
Malam ini suasana kedai kopi milik Andre begitu ramai, sehingga membuatnya harus terlambat dengan acara makan malam sederhananya dengan ibunya. Raksa sedikit menekan egonya, ini sudah menjadi tanggung jawabnya. Apa yang dimulai harus diselesaikan. Cepat cepat dirinya menyelesaikan pekerjaannya. Tangannya bergerak dengan cekatan membuatkan pesanan kopi susu terakhirnya.
Sekitar pukul sembilan malam, Raksa baru pulang dari pekerjaannya. Andre menyuruhnya membawa satu kotak pizza yang beberapa menit lalu diordernya melalui aplikasi. Hitung hitung bonus lemburnya kata Andre menimpali.
Tak menunggu lama Raksa membawa motornya ke tempat kerja ibunya, pasti beliau sudah menunggu lama. Raksa diselimuti rasa bersalah, padahal dirinya sudah berjanji untuk tidak terlambat pulang. Ibunya pasti kecewa.
Raksa mengernyitkan dahinya bingung, ketika beberapa detik lalu dirinya sampai, dan mendapati Pak Maman yang telah menutup rumah makannya.
"Ibumu sudah pulang sedari tadi, Sa. Beliau diantar oleh wanita yang kemarin sakit" jelasnya, Raksa mengerti siapa wanita yang dimaksud Pak Maman.
"Raksa banyak kerjaan, Pak. Sampai terlambat jemput ibu. Yasudah kalau begitu, Raksa pamit, Pak. Terimakasih sudah memberitahu" pamitnya mencium tangan Pak Maman.
Dalam pikirannya, Raksa sempat mengira ngira, bagaimana bisa ibunya bersama Ralin? seingatnya mereka tidak sedekat itu kemarin. Mungkin wanita itu bersikap baik karena kemarin ibunya menolong wanita itu.
Anggap saja balas budi, pikir Raksa menjawab pertanyaannya sendiri.
Jalan dari tempat kerja ibunya ke rumah, tidak lah jauh, sehingga tak sampai 15 menit, Raksa sudah tiba disana, dengan tangan kirinya yang membawa sebungkus kotak pizza dan tangan kanannya yang mengetuk pintu, diiringi salam. Matanya sedikit menelisik ke arah samping, melihat mobil hitam mewah terparkir disana. Wanita itu masih disini?.
Dari dalam Raksa mendengar balasan dari salamnya tadi. Disana terlihat Dayu yang sedang menata piring untuk makan malam bersama wanita disampingnya. Ternyata ibunya menunggu dirinya. Raksa semakin merasa bersalah ketika Dayu menyuruhnya duduk untuk makan.
"Raksa mandi dulu, Buk. Biar segeran"
"Jangan lama lama, ibu dan mbak Ralin menunggu kamu" kata Dayu mengelus lengan Raksa. Kemudian laki laki itu mengangguk patuh.
Beberapa menit sembari menunggu Raksa mandi, Dayu dan Ralinka saling mengobrol dengan segala topik yang entah darimana selalu nyambung. Mereka sudah seperti ibu dan anak. Sedari tadi tak habis habis Ralin tersenyum begitu tulus menanggapi perkataan Dayu yang terlihat humoris.
Rasanya rumah sekecil ini dengan orang tua seperti ibu Raksa, akan terasa sangat menyenangkan bagi Ralin. Dirinya baru menyadari bahwa kebahagiaan tak melulu soal materi, namun kasih sayang dan perhatian yang tulus akan jauh lebih menyenangkan dari apapun itu. Dan hatinya mencelos mengingat apa yang dirinya inginkan adalah apa yang tak pernah dirinya dapatkan.
__ADS_1
Raksa bergabung dengan kedua wanita didepan dan samping nya. Membawa kotak pizza yang tadi diberikan Andre. Ralin dapat mencium aroma maskulin bercampur sabun bekas mandi laki laki itu. Rasanya segar dan menenangkan. Pikiran Ralin terasa tenang hanya dengan Raksa didekatnya.
"Maaf, Bu. Raksa ingkar janji. Banyak pekerjaan yang harus Raksa selesaikan, sampai terlambat menjemput ibu" katanya menyesali. Dayu mengacuhkannya.
"Lain kali kalau belum pasti, jangan mudah memberi janji, Sa" tutur Dayu memperingati. Raksa mengangguk dengan kepala menunduk merasa bersalah.
"Yasudah, ayo dimakan, keburu dingin"
Makan malam ini memang terlihat sederhana, tetapi dari sudut pandang Ralin, dirinya seperti melihat sebuah keluarga kecil dengan banyak kebahagiaan disini.
Selama makan, tak ada satu dari mereka pun yang berbicara karena pada dasarnya, adab makan tidak dibaik sambil bicara. Namun, setelahnya suara Dayu menginterupsi.
"Biar ibu selesaikan pekerjaan didapur, sekalian cuci piring. Kalian lanjut mengobrol saja"
"Nanti biar Raksa yang cuci pakaian, Bu. Setelah ini ibu istirahat saja. Raksa nggak mau ibu kecapekan" Dayu tersenyum dengan memberikan jempol sebelah kanannya, membuat Raksa dan Ralin terkekeh secara bersamaan.
Sepeninggalan Dayu ke dapur, Ralin masih menatap Raksa yang menenggak segelas air putih. Dilihatnya jakun itu naik turun. Entah kenapa, apapun soal Raksa, Ralin begitu menikmatinya.
"Kok ibu bisa sama kamu?" tanya Raksa tenang.
"Tadi aku mampir ke rumah makan Pak Maman, Terus nggak sengaja lihat ibu sedang menunggu disana. Dia bilang mau pulang, tapi kamu lama nggak datang. Akhirnya aku antar ibu pulang"
Raksa kaget mendengar nada bicara Ralin yang begitu tenang, terlebih sikapnya yang jauh lebih manis. Tak ada lagi logat lo-gue, tapi berubah menjadi aku-kamu. Meski begitu Raksa tak mempermasalahkannya.
Ralin yang sadar dengan keterkejutan Raksa dengan nada bicaranya yang berubah drastis, akhirnya memilih menyuarakan pikirannya.
"Kamu keberatan?" bukan untuk penjelasannya tentang dirinya yang mengantar ibu Raksa, tetapi untuk logat yang diubahnya menjadi aku-kamu.
__ADS_1
Raksa menggeleng kecil, "Nggak, Ra".
Membuat Ralin terkekeh geli mendengarnya, padahal tak ada yang lucu. Entahlah. Ada saja alasan untuk Ralin tersenyum didekat laki laki ini.
"Kamu kerja apa kok pulangnya selarut ini?"tanya Ralin mengamati alis Raksa yang tebal. Setiap inci pada wajah Raksa tak lepas dari penglihatan wanita itu.
"Asisten kamera di Fireflies, sekalian cari pekerjaan tambahan kerja di kedai kopi punya temanku, terus sabtu minggunya kerja distudio foto teman kerjaku" jelas Raksa membuat Ralin menautkan kedua alisnya prihatin, karena Raksa begitu keras dalam bekerja.
Ralin tahu alasan Raksa memilih seperti ini, semua karena tanggung jawab laki laki itu untuk mengganti kerugian kamera waktu itu. Ralin memilih bertanya tentang dimana tempat Raksa bekerja.
"Dimana kedai kopinya?"
"Jalan Antariksa depan Indomaret point, nggak jauh kok dari sini, kenapa?" tanya balik Raksa.
"Besok aku mampir, selesai pemotretan" senyumnya merekah, mendapati Raksa mengangguk mengiyakan. Ralin senang dengan pembawaan Raksa yang tenang, belum pernah Ralin bertemu dengan laki laki seperti Raksa. Laki laki berhati tulus dengan sejuta pesona dalam kesederhanaannya. Meski begitu, Ralin mengakui bahwa Raksa cukup tampan, meski tubuhnya sedikit kurus.
"Kamu model?"tanya Raksa
Ralin mengangguk tak begitu menanggapi pertanyaan Raksa, entah kenapa Ralin hanya ingin tahu soal Raksa, bukan menjelaskan siapa dirinya.
"Pantas saja, pakaianmu selalu terbuka seperti ini" sambungnya sama sekali tak bermaksud menyinggung wanita dihadapannya.
"Kamu nggak suka?"
"Bukan begitu, cuma sedikit risih saja lihatnya, maaf kalau kamu tersinggung. Aku nggak bermaksud mengomentari pakaian kamu. Kamu bebas berpakaian seperti apa, karena itu hak mu" ucap Raksa menyesali perkataannya beberapa detik lalu.
Ralin terkekeh dirinya tak mempermasalahkan hal itu. Ralin tahu maksud Raksa tidak seperti itu. Entah apa yang mendorongnya, Ralin merasa percaya pada setiap kata yang terucap dari mulut laki laki itu.
__ADS_1
"Iya, Raksa, nggak masalah"
Raksa mengangguk seperti anak anjing. Imut sekali ekspresi wajahnya ketika merasa bersalah, dan Ralin begitu menyukainya.