
Malam ini terasa begitu dingin. Bibir Ralin tampak pucat dengan tubuhnya yang menggigil. Andini sudah mencoba membujuknya untuk periksa ke dokter, tetapi wanita keras kepala itu terus saja menolak.
"Bentar lagi juga mendingan" selalu saja begitu, membuat Andini ingin mencekiknya sekarang juga.
Andini mengedarkan pandangannya ke jendela mobil samping kiri. Dilihatnya rumah makan sederhana dipinggir jalan. Dilihatnya menu yang terpajang, ada jahe didaftar spanduknya.
"Kita turun, beli jahe. Siapa tahu bisa menghangatkan tubuh, lo. Nggak usah nolak. Gue, nggak mau ribet ngurusin lo yang sakit gini" kali ini Andini dalam mode tak bisa dibantah.
Ralin mendengus kesal mendengarnya. Tapi jahe boleh juga, sudah lama wanita itu tak merasakannya. Terakhir kali, dirumah neneknya, itu juga karena Ralin sakit waktu itu.
Sebenarnya meski terlahir dari kalangan berada, Ralin tak pernah mempermasalahkan makanan atau minuman dengan harga yang murah.
Sejujurnya Ralin memang tak pernah mempermasalahkan perbedaan status sosial. Hanya saja, terkadang Ralin mengatakannya karena ingin menyelamatkan gengsi dan harga dirinya yang tersinggung. Salahkan mulut wanita itu yang tidak bisa menyaring perkataannya.
Duduk dibangku kayu dengan seorang pria paruh baya yang sibuk dengan bidak caturnya membuat Ralin diambang kecanggungan. Dirinya mendengus malas. Kenapa tidak masuk kedalam bersama Andini saja tadi. Sekarang Ralin hanya melirik tak minat kearah bidak catur disampingnya. Menyadari ponselnya ia tinggal di dalam mobil.
Angin malam membuat Ralin merasakan mual dibagian perutnya. Sepertinya Ralin meriang. Badannya panas dan tubuhnya lemas. Tanpa sadar Ralin memuntahkan seluruh isi perutnya disana.
Hoekk
Pria paruh baya itu melihatnya. Diraihnya tubuh ringkih itu dengan tangan yang berusaha memijit tengkuknya. Ralinka terkejut dibuatnya. Meski begitu dirinya tidak melawan, melihat niat baik laki laki seusia papanya itu.
Ralin berlari ke arah selokan dan mengeluarkan sisa sisa muntahan disana. Setelah dirasa cukup, Maman memapah wanita itu masuk ke dalam rumah makannya. Wanita itu butuh istirahat.
"Loh, Lin, lo kenapa?" Andini cemas dibuatnya, wajah Ralin tampak lebih pucat dari sebelumnya.
Maman membantu mendudukkan wanita muda itu dikursi panjang disudut ruangan. Awalnya Ralin menolak tetapi tatapan maut Andini, membuatnya bungkam.
Kepalanya terasa pusing ditambah giginya bergesekan, Ralinka mengeluh ketika badannya terasa pegal. Samar samar dirinya mendengar suara yang familiar ditelinganya.
"Assalamualaikum, Pak Maman. Saya mau menjemput..." ucapannya terhenti ketika melihat suasana yang kurang enak didepan sana. Raksa memilih diam dan pamit ke belakang untuk menemui ibunya didapur, tetapi Maman menahannya.
"Sebentar, Sa. Tolong panggilkan ibumu, suruh kemari!. Anak ini butuh bantuannya" kata Maman meminta tolong.
Raksa mengangguk mengiyakan. Sebelum pergi, Raksa sempat melirik Ralinka canggung.
Dia kan yang waktu itu, batinnya mengenali.
Dayu yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, buru buru keluar karena kata Raksa, majikannya memanggil. Dilepaskannya celemek kotor bekas kerjanya seharian, sekalian berkemas untuk pulang.
"Tolong bantu kerokkan anak ini, Yu. Sepertinya dia masuk angin" tembak Maman saat melihat keberadaan Dayu dari sana.
Diletakkannya telapak tangan Dayu didahi Ralinka, mengecek suhu tubuh wanita itu. Dayu duduk dan membantu Ralinka meminum jahe hangat yang tadi dipesan dan dengan cekatan memijit bagian kepala dan pundak wanita muda itu telaten.
__ADS_1
"Sa, tolong belikan minyak angin diwarung depan" suruhnya kepada Raksa, yang langsung saja dikerjakan oleh putranya.
"Iya, Bu. Raksa belikan sebentar"
Dari sana Ralin terlihat diam seribu bahasa. Baru saja tadi pagi dirinya memikirkan laki laki itu, sekarang malah dirinya bertemu dengan Raksa beserta ibunya dalam keadaan yang kurang mengenakkan.
Tak perlu menunggu lama, sesampainya minyak angin itu ditangan Dayu, tangannya dengan cekatan mengerok leher Ralinka pelan, takut anak itu tersakiti.
"Mbaknya tolong bantu ibu oleskan minyak angin ditelapak kaki temannya, biar nggak kedinginan" Andini yang mengerti, langsung melakukan apa yang Dayu suruh.
"Kamu jangan diam saja toh, Sa!. Bantu hangatkan telapak tangannya!" Raksa tersadar dari lamunannya. Diusapnya telapak tangan Ralinka menggunakan minyak angin. Berharap ini akan sedikit menghangatkan tubuhnya yang menggigil.
Tanpa sadar pandangan mereka bertemu. Raksa memutuskan kontak mata mereka. Sebenarnya Raksa sedikit canggung ditatap sebegitu intens oleh seorang wanita. Tapi mau bagaimana lagi, niatnya hanya menolong. Jadi harus ikhlas.
"Kalian berdua ini darimana apa mau kemana? " tanya Dayu kepada Ralinka sekaligus Andini. Ibu Raksa sangat ramah dan baik hati. Ralin tersenyum menanggapinya.
"Sebelumnya perkenalkan, Bu. Saya Ralin, dan ini teman saya, Andini. Kami baru saja pulang dari tempat kerja" ucapnya memperkenalkan.
"Begitu ya. Nama ibu, Dayu. Ibunya Raksa" kata ibu seramah mungkin.
Dayu memijit bagian kepala Ralin pelan. Membuat wanita itu nyaman dengan sentuhannya. Ralin terenyuh melihatnya. Belum pernah wanita itu merasakan rasanya diperhatikan setulus ini. Tanpa sadar setetes air bening jatuh membasahi pipinya. Buru buru, Ralin menghapusnya, takut ada yang melihat. Beruntung pria paruh baya tadi sudah keluar ruangan sejak Dayu membantu mengerok lehernya.
"Sa, kamu bisa keluar dulu? ibu mau ngerokin punggungnya mbak Ralin, mending kamu temani Pak Maman bermain catur!" Raksa mengangguk menuruti. Tak lama, laki laki itu hilang dari balik pintu kusen itu.
Tanpa sadar, Ralin tersenyum melihatnya. Laki laki itu begitu patuh kepada ibunya. Entah kenapa, Ralin luluh jadinya. Ibunya saja disayangi, apalagi istrinya kelak?.
Selesai dengan rasa sakit yang harus dideritanya barusan, Ralin langsung memakai pakaiannya kembali. Dayu menggeleng tak heran, pasalnya baju yang dikenakan Ralin begitu terbuka dengan potongan menyerupai tanktop, sehingga pantas saja wanita itu masuk angin, mengingat angin malam yang cukup dingin.
Diseduhnya sisa jahe hangat tadi sampai habis. Badannya terasa lebih enakan, dari sebelumnya. Melihat keadaan Ralin yang sudah baikan, Dayu pamit pulang.
"Kalau begitu ibu pamit dulu ya, kalian berdua kesini naik apa?"tanya Dayu.
"Kami naik mobil, Bu" jawab Ralin seramah mungkin.
"Kalau begitu, ibu bantu keluar ya. Badanmu masih lemas. Oh iya, tunggu sebentar!, ibu bungkuskan jahe lagi satu ya buat diminum dirumah?"
Ralin mengangguk, matanya berbinar. Sungguh, Ralin merasa begitu diperhatikan. Seandainya, Bu Dayu adalah mamanya. Pasti wanita itu akan sangat bahagia. Andini terenyuh melihatnya, baru kali ini dirinya melihat ekspresi itu setelah lima tahun terakhir. Raut bahagia itu begitu melegakan hatinya. Andini bahagia melihat sahabatnya bahagia.
Setelah membungkus segelas jahe hangat untuk Ralinka, Dayu memapah Ralin keluar dibantu oleh Andini. Badan wanita itu masih sedikit panas, tapi lebih mendingan lah daripada sebelumnya.
Maman dan Raksa yang sedang asyik dengan permainan hitam putih itu menoleh sejenak. Matanya melirik Ralin yang terlihat sedikit pucat. Wanita itu sakit tetapi masih terlihat begitu cantik.
"Sa, bantu mbak Ralin sampai ke mobilnya, kasihan kalau harus jalan. Jarak mobilnya cukup jauh diseberang. Badannya masih lemas, mbak Andini juga kayaknya sudah kecapekan"
__ADS_1
Raksa yang dimintai tolong ibunya, langsung berdiri mengambil alih tubuh Ralin. "Maaf ya mbak, aku cuma mau membantu" ucapnya sopan merengkuh tubuh Ralin.
Sebelumnya, Raksa sedikit kasihan melihat pakaian Ralin yang begitu tipis dan terbuka. Wanita itu pasti akan kembali kedinginan jika dibiarkan. Tak mau berpikir lama, akhirnya Raksa melepaskan jaket denimnya. Dipakaikannya ke tubuh Ralin.
Awalnya Ralin ingin menolak, tetapi perkataan Raksa membuatnya tidak enak. "Jaket itu baru dicuci mbak, jangan khawatir". Akhirnya, Ralin menerimanya dengan canggung.
Raksa menggendongnya dibagian punggung. Sekalian pamit pulang kepada Maman. Begitu pun Dayu, Ralin dan Andini.
Jalanan yang cukup licin bekas hujan beberapa jam tadi, membuat Raksa sedikit tertinggal dibelakang dengan Ralin digendongannya. Laki laki itu berhati hati dengan memperhatikan jalan.
Suara Ralin membuatnya sedikit menoleh kesamping untuk mendengarkannya. "Lo, udah kenal gue. Nggak usah terlalu canggung. Panggil nama aja!" kata Ralin sedikit serak.
Raksa mengangguk mengiyakan. "Iya, Ra... "
Ralin mengernyitkan dahinya aneh. Belum ada yang memanggilnya seperti itu. "Ra" sederhana namun anehnya sangat mempengaruhi pemikiran Ralin.
Entah kenapa punggung dan bahu Raksa terasa begitu nyaman dirangkulnya. Tanpa sadar, Ralin menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Raksa, membuat laki laki itu menghentikan langkahnya sedikit terganggu.
"Lo, keberatan gue peluk?" sesal Ralin menyadari kelancangannya. Bukan itu yang Raksa pikirkan sekarang, melainkan kening Ralin yang terasa begitu panas dilehernya. Wanita itu demam.
"Kening kamu panas banget, aku antar ke dokter ya? takutnya nanti kenapa napa dijalan" Ralin merasakan nada khawatir terselip disana.
"Nggak perlu gue bisa sendiri, lagian ibu lo nanti gimana?" Raksa diam. Benar juga ibunya nanti bagaimana kalau dirinya mengantar Ralin?.
"Begini aja, gue ngerasa sedikit lebih baik" Ralinka kembali menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Raksa. Menghirup aroma maskulin laki laki itu. Ralin suka wanginya. Aromanya segar dan menenangkan. Ralin tahu laki laki itu sedikit risih dibuatnya, tapi Ralin tidak peduli. Kenyamanannya lebih utama.
Sesampainya di samping mobil, Raksa menurunkan wanita itu. Kemudian Ralin dan Andini berpamitan dengan mengucapkan terimakasih kepada Dayu, ibu Raksa.
Andini memilih masuk terlebih dahulu, menyisakan Ralin disana. Dayu memilih menunggu Raksa dimotor yang tak jauh dari parkiran mobil. Tinggallah Ralin dan Raksa yang saat ini dirundung canggung.
"Gue balik" pamitnya singkat. Raksa mengangguk. Tak ada terimakasih disana, tapi Raksa tak mempermasalahkannya. Niatnya tulus membantu, tanpa berharap apapun.
Ralin merutuki dirinya sendiri ketika ucapan terimakasihnya tadi tercekat ditenggorokannya. Kenapa rasanya begitu sulit mengatakannya kepada Raksa, padahal kepada ibunya, Ralin bisa tadi.
Suasana didalam mobil terasa sunyi, Andini sibuk dengan ponselnya. Membatalkan jadwal Ralin beberapa hari kedepan, mengingat kondisi Ralin saat ini. Dirinya tak mau sahabatnya itu kenapa napa.
Sementara Ralin sendiri sibuk memejamkan matanya merasakan aroma Raksa yang tertinggal di jaketnya. Andini pikir wanita itu tidur, ternyata tidak.
Wanita itu menatapnya tenang, dengan kalimat yang membuatnya tak percaya.
"Gue mau periksa, Ndin. Tolong cariin rumah sakit atau klinik terdekat ya"
Dahinya mengernyit bingung, yang benar saja. Kenapa wanita keras kepala itu jadi berubah pikiran. Pasalnya, dari dulu Ralin tak pernah mau berurusan dengan dokter ataupun rumah sakit.
__ADS_1
Sebentar, sejak kapan Ralin meminta tolong? biasanya wanita itu hanya bisa memerintah dan marah marah.
Nggak biasanya, batin Andini merasa aneh.