
Ersya yang terus meneteskan air matanya di dalam pelukan mamanya, akhirnya mama memberikan nasehat. “Sya mama yakin ini jalann terbaik kamu, semoga dengan ini papa sehat kan maku juga bahagia.”
Penghulu datang dan langsung memulai ijabnya, menanyakan kepada Darma, “mas sudah mempersiapkan maharnya?”.
Darma membuka dompetnya hanya ada 15 lembar uang 100 ribuan saja. “Maaf karena ini dadakan saya hanya mempunyai uang segini.”
“Tidak apa mas itu sudah lebih dari cukup.”
Asisten papa, dan asisten Darma menjadi saksi, saat ini Darma dan Ersya sedang melaksanakan ijab kabul di dalam kamar inap papa Hendra. Dengan keadaan papa yang sangat lemah.
Darma yang berjabat tangan dengan pengkuli didepan pak hendra yang lemas tapi kelihatannya senang.
Kata “sah” terucapkan oleh semua orang yang ada di dalam ruangan ini, mama mendekali mereka berdua dan menuntun ersya yang sudah bergetar rasanya ingin menagis untuk menciun tangan suaminya.
“Papa pesan sama kalian berdua, memang kalian belum saling mencintai tapi papa yakin suatu saat nanti pasti ada cinta diantara kalian.”
“Ersya nak papa minta hargai suami kamu.” Jawab ersya hanya mengangguk
“Darma tangungjawab papa sudah beralih kepadamu.”
“Papa saya janji akan selalu melindungi keluarga saya.”
“Papa minta tolong sayangi anak dan cucu papa, papa nitip sama kamu.” Dengan suara yang sudah lemah dan sangat sangat lemah.
“Baik Darma berjanji akan menyayangi dan mencintai Ersya dan Gibran.”
“Mam Darma berjanji kepada mama untuk selali mencintai dan melindungi kalian semua.” Sambil berbisik memeluk mamanya yang saat ini menagis sedih melihat papa.
Panji dan anji mengucapkan selamat kepada darma dan Ersya secara bergantian. “Selamat bu Ersya dan Pak Darma, semoga kalian menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah.”
“Sama sama pak, sama sama Pan A.” Jawab ersya dan darma.
“Kamu kasih tau orang tua kamu Darma supaya mereka tau. Sambil kamu jemput Gibran dan bawa kesini.” Kata mama menyuruh
“Baik ma, kalau gitu kami pulang dulu dan anti kamu akan kesini lagi.”
Ersya yang dari tadi memeluk papanya dan mama, sekatang iya mulai melangkahkan kami mengikuti darma. Mama dan papa hanya senyum melihat kelakuan anaknya itu, “pa lihat anak kita sudah punya anak dan suami semoga mereka bahagia.”
“Iya ma, mungkin papa sudah tenang sudah menikahkan mereka.”
- - - -
Ersya dan Darma yang sangat sunyi tanpa ada pembicaraan apapun. Tapi sebelum sampai dirumah orang tua Darma, Ersya bertanya “apa mungkin aku akan disukai oleh orang tua dan keluarga mu?”
“Kamu tenang saya, mereka pasti akan senang dengan kamu.” Sambil membelokan setir masuk kegarasi mobil rumah.
__ADS_1
“Selamat malam den, silahkan tuan dan nyonya juga nona ada di ruang tengah.”
“Iya bi terimakasih, oh iya kenalin ini istri saya Ersya.”
“Wah cantik sekali. Selamat datang nona.”
“Makasih bi.” Perasaan yang sangat malu
“Malam ayah ibu,” sambil Darma dan Ersya bergantian mencium tangan.
“Malam nak, ini siapa?” Tanya papa dengan wajah datar.
“Ini istri Darma namanya Ersya.”
“Kapan kalian menikah, bisanya kalian menikah tanpa restu ayah sama ibu.” Terang ibu yang mulang dengan nada ngegasnya.
“Ceritanya begini bu yah, gini papa Ersya sedang sakit dan sekarang kondisinya lagi drop san sangat lemah. Beliau menitipkan semua pada Darma, jadi kami menikah. Dan papa Ersya adalh pak Hendra.” Terang Darma
Dilihatnya Ersya yang menundukkan kepala dan akhirnya ibu Darma mendekati mantunya, “nak kami merestui hubungan kalian.” Entah kenapa Ersya langsung memeluknya. Darma melihat juga tercengan.
“Ayah ibu kami harus pulang, karena udah ada yang menunggu.”
“Pulanglah nak. Jangan sungkan sungkan main kesini. Nanti tidak boleh lupa beli cincin pernikahan kalian.”
“Yah darma dan ersya pamit, selamat malam.” Sabil mencium tangan kedua orang tuanya bergantian
“Malam, hati hati dijalan.”
Masuk mobil dan melajukannya kerumah Ersya dimana jalan yang lumayan ramai tapi lancar, Darma yang memulai percakapan kali ini.
“Sya kamu mau mumpung masuh jam segini gimana kalau kita beli cincin sekalian?”
“Besok saja.” Dingin memang jawabanya
“Yasudah sekalian besok sambil mengurus surat diKUA.” Sambil melirik ersya yang melihat ke kaca sebelah kirinya saja.
Suasanapun kembali hening, akhirnya mereka memasukan mobil ke garasi depan rumah. Gibran yang mendengar suara mobil berlari keluar dan memeluk bunanya yang beberapa hari ini jarang sekali ketemu.
Darma yang melihat senang dengan apa yang mereka lakukan dia, karena dulu dia sedang berada di luar negri dia tidak melihat sahabatnya menikah dan meninggal yaitu kakak Ersya.
“Selamat malam Gibran.” Nada yang lembut terucap seketika anak itu melihat ke arahnya.
“Om Dama aku kangen.” Gimbran yang berlari dengan mengangkat tangan lalu ditangkap oleh darma.
“Hei cowo kamu sekarang bisa panggil “papa”.”
__ADS_1
“Yei Ib punya papa, papa tidur sini ya ?”
“Iya Gibran....” belum selesai bicara Ersya memotong, “ayo masuk rumah.”
“Mbak Ersya makananya sudah siap, juga dari tadi aden belum makan. Dia tidak mau makan mbak.”
“Tunggu ya mbak utik saya bersih bersih sebentar.”
“Darma bermain dengan Gibran diruang tengah melihat film sambil bercanda.”
Ersya yang sudah selesai membersihkan badannya kini melihat mereka berdua rasanya ikut senyum tapi dia sedih kenapa harus menikah dengan laki laki itu.
“Kak kamu mandi dulu udah aku siapkan baju papa dikamar tamu.” Ucapnya dengan ragu.
“Iya udah aku bersih bersih dulu.” Pergi kekamar tamu yang bisa ia tempati.
“Ib kita makan dulu ayo, kamu dari tadi belum makan kan?”
“Iya Ib nunggu buna, tapi sekalang boleh nunggu papa dulu?” Sambil senyum menatapku
Tak lama menunggu Darma datang dengan wajah gantengnya, iya memang dia ganteng tapi aku masih belum suka.
“Ayo buna makan papa sudah selesai itu,”
“Iya sayang ayoo.”
Mereka makan dengan tenang karena sudah terbiasa. Gibran yang disuapi oleh buna dan setelah mereka selesai.
“Papa apa boleh Ib bobo besama papa?” Tatapan malu malu,
“Boleh mau dikamar Gimbran atau dikamar...” Belum selesai bicara sudah dijawab, “kita bobo di kamarnya buna. Kita bobo cama cana ya buna.”
“I iya boleh. Kalian duluan aja aku masih mau bersikan ini.” Sambil membantu mbak utik membersihkan meja makan
“Ib sama papa keatas buna.” Sambil gendong dan Ersya menjawab “Iya ib.”
“Mbak Ersya maaf saya mau tanya, mbak Ersya sudah menikah?” Muka penasaran yang muncul
“Sudah mbak tadi siang, doakan saya bisa menerima semuanya ya.”
“Saya yakin kalian pasti bisa saling mencintai.”
...................
Ersya dan Darma udah menikah, selanjutnya kita liat mereka bahagia setuju?
__ADS_1