
Sepanjang perjalanan ke rumah Ralin, Raksa diam. Perkataan Rusman begitu mengganggu pikirannya. Raksa tak mungkin memberitahu wanita itu apa yang tadi kakeknya katakan. Raksa tak ingin hubungan Ralin dan keluarganya renggang karenanya. Lebih baik Raksa diam, dan mencari solusinya sendiri.
Raksa melihat bagaimana sayangnya Ralin kepada kakeknya. Tak sampai hati dirinya menghancurkan kebahagiaan Ralin. Wanita itu akan terpukul mendengar fakta bahwa kakeknya bukanlah orang yang seperti dirinya kira. Rusman pandai bersandiwara.
"Raksa, Kamu kenapa?" tanya Ralin memecah keheningan antara keduanya.
Ralin menyadari keterdiamannya. Sedari tadi, saat di kantor, bahkan sampai sekarang di rumah Ralin. Raksa masih diam tak bersuara. Ralin bingung melihat ekspresi Raksa yang sulit untuk ditebak. Ada banyak raut disana, kawatir, marah dan sedih terlihat dari sorot mata laki laki itu.
Raksa menggeleng dengan senyuman yang menyiratkan bahwa dirinya baik baik saja. Namun, Ralin tak bisa percaya.
"Kenapa kita kesini?" tanya Raksa, mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau quality time sama kamu"
"Emang kita mau ngapain dirumah kamu? Nggak ada orang lagi, sepi begini. Keluar aja, yuk, Ra! Kita cari makan" ajak Raksa sedikit risih dengan suasana sepi dirumah Ralin. Bukan apa apa, masalahnya Raksa laki laki normal, jika berada dalam satu ruangan bersama wanita seperti Ralin, tak menutup kemungkinan dirinya bisa khilaf. Raksa juga manusia biasa yang tidak luput dari dosa dan kesalahan manusiawi.
"Kamu mikir jorok?"
Raksa diam, dirinya tak tahu harus menjawab apa. Pertanyaan Ralin benar adanya. Pikiran Raksa sudah kemana mana sedari tadi.
"Iya, kamu pasti mikir jorok kan. Kamu tega berbuat yang enggak enggak sama aku?"
Lagi lagi Raksa diam, laki laki itu menenangkan pikirannya sendiri. Raksa mengatur nafasnya supaya lebih rileks.
"Kita masak aja, Ra. Dapur kamu sebelah mana?" pertanyaan Raksa membuatnya kesal, karena Raksa mengabaikannya tadi.
Namun, tak menutup kebahagiaan Ralin, melihat Raksa berusaha menekan hasratnya demi wanita yang dicintainya. Ralin percaya, Raksa bukan laki laki bejat yang mementingkan kepuasannya sendiri.
Ralin memperhatikan Raksa yang sibuk berkutat di dapurnya. Laki laki itu begitu telaten memotong bahan makanan yang akan dimasaknya.
"Kamu masak apa, Sa?" tanya Ralin penasaran.
"Bakmi jawa" sahutnya. Ralin mengernyit, dirinya belum pernah makan makanan itu.
"Jadi istri kamu, harus bisa masak sama pekerjaan rumah ya, Sa?"
__ADS_1
Raksa menggeleng kecil, "Enggak"
"Aku cari istri, bukan cari pembantu. Masalah masak sama pekerjaan rumah tangga, kita bisa saling bagi tugas, tapi kalo dia bisa ngerjain sendiri, ya, aku akan lebih senang, karena kodratnya seorang wanita itu bisa mengerjakan tugasnya sebagai seorang istri, mengurus suami, anak dan rumah tangga" jelas Raksa.
"Kok dia sih?" protes Ralin.
"Dia yang aku maksud itu, perumpamaan untuk kata ganti istri" jawab Raksa.
"Bukan dia, tapi aku. Ralinka"
"Iya" Raksa mengalah.
Ralin terkekeh, dirinya senang melihat Raksa menyerah dan mengalah saat mereka mulai mendebatkan hal hal kecil.
Beberapa menit berlalu, Ralin mulai jenuh karena disuruh menunggu saja di meja makan. Rasanya seperti tak berguna disana. Seharusnya Ralin yang memasak, tapi apa daya, dirinya tak bisa memasak. Bahkan menggoreng telur saja, Ralin takut jika terciprat minyak.
Profesinya sebagai seorang model, membuatnya tak bisa untuk menyentuh segala macam pekerjaan sekecil apapun. Ralin dituntut untuk menjaga tubuhnya. Tak boleh ada kekurangan maupun kelebihan yang akan mempengaruhi penampilannya nanti, karena didepan kamera, Ralin harus terlihat sempurna.
Senyumnya mengembang ketika melihat Raksa datang dengan dua porsi piring dikedua tangannya. Ralin dapat mencium aroma sedap dari masakan Raksa. Kemampuan memasak laki laki itu tidak diragukan lagi. Raksa adalah definisi paket komplit seorang laki laki.
"Vodka, tequila, wine, wiski, beer atau apa?" tanya Ralin mengangkat beberapa botol minuman beralkohol yang dirinya sebutkan barusan.
Raksa yang sedang sibuk dengan hidangan didepannya, langsung saja melotot tak percaya. Bagaimana bisa Ralin mengoleksi minuman minuman seperti itu? yang benar saja! Bahkan Raksa saja belum pernah meminumnya.
"Aku nggak minum, Ra" tolaknya.
Ralin terkekeh, Raksa nya memang terlalu lugu.
"Kenapa? Ini rendah alkohol, Raksa"
Raksa menggeleng, laki laki itu terlihat tidak suka. Ralin menyerah untuk memaksanya. Bukannya Ralin takut, dirinya hanya tak ingin Raksa tak nyaman.
"Ada susu, teh, sirup, dan beberapa buah kalau kamu mau bikin jus" kata Ralin sibuk menuangkan tequila rose ke dalam gelas kacanya.
"Air putih saja"
__ADS_1
"Terserah" sahut Ralin malas. Raksa benar benar tidak asyik.
Keduanya sama sama diam saat menyantap makanan mereka. Ralin menikmati masakan Raksa. Ternyata Bakmi jawa lebih enak daripada spageti.
Raksa senang melihat Ralin begitu menikmati masakan buatannya. Ada kepuasan tersendiri saat melihat wanita itu melahap makanannya dengan sangat antusias. Usahanya didapur tadi seolah terbalaskan.
Lama dilanda keheningan, akhirnya Raksa membuka suara. Raksa penasaran seperti apa wanita itu. Saat mengetahui satu fakta bahwa Ralin mengkonsumsi alkohol, membuat Raksa bertanya tanya seperti apa kehidupan pribadi Ralin?.
"Ra" panggilnya, membuat Ralin bergumam sembari menoleh kearah Raksa.
"Boleh aku tahu tentang kamu?"
Ralin diam, tak tahu harus menjawab apa. Ralin tak ingin menceritakan apapun. Dirinya belum siap, membuka lukanya kepada siapapun termasuk Raksa.
"Tentang apa? Nggak ada yang menarik"
"Apa aja. Aku mau dengerin kamu"
Ralin menghentikan aktivitas makannya. Ditenggaknya segelas tequila dingin dengan begitu terburu buru. Ralin tak suka dengan topik pembicaraan ini.
"Jangan menuntut, Raksa!" kata Ralin dingin.
Raksa tak tahu kenapa Ralin marah. Memangnya kenapa kalau dirinya ingin mendengar cerita dari kekasihnya?. Raksa selalu terbuka jika Ralin bertanya, tetapi kenapa wanita itu menutup dirinya sendiri dan tak ingin didengar?.
Raksa mengangguk mengiyakan, dirinya mengerti bahwa tak seharusnya Raksa memaksa Ralin bercerita. Raksa akan menunggu sampai saatnya nanti Ralin akan terbuka dengan sendirinya tanpa harus diminta.
Selalu seperti ini, setelah perdebatan yang sedikit memanas, keduanya selalu diam dan suasana malah berubah canggung.
"Kamu marah?" tanya Ralin merasa tidak enak hati.
"Enggak, Ra"
Ralin mengangguk. Dirinya tak berniat untuk sekadar memastikan bahwa Raksa benar benar marah atau tidak.
"Aku nggak akan lagi maksa kamu untuk cerita atau terbuka sama aku, tapi satu hal yang harus kamu tahu, Ra. Kebohongan ataupun penghianatan bukanlah hal yang mudah untuk aku maafkan" jelas Raksa bersungguh sungguh. Laki laki itu tidak main main dengan perkataannya.
__ADS_1
Sekali dirinya menaruh kepercayaan, bila dirusak. Untuk yang kedua kalinya jangan harap keadaan akan kembali seperti sedia kala. Penghianatan hanya dilakukan oleh orang orang rendahan, dan dimaklumi oleh orang orang berengsek.