
Dikala Darma mau masuk rumah, mama telfon dan mengabari bahwa papa dipindahkan ke ruang icu. Aku masuk rumah dan menemui dua sosok orang yang tidak tahu kenapa aku sangat sayangi meskipun aku tidak tau jodoku atau bukan.
“Ersya sudah? Kamu mau ikit kerumah sakit lagi atau tidak ?” Dengan pelan dan aku takut untuk memberi tau keadaan bapa
“Aku ikut tapi gimana gibran? Dibawa aja ya gapapakan ?” Bingung mau ngapain
“Iya sya gapapa bawa aja, nanti biar sama aku.”
“Yaudah yuk berangkat Ib.” Mengandengnya keluar
“Eh mbak utis saya kerumah sakit dulu ya” berpamitan
“Iya non hati hati” bingung karena tidak tau siapa yang sakit dan mau tanya non Ersyanya keburu buru.
Masuk mobil dan tidak tau kenapa batin ersya kini sangat tidak enak, perjalanan ditempuh kirang lebih 45 menit dan hari memang sudah petang jadi rasa kantuk Gibran tak tertahankan. “Sya Gibran udah tidur?” Darma yang memecah keheningan. “Udah” tapi Ersya yang memutuskan.
Memakirkan mobil dan turun darma yang meminta untuk mengendong Gibran, sampainya di ruang inap papa tidak ada siapapun. “Loh ini pada kemana kenapa tidak ada orang ?” Kaget dan pemgen nangis
Menidurkan Gibran disofa dengan pelan dan berdiri mendekatkan diri ke Ersya, “sya sekarang papa ada diruang icu, kamu yang kuat kasian yang lain masih butuh kamu kamu yang kuat okey.” Terang darma
“Mau liat bapa? Yuk aku antar gapapa gibran disini aman kok”
Mama yang duduk didepan ruang icu dengan meringkuk kumelihat dari jauh ingin rasanya menagis sekencang kencangnya. Tapi semua air mata hanya kubendung, “mama papa kenapa?”
Mama meluku dan menagis sejadi jadinya kuhanya memeluk erat dan air mata yang kubendung pun meluap.
“Keluarga pasien pan henra, beliau sudah bisa di jenguk tapi mohon tenang” perawat memberitau
“Baik sus terimakasih”
Kami masuk dan kini papa sangat lemah, tapi beliau sangat menutupi kesakitanya dengan senyum. “Gibran dimana?” Dengan suara berat
“Ada kok pa, di kamar inap papa tadi.” Jawabku sambil menahan tangis
“Temenin dia sya, biar darma disini” pintanya
“Iya pa, aku tinggal melihat ibran sebentar.” Meninggalkan kamar dan masuk kekamar inap, “lo anak buna sudah bangun, mau liat papa nak?”
Ib menggeleng. Di ICU papa bicara dengan mama dan darma “ ma darma, papa titip anak dan cucu papa, buatlah mereka bahagia. Darma menikahlah dengan sya.”
__ADS_1
Menarik nafas dan “mama, papa titip semuanya terimakasih ma......” ucapan berhenti dan jantung yang mulai melemah pertanda kritis.
Perawat segera menyuruh mereka keluar dan mama yang langsung pergi kekamar inap memeluk dan menciumi anak dan cucunya itu.
“Sya mama mohon berikan ketenangan batin untuk papa, kamu maukan menihak dengan Darma?” Mama menangis dan memohon kepadaku
Seketika batinku serasa dihantam oleh batu besar, “mama papa kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?” Aku bingung dong dengan semuanya tadi papa tidak apa apa soalnya
“Begini ma mama yang tenang dulu, saya akan menjaga kalian semua kalaupun Ersya tidak mau menikah dengan saya setidaknya saya tetap kan menjaganya sebagai kakak.” Dengan tenang dia mengambil keputusan yang membuat semuanya tenang
“Lebih baik kita sekarang berdoa supaya papa cepat sehat,” imbuh darma. Ersya yang mengendong gibran lagi karena gibran rewel, darma kembali ke ruangan icu ketepatan dokter.
“Bagaimana keadaan bapa saya” tanya Darma dengan wajah yang sudah putus asa.
“Keadaanya masih sedikit lemah, tapi beliau sudah melewati masa kritisnya. Kami tidak menyarankan oprasi karena beliau sudah ada respon, saya permisi dulu”
“Baik dok, selalu usahakan yang terbaik dan terimakasih ?”
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin, sama sama”
@@@
Aku yang melihat bapa Hendra dari luar kaca begitu sangat sedih, apa lagi aku tidak bisa memenuhi keinginan beliau. Apakah aku harus membuka hati untuk orang lain, tapi tidak semudah itu aku memberikan hati pada orang.
Ersya memang telah aku kagumi dari SMA, karena aku mengerti dia begitu sangat cantik dan sangat sabar dalam menyikapi semua hal. Tapi setidaknya aku harus bisa melihat dan melindungi dia walau tidak disampingku.
Aku hanya duduk melamun dan belum sempatku makan tapi ada orang yang entah datang dari man a dan sangat tidak diduga memberikanku sebungkus makanan.
SELESA YA POVNYA DARMA
@@@
Ersya kini datang dengan membawa sebungkus makanan karena iya diberi tau mama untuk membelikan makanan. Tapi dalam hati kecil tidak tau kenapa masih ada rasa benci pada Darma.
“Nih makanan buatmu,” dengan nada sangat dingin
“Terimakasih, kamu udah makan?” Tanya dengan nada lembut
“Udah, apa boleh aku masuk?”
__ADS_1
“Mungkin boleh, coba aja?”
Ternyata dengan perawat ersya boleh masuk, dia masuk dengan menguatkan hati kalau dia akan melakukan apapun untuk kesembuhan papa. Ersya memeluk papanya dan tak kuasa menahan tangis, “papa kenapa seperti ini, ersya yakin papa pasti sembuh. Ersya bakalan lakukan apapun demi papa sembuh pa. Papa tidak ingin melihatku?” Dengan berkucuran air mata ersya berbicara.
Papanya itupun tetap tidak membuka mata tapi ikutmeneteskan air mata.
Tanpa sadar Darma yang melihat ersya dari luar ikutan luluh padahal tidak tau apa yang diucapkan ersya. Tanpa berfikir panjang darma pergi ke resto dan cafe ersya. “Permisi saya mencari manajer resto ini ada?”
Devsa datang dengan bingung “pak Darma kenapa pak?”
“Tolong kamu datang ke rs untuk menemani devsa karena saya harus pergi”
“Baik pak saya akan kesana” masih dengan tatapan bingung kenapa lagi batinya
Darma langsung pergi karena iya ada pekerjaan yang harus ditangani. Bertemu klien penting dia sempat lupa tapi dia diingatkan oleh asisten yang saat ini menjabat sebagai sahabat setianya.
Sesampainya kantor Darma naik dengan lift manajer, dan masuk ruangannya sudah ada asisten sekaligus sahabatnya yang menunggu untuk pergi rapat. “Pak waktu yang kita punya hanya kurang 20 menit”
“Baik semua apa sudah siap” dengan lemas karena dia tidak berhenti sejak pagi.
“Pak saya hanya ingin memberi tau, katanya pak Bagus Utama ini orangnya sangat perfeksionis juga kejam jadi kita haru bisa mengambil hatinya.
Singkat cerita ya ternyata pak bagus sangat menyukai cara kerja Darma, karena pak bagus tipe orang tidak akan mau mengunjungi perusahaan orang lain kalau iya tidak yakin penuh.
“Pak hendra dimana? Mengapa beliau tidak mengikuti meeting kita?” Tanya pak Bagas dengan wajah tentunya tanpa ekspresi.
“Maaf bapa sedang dirawat dirumah sakit, dan maaf atas ketidak nyamanannya.” Terang darma
“Oh begitu, semoga lekas sembuh dan kamu besok silahkan ke tempat saya untuk mengambil data data persetujuan kerjasama kita.”
“Baik pak terimakasih banyak” bersalaman
“Sama sama, permisi” pergi menjauh
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....