Cinta Laki Laki Biasa

Cinta Laki Laki Biasa
Perhatian kecil


__ADS_3

Malam itu percakapan sederhana mereka berujung hingga larut malam, keduanya diam ketika suara Dayu menginterupsi dari arah kamar. Setelah selesai dengan pekerjaannya didapur, Dayu sempat istirahat sejenak tadi, tetapi suara Ralin dan Raksa sedikit mengganggu tidurnya.


Disinilah ibu satu anak itu, berada ditengah tengah dua anak muda yang sudah semakin dewasa. Dayu mengusap puncak kepala Ralin, memberikan perhatian yang sama dengan perhatiannya kepada Raksa.


"Sudah malam nak, sebaiknya kamu pulang. Biar Raksa yang antar. Nggak baik anak perawan pulang sendiri malam malam" Kata Dayu yang kemudian menoleh ke arah putranya.


"Ralin bawa mobil, Bu. Apalagi Raksa butuh istirahat. Ralin bisa pulang sendiri" katanya tak enak hati kepada Raksa.


Laki laki itu pasti lelah, karena seharian bekerja. Ralin hanya tak mau membebani Raksa. Apalagi jarak rumahnya dari sini cukup jauh.


"Memangnya kamu hafal arah jalan pulang? tadi saja hampir salah masuk gang" Dayu terkekeh mengingat kejadian magrib tadi.


Ralin meringis menahan malu, Dayu memang pandai memutar pembicaraan seseorang. Lain kali, Ralin harus belajar dengan beliau.


"Udah, biar aku yang antar, Ra."


"Sekalian ngambil jaket, yang tadi pagi nggak jadi kamu balikin" sambungnya, Ralin cemberut dibuatnya.


Ralin keluar sebentar, mengambil tasnya didalam mobil, kemudian keluar dengan kunci mobil ditangan kanannya. Sedangkan, Raksa mengambil kunci motornya dengan dua helm miliknya dan ibunya. Dipakaikannya helm ibunya ke kepala Ralin, dikunci hingga berbunyi "klik".


Keduanya berpamitan kepada Dayu, kemudian pergi meninggalkan pekarangan rumah Raksa yang tak besar itu. Kedua tangannya sedikit memeluk perut Raksa. Laki laki itu membiarkannya. Ralin tersenyum dari balik helm bogo milik ibunya Raksa.


"Raksa" panggil Ralin dengan kepala yang disandarkan dipundak kiri Raksa. Memposisikan dirinya senyaman mungkin disana.


"Iya"


"Boleh aku sering main ke rumah kamu?" tanyanya serius. Ralin ingin bertemu ibu Raksa setiap hari, Ralin ingin diperhatikan setiap waktu, Ralin ingin punya alasan untuk selalu tersenyum setiap saat, dan Ralin ingin bersama Raksa setiap detiknya.


"Boleh, Ra" Ralin tersenyum mendengar jawaban itu. Pelukan itu semakin erat.

__ADS_1


Raksa terkejut ketika Ralin reflek mencium lehernya. Setelahnya Raksa hanya berusaha fokus pada jalanan. Meski pikirannya kacau karena kecupan singkat dari Ralin dibagian lehernya. Rasanya aneh dan begitu membingungkan.


Lama dirundung kecanggungan, akhirnya mereka sampai digerbang rumah Ralin. Wanita itu segera turun dan meminta satpam rumahnya membukakan pintu gerbang.


Raksa masuk dengan menyapa Pak Khamim sopan. Baru saja terpukau dengan bentuk gerbang didepan rumah wanita itu, lagi lagi Raksa dibuat terkesima melihat betapa besar dan megahnya rumah bak istana ini. Rumah Ralin didominasi dengan kayu jati yang bisa Raksa bayangkan betapa mahalnya biaya yang harus dikeluarkan.


Ada banyak mobil mewah terparkir rapi digarasi bagian samping. Raksa tak pernah membayangkan untuk berada dilingkungan seperti ini. Raksa yakin, suatu saat nanti dirinya juga bisa membuatkan rumah bak istana untuk ibunya. Raksa hanya harus percaya itu.


Tanpa sadar tangannya telah berada dalam genggaman tangan lembut milik Ralinka. Diajaknya laki laki itu masuk ke dalam rumahnya. Namun, saat sampai didepan pintu, Raksa sungkan untuk masuk. Katanya cukup Ralin yang membawakan jaketnya keluar, karena Raksa harus segera pulang dan beristirahat.


Ralin tak suka ditolak, dipandanginya wajah Raksa datar. Memperlihatkan ketidak sukaannya. Sifat aslinya kembali lagi. Menyangkut Raksa, Ralin selalu ingin bersikap egois.


"Masuk, Raksa!" katanya menekan kalimatnya. Membuat Raksa mengernyitkan dahinya.


"Udah larut, Ra. Aku harus pulang" tolaknya


"Yaudah sana pulang!" usirnya datar.


"Aku minta jaket aku balik, udara malam dingin, Ra. Aku sengaja nggak pake jaket, karena aku pikir kamu akan mengembalikan jaketku"


Hati Ralin luluh, dirinya tidak tega membiarkan laki laki itu pulang dalam keadaan sakit. Apalagi besok Raksa harus kembali bekerja. Lagi pula Raksa sudah mengizinkan dirinya untuk sering berkunjung ke rumah laki laki itu.


Ralin masuk meninggalkan Raksa dengan tanda tanya besar dalam diri Raksa. Sebenarnya wanita itu kenapa?. Raksa tak pandai memahami keinginan seorang wanita.


Baru saja Raksa akan pergi dari sana, panggilan Ralin membuatnya berbalik. Ternyata Ralin masuk untuk mengambilkan jaket denimnya. Hampir saja Raksa berburuk sangka. Dirinya pikir, Ralin pergi begitu saja membiarkan Raksa pulang dalam kedinginan.


"Aku nggak sampai hati ngebiarin kamu sakit karena masalah jaket sialan ini" kata Ralin sarkasme.


Raksa melotot dibuatnya, bisa bisanya wanita itu mengatai jaketnya seperti barusan. Sudah tidak ada terimakasih, ditambah umpatan pula. Rasanya ingin sekali Raksa menguncir bibir wanita itu dengan tali ravia, supaya mulutnya tidak asal berbicara.

__ADS_1


"Siniin handphone kamu!" todongnya seperti perampok.


"Buat apa? nggak akan aku kasih" elak Raksa kesal.


"Siniin, Raksa! nggak usah berdebat deh. Biar kamu bisa cepat pulang dan cepat istirahat. Besok juga kamu masih harus kerja kan?" Ralin semakin gemas ketika dilihatnya Raksa malah diam tak bergeming.


"Aku yang ambil dari kantong celana kamu, atau kamu yang ngambil kasih ke aku?" Ralin malas berdebat.


Akhirnya Raksa memilih mengalah. Dirogohnya saku bagian samping kanan, kemudian diserahkannya benda pipih itu kepada wanita keras kepala dihadapannya. Raksa tak suka dipaksa, tapi mau bagaimana lagi? berdebat dengan Ralin bukanlah jalan yang mudah. Kepalanya saja rasanya pusing terus terusan meladeni wanita itu. Merasa tak punya pilihan lain, Raksa lebih baik mengalah.


Senyum Ralin mengembang setelah mengembalikan handphone itu kepada Raksa. Alis Raksa tertaut ketika melihat nama dan nomor wanita itu dikontaknya.


"Untuk apa? Apa nggak cukup kamu datang ke rumahku?"


"Kalau kalau aku rindu, biar gampang" sahutnya datar. Bagaimana bisa wanita itu mengatakan rindu dengan wajah sedatar itu?.


"Besok sore aku datang ke kedai kopi tempat kamu bekerja. Aku bawa Andini sekalian"


"Aku pulang, Ra" pamitnya tak menanggapi perkataan Ralin barusan. Ralin tahu, laki laki itu kesal karena sikapnya.


"Kalo nggak suka bilang aja, jangan diemin aku kayak begitu"


Raksa menatapnya jengah, yang ditatap malah cekikikan melepas tawa. Raksa menggeram ketika menyadari Ralin senang menguji kesabarannya.


Raksa memilih segera pergi dengan mengakhiri pembicaraan ini, sungguh, terlalu lama bersama Ralin membuat dirinya kehilangan kesabarannya. Entah kenapa, gadis itu selalu bisa memancing kekesalannya.


Raksa pergi dari halaman rumah Ralin setelah berpamitan kepada Pak Khamim. Ralin terkekeh mendengarnya. Dia rasa, Raksa benar benar kesal, mengingat hanya Pak Khamim yang disalami oleh laki laki itu.


Raksa dan kesopanannya, Ralin suka.

__ADS_1


Motor Raksa semakin jauh meninggalkan gerbang rumahnya. Meski laki laki itu sudah tidak disana, tetapi perasaan Ralin masih berdebar mengingat perkembangan kedekatannya dengan laki laki itu. Ralin akan memulai semuanya perlahan. Dirinya tak ingin menuntut Raksa perihal hati. Lagi pula, Ralin belum yakin, perasaan apa ini? mungkinkah dirinya kembali mencintai seseorang setelah trauma masalalunya? entahlah.


"Terimakasih, karena kamu, aku punya alasan untuk kembali tersenyum" gumamnya yang tak dapat didengar oleh laki laki itu.


__ADS_2