Cinta Laki Laki Biasa

Cinta Laki Laki Biasa
Setuju?


__ADS_3

Sudah dua hari Raksa tidak bertemu Ralin sejak persyaratan konyol yang Ralin ajukan kemarin. Rasanya harga diri Raksa seperti dibeli olehnya. Hanya karena pekerjaan, Ralin bisa membayar perasaannya dengan uang. Perkara hati bukanlah hal yang mudah bagi Raksa.


Dulu, Raksa pernah dikhianati, sampai sekarang Raksa belum ingin membuka hati. Fokusnya hanya untuk bekerja. Raksa selalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Baginya cara melupakan rasa sakit adalah dengan bekerja, karena semakin sibuk dirinya, maka akan semakin tak ada waktu pula untuk memikirkan masalalunya.


Dua hari ini, Raksa berpikir keras. Apakah dirinya harus mulai membuka hatinya kembali? atau ini hanya sebatas pekerjaan? lagi pula Ralin adalah wanita yang baik, hanya terkadang banyak sifat buruknya yang Raksa tidak suka.


Lagi pula tidak ada salahnya untuk memulai segalanya dari awal. Ini juga untuk kemajuan karirnya. Raksa ingin berprogress.


Raksa mengatur nafasnya beberapa kali, laki laki itu memutuskan untuk menyetujui persyaratan yang diajukan oleh Ralin. Sekaligus mencoba membuka hatinya kembali.


Nanti sepulang bekerja, Raksa akan mampir ke rumah Ralin untuk kembali membicarakan mengenai pekerjaan tersebut. Raksa juga akan meminta maaf karena kemarin dirinya kalut dan bersikap kurang sopan terhadap wanita itu.


Raksa kembali ke mejanya untuk membuatkan pesanan kopi susu terakhirnya. Hari ini pulang lebih awal dari biasanya, karena beberapa menu telah habis. Ramainya pengunjung sejak siang tadi, cukup membuat para pekerja lainnya juga sedikit kewalahan, meski begitu mereka senang karena semakin cepat laris, semakin cepat pula mereka pulang.


Sebelum magrib, Raksa bergegas ke rumah Ralin. Namun sesampainya disana, Pak Khamim bilang, Ralin belum pulang, tetapi Raksa berusaha untuk menunggu wanita itu pulang.


Pak Khamim mengajaknya bermain karambol sembari menunggu majikannya pulang. Sebenarnya Pak Khamim merupakan orang yang asyik bila diajal mengobrol ataupun berteman. Hanya saja perbedaan usia mereka malah terlihat seperti bapak dan juga anaknya.


Larut dalam bermain karambol bersama Raksa, Pak Khamim terkejut ketika mendengar suara klakson mobil yang begitu berisik dibalik gerbang pintu itu. Pak Khamim baru sadar kalau yang datang adalah majikannya. Pria paruh baya itu merutuki dirinya sendiri membayangkan kemarahan Ralin setelah ini.


Ralin bukanlah orang yang mudah mentolerir kesalahan seseorang. Wanita itu begitu tegas dan teguh dalam pendiriannya. Meski begitu, wanita itu masih menjaga sopan santunnya terhadap orang yang lebih tua darinya.


Mobil itu terpakir indah digarasi, Raksa tahu Ralin melihatnya tadi, tapi kenapa wanita itu tidak menghiraukan keberadaannya?, apa wanita itu masih marah pada dirinya?.


Sebelum Ralin benar benar masuk dan mengunci pintu rumahnya, Raksa menarik tangannya. Menahannya untuk sekadar berbicara sebentar, dan setelah itu juga Raksa akan pulang jika diusir.


"Ra, aku mau ngomong masalah kemarin" pintanya menatap mata Ralin memohon. Raksa tahu, Ralin bukanlah gadis yang mudah luluh. Wanita itu cukup keras kepala dengan pemikirannya sendiri.

__ADS_1


"Apa? Kamu ninggalin aku, kemarin"katanya tenang, namun terdengar begitu dingin ditelinga Raksa. Ralin tidak suka dengan sikap Raksa yang dengan mudahnya pergi meninggalkan Ralin kemarin, tanpa sepatah katapun, waktu itu.


"Aku minta maaf soal itu"


"Aku nggak suka sikap kamu yang lari dari masalah, kamu tahu, kamu nggak lebih dari seorang pengecut kemarin" tutur Ralin yang begitu dingin. Setiap perkataannya mungkin akan mudah menyinggung perasaan orang lain.


"Iya, maaf" sesal Raksa.


"Aku nggak butuh maaf kamu, aku cuma butuh jawaban" disilangkannya kedua tangan Ralin, menantang laki laki dihadapannya.


Raksa menatapnya dalam diam. Laki laki itu mengatur nafasnya. Dirinya harus tenang dan bersikap sebaik mungkin. Raksa tak ingin ada emosi dalam penyelesaian masalah ini.


"Jujur, aku merasa direndahkan dengan persyaratan yang kamu ajukan kemarin. Kamu seperti membeli harga diriku, Ra. Mungkin aku akan setuju jika syarat lain yang kamu ajukan, tapi untuk hati, menurut aku itu bukan untuk dipermainkan" Raksa menjelaskan tentang pemikirannya beberapa hari ini. Hal itu begitu mengganggu konsentrasi Raksa ketika bekerja.


Ralin masih mendengarkannya. Wanita itu masih belum ingin membuka suara. Meski begitu, Ralin sama sekali tidak bermaksud mempermainkan perasaan Raksa atas dasar pekerjaan.


"Sudah lama aku menutup hati, tapi mungkin ini saatnya untuk sembuh dari luka lama. Aku akan mencobanya bersama kamu, Ra" sambungnya yang masih didengar Ralin.


"Aku tidak perlu dikasihani, Ra" raut ketidaksukaan itu terlihat jelas di wajah Raksa.


"Aku tidak mengasihanimu!. Aku mencintaimu, Raksa. Melihatmu direndahkan, membuatku marah. Hari itu aku kesal, melihatmu diam tidak melawan"


"Setelah hari itu, aku jadi sering memikirkanmu. Aku suka semangatmu bekerja, mengingatkanku dengan perjuanganku waktu awal karirku. Aku tidak peduli latar belakangmu. Selagi kamu bisa membuatku bahagia, itu sudah cukup bagiku"


"Aku semakin percaya kalau kamu adalah laki laki yang baik, Raksa. Kamu tidak kasar, kamu mau mengalah, kamu laki laki yang sopan dan perhatian, hati kamu begitu tulus. Kesederhanaan justru membuat mu semakin terlihat sempurna dimata aku. Aku yakin, aku mencintaimu, Raksa"


Ralin menghela nafas panjang, rasanya begitu melegakan setelah beberapa hari menutupi perasaannya sendiri.

__ADS_1


"Aku setuju dengan syarat yang kamu ajukan" jawab Raksa memutuskan. Laki laki itu tersentuh dengan pengakuan wanita dihadapanya. Raksa percaya wanita itu berkata jujur.


"Aku setuju kita pacaran, dan aku akan berusaha mencintai kamu semampu aku, Ra" sambungnya.


Ralin mencari kebohongan itu dimata Raksa, tetapi nihil, Raksa berkata jujur. Hal itu membuat Ralin lantas menyembunyikan kesenangannya. Ralin tak ingin Raksa besar kepala. Ralin ingin Raksa menyesal telah mengabaikannya kemarin. Tidak bertemu dengan laki laki itu selama dua hari membuatnya jadi uring uringan.


Ralin bahkan tak fokus bekerja karena sibuk memikirkan laki laki itu. Ralin ingin Raksa menggantikan dua harinya yang menyedihkan karena laki laki itu menghindarinya.


"Buktiin kalau begitu"


"Aku mau jalan berdua besok" sambungnya.


Raksa mengangguk mengiyakan. Wanita itu akan kesal jika kemauannya tidak terpenuhi. Raksa akan berusaha menyenangkan hati wanita yang kini berstatus sebagai kekasihnya.


Raksa diam ketika Ralin memeluknya begitu erat, wanita itu terlihat mungil dalam pelukannya. Raksa masih diam ketika Ralin menciumi dadanya, wanita itu mengendus ngendus dari sana. Membuat Raksa sedikit geli dengan sikap Ralin yang begitu agresif sekaligus kekanak kanakan.


"Kamu ngapain sih, Ra, ngendus ngendus gitu?" tanya Raksa dengan tawanya yang tidak dibuat buat.


"Aku suka bau kamu" kata Ralin jujur.


"Emang aku bau ya? Perasaan udah mandi tadi sebelum kesini" Raksa mengendus bajunya sendiri, memastikan apakah benar dirinya bau, seperti yang Ralin katakan.


Ralin tersenyum simpul menyadari bahwa Raksa salah mengartikan kata bau yang tadi diucapkannya.


"Aku suka wangi kamu, peluk aku, Sa!" dan Raksa menurutinya, laki laki itu memeluknya. Debaran jantungnya berdegup begitu kencang. Meski begitu, Ralin tak mendapati hal yang sama dalam diri Raksa. Hanya dirinya yang merasakannya, tetapi Raksa tidak. Ralin memakluminya, Raksa hanya butuh waktu untuk mencintainya suatu hari nanti. Dan Ralin akan menunggu sampai saat itu tiba.


"Cium aku, Sa!" kata Ralin semaunya.

__ADS_1


Raksa melotot dibuatnya, laki laki itu tak kunjung memberikannya ciuman, membuat Ralin cemberut dan merampas ciuman itu, langsung dari bibir Raksa.


Jika tidak diberi, Ralin bisa mengambilnya sendiri bukan?. Apa yang Ralin inginkan, pasti akan dirinya dapatkan. Dari awal memang begitu prinsip Ralin.


__ADS_2