
Karena Darma tapi berangkat dari rumah ibu dan ayahnya, ibunyapun telfon karena merasa khawatir dengan anaknnya hang baru bertemu itu.
📞; “Hallo nak, kamu baik baik saja kan, apa yang sebenarnya terjadi?”
📞; “Iya bu saya baik baik, benerarnya tadi bapa Hendra yang sakit. Dan sekarang saya dirumah sakit. Maaf membuat ibu khawatir.”
📞 ; “Di rumahsakit mana Darma”
📞 ; “Harapan kita bu, ibu maaf Darma belum bisa tidur rumah ibu.”
📞 ; “Tidak papa nak, rumah ini selalu membukakan pintu untukmu setiap waktu. Jangan lupa makan.”
📞; “Baik bu, ayah dimana?”
📞; “Masih diruang kerja, ya sudah kalau capek kamu istirahat.”
📞; “Baik bu terimakasih perhatiannya, selamat malam. Selamat istirahat bu.”
📞 ; “Iya nak selamat malam,” pangilan terputus.
- - - - - - -
Sesampainya rumah Ersya langsung masuk kamar menidurkan Gibran dan dia memutuskan untuk mandi, tak lama selesai dia merebahkan tubuhnya disamping Gibran.
Sedih rasanya dia memikirkan omongan papa tadi, ‘gimana aku bisa jauh dari anak ini, dia selalu nempel terus sama aku, pokoknya nanti kalau aku menikah aku akan tetap mengajaknya saja.’ Batin Ersya dengan menatap wajah laki laki kecil didepannya.
Kebayang wajah kakaknya setelah lama dia melihat wajah Gibran, ‘kak mungkin ini penganti kakak, buat ade, ade tetep sayang kakak sayang Ib.’ Tiba bendungan ambrol karena dia merasa beban sekali dalam hidupnya saat ini.
Tak lama Ersya tertidur. Tapi Gimbran membangunkan untuk ingin kekamar mandi. “Buna, bun Ib mau pipis”. Sekelika langsung bangun dan berjalan ke kamar mandi.
“Yuk bobok lagi, masih malem” dilihatnya masih pukul tiga pagi. Menidurkan Gimbran dan diapun ikut tertidur.
Suara azan sudah terdengar, Ersya bangun untuk menunaikan sholat. Selepanya dia membantu mba utik untuk memasak, setelah selesai membuatkan bekal untuk Gibran dam mama.
Ersya sekarang menaiki tangga dan melihat jam sudah setengah 6, langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan badan, selesainya dia membangunkan anaknya dan memandikannya.
Mereka berdua hari ini tanpa drama, turun ke ruang makan dan makan, “nanti Ib kalau enggak dijemput om Io ya sama ate Dev, karena buna harus jaga papa dulu. Tidak papa kan sayang?” Bicara lembut sekali.
“Iya buna boyeh, tapi nanti Ib itut buna ya bertemu papa.”
“Iya sayang. Ayo makan dulu.”
“Iya buna, imatatih.”
“Sama sama, selamat makan.”
__ADS_1
Mereka makan dengan lahap, dilihat dari dapur mba utik yang bangga dengan Ersya. Dia masih muda tapi sudah punya lapangan kerja dan malah sekarang mengurus keponakanya tanpa pamprih.
Mbak utik meneteskan air mata, melihat mereka seperti ibu dan anak. Ersya yang memcahkan lamunan mba Utik, “mba Utik enggak makan sekalian ?”.
“Nanti saja non masih terlalu pagi.”
“Ya sudah, tolong ya mba diberesin. Kami berangkat dulu assalamualaikum .”
“Waalaikumsalam, non bekalnya ketinggalan.”
“Oh iya terimakasih.”
“Daaaa mba utik.” Sambil melambaikan tangan
“Da da daaa den Gimbran.”
Karena hari ini Ersya harus kesana kemari dia diantar dengan pak ujang si sopir kesayangan, “yuk pak berangkat.”
“Mari non, kita antar aden dan non ke rumah sakit?”
“Bener banget, nanti mampir resto bentar ya pak mau ada kerjaan sebentar.” Tidak terasa sudah hampir sampai sekolahan Gibran. “Sayang belajar yang pinter, dan tidak boleh bandel.”
“Iya buna ciap. Assalamualaikum.”Salim dan turun masuk kesekolah.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam” jawab barenga Devsa dan Rio
“He nongol juga boskuh, gimana kabe papamu Sya.” Sahut Devsa langsung
“Papamu sakit lagi Sya?” Kaget dan kepo Rio
“Papa masih dirumah sakit, iya yoo.” Menjawab dua pertanyaan sekaligus.
“Dev Io, maaf banget aku keliatannya harus ngelepas tanggung jawab buat resto sama cafe. Aku serahakan pada kalian berdua.”
“Kenapa sih kamu dev, kamu mau kemana?” Dev mulai mendekati Ersya
“Papa sakit dan minta aku untuk menikah dengan Darma, aku dijodohkan.” Mulai berkaca kaca karena dia tak menyangka.
“Sudah terima saja kalau menurutku, memang kamu belum tau sifat kelakuan seperti apa, tapi setidaknya di sudah baik dan bertanggung jawab Sya.” Nasehat Devsa dan memeluk Ersya.
“Iya Sya mungkin semua udah jalan tuhan, nanti kalau seumpama ada apa kamu bilang aja ke aku.” Timbrung Rio
“Udah jangan sedih, aku punya berita baik. Cabang kita yang Inves Rocki di Jogja sudah mau grand opening.”
__ADS_1
“Idih yang mau resmiin sama kekasihnya,” sambil noel kepala Devsa. “Udah aku mau keresto dulu.”
“Hati hati.” Jawab Ersya dan Devsa
“Udah Sya semua pasti akan baik baik saja.”
“Iya dev. Ciiiie yang udah punya pacar.”
“Paan sih. Eh Sya tapi pak Darma itu gapunya pacarkan ?”
“Kelihatannya sih enggak, tapi ya tidak tau juga. Yaudah aku ke RS dulu yaa. Ku serahkan semua tanggung jawab kepadamu Devsa.”
“Baik nona jangan lupa berkunjung setiap saat ya nono.”Sambil menahan tawa. “Sya jangan mengambil keputusan yang membuat kamu menyesal, semangat kamu pasti tau apa yang harus kamu lakukan.”
“Iya dev, makasih ya sudah mau menjadi temenku.” Sambil memeluk devsa. “Yaudah aku pergi dulu assalamualaikum.” Melepas pelukan dan berjalan menuju mobil.
“Maaf ya pak Ujang kan jadi lama padahal tadi bilangnya sebentar, langsung ke Rs aja pak.
“Enggak papa non, siyap.”
Setelah bermacet macet ria Ersya pun akhirnya samapau dirumah sakit. Masuk kerumah sakit, melewati lorong lorong dan sampai dikamar mawar vvip 1, “assalamualaikum mama papa, gimana sudah sehat?” Sambil salim kek mamanya
“Papa kamu habis drop lagi Sya, mama mohon menikahlah dengan Darma siapa tau papa kamu bisa sehat lagi.” Mama yang mulai berkaca kaca diikuti Ersya.
“Baik ma, Ersya mau Ersya bakalan ngelakuin apa saja supaya papa bisa sembuh.” Sambil memegang tanggan mamanya
“Papa tidak bisa dioprasi karena perbandingannya sanggat sedikit. Tapi papa insyaalah bosa sehat kalau hidupnya terdukung.”
Darma datang dengan asistennya dan Panji asisten papa, tepat pada saat papa terbangun.
“Ersya boleh ngomong sebentar?” Tanya Darma. “Keluar sebentar.” Mereka berdua keluar tanpa bilang apa apa.
“Sya aku mohon sama kamu, ayo kita menikah ini semua demi kesembuhan papa.”
“Aku mau tanya apa anda tidak mempunya i kekasih?”
“Tidak.” Jawabnya jelas dan cepat, “kamu sendiri mempunya i kekasih.
“Tidak.” Jawabnya sama
“Baik aku mau menikah denganmu. Tapi 1 syarat sayangi Gimbran setulus hatimu, bisa ?” Dengan jelas dia mengatakannya.
“Iya Sya aku siyap. Yuk kita masuk.” Ersya dan Darma masuk ke kamar papa.
…………bersambung………
__ADS_1