Cinta Laki Laki Biasa

Cinta Laki Laki Biasa
Rindu ini candu


__ADS_3

Beberapa hari berikutnya, Ralin jarang menemui Raksa. Dirinya sibuk dengan jadwal padatnya seharian penuh. Malamnya, Ralin sudah lelah dan hanya ingin istirahat. Perdebatan kecil mereka beberapa waktu lalu cukup membuat Ralin kepikiran tentang Raksa. Ralin tahu dirinya egois. Hanya ingin mendengar tanpa mau didengar.


Ralin butuh bertemu Raksa, berhari hari tanpa melihat laki laki itu, rasanya begitu memuakkan. Ralin rindu padanya. Bahkan ponsel Raksa dari kemarin tak dapat dihubungi. Ralin menggeram, seharusnya dirinya tahu Raksa marah hari itu. Laki laki itu bahkan tidak mengangkat panggilannya. Sialan.


Dilajukannya mobil itu dengan kecepatan penuh. Ralin ingin segera bertemu Raksa hari ini. Wanita itu sedang dalam mode agresif dan ingin mencabik cabik siapapun yang menghalangi jalannya.


Dengan asal, diparkirkannya mobil itu tak beraturan diarea parkir kedai kopi milik teman Raksa. Hal itu membuat tukang parkir disana memekik kaget melihat kedatangan Ralin yang seperti kesetanan. Namun, hal itu tak menjadi masalah karena Ralin memberinya uang untuk upah membantu memarkirkan mobilnya dengan benar, sedangkan Ralin sudah lebih dulu masuk mencari keberadaan Raksa.


"Raksa mana?" tanyanya pada Andre, kurang sopan.


"Kamu ini tidak diajarkan sopan santun ya?" sahut Andre tak habis pikir.


"Saya cari Raksa, Mas. Jangan mempersulit!"


"Raksa pegawai saya, jadi apa hak kamu mencarinya saat jam kerja? Kamu bisa menemuinya nanti, setelah jam lima"


"Kenapa saya harus menunggu? Saya bisa membayar ganti rugi jam kerjanya" sahut Ralin menyolot.


"Saya tidak butuh uang kamu"


"Saya tidak butuh bicara dengan kamu. Panggilkan Raksa, atau saya sendiri yang cari!" kata Ralin sarkasme. Mulutnya memang tidak bisa dikontrol jika sedang berdebat dengan seseorang.

__ADS_1


Ralin tahu dengan siapa dirinya bicara. Ralin tahu kalau Andre adalah teman dekat kekasihnya. Raksa pasti akan marah jika tahu temannya diperlakukan seperti tadi, tapi Ralin tidak peduli, dirinya hanya ingin bertemu Raksa. Beraninya laki laki itu berbohong padanya dengan mengatakan bahwa dirinya tidak marah kemarin.


Mendengar keributan dari sana, cukup mengalihkan perhatian laki laki yang baru saja keluar dari kamar mandi, Raksa. Laki laki itu menghampiri keduanya yang sedang berselisih sengit. Raksa tak tahu kenapa Ralin datang dan berdebat dengan Andre, temannya.


"Ralin, cukup!" ditariknya pergelangan tangan Ralin sedikit kuat untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Sungguh, Raksa tak enak hati kepada Andre, karena keberadaan Ralin disini membuat sebuah keributan.


"Ada apa sih, Ra?" tanya Raksa setelah mereka sampai diparkiran, tepatnya didalam mobil Ralin.


Ralin tersenyum meremehkan. Manik kelamnya menatap sengit manik teduh milik Raksa. Pikiran Ralin kalut akan kegalauannya beberapa hari ini memikirkan laki laki dihadapannya.


Suara pintu yang terkunci dari dalam membuat Raksa mengernyit heran. Ralin sengaja mengunci pintu mobilnya, tak membiarkan Raksa lolos saat ini. Apalagi posisinya saat ini terhimpit dengan Ralin yang mengikis jarak diantara mereka. Suasana berubah hening saat dengan beringas, Ralin mencium bibir Raksa. Ciuman yang semula hanya kecupan, beralih menjadi ******* ******* kasar yang begitu memabukkan. Raksa tidak membalasnya, tidak pula menghentikannya. Raksa tahu Ralin emosi. Laki laki itu diam. Bagai patung tak bernyawa.


Merasa tidak dihentikan, Ralin semakin gencar ******* bibir laki laki itu. Dirinya baru berhenti setelah Raksa kehabisan nafas. Ralin menyeringai puas melihat bibir laki laki dihadapannya membengkak karena ulahnya. Raksa tampak begitu kacau dengan tatanan rambut yang berantakan akibat ulah wanita agresif dihadapannya.


Ada sedikit pemikiran Raksa yang bertanya tanya, darimana wanita ini belajar cara mencium dengan begitu memabukkan? Ralin seperti seseorang yang pernah melakukannya.


"Kamu bohongin aku. Kamu bilang kamu nggak marah kemarin" sembur Ralin langsung pada intinya. Wanita keras kepala itu tidak suka berbasa basi. Baginya, basa basi hanya akan membuang buang waktunya.


"Aku nggak bohong, karena memang aku nggak marah, Ra" jelas Raksa jujur. Laki laki itu memang tidak marah kemarin. Raksa bukan tipikal laki laki pemarah dan suka ngambek. Raksa lebih ke arah dewasa dalam menghadapi segala sesuatunya.


"Sepuluh kali aku hubungi kamu dalam tiga hari ini, nggak ada satu pun jawaban yang aku terima"

__ADS_1


"Handphone aku kayaknya ketinggalan dirumah kamu, deh, waktu masak kemarin" kata Raksa mencoba mengingatnya.


"Sial" umpat Ralin kesal. Kekhawatirannya sejak kemarin ternyata tidak benar. Ralin merutuk dirinya sendiri yang tiba tiba takut kehilangan Raksa. Ralin tahu ini mungkin berlebihan, tapi jujur dirinya hanya tak ingin kembali kehilangan untuk yang kesekian kalinya.


"Kamu bikin aku gila, Raksa!" gerutunya memeluk Raksa dengan begitu erat. Ralin sengaja mengendus ngendus dipelukan Raksa. Beberapa menit berlalu, Raksa tidak dibiarkan lepas dari pelukannya. Salahkan Raksa, yang membuat Ralin candu pada dirinya. Bahkan Ralin tak peduli dengan keberadaan tukang parkir disekitarnya. Fokusnya saat ini hanya kepada laki laki dihadapannya.


"Aku kesulitan bernafas, Ra" protes Raksa, yang langsung disambut oleh Ralin. Dilonggarkannya pelukan itu, sedikit lebih baik.


Raksa terkekeh melihat tingkah Ralin yang berubah menjadi manja seperti ini. Ralin berubah menjadi seorang wanita manis yang begitu menggelikan. Raksa tak bisa untuk tidak tertawa melihatnya.


"Si Andre sialan itu merepotkan saja. Aku tidak suka laki laki itu. Banyak bicara dan belagu. Kalau bukan teman kamu, udah aku robek itu mulutnya" adunya pada Raksa.


Raksa mencubit bibir wanita itu dengan jari jarinya. Ralin selalu berbicara buruk ataupun kasar. Membuatnya gemas ingin menguncir bibir ranum wanita itu.


"Andre temanku, Ra. Bersikaplah lebih sopan. Lagipula kamu yang salah. Kamu harus minta maaf sama dia" kata Raksa menasihati.


Ralin tak mengindahkan perkataan Raksa barusan. Wanita itu sibuk mengendus aroma Raksa yang begitu memabukkannya. Ralin merindukan laki laki ini.


"Aku kangen kamu, Raksa. Jangan marah! Jangan abaikan aku! Jangan tinggalin aku! Aku nggak bisa kehilangan kamu, Sa" Ralin kembali mencium bagian dada Raksa. Ciuman penuh kasih sayang. Ralin ingin Raksa tahu bahwa dirinya mencintai laki laki itu.


Ralin tak tahu bagaimana cara untuk mempertahankan laki laki itu agar selalu berada disisinya, tetapi Ralin sadar, sekuat apapun dirinya mempertahankan jika tuhan berkehendak lain, semuanya akan tampak sama seperti dahulu. Akankah kali ini tuhan merestui kebahagiaannya bersama Raksa?.

__ADS_1


Bahkan sampai saat ini pun, Ralin masih belum percaya, bahwa pertemuan singkatnya dengan Raksa hari itu, bisa sampai ke titik ini. Titik dimana Raksa menjadi satu satunya laki laki yang mampu membuat Ralin kembali seperti dirinya sebelumnya.


"Aku nggak akan ninggalin kamu, Ra. Kecuali kamu yang ninggalin aku dulu"


__ADS_2