
Kemarin malam setelah mengantar Ralin pulang, Raksa bertemu Andini dijalan, wanita itu terlihat kebingungan mengotak atik mesin bagian depan mobilnya. Sepertinya mobil Andini mogok.
Ditepikannya motor metik milik Raksa ke seberang jalan dimana Andini berada. Raksa harus putar balik terlebih dahulu, karena arah mereka berlawanan.
"Dini" panggil Raksa, membuat sang empunya menoleh.
Andini mengingat Raksa. Laki laki itu yang menolong Ralinka waktu itu. Bisa kah Raksa menolongnya juga kali ini? harap Andini sedikit cemas.
"Mogok ya mobilnya?"
Andini mengangguk seperti anak anjing yang terlihat begitu manis. Sorot matanya terlihat lelah.
"Gimana ya, Din. Jujur aku kurang paham masalah mesin mobil" jawaban Raksa membuat Andini dongkol, dirinya pikir Raksa bisa membantu memperbaiki mobilnya. Nyatanya laki laki itu jujur dengan begitu lugunya.
"Aku antar pulang aja gimana? Udah larut malam, nggak baik perempuan malam malam begini masih diluar. Kamu bisa panggil orang bengkel buat ngambil mobil kamu nanti, yang penting kamu pulang dulu, istirahat"
Andini berpikir sejenak, memang benar apa kata Raksa, Andini butuh istirahat. Besok pagi dirinya harus meeting dan masih banyak lagi pekerjaan lainnya, jadi Andini harus segera pulang dan beristirahat.
"Iya deh, Sa. Sebelumnya makasih, ya" Andini tersenyum ramah.
Rumah Andini cukup jauh dari arah rumahnya, sebenarnya Raksa sedikit lupa dengan jalannya. Entah bagaimana nanti dirinya pulang.
Andini dan Ralinka sama sama terlahir dari keluarga yang serba ada, kemewahan sudah menjadi hal biasa bagi mereka, meski begitu keduanya sama sama tak mempermasalahkan status sosial mereka.
Awalnya Raksa ingin menolak tawaran Andini, tetapi wanita itu menariknya untuk masuk ke dalam. Satu kesamaan antara Andini dan Ralin adalah sifat pemaksanya. Meski Ralin lebih menjengkelkan.
"Aku buatin minum ya, Sa" kata Andini, bukan menawarkan, melainkan memaksanya minum.
Raksa menyerah, laki laki itu memilih mengiyakan. Meladeni Andini sama saja mengajak debat. Sepeninggalan Andini, Raksa mengedarkan pandangannya memperhatikan interior rumah Andini yang terlihat begitu nyaman dengan nuansa warna putih elegan. Disini Raksa merasa lebih rileks karena pantulan cahaya dari kolam renang beberapa kali menerobos sekat pembatas anatara ruang tamu dengan area kolam. Raksa terlalu larut menikmati suasana menenangkan ini.
__ADS_1
Hingga suara seorang anak kecil terdengar menggemaskan dari belakang sana.
"Mama Nini" panggilnya dengan boneka beruang besar yang diseret seret.
Raksa sedikit terkejut mendengar panggilan itu. Andini punya anak?, pikir Raksa kebingungan.
Gadis kecil itu mengamatinya heran, wajahnya mungil sekali, Raksa menyukainya. Laki laki itu menyukai anak kecil. Raksa mendekatinya. Anak itu luluh dengan sikap Raksa yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Nama kamu siapa?" tanya Raksa menggendongnya.
"Lily"
Raksa mengangguk, Lily menciumi seluruh wajah laki laki itu, membuat Raksa terkejut dengan tingkah si bocah lucu nan menggemaskan itu.
"Lily sayang papa" katanya sambil memeluk Raksa erat. Raksa sama sekali tidak keberatan diperlakukan seperti itu oleh Lily. Dirinya malah senang. Raksa adalah tipe laki laki penyayang anak.
Andini yang datang dengan dua gelas diatas nampan itu, mengerutkan alisnya bingung, bagaimana Lily bisa seakrab itu dengan Raksa. Bahkan Lily tidak semanja itu ketika bersama dengan dirinya.
"Lily takut Ma" gadis itu memeluk leher Raksa erat seolah tak ingin ditinggalkan.
"Takut apa,heumm? Kan ada mbak Tina yang jagain Lily" Andini mengambil alih Lily dari pangkuan Raksa.
"Mama Ana mau pergi" anak itu menangis.
Andini kaget mendengarnya. Kakaknya ingin pergi meninggalkan anak kandungnya? Atau bagaimana?.
Ya, Lily adalah anak dari kakak perempuannya bernama Ana. Sebenarnya Lily adalah anak yang tidak diinginkan oleh ayahnya sendiri. Anak diluar nikah. Ana mengandung anak pacarnya yang tidak bertanggung jawab. Wanita itu harus menanggung semua kesalahannya sendiri.
Dari kecil, Lily tinggal bersama Andini, gadis kecil itu menganggap Andini seperti ibunya sendiri. Ana menitipkan Lily padanya karena wanita itu harus bekerja untuk membiayai hidupnya dan anaknya. Meski tak diinginkan ayahnya, Lily masih diinginkan ibunya. Ana begitu menyayangi Lily. Sebagai seorang ibu, Ana sudah melakukan segala hal yang terbaik untuk anaknya.
__ADS_1
Andini menegur Ana yang keluar dari kamar dengan beberapa koper ditangannya.
"Mau kemana mbak?" tanya Andin khawatir. Lily yang berada digendongannya terlihat ingin menangis.
"Mbak mau pindah bersama Lily, Ndin" jelasnya
"Pindah kemana? Kenapa harus pindah?"
"Mbak mau memulai hidup baru bersama Lily, Ndin. Mbak ingin bangkit, mbak harus bisa jadi sosok ibu sekaligus ayah untuk Lily. Mbak sudah banyak merepotkan kamu. Terimakasih karena sudah membantu mbak selama ini. Kamu berhak bahagia, Ndin. Selama ini kamu yang selalu susah karena mbak. Sekarang mbak sudah bekerja, kamu kan tahu, mbak adalah seorang wanita karir yang bisa bangkit tanpa bantuan laki laki. Jadi, mbak memutuskan hidup seperti dulu. Ketika mbak menjadi wanita yang tegar dan kuat. Mbak melakukan semuanya demi Lily, tolong kamu hargai keputusan mbak, ya, Ndin"
Dibalik wanita yang kuat, ada hati yang begitu rapuh. Ada luka yang ditutup tawa, dan ada sakit yang tak bisa diceritakan.
Andini menangis, selama ini, dirinya lah saksi hidup kakak perempuannya itu. Dulu, Ana adalah seorang wanita yang tegas dan mandiri. Dari kakaknya lah, Andini belajar. Ana bukanlah wanita yang lemah. Hanya saja, setelah mencintai seseorang, dirinya menjadi begitu bodoh dan ceroboh. Hingga kejadian memalukan itu terjadi, Lily lah korban dari semua kesalahannya dimasa lalu. Anak tak berdosa itu harus menanggung semua kebencian yang orang orang tujukan.
Pernah Andini menangis ketika dirinya mendengar cacian tetangga yang mengatakan bahwa Lily adalah anak haram. Meskipun hal itu benar adanya, tetapi kenapa harus keponakannya yang menanggung semua ini?.
Andini hanya mengangguk sembari menyerahkan Lily ke pelukan ibu kandungnya.
"Kalau ada waktu, datang kesini ya mbak, bersama Lily, Andini bakalan rindu sama mbak dan Lily" tangisnya tumpah tetapi sesegera mungkin dirinya hapus, takut Lily melihatnya dan ikutan menangis.
Ana mengangguk, matanya memerah. Wanita itu berusaha tegar meski terlihat rapuh. Dari Ana, karakter Andini yang tegas dan kuat terbentuk, tetapi sisi buruknya, Andini menjadi trauma dengan yang namanya cinta. Dirinya tidak ingin berakhir seperti kakaknya.
Perpisahan itu diiringi tangis dalam diam. Keduanya sama sama tahu perasaan masing masing.
"Andini sayang sama mbak dan juga Lily. Jaga diri kalian baik baik ya, mbak. Andini yakin, mbak akan bahagia" Andini memeluk Ana sekaligus Lily. Dua wanita yang begitu Andini sayangi.
"Carilah laki laki yang tulus mencintaimu, karena pada dasarnya laki laki disegani karena kerja kerasnya, dihormati karena tanggung jawabnya, dan dihargai karena perlakuannya. Kamu tidak harus mempertahankan laki laki yang yang tidak memperjuangkan dirimu"
"Ingat pesan mbak ya, Ndin. Apapun masalahnya, kamu masih berhak untuk bahagia" sambungnya, menepuk bahu Andini.
__ADS_1
Setelahnya, Ana pergi bersama Lily meninggalkan Andini bersama Raksa disana. Laki laki itu diam seribu bahasa, tak tahu harus menanggapi apa ketika tatapan Ana meninggalkan ribuan pertanyaan dalam diri Raksa.