Cinta Laki Laki Biasa

Cinta Laki Laki Biasa
Persyaratan konyol


__ADS_3

Hari ini hari Sabtu, sesuai janjinya kemarin kepada Bang Joe, Raksa akan datang ke studio fotonya untuk mulai bekerja, sebagai fotografer. Tadi pagi setelah mengantar jemput ibunya ke pasar, Raksa bergegas berangkat.


Menjadi fotografer, sebenarnya merupakan impian Raksa sedari kecil. Meski begitu, dirinya tak pernah mempunyai kesempatan untuk menjalani keahliannya. Raksa paham tentang dunia fotografi. Hanya saja, dirinya belum punya rezeki lebih untuk membeli peralatan yang harus dimiliki untuk memulainya.


Hari itu ketika Bang Joe menawari Raksa untuk bekerja distudio foto miliknya. Sungguh Raksa tak benar benar ingin menolaknya. Raksa pikir ini kesempatan baginya untuk mewujudkan impiannya. Mungkin ini adalah buah dari segala usaha dan kerja kerasnya selama ini.


Dahulu Raksa bekerja untuk membeli kamera untuk keperluan fotografinya, karena Raksa ingin menjadi fotografer, Raksa ingin punya segala peralatan fotografi, salah satunya kamera. Namun takdir berkata lain, bukan karena keinginan, melainkan tanggung jawabnya untuk mengganti kamera yang telah dirusakannya.


Sepanjang perjalanannya laki laki itu tersenyum penuh semangat. Selalu ada hal baik dalam setiap kesusahannya. Raksa percaya bahwa akan ada kemudahan dalam setiap kesulitan.


Beberapa menit lalu motornya terparkir rapi diparkiran studio itu. Raksa mendorong pintu itu dan masuk dengan sapaan sopannya kepada beberapa pekerja disana. Tak menunggu lama, Bang Joe berjalan menghampirinya dari sisi kanan ruangan tersebut.


"Sori Bang Joe, Raksa nggak ngabarin dulu sebelum datang. Tadi habis nganter ibu ke pasar Raksa langsung kesini, lupa mau ngabarin dulu" jelas Raksa menyalami tangan laki laki dewasa itu.


Bang Joe menepuk pelan bahunya. "Nggak papa, Sa. Santai aja" katanya.


"Nanti jam 8 ada pemotretan untuk foto wisuda, lo bisa bantu untuk itu. Gue percaya lo bisa, Sa" sambungnya meyakinkan sekaligus menyemangati Raksa.


Raksa mengangguk mengiyakan, Bang Joe sudah memberinya amanah, dan sekarang Raksa harus menjalankannya dengan sebaik mungkin. Raksa percaya dirinya bisa. Pada dasarnya Raksa sudah tahu beberapa hal maupun teknik dalam fotografi, hanya saja Raksa perlu sedikit mengasahnya kembali agar hasil yang diperoleh akan semakin memuaskan.


Seperti biasa, dalam sebuah fotografi diperlukan penataan tata cahaya dan juga beberapa background maupun properti tambahan yang diperlukan. Bedanya, kalau biasanya Raksa yang membantu kali ini Raksa yang dibantu dan berwenang untuk mengarahkan segala sesuatunya.


Seramah mungkin Raksa melayani mereka, karena baginya kenyamanan mereka adalah prioritas yang harus Raksa utamakan.


Beberapa menit berlalu, pemotretan itu selesai. bang Joe tersenyum bangga melihat beberapa hasil foto tersebut. Tidak salah dirinya mempercayakan pekerjaan ini kepada Raksa. Laki laki itu adalah orang yang tepat dibidang yang tepat.


Awalnya Raksa ingin membantu mengerjakan pengeditan foto, tetapi Bang Joe menyuruhnya istirahat sekaligus mengobrol mengenai beberapa hal.


Bang Joe memintanya mencarikan orang yang mau menjadi model katalog untuk promosi studio foto miliknya. Bang Joe ingin studio fotonya semakin ramai. Meski tak dipungkiri bahwa saat ini pun sudah banyak job yang mengalir karena kepercayaan para pelanggannya atas hasil yang mereka dapatkan.


Sebenarnya Raksa tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Namun, diurungkannya mengingat Ralin merupakan seorang model kelas atas yang tidak menutup kemungkinan meminta kontrak bayaran diatas perkiraannya. Raksa masih bisa mencari model yang standar saja, supaya dana yang dikeluarkan juga tidak terlalu besar. Lagi pula dirinya merasa tidak enak jika harus menghabiskan banyak dana hanya untuk seorang model.


"Raksa carikan dulu, ya, Bang. Raksa minta waktu" kata Raksa

__ADS_1


"Gue kasih lo tiga hari, ya, Sa. Soalnya gue butuh secepatnya" kata Bang Joe, sebenarnya Bang Joe merasa tidak enak kepada Raksa, karena menuntutnya untuk segera mendapatkan partner yang akan dijadikan model nantinya. Sungguh jika bukan karena tuntutan pekerjaan, Bang Joe tidak ingin lagi merepotkan Raksa.


"Iya, Bang, Raksa usahain"


..............................


Malamnya setelah memikirkan waktu yang diberikan Bang Joe, Raksa tidak yakin bisa mendapatkan model lain dalam jangka waktu yang cukup singkat itu. Tadi, dirinya sempat menghubungi Dania untuk meminta bantuan wanita itu, namun Dania meminta maaf karena menolaknya. Dania bukan orang yang pandai berekspresi didepan kamera, lagi pula Dania tidak suka diekspos, wanita itu lebih suka hidupnya yang tidak diketahui banyak orang. Sebut saja Dania adalah tipe anti sosial. Hanya beberapa orang yang akan dirinya ajak bergaul maupun mengobrol.


Raksa memutuskan untuk meminta bantuan Ralin, tetapi jika nantinya wanita itu meminta bayaran yang tinggi atau bahkan menolaknya. Raksa akan membicarakannya kembali kepada Bang Joe.


Berhubung Raksa sudah tahu dimana wanita itu tinggal, Raksa bergegas datang kesana. Sebelumnya Raksa sudah mencoba menghubungi Ralin, tetapi nomornya tidak aktif, jadi Raksa pikir lebih baik langsung saja menemuinya.


Pak Khamim yang mengetahui keberadaan Raksa disana langsung saja membukakan pintu gerbang. Pak Khamim sudah tahu bahwa laki laki itu adalah teman Ralin, jadi Pak Khamim mempermudah jalan Raksa untuk masuk.


Sebenarnya Raksa masih merasa sedikit gugup ketika memasuki pelataran halaman rumah Ralin. Dirinya merasa tak pantas, apalagi memikirkan bagaimana reaksi orang tua Ralin, jika tahu kalau putrinya berteman dengan laki laki miskin seperti dirinya. Mungkinkah drama antara orang kaya dan orang miskin akan benar benar terjadi dalam hubungan pertemanan mereka?.


Beberapa menit setelah bel itu dibunyikan, wanita itu datang dengan baju tidurnya. Baju tidur berlengan pendek dengan celana pendek yang bahannya seperti daster, begitu tipis dan sedikit menerawang, Raksa yakin angin bahkan bisa masuk dari segala celahnya.


"Tumben kamu kesini? Ada apa, Sa?" tanya Ralin sembari mempersilakan Raksa untuk masuk ke dalam rumahnya.


Dibawanya Raksa ke ruang tamu supaya lebih enak mengobrolnya. Laki laki itu memperhatikan isi rumahnya, seperti sedang mencari cari seseorang dari sana.


"Cari siapa? Kok kaya nyari orang dirumah aku?" tanya Ralin sedikit bingung. Pasalnya tidak ada orang lain selain dirinya dan Bi Ipah di rumah ini. Andini juga baru saja pergi.


"Orang tua kamu kemana? Kok sepi?" tanya Raksa membuat Ralin mengepalkan kedua tangannya. Ralin tak ingin Raksa tahu keadaan keluarganya.


"Mereka nggak dirumah" jawabnya singkat, menunjukkan ketidaksenangannya atas pertanyaan Raksa barusan. Raksa merasa tidak enak setelahnya, sepertinya dirinya salah bertanya.


Suasana berubah canggung setelahnya. Raksa yang tak tahu mau bicara apa, dan Ralin yang hanya diam. Beruntung Bi Ipah datang mencairkan suasana dengan membawakan dua gelas orange juice untuk keduanya.


"Kamu ngapain kesini?" tanya Ralin setenang mungkin, meski terdengar dingin ditelinga Raksa. Sepertinya Ralin masih kesal dengan pertanyaan Raksa barusan.


"Aku mau minta tolong, Ra" kata Raksa to the point, dirinya tidak pintar untuk sekadar berbasa basi, lagi pula Ralin bukan orang yang mau diajak berbasa basi. Malahan wanita itu akan meninggalkannya kalau pembicaraan mereka terasa membosankan.

__ADS_1


"Apa?"


"Jadi model untuk promosi katalog ditempat kerja aku ya?" kata Raksa sedikit memohon.


"Fireflies?"


"Bukan, Skmpay studio foto. Sekarang aku kerja sampingan disana. Buat tambah tambah" jelas Raksa jujur. Tak ada yang ditutupinya.


Ralin mengangkat gelasnya, menyuruh Raksa untuk segera meminum minumannya. Ralin bisa merasakan kalau laki laki didepannya itu terlihat gugup. Entah apa yang membuatnya begitu tertarik memperhatikannya. Ralin menyukai cara Raksa meminta bantuannya. Laki laki itu begitu tulus memintanya. Tidak gegabah untuk langsung membicarakan bayarannya.


Diletakkannya gelas kaca itu, kaki Ralin terangkat menopang diatas kaki kirinya. Senyuman miring tercetak jelas disana. Wajahnya terlihat begitu angkuh dan menantang. Ralin terlihat seperti singa yang mendapatkan mangsanya.


"Apa keuntungan yang ku dapat?" tanyanya.


"Kami akan menawarkanmu kontrak yang cukup tinggi, tetapi jika standarmu diatas perkiraan kami, mungkin aku harus mencari model lain. Aku cukup tahu diri, mengingat kamu adalah model kelas atas"


"Aku tidak memaksa, Ra" sambung Raksa tidak percaya diri, setelah melihat tatapan Ralin yang begitu angkuh. Wanita itu terlihat meremehkannya.


"Kenapa mudah sekali menyerah untuk membujuk seseorang?"tanya Ralin datar, Ralin tak suka melihat Raksa yang tidak percaya diri seperti itu.


"Aku tahu kamu akan menolak" katanya lirih.


"Ya, kalau sudah tahu kenapa bertanya? Buang buang waktu saja" balas Ralin.


Raksa diam tak tahu harus menanggapi apa. Ralin selalu saja mengajaknya berdebat saat dirinya ingin berbicara baik baik.


"Aku mau"


Raksa menoleh ke arah Ralin tidak percaya. Tatapannya mencari kejujuran dari manik mata kelam wanita itu. Secercah harapannya tumbuh begitu saja. Raksa sumringah dengan senyum menghiasi wajahnya.


"Tapi ada syarat yang harus kamu setujui, bagaimana?" tawar Ralin setenang mungkin. Raksa mengangguk mengiyakan. Tanpa pikir panjang laki laki itu akan menerima syarat yang akan Ralin ajukan.


"Aku mau kita pacaran. Cintai aku setulus mungkin dan buat aku bahagia bersama kamu, Raksa"

__ADS_1


__ADS_2