Cinta Laki Laki Biasa

Cinta Laki Laki Biasa
Laki laki biasa


__ADS_3

Suasana pemotretan untuk cover majalah kecantikan berjalan sesuai harapan. Seperti biasa, setelah selesai dengan pekerjaannya. Ralinka Rusman, sang model cantik yang namanya sedang naik daun itu akan menyibukkan dirinya dengan bermain ponsel. Dirinya tak ingin pusing untuk sekadar pembicaraan tak penting dengan beberapa orang disana. Sikapnya yang acuh dan arrogant itu membuatnya tak disukai banyak orang, meski pada akhirnya para pembenci akan selalu bersikap baik didepannya. Ralin tak peduli dengan pendapat orang. Baginya, jika itu tidak menguntungkan, mengapa harus dipikirkan? pikirannya hanya untuk sumber uangnya. Karena dengan uang, siapa pun akan dihargai. Setidaknya, itu pendapat Ralin.


Uang memang bukan segalanya, tetapi segalanya juga butuh uang. Mungkin beberapa dari kalian tak setuju dengan pemikiran ini. Tidak masalah.


Dididik sebegitu keras oleh kakeknya membuat Ralin tumbuh menjadi wanita ambisius dan keras kepala. Apa pun yang menjadi tujuannya, harus bisa terlaksana. Hanya pencapaian dan pembuktian yang Ralin pikirkan. Sehingga orang akan menghargainya. Tak peduli seberapa keras hidup ini. Ralin terbiasa mengimbanginya. Jiwa raga beserta hatinya pun begitu keras hanya sekadar berdamai dengan rasa sakit. Salahkan hidup yang memaksanya seperti ini.


Ralin meletakkan ponselnya. Matanya menelisik beberapa orang yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing. Sungguh membosankan. Pemandangan seperti ini malah membuatnya jenuh dan cepat mengantuk. Ralin butuh udara segar.


Dilepaskannya sepatu dengan hak setinggi lima sentimeter itu. Tangannya bergerak mengusap bagian belakang kakinya yang lecet akibat terlalu lama memakai sepatu tersebut. Ralin tak begitu menyukai sepatu dengan hak rendah maupun tinggi. Dirinya lebih nyaman mengenakan flatshoes.


.........


Sebenarnya Ralin tak menyangka kalau suasana rooftop gedung pemotretannya akan seramai ini. Banyak crew dan pekerja lainnya yang sibuk dengan projek shutting untuk video musik sore ini. Beberapa orang yang mengenal Ralin, tidak mempermasalahkan keberadaannya disana. Dengan catatan tidak mengganggu proses berjalannya kegiatan.


Disudut kanan, Ralin menekuk lututnya, melipat kedua tangan diatasnya dan menyandarkan dagunya disana. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke suasana perkotaan yang terlihat macet. Dari atas, semuanya tampak indah. Dipejamkan kedua matanya, menikmati suasana tenang seperti ini. Meski sedikit berisik, tapi inilah waktunya. Tanpa pekerjaan dan tanpa pemikiran. Ralin terbiasa dengan kesendirian.


Tanpa disadari pandangannya begitu fokus mengamati proses shutting dibelakang sana. Menatap tak minat beberapa adegan yang membosankan. Padahal dulu, ketika dirinya duduk dibangku sekolah dasar, ada sekelebat angan untuk berkarya didunia perfilman/ videografi. Nyatanya sekarang entah itu artis, model atau public figure lainnya, sama sama memuakkan.


Sebenarnya bukan adegan yang menjadi perhatian Ralin, tetapi pergerakan seorang laki-laki yang sangat antusias itu. Badannya kurus dan tidak terlalu tinggi. Hanya kaos lengan pendek dengan celana jeans biru yang terlihat sederhana. Ralin tersenyum melihatnya. Semangat laki laki itu dalam bekerja, mengingatkan Ralin pada awal karirnya dulu. Begitu banyak yang wanita itu korbankan.


Laki laki itu dengan gesit bahkan terlihat tergesa gesa berlari kesana kemari membantu crew membawakan dan memindahkan alat alat beserta properti lainnya. Dahi Ralin mengernyit ketika melihat laki laki itu tersandung, kemudian jatuh tersungkur dengan lensa kamera yang pecah dibawah sana. Ralin melihatnya. Laki laki itu terluka, tetapi lebih mementingkan keselamatan benda rapuh berbentuk tabung itu. Dalam sekejap laki laki itu bangun dan meneliti keadaan lensanya. Benda itu rusak total. Penyesalan memang tak ada gunanya. Fokusnya sekarang hanya bagaimana cara menggantinya?. Tubuhnya ambruk dengan lutut yang tak berdaya menopang beratnya. Bersamaan dengan itu, beberapa orang mendekatinya. Dari pergerakannya, Ralin tahu beberapa dari mereka tampak marah dan memaki laki laki itu. Bahkan tak sedikit yang merendahkannya.


Kenapa tidak melawan, ketika merasa direndahkan?, batin Ralin bertanya.


Benar benar lemah, sambungnya.


Lihatkan, bagaimana cara seseorang memperlakukan yang bukan siapa siapa. Beda lagi kalau yang memecahkan itu orang orang seperti Ralin, mungkin mereka akan sedikit mentolerir dengan berdiskusi untuk menyelesaikan. Tanpa harus mencaci maki.

__ADS_1


Nyatanya apa yang kita miliki dapat menentukan sikap seseorang untuk lebih menghargai /menyepelekan diri kita. Semua tergantung diri dan takdir kita masing masing.


.........


"Ini semua karena kecerobohanmu, Raksa! Saya kecewa dengan kinerjamu. Baru seminggu bekerja sudah merusakkan beberapa alat. Bahkan gajimu dua bulan saja masih tidak cukup untuk harga segitu" maki Subrata, penanggung jawab kegiatan tersebut.


Raksa Anggara, laki laki yang baru saja menjadi pelaku penghambat berjalannya kegiatan itu hanya menunduk merasa bersalah. Dirinya tak berani untuk sekadar memberi alasan. Hanya permintaan maaf lah yang berkali kali dirinya katakan. Meski dirinya sadar, permintaan maafnya saat ini tidak dibutuhkan.


"Saya akan memotong gaji mu selama beberapa bulan kedepan sampai kamu melunasi tanggung jawabmu ini. Masih untung kamu tidak dipecat. Jadi berusahalah sekeras mungkin!" Perkataan Subrata, menyelesaikan pembicaraan mereka. Pria paruh baya itu meninggalkan Raksa dengan ribuan perasaan bersalah.


Sore itu setelah proses kegiatan pengambilan video, Raksa tak langsung pulang. Raksa mimilih menenangkan pikirannya sembari menatap langit sore dengan matahari yang hampir terbenam. Lensa itu masih digenggamannya.


Banyak pemikiran buruk yang melintas dipikirannya. Tanpa sadar setetes air bening jatuh membasahi pipinya, bayangan ibunya yang harus banting tulang demi menghidupinya menambah beban dipikirannya. Raksa tak mungkin tega melibatkan ibunya dalam hal ini. Sudah cukup dirinya menumpang hidup pada ibunya.


Setiap ditimpa masalah, Raksa selalu ingat pesan almarhumah neneknya. "Hadapi dan selesaikan!. Lari bukanlah sebuah pilihan. Melainkan cara memperkeruh suatu keadaan" begitu kata beliau saat dirinya masih bersekolah.


Lama menangis dalam diam. Raksa tak sadar jika sedari tadi, ada seorang wanita yang memperhatikannya dari sana. Wanita itu berjalan menghampirinya. Langkahnya anggun, namun tidak dibuat buat. Menampilkan kesan elegan dan menawan.


"Nangis cuman bikin lo, kelihatan lemah"


Dahi Raksa mengernyit mendengar perkataan wanita dihadapannya. Arrogant dan begitu dingin, Raksa bisa merasakannya. Jantungnya berdegup ketika manik teduhnya bertemu dengan manik kelam milik Ralinka. Ada sedikit perasaan canggung setelah keduanya saling melepas pandang.


Raksa memilih diam tak menanggapi. Lagi pula, Raksa tak mengenalnya. Laki laki itu memilih berdiri membawa tas selempangnya dan pergi meninggalkan wanita itu sendirian.


"Nggak sopan, lo, ya!" sindir Ralinka, membuat Raksa berbalik menghadapnya. Suasana hati Raksa cukup buruk hari ini. Ditambah wanita yang baru saja mengatainya dengan beberapa kalimat yang membuatnya malas meladeni.


"Maaf, tapi kita nggak saling mengenal. Jadi berhenti berbicara ketus padaku. Aku cukup tersinggung dengan ucapanmu tadi"

__ADS_1


"Satu lagi, menangis bukan berarti seseorang itu lemah, hanya saja dengan itu, separuh beban dipikirannya akan sedikit terasa ringan" sambungnya tak suka.


Dilihatnya wanita bergaun selutut itu tersenyum mengejeknya. Tak menyangka laki laki itu, akan berapi api dalam menanggapinya. Ralinka tertarik melihatnya.


Raksa menelisik penampilannya. Siapa pun akan tahu kalau wanita itu dari kalangan berada, hanya dari penampilannya. Raksa tak mengetahui bahwa yang sedang berdebat dengannya ialah seorang model yang dibicarakan beberapa temannya saat istirahat tadi. Tak menyangkal, Raksa mengagumi kecantikannya. Meski begitu, tetap saja Raksa tak menyukai wanita angkuh sepertinya. Benar benar dingin dan mematikan lawan bicaranya.


"Kenapa nggak, lo lawan tadi?"tanyanya tiba tiba.


"Apa?" Raksa tak paham apa maksudnya. Apa mungkin wanita itu melihat kecerobohannya tadi, dimana dirinya merusakkan sebuah lensa atau bahkan dibagian dirinya dicaci maki oleh atasannya?. Sungguh, Raksa malu mengingatnya.


"Lo, memang salah, tapi bukan berarti harus terlihat rendah dimata mereka kan?. Cuman karena satu kesalahan ngehancurin segalanya"


Raksa menatap teduh mata itu. Rasanya perkataan itu begitu sesuai dengan apa yang Raksa alami selama ini. Seberapa keras Raksa berusaha melakukan yang terbaik, tapi kenapa hanya karena satu kesalahan membuat semua usahanya terasa begitu sia sia dimata orang lain.


Satu kesalahan menghancurkan segala usahanya.


"Kamu benar... "


"Ralinka, nama gue Ralinka Rusman" potongnya. Entah kenapa Ralin begitu ingin memperkenalkan diri. Dirinya sendiri merasa aneh setelah menyadarinya.


Raksa mengernyit mendengarnya. Kenapa wanita itu berubah ubah sikapnya. Padahal beberapa menit yang lalu wanita itu terlihat begitu dingin dan angkuh. Apakah dirinya memiliki kepribadian ganda? pikirnya heran.


"Ehh...Aku...aku Raksa. Raksa Anggara" ucapnya seraya mengulurkan tangan selayaknya orang biasa berkenalan dengan berjabat tangan. Senyuman canggung itu terlihat jelas dibibir Raksa. Jujur saja, Raksa gugup dengan hal ini. Pasalnya dirinya bukanlah laki laki yang mudah berkenalan dengan wanita, seperti playboy diluaran sana. Raksa adalah definisi laki laki baik, yang biasa disebut goodboy.


Mirisnya, uluran tangan itu diabaikan oleh Ralinka. Wanita itu tetap saja menyebalkan meski sebelumnya terlihat manis. Perlahan Raksa meremas telapak tangannya, sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Suasana canggung itu kembali lagi.


Ralinka mengutuk dirinya sendiri, semudah itukah dirinya luluh hanya karena seorang laki laki? mengapa juga dirinya tertarik untuk sekadar pembicaraan tak penting dengan laki laki biasa seperti Raksa Anggara?. Entahlah!.

__ADS_1


Rasanya Ralin ingin cepat cepat pergi dari tempat ini. Semoga saja, Raksa tak melihat dirinya yang mulai gugup dan salah tingkah.


__ADS_2