
Malam ini terasa begitu hangat, dengan jaket Raksa dipelukkannya. Bahkan suhu AC dalam ruangan terasa hangat tak masuk akal. Demam Ralin sudah jauh lebih baik dari pada sebelumnya. Bahkan nafsu makannya kembali normal. Sebenarnya ini agak aneh, tidak biasanya Ralin bersikap setenang ini, tetapi Andini memilih tersenyum memperhatikan sikap manis sahabatnya.
Bahkan dalam tidurnya, wanita cantik itu banyak tersenyum.
...............
Kemarin malam, Andre menghubunginya, dia bilang sore ini Raksa bisa mulai bekerja di tempatnya. Meski upah yang dijanjikan tidak banyak, tetapi bagi Raksa itu cukup membantunya.
Bukankah sekecil apapun rezekinya, akan terasa cukup jika kita selalu bersyukur? dan Raksa sedang belajar mensyukuri apa yang dirinya miliki.
Seperti biasa, setiap pagi Raksa wajib mengantarkan ibunya ke tempat kerja. Sepanjang jalan beliau selalu mengajaknya bicara. Tentang hal hal sepele yang entah kenapa begitu menarik perhatian Raksa.
Raksa bukan tipikal orang yang takut kepada seseorang, tetapi dirinya diajari untuk hormat, bukan takut kepada orang yang lebih tua darinya. Sifat ibunya begitu melekat kuat dalam diri laki laki itu. Dayu bersyukur putra semata wayangnya, tumbuh menjadi laki laki berkepribadian baik.
Sesampainya dirumah makan Pak Maman. Kecupan singkat Raksa berikan didahi ibunya. Menggambarkan rasa sayang anak kepada ibunya. Raksa selalu ingin mengatakan kepada ibunya bahwa dirinya sangat menyayangi wanita rapuh itu. Sampai saatnya nanti, Raksa akan selalu mengutamakan ibunya. Bahkan sampai dirinya menikah pun, Raksa tak akan pernah meninggalkan beliau.
"Raksa pamit, bu" ucapnya mencium tangan ibunya.
"Semangat kerjanya, Sa. Ibu nggak pernah absen untuk selalu doain kamu. Nanti malam jangan pulang telat! ibu masakin rendang kesukaan kamu" Dayu tersenyum menyemangati putranya.
Raksa mengangguk, sebelum motornya melaju meninggalkan tempat itu, Dayu sudah masuk untuk bekerja sedari tadi, sehingga Raksa bisa segera pergi.
"Raksa"
Laki laki itu menoleh ketika namanya dipanggil. Ternyata Ralin, wanita yang membuatnya cemas kemarin malam, karena kondisinya yang begitu tidak sehat.
Raksa diam, menunggu wanita itu berbicara. Pembawaannya yang tenang dan logis itu membuat siapa saja nyaman berbicara dengannya, tak terkecuali Ralin. Wanita itu sedikit tersenyum.
"Gue mau balikin jaket, lo. Tapi belum gue cuci. Males" sebenarnya Ralin menemui Raksa pagi pagi buta begini, bukan untuk mengembalikan jaketnya, tetapi entah kenapa Ralin ingin melihat laki laki ini sejak kemarin malam. Rasa gugup menyelimuti diri Ralin ketika ditatap sebegitu teduhnya oleh laki laki dihadapannya.
"Nggak papa, Ra" diambilnya jaket denim kesayangannya dari tangan Ralin.
__ADS_1
Dari posisinya, Ralin sedikit tak rela mengembalikannya. Padahal jaket itu bukan miliknya. Dirinya hanya dipinjami, tetapi kenapa malah sekarang dijadikan hak milik?.
Raksa mengernyitkan dahi heran.
"Kenapa diambil lagi?"
"Gue kedinginan" jawabnya cuek.
Setelahnya suasana berubah menjadi canggung dengan Raksa mengalihkan pandangannya ke sekeliling. Sesekali melirik ke arlojinya disana.
"Aku duluan, keburu telat. Udah hampir jam tujuh"
Ralin mengangguk membiarkan laki laki itu pergi.
Beberapa detik setelah motor Raksa tak lagi terlihat, tangan Ralin bergerak menekan bagian disekitar dadanya. Debaran jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya
Apakah ini yang dinamakan sakit jantung?hehe.
.....................
Meski begitu, Raksa tetap semangat seperti apa kata ibunya tadi pagi. Menyemangati dirinya sendiri adalah hal yang sering dilakukannya ketika dirinya jauh dari ibunya. Perlahan laki laki itu kembali fokus pada tugasnya. Sesekali, Raksa membantu menyetting kamera yang digunakan, supaya hasil yang didapat semakin memuaskan.
Selesai prosesi perekaman, Raksa membantu mengemasi barang dan properti lainnya. Sebelum jam lima sore, Raksa harus sampai ditempat Andre. Ini hari pertamanya bekerja disana. Raksa tak boleh terlambat seperti tadi pagi.
Sebelum Raksa pergi, Bang Joe sang produser, menepuk pundak Raksa. Pria dewasa itu adalah orang yang paling mengerti Raksa ditempat kerja. Bagi Raksa, Bang Joe sudah dianggapmya sebagai kakak. Sering kali pria itu menasehatinya ketika salah, darinya Raksa banyak belajar masalah hidup. Pria dewasa itu selalu tahu cara menyikapi sebuah masalah.
"Gue dengar lo dimarahi, Pak Brata, karena kamera yang lo bawa rusak?"tanyanya memastikan.
"Iya, Bang"
Bang Joe tersenyum menanggapi, "Gue ada job buat lo, gimana kalo lo kerja distudio foto gue?"
__ADS_1
"Lo bisa fotografi kan? lo juga bisa mengolah aplikasi editing semacam photoshop, jadi nggak ada masalah dong?"lanjutnya menyemangati.
Raksa tak tahu harus senang atau bagaimana, laki laki itu tak pandai mengekspresikan perasaannya. Sebenarnya dirinya ingin menerimanya, tetapi jadwalnya sudah terlalu padat. Hanya Sabtu dan Minggu dirinya libur.
"Raksa libur cuma Sabtu Minggu, Bang"
"Ya, nggak papa. Lo, bisa datang Sabtu Minggu ke studio gue. Santai aja, Sa. Niat gue cuma mau bantu lo, jadi jangan terlalu dipaksain"
"Beneran, Bang?" senyum Raksa sumringah, melihat anggukan persetujuan dari Bang Joe.
"Yaudah kalo gitu, besok Sabtu, Raksa datang" Bang Joe mengusap kepala Raksa kasar. Diberikannya alamat studio fotonya kepada laki laki yang sudah dianggapnya sebagai adik itu.
Sebenarnya Joe kasihan melihat Raksa harus bekerja terlalu keras untuk mengganti kerugian atas kerusakan yang dibuatnya. Raksa bukan orang yang mau menerima bantuan secara cuma cuma. Dirinya lebih memilih menukar imbalan dengan usaha dan tenaganya. Layaknya seorang laki laki yang bertanggung jawab.
"Kalo gitu, Raksa pamit, Bang. Raksa masih harus kerja ditempatnya Andre" pamitnya memeluk Bang Joe, selayaknya interaksi seorang kakak beradik.
"Yang semangat kerjanya, kalo capek istirahat. Jangan terlalu dipaksain, Sa. Kesehatan lo, lebih penting. Ingat, lo harus sehat untuk selalu jagain ibu, lo"
Raksa mengangguk mantap, meski perkataan Bang Joe terasa begitu menyentuh hatinya. Semenjak insiden dirinya merusakkan kamera. Raksa terlalu keras untuk mencari uang ganti rugi itu. Sampai dirinya tak punya waktu sekadar bersantai. Dari petang hingga petang selalu Raksa habiskan untuk bekerja. Padahal dirinya butuh istirahat. Segalanya menjadi beban karena Raksa terlalu memaksakannya.
Menghela nafas, dirinya tersenyum seraya berkata pada dirinya sendiri, bahwa mulai hari ini, Raksa akan mulai menikmati pekerjaan dan hidupnya, dan yang lebih utama adalah kenyamanannya. Benar kata Bang Joe,
Dirinya harus sehat, untuk menjaga ibunya yang kurang sehat.
..................
Sesampainya di kedai kopi milik Andre, Raksa turun dengan sedikit gugup melihat beberapa pelanggan yang begitu menikmati menu mereka. Raksa yakin dirinya bisa, terlebih laki laki itu tak ingin mengecewakan temannya.
Sebenarnya Raksa sudah mencoba baca baca di internet mengenai barista, tetapi nyatanya ekspektasi dan realita begitu berbeda. Butuh beberapa kali Andre memberikan pengarahan. Sebanyak apa Andre menjelaskan, sebanyak itu pula Raksa berusaha memahami.
Nyatanya tak perlu waktu berminggu minggu kalau sehari saja, Raksa mudah mengerjakannya. Memang benar ya, usaha tak pernah menghianati hasil.
__ADS_1
"Good job, bro" tangan Andre menepuk bahu Raksa, laki laki itu bangga dengan usaha Raksa yang pantang menyerah.
Raksa tersenyum sedikit membanggakan diri.