Cinta Laki Laki Biasa

Cinta Laki Laki Biasa
Manusia kaku


__ADS_3

Sore itu setelah memutuskan pulang, Raksa bergegas menemui ibunya dirumah makan sederhana pinggir jalan. Ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga merangkap pekerjaan tambahan lainnya. Beruntung majikannya memiliki rumah makan didaerah yang dekat dengan rumahnya. Sang pemilik berbaik hati memberikan posisi tukang masak untuk ibunya, karena Maman tahu, masakan wanita itu memiliki cita rasa yang menarik. Nyatanya biarpun kecil kecilan, rumah makannya selalu ramai dan laris manis. Tak jarang pula, beliau memberi uang tambahan atas kerja keras Dayu selama ini.


Sebenarnya Maman, pria paruh baya itu prihatin dengan keadaan perekonomian janda anak satu itu, hingga tak sungkan memberi sebagian rezekinya kepada Dayu dan anaknya. Bagi Maman, mereka berdua sudah dirinya anggap seperti keluarga.


"Assalamualaikum, Pak Maman. Raksa kemari untuk menjemput Ibu. Beliau masih sibuk?" tanya Raksa sopan. Diciumnya punggung tangan Maman penuh hormat. Maman terbiasa melihatnya, meski begitu senyumnya selalu tak bisa disembunyikan. Maman menyukai karakter anak itu. Begitu beruntung Dayu, memiliki putra sebaik Raksa. Tidak seperti dirinya, hidup berkecukupan tetapi anak anaknya sibuk dengan urusan masing masing. Sampai diusia kepala lima pun, dirinya belum pernah dikunjungi anak anaknya sejak kejadian dua puluh tahun lalu. Kesalah pahaman hari itu membuatnya kehilangan perhatian dari anak anaknya.


"Ibumu masih sibuk didapur. Lebih baik kamu temani bapak bermain catur" ajak Maman ramah. Raksa sudah seperti putranya sendiri.


"Oh, iya, Pak. Saya temani" jawabnya, sambil meletakkan tas selempangnya dikursi kayu itu.


Entah berapa menit berlalu, permainan akhirnya dimenangkan oleh Raksa. Bersamaan dengan itu, Dayu selesai dari pekerjaannya. Langsung saja dirinya pamit pulang kepada Pak Maman. Takut kalau diteruskan, permainan ini akan sampai larut malam. Raksa kasihan kepada ibunya, beliau pasti capek seharian bekerja.


.........


Seperti biasa, setiap malam Raksa akan memijit badan ibunya. Tanpa disuruh pun, laki laki itu hanya akan tidur ketika ibunya tidur. Raksa harus memastikan ibunya baik baik saja.


"Tadi gimana kerjanya? lancar?"tanya beliau lembut.


Raksa diam, maniknya menatap manik teduh ibunya yang menenangkan. Raksa bukan pribadi yang senang berbohong. Terlebih kepada ibunya, tetapi rasanya berat sekali untuk menceritakan kejadian buruk tadi sore. Raksa tak ingin ibunya kepikiran. Raksa tak ingin ibunya terbebani dengan tanggung jawabnya. Ini semua salah Raksa. Dirinya yang berbuat, maka dirinya pula yang harus bertanggung jawab. Meski tak tahu, harus mencari pinjaman uang kemana.


"Alhamdulillah, lancar, Bu" putus Raksa berbohong.


Mungkin feeling ibu kepada anaknya. Dayu bisa melihat kebohongan itu dimata putranya. Dayu tahu sifat Raksa. Anak itu tidak pandai dalam berbohong. Namun, dirinya memaklumi. Dayu percaya putranya bisa mengatasi masalahnya. Dirinya tidak akan menuntut, melainkan menunggu Raksa sendiri yang mau bercerita. Dayu tersenyum, Raksa nya kini tumbuh menjadi laki laki dewasa. Dirinya bersyukur memiliki putra seperti Raksa. Sekelebat rasa sesak menyelinap masuk mengingat dulu, keluarga bahkan suaminya sendiri bersikeras menggugurkan kandungannya. Mungkin suatu saat nanti, Raksa akan tahu semuanya. Biarlah waktu yang berperan, untuk sekarang Dayu belum siap menceritakannya. Tapi nanti, cepat atau lambat semua pasti akan terbongkar.


Diusapnya pundak milik Raksa seolah menguatkan. Jika sudah bersama ibunya, Raksa akan bersikap manja seperti anak usia lima tahun. Dipeluknya sang ibu erat. Menyalurkan segala keluh kesahnya seharian. Ibu adalah sosok wanita yang mudah dicintai anaknya. Sifatnya yang sabar dan pengertian ternyata menurun ke Raksa, anak semata wayangnya.


"Ibu percaya, Raksa bisa" kata ibu menyemangati. Raksa tersenyum, mencium pipi ibunya. Meski berusia sekitar kepala 4, ibunya masih terlihat cantik dan awet muda.


Laki laki itu mengangguk, "Raksa sayang ibu, sehat terus ya, Bu. Tunggu Raksa sukses, nanti Raksa buatin istana yang mewah buat ibu".

__ADS_1


Dayu terkekeh mendengarnya, diusapnya kepala putranya sayang. "Ibu cuman minta kamu bahagia, sesulit apapun keadaanmu nanti, sempatkan lah untuk selalu bersyukur dan bahagia ya, Sa"


"Karena bahagia itu, diri sendiri yang buat"


Dipeluknya tubuh ibunya erat. Dari beliau, Raksa mendapat banyak pelajaran hidup. Dari beliau pula karakter Raksa terbentuk.


.........


Pagi ini terasa begitu melelahkan, rasanya butuh sehari penuh untuk Ralin bergelung dengan bantal dan gulingnya. Alarm disampingnya pun berkali kali dimatikan karena mengganggu tidurnya. Merasa kesal, tak tanggung tanggung Ralin membantingnya. Kebiasaannya melempar barang ketika kesal memang tidak diragukan lagi. Bahkan ponselnya saja sering bergonta ganti, bukan karena bosan, melainkan rusak tak berbentuk.


Baru saja berganti posisi nyaman, suara menggelegar sahabatnya mengusik tidur paginya. Tak bisakah sehari saja, Ralin memiliki waktu sendiri?.


Hari ini hari minggu, tak bisakah dirinya libur sehari saja? bahkan dihari libur pun, dirinya tetap dituntut pekerjaan.


"Bangun pemalas! Ada banyak kontrak yang harus lo tanda tangani. Sekarang bukan waktunya untuk bermalas malasan"


Andini Araya, manager sekaligus sahabatnya. Wanita cantik dan cerewet itu seperti kakak bagi dirinya. Semarah apapun Ralin padanya, tak akan lebih dari satu hari untuk Ralin mendiamkannya. Andini sangat mengerti bagaimana sahabatnya itu. Seburuk apapun sikapnya, wanita itu tetaplah wanita rapuh yang butuh kasih sayang. Didepan semua orang, Ralin bisa terlihat kuat, tetapi bersamanya, wanita arrogant itu akan berubah menjadi dirinya sendiri. Ralin hanya akan menangis ketika sendiri ataupun bersamanya. Sahabatnya itu terlalu hebat perihal menyembunyikan luka.


"Tiga puluh menit, gue tunggu dibawah" Ralinka menggerutu mendengarnya. Selain pengatur, wanita cerewet itu juga semaunya sendiri, batinnya penuh makian.


"Bener bener sialan, lo, Ndin!" makinya yang bisa didengar Andini dari sana. Andini hanya terkekeh mendengarnya. Sudah biasa.


Pembicaraan berlanjut dimobil, dengan setumpuk berkas yang harus Ralinka tanda tangani. Matanya tertarik melihat satu berkas yang menawarinya kontrak untuk menjadi model dalam pembuatan video musik yang sedang populer tahun ini.


Tanpa sengaja sekelibat percakapan kemarin sore dengan laki laki bernama Raksa itu memenuhi pikiran Ralin. Sebenarnya laki laki seperti Raksa bukanlah tipenya. Ralin lebih menyukai laki laki yang keren ketimbang laki laki yang tidak modis seperti dirinya.


"Raksa, si manusia kaku" gumamnya asal.


Meski begitu, Raksa dan kepribadiannya, Ralin suka.

__ADS_1


.........


Siang ini, Raksa memutuskan untuk mencari pekerjaan tambahan. Mencari pekerjaan dijaman sekarang susah. Apalagi kalau cuma modal ijazah SMA. Ditolak sana sini tak membuat Raksa patah semangat. Mau bagaimana lagi, dirinya harus segera melunasi hutang lensanya kepada Pak Brata, atasannya.


Istirahat sejenak, ditemani secangkir kopi susu dingin yang menyegarkan pikirannya. Disinilah Raksa melangkahkan kakinya. Kedai kopi milik temannya, Andre. Suasana vintage memberikan kenyamanan tersendiri bagi para penikmatnya.


"Tumben lo, serapi ini, Sa, darimana?" tanya Andre meneliti penampilan Raksa yang terlihat berbeda.


"Aku nyari kerja tambahan, Ndre. Dari pagi sampai siang masih sama. Tetap aja ditolak. Kamu kan tahu, aku cuman lulus SMA. Makin sulit saingannya" ada senyuman diakhir kalimatnya.


Raksa masih sama seperti dulu. Laki laki itu begitu sopan dan kaku. Meski begitu Andre tak mempermasalahkan hal itu. Mungkin bagi sebagian orang, Raksa akan terlihat membosankan, tetapi bagi Andre, Raksa akan terlihat berbeda dari yang lain. Dari laki laki itu, Andre mendapat banyak pelajaran hidup. Raksa adalah sosok teman yang sangat bisa diandalkan, setidaknya saat ia berada dititik terendah. Andre tak akan lupa itu. Mungkin ini saatnya membalas kebaikan Raksa selama ini. Lagi pula bantuan kecil tak akan merugikannya, bukan?.


"Tumben kedai kopimu sepi, biasanya ramai?" tanya Raksa heran. Tak biasanya kedai kopi milik temannya itu sepi.


"Sabtu, Minggu, disini buka jam lima sore nanti sampai tengah malam. Lo, nggak lihat tuh papan disana?" jelasnya, membuat Raksa memalingkan wajah kearah yang ditunjuk.


Bagaimana bisa dirinya tak melihat tulisan sejelas itu? tangannya bergerak mengusap tengkuk yang tak gatal itu.


"Gimana kalo lo, bantu gue kerja disini? jadi barista, nanti gue ajarin, dan soal gaji kita bisa bahas nanti, yang penting lo setuju dulu, gimana?" tanya Andre, yang langsung disambut respon antusias Raksa.


Andre bisa melihat kebahagiaan itu disorot matanya. Andre rasa, Raksa begitu membutuhkan pekerjaan ini. Andre senang melihat teman baiknya bahagia.


"Kamu serius, Ndre?" laki laki yang ditanya mengangguk mantap.


"Kebahagiaan lo, kebahagiaan gue, Sa. Santai aja" dirangkulnya pundak Raksa berusaha menyemangati.


"Thank's bro"


Andre terkekeh mendengarnya. "Kayaknya lo harus belajar pakai logat lo gue deh, Sa. Biar nggak kaku kaku banget"

__ADS_1


__ADS_2