Cinta Laki Laki Biasa

Cinta Laki Laki Biasa
Kesal tapi khawatir


__ADS_3

Sebelum petang, Ralin pamit pulang duluan. Dirinya harus mengantar Andini pulang, karena dirinya juga yang menyeret Andini untuk ikut bersamanya demi datang ke kedai kopi milik Andre, ralat supaya dirinya bisa bertemu Raksa. Akhir akhir ini, ada saja alasan wanita itu, hanya untuk bertemu dengan Raksa.


Beberapa saat setelahnya, Raksa kembali bekerja, karena sebentar lagi pekerjaannya selesai. hari ini hari biasa, jadi setelah magrib, Raksa bisa pulang untuk menjemput ibunya.


Andre mengejarnya ke parkiran, laki laki itu menyelipkan sebuah amplop berwarna coklat ke dalam genggaman tangan Raksa. Tidak tebal, namun cukup berisi.


"Bonus buat, lo. Tenang aja yang lain juga dapet. Gue bukan orang yang pilih kasih" kata Andre bercanda. Laki laki itu tahu bahwa Raksa pasti akan menanyakan untuk apa uang itu diberikan kepadanya. Andre tahu, Raksa tidak akan menerima uang dengan cuma cuma. Apalagi karena belas kasihan. Raksa akan marah jika diperlakukan seperti itu.


Raksa terkekeh dengan ucapan terimakasih. Andre sengaja melebihi bonus untuk Raksa, karena niatnya sedari awal hanya untuk membantu Raksa. Seringkali Raksa menyimpan uang makan siangnya dengan alasan dirinya tidak lapar. Padahal beberapa kali Andre melihat wajah pucat Raksa yang terlihat lemas karena belum makan. Raksa hanya fokus menabung agar uang ganti ruginya segera terkumpul.


Raksa tidak pernah menceritakan masalahnya kepada siapa pun. Laki laki itu lebih memilih diam dan menyelesaikan segala sesuatunya sendirian. Tak banyak orang yang bisa mengerti dirinya. Diamnya laki laki itu adalah puncak kelelahannya. Entahlah, Raksa bukanlah orang yang mudah mengekspresikan sesuatu. Meski begitu ketika senang, laki laki itu akan sedikit tersenyum simpul.


..................


Sepiring nasi goreng tergeletak mubazir setelah panggilan tak terjawab berulang kali dari nomor tidak dikenal yang Ralin tahu siapa itu, sungguh merusak suasana hatinya.


Tak berhenti disana, panggilan masuk kembali terdengar dari nomor yang sama. Ralin kesal dibuatnya. Tangan kanannya meraih ponsel berlogokan apple dibelakang sana, yang sekarang hancur dengan layar yang retak dan terpelanting jauh didepan sana. Segelas air putih membantunya melegakan nafasnya yang sempat memburu tadi, emosinya tiba tiba naik membuatnya tak segan untuk merusak apapun yang mempengaruhi suasana hatinya.


Ralin butuh udara segar. Diraihnya kunci mobil itu sedikit kasar. Emosinya naik saat ini, dan dirinya butuh Raksa sebagai penenangnya. Ralin belum sadar kalau lengannya berdarah karena tergores sesuatu saat mengambil kunci mobilnya tadi.


Baru saja sampai, matanya menyipit ketika melihat seorang wanita sedang mengobrol bersama Raksa. Sebisa mungkin Ralin menguasai dirinya sendiri. Jangan sampai dirinya kembali berapi api. Niat Ralin kemari untuk menenangkan diri dengan bertemu laki laki itu.


Ralin tersenyum ketika Raksa menoleh kearahnya. Sudah malam tetapi laki laki itu masih bersemangat mengobrol bersama seorang wanita yang Ralin pastikan dirinya tidak menyukai wanita itu. Meski tak suka, Ralin berusaha bersikap biasa saja.


"Malam" sapa Ralin tersenyum kepada Raksa, dirinya tidak mempedulikan keberadaan wanita disamping Raksa.


Raksa balas menyapanya. Laki laki itu terlihat lelah, tetapi memaksakan diri untuk meladeni tamunya malam malam begini. Apalagi udara di luar terasa cukup dingin dengan angin malam yang tidak bersahabat sama sekali. Ralin khawatir dengan kondisi laki laki itu.

__ADS_1


"Kenapa kesini malam malam?" tanya Raksa, mempersilakan Ralin duduk dididepan sana.


"Bosan dirumah" Ralin jadi malas bercerita saat menyadari tatapan kurang suka dari wanita dihadapannya.


"Ibu sudah tidur, kalau kamu datang untuk mencarinya"


"Aku cari kamu, bukan ibu" Raksa mengernyitkan dahinya. Ada perlu apa Ralin ingin menemuinya?. Raksa hanya mengangguk mengiyakan.


"Kenalin, Ra, ini temanku namanya Dania, dan ini Ralinka, dia model, Dan" kata Raksa saling memperkenalkan keduannya.


Setelahnya suasana semakin terasa canggung ketika Raksa memperkenalkan wanita itu pada dirinya. Ralin tahu niat laki laki itu hanya untuk mengenalkannya pada temannya, tapi hal itu malah memperkeruh suasana hati Ralin yang sedang tidak baik.


Ralin tersenyum penuh kepura puraan. Setelahnya seringaian itu tercetak jelas ketika tangannya merasakan remasan yang cukup kuat dari wanita bernama Dania itu. Ternyata wanita itu terang terangan mengajaknya berperang, tanpa sepengetahuan Raksa.


Parasnya yang tenang ternyata hanya kedok untuk menutupi kebuasannya. Ralin tersenyum menatap laki laki yang begitu lugu itu. Ralin tahu bahwa Raksa mudah untuk dikelabui. Laki laki itu selalu bersikap baik kepada semua orang, sampai dirinya tak sadar bahwa apa yang dilihatnya tidak seperti apa yang dipikirkannya. Jangan salahkan Ralin kalau wanita itu mudah membaca pikiran busuk seseorang.


Dania menuruti permintaannya. Ralin tahu, itu adalah bagian terdramatis dari rencana yang telah disusun si munafik Dania. Bersikap sebaik baiknya demi mendapatkan perhatian. Cih! rasanya Ralin ingin meludah tepat dimuka wanita itu.


"Jaga sikap kamu, Ra! dia temanku. Nggak sepantasnya kamu mengusir Dania" kata Raksa tak menyukai sikap Ralin terhadap temannya.


Ralin melipat kedua tangannya, dengan tubuh yang disenderkannya ke pilar. Wanita itu diam mendengarkan. Bahkan Raksa terperdaya akan sikap baik Dania yang begitu dibuat buat. Ralin terkekeh menyadarinya. Raksanya terlalu lugu, atau memang bodoh?.


"Kamu capek Raksa. Muka kamu pucet. Kamu butuh istirahat" kata Ralin berusaha tenang. Meski rasanya tangannya gatal ingin menyeret laki laki itu agar segera beristirahat.


Raksa mengerutkan kedua alisnya, bagaimana Ralin tahu dirinya begitu lelah saat ini?, sedangkan Dania saja tak menyadarinya sedari tadi. Raksa diam tak menanggapi lagi. Ralin begitu pintar memutar pembicaraan. Berdebat dengannya hanya akan menambah pusing dikepalanya.


"Kenapa diam?" tanya Ralin

__ADS_1


Raksa mengabaikan pertanyaan yang terdengar seperti sebuah sindiran itu. Ditariknya tangan Dania untuk pergi dari sana. Raksa meminta Dania untuk pulang. Laki laki itu meminta maaf karena tidak bisa mengantarkannya pulang. Sebagai gantinya, Raksa memesankan Dania ojek online lewat aplikasi, beruntung orderannya diterima dijam segini. Biasanya beberapa ojek online meminta untuk di cancel karena lokasi yang cukup jauh.


Sepeninggalan Dania yang beberapa menit lalu telah pulang, Raksa kembali. Dari sana, terlihat jelas bagaimana Ralin menatapnya marah. Wanita itu duduk dengan kedua tangan dilipat didepan dada. Sifatnya yang angkuh begitu menonjol. Tatapan matanya mengintimidasi lawan bicaranya.


"Kamu udah makan?" Ralin berusaha menekan emosinya. Kesehatan Raksa lebih utama.


"Udah, cuma telat makan aja tadi" jawab Raksa jujur.


"Kita ke dokter minta resep, sekalian surat izin kamu buat besok. Kamu butuh istirahat" Ralin benar benar tidak ingin dibantah, tetapi penolakan Raksa membuatnya kehilangan kesabaran.


"Memang siapa yang meminta persetujuan kamu? aku bilang ke dokter ya ke dokter. Jangan bikin aku marah, ya, Sa!" Ralin menatap nyalang kedua bola mata laki laki itu.


"Kamu nggak berhak buat maksa aku, Ra! aku nggak perlu ke dokter, dan besok aku tetap akan bekerja" kata Raksa tersulut.


"Kalau gitu, kita ke apotek beli obat" Ralin masih bersikeras untuk membelikan laki laki itu obat.


"Nggak perlu, Ra. Ibu punya cadangan obat obatan di dalam. Nanti aku minum" kata Raksa menjelaskan. Raksa tak tahu kenapa Ralin bisa sepeduli itu pada dirinya.


"Yaudah, sana ambil!" kata Ralin memerintah.


Raksa yang tak mau berdebat lagi, memilih mengambil beberapa obat dari kotak persediaan obat didalam sana. Dengan segelas air putih ditangan kanannya.


Ralin mengambil alih beberapa obat, lalu menjejalkannya sedikit kesal ke mulut Raksa. Raksa melotot dibuatnya. Tetapi obat itu langsung ditelannya, dengan bantuan air putih hangat yang dibawanya tadi.


Ralin merebut gelas air itu, diminumnya separuh air sisanya. Tepat dimana bibir Raksa menempel digelas itu barusan. Raksa menatapnya sedikit kebingungan.


"Aku haus, kamu nggak ngasih aku minum dari tadi" kata Ralin santai. Wanita itu menatapnya dengan senyuman kemenangan.

__ADS_1


Entah apa itu, Raksa masih sulit mengartikannya.


__ADS_2