Cinta Itu Abstrak

Cinta Itu Abstrak
16.


__ADS_3

Masya yang masuk ke kamar telat dia melihat ke kaca dapat melihat dua orang lakilaki yang tidur di kasur nya. Seketika dia membatin “ apakah aku bisa mencintai lakilaki itu yang sudah berusaha melindungi dan menyayangi keluarga aku”.


Malam ini adalah malam yang benar benar tidak pernah terbayang pada kehidupanku selama ini, dia yang begitu luar biasa kuliat karena pagi pagi sekali dia sudah berangkat itu melaksanakan sholat subuh di masjid.


Aku menyusun sholat subuh di kamar dan setelah selesai jamaah di masjid dia langsung masuk kamar dan melihatku sedang melipat dia datang, dengan melewati ku. Darma merebahkan tubuh nya disamping Gibran lagi.


Ersya melihat dengan mata membelala, dia turun untuk memasak makanan untuk sarapan. Untuk memasak sarapan dia dibantu oleh mbak uti yang sangat sangat telaten membantu saya memasak dan membereskan dapur. Setelah selesai Ersya naik untuk membangunkan Gibran karena sudah pukul enam pagi.


matahari mulai menerpa masuk ke dalam sela sela jendela. Aku yang sedang membangunkan Gibran memberanikan diri membangunkan Darma yang sedang tidur di samping Gibran.


“ Gibran sudah siang ayo mandi bersiap untuk pergi ke sekolah.” Sambil menggoyangkan tubuh anaknya ia melihat ke sisi Darma dan membangunkannya, “ kak bangun siang.”


Darma langsung bangun dan masuk ke kamar mandi tanpa nggak jawab sedikitpun, selesai mandi dan memakai pakain lengkap dia turun dan menuju meja makan yang sudah siap.


“Papa anterin ya hari ini.”


“Iya pa hoyeee.” Sengan senang gembira


“Memang kamu enggak ke kantor kak ?”


“Hari ini setelah mengantar Gibran kita ke KUA, membeli cincin dan kerumah sakit.”


“Oke.” Sambil menyuapi Gibran “sudah selesai mari kita bersiap berangkat.”


“Sebentar aku ambil tas dulu,” Ersya mengambil tas di kursi dekatnya.


- - - - - - -


Dijalan mereka bertiga mendengarkan ocehan dari gibran, memang dia sudah hampir 4 tahun jadi cedalnya hampir hilang dan sudah sangat cerewet. Cerita dan omongan yang selalu ada membuat mereka tidak sadar kalau sudah mau sampai.


“Sekolah yang pintar ya, jangan nakal dan nanti papa jemput.”


“Oke pa, dadadada.” Dan “dadadada buna.” Sambil mencium tangan, “hati hati nak.” Ucap bunanya.


“Sya kita langsung ke KUA aja ya nanti siang ak ada rapat soalnya.” Sambil mendang wajah istrinya


“Iya kak.” Jawabnya sedikit


“Sekalian beli cincin juga, Sya boleh aku minta kamu panggil aku mas aja?” Sambil melajukan mobil dia berkata “kesanya seperti kakak dong ak nanti kalau kamu panggilnya kak.”


“Iya sudah aku panggil mas.”


Meraka berdua sudah sampai di KAU dan mereka bertemu dengan petugas menandatangani berkas dan selesai buku nikah sudah ada di tangan mereka.

__ADS_1


Mereka keluar dan masuk kedalam mobil, Darma menyerahkan buku nikah pada istrinya. “Sya tolong simpan sekalian ya.” “Iya mas aku simpan.”


Dengan panggilan mas itu tidak tau kenapa jantung Darma seperti meletup letup. “Kita beli cincin dulu.”


Ersya hanya menggangukan kepalanya tanpa ada kata kata. Padatnya jalan diimbangi dengan hening tanpa ada suara didalam mobil itu.


Akhirnya mereka masuk kedalam toko emas emas yang ada dilama mall di ibu kota. “Sya kamu pilih yang mana aja.”, “iya mas.” Jawabnya


“Mba yang ini saja.” Sambil menunjuk cincin pengangin dengan diamon yang indah


“Iya ibu emang pilihan maling mantap, saya buatkan suratnya dulu.”


“Hemm baik mba.”


“Ini notanya 179k.” Ersya terkejut mengambil nota itu dan memlihat Darma .


“Tidak papa Sya, aku ada kok.”


“Terimakasih mas.”


“Yuk sekarang kita ke rumah sakit dulu.” Berjalan ke parkiran mobil dan tidak sengaja dia menabrak seorang perumpuan yaitu firlana dimana adalah teman Darma.


“Maaf mba saya tidak sengaja.” Sambil membangu dia berdiri tapi ditepis.


Darma yang mengetahui kalau itu firlanai dia segera mengajaknya pergi ke mobil kalau tidak suasana akan berubah runyam.


Mereka berdua masuk kedalam mobil dan “Sya mana cincinya tadi?”


“Ini mas.” Mengeluarkannya dari dalam tas, dan diberikan pada Darma


Darma membuka wadah cincin dan dia mengambil dan mengangkat tangan Ersya, “Sya aku akan merusaha mencintai dan membuatmu cinta padaku aku tahu aku belum sempurna, tapi aku mohon jika ada masalah apapun kamu tidak akan pergi dariku. Biarkan aku belajar untuk menjadi imammu.” Memasangkan cincin ke tangan Ersya.


Ersya kini merasa hatinya serperti tersengat dia merasa haru, dan di mengambil cincin untuk dipasangkan ke jari manis Darma, “semoga ini jalan terbaik kita mas, akupun juga akan belajar mencintaimu.”


- - - - - -


Setelah jalan hampir 50 menit mereka sampai dirumah sakit untuk mengunjungi papanya, dan bertepatan waktu kunjungan dokter.


“Gimana dok keadanaan papa?”


“Keadaanya sudah ada kenaikan baik, tapi tetap masih harus dipantau.”


“Baik terimakasih.”

__ADS_1


Ersya yang menghampiri papa dan memeluk papanya dengan setetes bulir air mata yang jatuh. “Papa harus sehat ya, papa pasti bisa sembuh.”


Papa yang hanya senyum tetapi terlihat sendu. “Papa akan berusaha tetap semangat sehat untuk melihat anak dan cucu cucu papa besar.”


“Iya pa keliatanya kita akan kedatangan cucu lagi sepertinya.”


Dert....dert....dert...


Telfon dari hp Ersya yang didapat dari resto karena ada masalah disana.


Devsa “hallo Sya, ini ada sedikir masalah kamu kesini sebentar bisa ya ?”


Ersya “ hallo iya aku kesana sebentar lagi tapi ini masih di Rs. Suruh tinggu sebentar.”


Darma yang sedang ngombrol dengan papa Henda dan mama Ayu melihat Ersya yang pamit.


“Mama papa aku harus ke resto ada sedikir masalah.”


“Aku anter Sya.” Ersya mengangguk dan bersaliman bergantian dengan Darma. “Kami pergi gulu ma pa.”


“Hati hati nak dijalan.” Mama langsung sambil mengantar ke depan pintu kamar inap papa. “Iya ma.”


“Pa semoga anak kita bisa menerima Darma dan segera memiliku cucu ya pa.” Ucap mama dan mendekat kepada papa. “Aminn ma iyaa.”


- - - - - -


Darma dan Ersya menuju resto dijalan mereka hanya diam tanpa ada percayaan apapun itu, sampainya di parkiran Erasa bilang “mas nanti pulangnya aku sama supir aja sekalian jemput gibran.”


“Aku jemput aja, hari ini aku tidak sibuk.”


“Ya udah aku masuk dulu, atau mas Darma mau masuk dulu?.”


“Enggak aku langsung saja.”


“Ya sudah hati hati mas.”


“Iya Sya.”


Ersya masuk ke resto tapi entah kenapa perasaan darma terasa tidak enek, akhirnya Darma ikut masuk. Disama dia meliat istrinya yang diperlakukan sangat buruk dengan kata kata yang tidak layak diucapakan .


…………………………………


Maaf lama enggak up soalnya masuh ada kerjaan dan tugas kuliah.

__ADS_1


Selamat membaca lop💕💕


__ADS_2