sayang”
Dokter masuk dengan perawat beserta darma, “saya periksa pasien sebentar. Keadaannya sudah sangat stabil kita lihat perkembangannya besok dan ananda sudah boleh pulang” penjelasan dokter dan hanyan dijawab “baik terimakasih dok”.
Keesokan sore hari gibran sudah diperbolehkan pulang, kami pulang diantar darma. Sesampainya dirimah sudah ada mama dan papa. “Terimakasih udah antar kami pulang”, “sama sama, tapi ini semua tidak gratis “ jawab darma
“Kalau kamu tidak iklas kenapa kamu mau jaga kita bilang aja sekalian kamu mau bayaran berapa ?” Hati ersya yang mulai kesal dan membuatnya semakin benci. “Silahkan pulang dan jangan sekali lagi muncul dihadapanku”
Darma menahan tertawa dan hanya berkata “untuk membayarku cukup keluar makan denganku”, “tidak akan pernah mau,” pergi masuk dan meminta tolong bibi untuk membawakan kopernya.
“Mama papa kapan pulang kenapa?” Tanya ersya dengan nada masih ingin marah tapi iya tahan”
“Tadi pagi, mama tau kalian pulang siang jadi mama sama papa tunggu dirimah” jawab mama dengan tetap menimang cucu tersayangnya.
Karena sejak dulu darma memanggil papa hendra adalah bapak jadi keterusan sampai sekarang. “Pak sudah pulang, bagaimana perusahaan di Belanda sudah aman?” Tanyanya sambil bersalaman dengan papa
“Sudah, sekarang sudah aja juga yang meneruskannya ada keponakan papa yang ada dibelanda anak om ikwad yang namanya Attar”
__ADS_1
“Iya pa, bapa sehatkan kenapa sepertinya agak pucat dan kelihatannya lemas”
“Papa baik baik saja nak, tapi apa boleh bapa meminta bantuan kamu?”
“Dengan senang hati pa saya mengabulkan apa yang bapa inginkan.”
Papa diam sejenak dan mengajak darma keluar dan tidak lupa berpamitan dengan istri tercinta. “Ma-papa pergi sebentar dengan darma ya.” “Iya pa hati hati”.jawab mama sambil sedikit senyum.
✌🏻✌🏻✌🏻
Flashback
Dulu ketika keluarga Hendra Pradikta berkunjung ke panti asuhan dengan kakak Ersya, bertemu dengan Darma tidak tahu kenapa kakaknya sangat suka bermain juga sangat dekat kakaknya dengan Ersya berjarak umur 5 tahun tapi dengan darma beda 2 tahun jadi mungkin itu.
Kakak ersya mungkin sudah tahu kalau darma baik, dan selalu mengajak darma main sampai akhirnya darma diangkat anak oleh papa tetapi tidak tinggal dirumah.
Darma tinggal di rumah kedua papa, kerena darma sendiri tidak mau hanya menyusakan dia disana bekerja juga sampai akhirnya kakak ersya jadi tentara dan darma lulus kuliah langsung bekerja di kantor papa hendra.
Kedekatannya dengan kakak ersya sangat membuatnya terpukul saat melihat kakak yang sudah meninggal. Karenanya dia merasa memiliki keluarga sejak ada kakak ersya.
✌🏻✌🏻✌🏻✌🏻
Ngopi disore hari mengang menenangkan hati, dengan hati tenang mereka membicarakan perusahaan yang sedang mereka kelola. “Pa perusahaan kini semakin maju dan apa boleh kalU saya ingin berinvestasi pada resto caffe Ersya” tanya darma mendadak. “Nak apa kamu suka dengan ersya?” Tanya dengan sangat serius, “saya tidak bisa bilang tidak, tapi saya sudah menganggap ersya sebagai adik saya sendiri”.
“Tapi jika saya jodohkan dengan ersya apakah kamu mau” tanya pak hendra dengan to the poin, “insyaalaah saya bersedia, tapi saya ingin ersya mengetahui sendiri dulu bagaimana saya sebenarnya, dan biarkan waktu yang menentukannya pa jangan memaksa ersya untuk bisa menerimanya dengan cepet pa” dengan hati terbuka darma menjawabnya.
“Baiknya papa akan biarkan waktu berjalan berlalu mungkin ini yang terbaik untuk kalian, tapi papa minta kamu untuk menjaga ersya dan juga gibran.”
“Baik pa saya akan berusaha untuk menjaga ersya dan gibran dengan baik. Menjawabnya dengan nada tegas dan wajah yang serius.
.
.
.>>
__ADS_1
^^^Serius ini alurnya akan berbalik dari ceritanya, karena ada yang mau masuk dalam dunia masa lalu ersya. Selamat membaca 💕^^^
Maaf ya kalau ada kesalahan penulisan