
Malam ini suasana rumah terasa begitu menyenangkan. Tadi siang, Ralin mendapat telepon bahwa kakeknya akan pulang dari Eropa. Pria paruh baya yang sangat Ralin cintai. Rusman, kakeknya, yang saat ini tengah menikmati makan malam mereka dengan penuh kebahagiaan.
Rasa rindunya pada sang kakek seolah terbayarkan dengan makan malam mewah ini. Keduanya saling mengobrol seakan tak pernah kehabisan topik pembicaraan. Percakapan sederhana yang sering mereka lakukan sebelum perjalanan bisnis kakeknya ke Eropa. Ralin bersyukur masih memiliki keluarga yang begitu menyayanginya. Dirinya sangat mencintai pria tua itu. Apapun akan Ralin lakukan demi membahagiakan kakeknya.
Diletakkannya sendok dan garpu pada posisi telungkup diatas piring. Rusman telah selesai dengan makannya.
"Boleh kakek minta waktu kamu besok?Ada hal penting yang ingin kakek bicarakan" tanya Rusman.
Ralinka mengangguk, "Boleh kek, memangnya ada apa?"
Rusman tersenyum melihat kesopanan cucu perempuannya yang dirinya rawat dan jaga sedari kecil. Ralin, anak itu tumbuh menjadi seorang wanita cantik dengan sikap yang begitu persis seperti dirinya, tangguh dan keras kepala.
"Kamu ingat Setta? Turangga Setta?" Rusman mengalihkan pembicaraan.
Ralin mengernyitkan dahinya bingung. Bisa dirinya tebak ada maksud lain ketika kakeknya menanyakan laki laki itu. Setta adalah sahabat kecilnya dulu. Hubungan mereka hanya sebatas teman, tidak ada yang spesial.
Ralin diam tak menanggapi. Tenggorokannya terasa kering ketika mengetahui kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut.
"Kakek ingin kamu menikah dengannya" Benar saja dugaan Ralin. Hal ini pasti akan terjadi.
Ralin tidak terkejut, hanya saja dirinya tak bisa menerima hal ini. Ralin hanya akan menikah satu kali, dan hal itu hanya akan dilakukannya dengan pria yang Ralin cintai.
"Ralin tidak bisa, kek. Ada laki laki lain yang Ralin cintai"
Setta memang laki laki yang baik. Ada banyak alasan untuk mencintai laki laki itu. Bahkan jika dibandingkan dengan Raksa, Setta jauh lebih baik darinya. Namun, dari banyaknya alasan untuk mencintai seorang Turangga Setta, Ralin malah jatuh kedalam kesederhanaan seorang laki laki seperti Raksa Anggara.
Seberapa lama kedekatannya dengan Setta, nyatanya tak akan bisa mengubah status pertemanan mereka. Ralin hanya menganggap Setta sebagai seorang sahabat, tidak lebih.
Ralin pikir kakeknya akan marah, justru sebaliknya. Rusman diam tak mendebatnya.
"Siapa laki laki itu?" tanya Rusman tenang.
"Namanya, Raksa Anggara"
Sebenarnya Ralin begitu gugup saat ini. Dirinya takut, Rusman tidak menyetujui hubungan mereka. Berbagai macam pikiran buruk terlintas dalam pemikirannya. Sebisa mungkin, Ralin menutupi kegelisahannya. Ralin tak ingin kakeknya akan menekannya lagi seperti dulu.
"Besok jam delapan pagi, bawa laki laki itu menemui kakek. Kakek ingin bicara" Awalnya Ralin ragu, namun setelah melihat senyuman Rusman yang begitu tulus. Seolah meyakinkan dirinya. Ralin mengangguk, menyetujui.
"Kakek hanya ingin kamu bahagia"
Dipeluknya Rusman dengan begitu erat. Entah kenapa, hatinya begitu bahagia. Baru kali ini, kakeknya mendukung keputusannya. Sikap pengatur pria paruh baya itu, hilang entah kemana. Mungkin, Rusman telah sadar, bahwa dirinya tak bisa memaksakan segala sesuatunya kepada Ralin.
__ADS_1
........................
Pagi pagi sekali Ralin datang ke rumah Raksa. Hari ini tidak ada jadwal pemotretan, jadi Ralin bisa bebas menikmati waktunya sehari penuh.
Tadi sebelum kemari, Ralin sempat meminta nomor atasan Raksa kepada informannya. Ralin meminta kepada Subrata, supaya Raksa diizinkan libur hari ini. Bukan hal yang sulit untuk Ralin agar mendapatkan keinginannya. Mengingat Subrata, adalah laki laki yang takluk akan kekuasaan. Sejujurnya, Ralin tak sudi berbicara dengan Subrata, mengingat perlakuan pria itu kepada Raksa. Jika bukan karena Raksa, dapat Ralin pastikan, Subrata akan hancur karena perbuatan buruknya yang senang merendahkan seseorang. Manusia rendahan seperti Subrata, akan sangat mudah Ralin hancurkan jika dirinya mau.
Ralin menunggu laki laki itu selesai mandi. Tak lama kemudian, Raksa keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya, menunjukkan bagian tubuhnya terutama perut yang cukup terbentuk, karena Raksa beberapa kali berolahraga.
Laki laki itu terkejut melihat kedatangan Ralin pagi pagi buta seperti ini. Pasalnya, dirinya harus mengantar ibunya dan pergi bekerja. Raksa tahu kedatangan Ralin pasti ingin meminta waktunya. Tapi sungguh, Raksa tak bisa memberinya, Raksa harus bekerja.
"Aku suka"
Raksa mengernyit, "Apa?" tanyanya bingung.
Ralin mendekat, diusapnya bagian perut Raksa yang begitu menggiurkan. Buru buru, disingkirkannya tangan mungil itu dari tubuh Raksa. Laki laki itu tampak gugup setengah mati merasakan sentuhan tangan Ralin pada bagian tubuhnya. Ditepisnya pikiran pikiran kotornya yang muncul karena perlakuan wanita itu. Raksa tidak boleh terpancing.
"Ada apa kesini, Ra?"
"Kangen kamu"
"Aku nggak punya waktu buat nemenin kamu. Aku harus ngantar ibu dan berangkat kerja" kata Raksa memberi alasan.
Raksa melotot dibuatnya. Bagaimana bisa Ralin tahu atasannya? Lagipula, apa yang membuat Ralin meminta dirinya untuk bolos bekerja?.
"Jangan macem macem deh, Ra! Kamu nggak bisa nyuruh aku bolos kerja buat nemenin kamu seharian. Kamu nggak bisa bersikap semaunya. Kamu tahu, ini nggak lucu" Raksa sedikit kesal karena Ralin mulai bersikap semaunya sendiri, tanpa bertanya kepada Raksa, apakah dirinya setuju atau tidak.
"Aku bisa, Sa"
Raksa mengalihkan pandangannya menjauhi manik mata Ralin. Jika sudah seperti ini, hanya akan tersisa Ralin dan kepribadiannya yang keras kepala dan pemaksa.
"Kakek aku ingin bertemu kamu" Perkataan Ralin, sontak membuat Raksa menatapnya penuh tanya. Raksa tak tahu harus berekspresi seperti apa.
"Ada apa?"
"Temuin aja dulu. Kenapa? Kamu takut?" tanya Ralin meremehkan.
Raksa menggeleng, bukannya takut, Raksa hanya gugup harus bersikap seperti apa nantinya. Hubungannya dengan Ralin baru beberapa minggu. Bahkan Raksa belum yakin untuk berbicara mengenai hubungan mereka kepada kakek Ralin.
"Udah sana pakai baju. Jangan bikin aku pengen nerkam kamu, ya, Sa!"
Raksa terkekeh geli, Ralin memang senang berbicara sesukanya. Mulut wanita itu benar benar tidak bisa dikontrol.
__ADS_1
"Iya" jawabanya singkat, lalu masuk ke dalam kamar.
Sekitar sepuluh menit Ralin menunggunya. Raksa keluar dengan celana jeans dan kaos hitam polos yang membuat laki laki itu terlihat lebih tampan.
Percayalah laki laki berkaos hitam, akan terlihat lebih menawan. Entah kenapa. Hanya saja pesonanya akan dua kali lipat lebih tampan dari biasanya.
"Aku antar ibu sebentar ya, Ra" kata Raksa mengambil helm.
"Bareng aja sekalian. Aku bawa mobil. Nggak usah sungkan. Aku nggak suka"
Diantarkannya Dayu ke tempat kerja, setelahnya keduanya bergegas menemui Rusman di kantornya. Beruntung perusahaan kakeknya itu, berada tak jauh dari sini.
Ralin menggenggam erat kepalan tangan Raksa ketika keduannya sampai didepan pintu ruangan kakeknya. Ralin meyakinkan laki laki itu supaya lebih percaya diri. Ralin tahu, Raksa gugup dan ragu. Sebisa mungkin wanita itu menenangkannya.
Rusman menunggu dari sana. Pembawaannya yang tegas dan dingin membuat lawan bicaranya sedikit canggung. Raksa percaya dirinya bisa. Lagipula, kata Ralin, kakeknya adalah orang baik. Raksa meyakinkan dirinya sendiri agar lebih percaya diri.
Dikecupnya tangan Rusman dengan begitu sopan. Raksa selalu menjaga sikapnya kepada orang yang lebih tua darinya.
"Kamu, Raksa Anggara? Laki laki yang dicintai Ralinka, cucu saya?" tanya Rusman menepuk bahunya dengan senyuman yang mengembang dari sudut bibirnya.
Raksa mengangguk kaku, "Iya, kek. Saya Raksa" jawabnya, seraya memperkenalkan diri.
"Seberapa dekat kalian?"
"Kami baru dekat beberapa minggu, kek" jawab Raksa jujur.
"Apa pekerjaanmu?" tanya Rusman yang membuat Raksa sedikit merasa direndahkan.
"Saya fotografer merangkap barista caffe" Tak ada yang Raksa tutupi dari pekerjaannya. Baginya, apa yang Raksa kerjakan halal, untuk apa dirinya malu?
"Langsung saja ke intinya. Saya ingin kamu bergabung di perusahaan saya. Saya akan memberikan jabatan yang menarik untuk kamu. Saya ingin cucu saya bahagia"
Perkataan Rusman membuat Ralin tampak senang atas penawarannya, sedangkan Raksa sedikit bertanya tanya atas penawaran itu. Raksa seolah tak bisa sepenuhnya percaya pada niat baik kakek Ralin. Entah kenapa firasatnya sedikit tidak enak.
Beberapa lama mengobrol, keduanya akhirnya pamit pulang. Ralin berkali kali mengucapkan terimakasih kepada Rusman, karena kakeknya itu merestui hubungannya dengan Raksa. Bahkan Rusman berniat untuk membantu karir Raksa.
Tadi sebelum keluar, Rusman sempat membisikkan sesuatu ke telinga Raksa, membuat laki laki itu mengepalkan kedua tangannya marah.
"Jadi, kapan kamu akan menjauhi cucu saya?"
Semua penawaran yang Rusman berikan tadi didepan Ralin, nyatanya adalah cara menjatuhkan harga diri Raksa. Dihadapan Ralin, Rusman hanya bersandiwara.
__ADS_1