
Sinar mentari sedikit mengusik tidur paginya. Wanita itu menggerutu ketika dering teleponnya berulang kali mengganggu ketenangannya. Diraihnya gawai itu dengan posisi mata masih terpejam erat, dengan malas Ralin bersuara.
Matanya perlahan terbuka mendengar suara yang dikenalinya disana. Suara bariton itu begitu dirindukannya. Bibirnya kelu tak kuasa menanggapi panggilan pria paruh baya itu. Setetes bulir hangat merembes kesamping. Matanya menatap kosong langit langit rumahnya. Ralin rindu suara itu.
Setelah lima tahun, pria itu baru menghubunginya. Pria tua yang begitu dibencinya, meski rasa sayangnya lebih dari apapun. Pria itu adalah papa nya. Seorang ayah yang meninggalkan anak perempuannya, demi menikah bersama wanita lain. Sosok yang begitu dibanggakannya sejak kecil, berubah menjadi sosok yang mematahkan harapan putrinya.
"Ada perlu apa menghubungi saya?" jawabnya menekan rasa sesak yang tiba tiba menyelinap masuk ke relung hatinya.
"Bagaimana kabarmu, nak?" tanyanya lirih.
Ralin bisa mendengar helaan nafas papa nya dari sana. Nada suaranya terdengar gemetar ketika beliau menanyakan kabar putrinya, yang tidak ditanggapi. Ralin diam tak menghiraukannya.
Ralin ingin lebih lama mendengar suara papa nya, ingin sekadar berbasa basi, ingin menceritakan segala keluh kesahnya semenjak kepergian papa nya bersama keluarga barunya. Namun hati dan pikirannya tidak sejalan. Hatinya ingin memaafkan papa nya, tetapi pikirannya terus mengingat segala hal menyakitkan yang telah pria itu lakukan. Tangannya terkepal ketika kebencian itu menyelimuti pikirannya.
"Maaf, saya sibuk. Kita bicara lain waktu"
Sebelum wanita itu menutup teleponnya, suara papa nya menginterupsi. Ralin memberinya waktu untuk berbicara sebentar.
"Bisa kita bertemu?"
Ralin diam tak ada jawaban. Tangannya masih terkepal dibawah sana. matanya memerah.
"Nanti jam lima sore, papa tunggu di tempat dimana kita merayakan sweet seventeen kamu. Ada mama mu juga disana" sambungnya tenang. Ketenangan itu membuat Ralin mengepalkan kedua telapak tangannya erat. Buku buku jarinya memutih. Darahnya naik menghantarkan emosi yang memuncak sampai ke ubun ubun.
Belum selesai perkara papa nya, Ralin harus kembali bertemu dengan mama nya. Ralin tersenyum meremehkan. Mereka berdua pasti merencanakan sesuatu dibelakang Ralin. Keduanya sama sama egois, hingga sifat itu kini mendarah daging dalam diri Ralin.
"Kami menunggumu, nak. Papa harap kamu datang"
Setelahnya panggilan itu diputus secara sepihak oleh Ralin. Tangisannya mengering. Bertemu dengan kedua orang tuanya seperti menaburkan garam diatas luka yang belum mengering.
Rasanya sesak sekali, sampai telapak tangannya meremas kuat seprai berwarna putih itu. Ralin masih diposisinya berbaring, belum ada niat untuk sekadar duduk. Dirinya hanya butuh oksigen saat ini. Pembicaraan barusan benar benar menyerap habis ketegaran hatinya.
__ADS_1
Tangannya mengacak rambutnya sendiri frustrasi. Ralin merindukan keutuhan keluarganya, tetapi bayangan masalalu itu selalu menghantui tidurnya. Setiap malamnya, Ralin menangis, tanpa ada seorang pun yang bisa menenangkannya. Mengingat malam itu hanya membuatnya semakin larut dalam membenci kedua orang tuanya. Tak pernah terpikirkan bahwa Ralin berada diantara dua orang yang sama sama menghancurkan hidupnya.
"Tunggu saja. Sampai pagi pun, aku tidak akan sudi datang" putusnya final. Nyatanya Ralin belum bisa memaafkan keduanya. Biarlah seperti ini, sampai Ralin sanggup memaafkan perbuatan mereka. Dirinya hanya butuh ketenangan, dan kehadiran mereka tidak akan mengubah apapun.
...............
Meski suasana hatinya begitu buruk, Ralin tetap profesional dalam pekerjaannya. Sebisa mungkin wanita itu tetap terlihat tegar seperti biasanya. Senyumannya yang angkuh menandakan keadaannya telah kembali seperti Ralin si wanita arrogant.
Diliriknya jam tangan mungil yang terlihat elegan ditangan kirinya. Sebentar lagi pemotretannya selesai. Ralin mengingat janjinya kepada Raksa kemarin malam. Senyumnya mengembang ketika jemarinya dengan lihai mengetikkan suatu pesan untuk laki laki itu.
📩 Pesan
Untuk : Raksa Anggara
20 menit lagi aku sampai. Semangat kerjanya.
Seperti biasa, Ralin tak akan menunggu balasan pesannya, karena Ralin tahu laki laki itu pasti sedang sibuk saat ini. Hanya saja muncul keinginan untuk sekadar memberi kabar.
Sebenarnya Andini sedikit geli melihat tingkah menggemaskan sahabatnya. Ada apa sih dengan wanita menyebalkan satu ini?,batin Andini terkekeh. Meski begitu terbesit perasaan bahagia melihat senyuman Ralin terlihat tulus dan tidak dibuat buat. Andini seperti melihat Ralinka nya yang dulu telah kembali. Gadis periang dengan senyum termanis yang pernah ada.
Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sampai di kedai kopi tempat Raksa bekerja. Dari luar, Ralin bisa melihat laki laki itu berkutat di mejanya. Sementara Andini mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Suasana dataran tinggi dengan pemandangan yang begitu menyegarkan pikirannya. Sepertinya, Andini juga akan betah berada ditempat ini.
Keduanya memilih duduk dimeja pojok dekat kolam renang. Beberapa saat menunggu, Ralin tak sabar menyadari, Raksa tak juga selesai dengan pekerjaannya. Padahal pekerja disana banyak, bahkan ada beberapa barista lainnya. Mengapa sepertinya Raksa begitu tak ingin menemuinya?.
Beranjak dari kursinya, Ralin masuk menemui laki laki itu didalam sana, dan benar saja. Raksa masih sibuk dengan kopi kopinya. Ralin menghela nafas kesal. Meski begitu, Ralin menyukai semangat laki laki itu dalam bekerja. Ralin harus paham bahwa apa yang Raksa lakukan tidaklah salah. Laki laki itu hanya melakukan pekerjaannya dengan sebaik baiknya.
Raksa masih belum sadar kalau diperhatikan. Laki laki itu baru menoleh ketika suara temannya memberi kode kepada dirinya.
"Sa, itu teman lo, bukan? dari tadi gue perhatiin, tuh cewek liatin lo mulu" kata Andre penasaran.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Raksa minta waktu kepada Andre untuk berbicara dengan Ralin. Andre mengizinkannya dengan alasan, masih banyak barista lain yang bisa gantiin dia saat ini. Lagi pula, Andre memberi Raksa pekerjaan hanya untuk membantunya, jadi selagi Raksa rajin, Andre tidak keberatan dengan permintaan temannya itu.
__ADS_1
Raksa menarik tangan Ralin sedikit menjauh dari beberapa orang disana. Tepat diseberang kolam renang, yang tak jauh dari posisi Andini disana.
"Kenapa nggak panggil aku aja tadi? malah liatin orang kerja" tanyanya sembari mempersilakan Ralin duduk.
"Aku suka liatin kamu kerja. Semangat kamu mengingatkan aku waktu awal awal aku memulai karir" jelas Ralin merapikan rambut Raksa yang sedikit berantakan.
Raksa diam, tak tahu harus menjawab apa.
"Kamu udah makan?" tanya Ralin. Entah kenapa, dirinya jadi begitu peduli dengan semua hal menyangkut Raksa.
Raksa menggeleng pelan, memberi alasan "Belum lapar".
Laki laki itu akan makan jika dirasa, pekerjaannya telah selesai. Raksa memang begini sejak kecil. Sampai ibunya sering menasihati dirinya agar menjaga pola makannya.
"Jangan sampai telat makan, kamu bisa sakit, Sa" kata Ralin perhatian.
"Habis ini aku makan"
Ralin tersenyum mendengar suara Raksa yang begitu tenang. Ralin suka ketika laki laki itu terus menatapnya ketika sedang berbicara. Manik teduh Raksa membuat dirinya semakin nyaman dengan obrolan sederhana ini.
"Rame banget ya kedai kopi teman kamu" Ralin mengedarkan pandangannya untuk sedikit berbasa basi.
"Namanya Andre" kata Raksa memperkenalkan temannya. Ralin hanya mengangguk tidak peduli.
"Kamu tahu kenapa bisa serame ini?" tanya Ralin dengan senyuman yang membuat dirinya terlihat semakin menarik.
"Karena rasa kopinya yang nikmat dengan tempat yang cukup aestetik" jawab Raksa yang memang benar faktanya.
Variasi menu minuman disini begitu cocok dilidah para penikmatnya. Apalagi ditambah pemandangan sekitar yang begitu memuaskan mata. Rasanya seperti dipuncak. Dari sini para pengunjung dapat melihat suasana alam yang begitu menggiurkan.
"Satu lagi" kata Ralin menyela, membuat Raksa menaikkan alis sedikit berpikir.
__ADS_1
"Baristanya ganteng" sambungnya dengan tatapan intens dan senyuman jahil dibibir wanita itu, membuat Raksa terkekeh pelan. Ada ada saja, wanita dihadapannya ini.