Cinta Laki Laki Biasa

Cinta Laki Laki Biasa
Fobia ketinggian


__ADS_3

Sore ini sesuai janjinya kepada Ralin, Raksa akan mengajaknya keluar. Sebenarnya Raksa belum pernah berpacaran, jadi dirinya sedikit bingung bagaimana caranya untuk menyenangkan pasangannya. Ralin adalah wanita pertama yang menjadi kekasihnya. Meski bukan cinta pertamanya.


Baru saja Raksa ingin menjemput Ralin, wanita itu sudah lebih dahulu datang menghampiri ditempat kerjanya. Ralin membawa mobilnya. Wanita itu terlihat cantik dengan setelan yang lebih tertutup dari biasanya. Jeans boyfriend dengan hoodie kebesaran yang tampak fashionable ditubuh rampingnya. Penampilannya lebih natural dari biasanya. Ralin seperti bukan dirinya sendiri.


Dilemparkannya kunci mobil itu kepada Raksa, Ralin ingin Raksa yang membawanya. Wanita itu terkekeh menyadari tatapan Raksa tak habis habis memperhatikan penampilannya.


"Kamu bisa nyetir mobil kan?" Raksa mengangguk kecil.


Dulu, Raksa pernah menjadi sopir pengantar barang dipasar. Waktu itu dirinya masih bersekolah, tetapi dirinya dituntut untuk bisa bekerja untuk biaya hidupnya.


Hidupnya yang keras memaksanya untuk bisa melakukan segala sesuatunya. Raksa bukan laki laki manja yang hanya mengandalkan bantuan orang lain. Tipikal laki laki pekerja keras dan pantang menyerah.


Didalam mobil, Ralin terus memperhatikan penampilan Raksa. Laki laki itu begitu sederhana dan apa adanya. Setelan kaos pendek hitam dengan celana jeans saja sudah mampu membuatnya terlihat berkali kali lebih tampan.


"Kamu nggak kayak biasanya, Ra. Penampilan kamu, jauh lebih santai" kata Raksa membuka pembicaraan.


"Kamu nggak suka?" tanya Ralin mengujinya.


"Aku lebih suka kamu seperti ini, sederhana dan lebih tertutup. Jadilah dirimu sendiri ya, Ra, ketika bersama aku. Aku lebih suka kamu jujur dari pada harus berbohong, sekecil apapun itu" Raksa tersenyum, tangannya mengusap kepala Ralin lembut. Ralin sudah seperti anak kucing yang nyaman dibelai pemiliknya.


Ralin mengangguk, hatinya menghangat mendengar penuturan Raksa. Laki laki itu mendukung apapun pilihannya. Raksa terlihat begitu tulus, tidak salah dirinya mencintai laki laki itu. Raksa dan pemikirannya, Ralin suka.


"Kata Andre, didekat sini ada pasar malam. Gimana kalo kita kesana?" tanya Raksa ragu. Sejujurnya Raksa tidak percaya diri untuk mengajak Ralin ke tempat tempat pinggiran. Raksa pikir, Ralin terbiasa hidup dengan banyak uang, wanita itu pasti lebih sering makan malam di restoran mewah atau pun belanja dimall. Seperti halnya orang kaya lainnya.


"Jangan mikir aneh aneh, deh, Sa. Aku bukan orang yang mempermasalahkan status sosial" kata Ralin seolah bisa membaca pikiran Raksa. Ralin tahu laki laki itu tidak percaya diri dengan apa yang dirinya miliki, tapi Ralin tidak peduli, baginya materi tidak lebih penting dari perhatian yang laki laki itu berikan.

__ADS_1


Raksa mengangguk mengiyakan, ketakutannya tidak mendasar, karena pada nyatanya Ralin tidak mempermasalahkan perbedaan status sosial mereka. Ralin lega mendengarnya, meski begitu dirinya akan lebih bekerja keras lagi supaya bisa membahagiakan wanita itu. Pada dasarnya seorang laki laki nantinya adalah seorang kepala keluarga, sudah menjadi kewajiban seorang laki laki untuk bisa menafkahi istrinya secara lahir maupun batin.


Suasana pasar malam terasa begitu ramai. Ralin tahu ditempat ini privasinya aman, tetapi tetap saja dirinya harus berjaga jaga seperti kata Andini. Ralin tidak mau privasinya terekspos. Wanita itu mengenakan maskernya, menutupi sebagian wajahnya.


Raksa yang melihat itu mengernyitkan dahinya bingung. Ralin seperti tidak ingin dilihat orang. Raksa tahu itu.


"Kita nggak papa disini? atau mending kita cari tempat lain yang lebih privat?" tanya Raksa cemas, laki laki itu khawatir jika hal ini malah berdampak buruk pada karir wanita itu.


Ralin menolaknya, dirinya tak ingin membuang buang waktu. Seperti ini sudah lebih baik. Lagi pula ditempat seperti ini cukup mustahil bagi orang mengenalinya. Lampu lampu sekitar juga terlihat temaram dengan cahaya yang sedikit redup. Jadi seharusnya Ralin tak perlu khawatir.


"Maaf ya, Sa. Aku bikin kamu nggak nyaman begini" Ralin memeluknya, wanita itu merasa bersalah. Lagi pula mau bagaimana lagi, sudah resikonya bekerja sebagai model yang dikenal banyak orang.


Raksa mengangguk, tangannya menggenggam tangan Ralin, memberitahu wanita itu agar lebih tenang. Raksa tidak masalah jika hubungan mereka tidak bisa diumbar secara terang terangan. Raksa memaklumi jika hubungannya harus sembunyi sembunyi. Ini semua demi karir wanitanya. Raksa akan selalu mendukung yang terbaik untuk wanita itu.


Dari balik maskernya, Ralin tersenyum, berkali kali wanita itu tertawa. Hal hal kecil sekalipun, jika itu bersama Raksa, akan terasa sangat menyenangkan. Ralin mensyukuri itu.


"Kita naik bianglala yuk!" ajak Ralin kepada Raksa yang masih memperhatikan sekelilingnya.


Raksa diam, laki laki itu menatap ngeri ketinggian wahana yang baru saja Ralin sebutkan. Raksa takut ketinggian. Sedari kecil laki laki itu tidak pernah berani menaiki wahana tersebut.


Raksa menggeleng menolak ajakan Ralin.


"Aku takut, Ra. Ngeri bayanginnya" katanya bergidik ngeri.


"Kamu cemen ah, badan aja kayak sekuriti, tapi nyali hellokitty" bercanda.

__ADS_1


Raksa tidak terima dengan perkataan Ralin. Laki laki itu menyetujui ajakannya. Raksa tidak tahu kalau sebenarnya Ralin sengaja mengomporinya supaya mau menerima ajakannya. Raksa harus tahu, berada diatas ketinggian itu rasanya menyenangkan. Seolah sebagian beban dalam hidup kita dapat berkurang dengan menikmati pemandangan sekitar dari atas sana.


Kalian tahu apa yang membuat diri kalian merasa ragu dalam beberapa hal?


Ya, ketakutan kalian sendiri atas apa yang kalian pikirkan. Rasa takut itu pasti ada dalam diri setiap manusia. Tinggal bagaimana kita mencoba mananganinya. Jangan menjadi pengecut yang takut gagal sebelum mencoba. Segala sesuatunya pasti harus berproses.


Karena pada dasarnya kalian harus terbentur, terbentur dan terbentur terlebih dahulu sebelum akhirnya kalian akan terbentuk dengan sendirinya.


Dari atas sana Ralin melihat bagaimana Raksa meyakinkan dirinya sendiri. Tubuh laki laki itu bergetar, keringat dingin mulai merembes dari dahinya.


Digenggamnya tangan Raksa kuat, Ralin mencoba meyakinkan laki laki itu untuk percaya kepadanya. Raksa masih belum berani membuka matanya. Sampai akhirnya, kecupan singkat Ralin berikan pada kedua kelopak mata laki laki itu.


"Percaya deh, Sa. Ini indah banget"


Perlahan lahan tapi pasti, Raksa mencoba membuka matanya. Genggamannya ditangan Ralin semakin terasa kuat. Sebenarnya hal itu sedikit menyakiti punggung tangan wanita itu, tetapi Ralin memakluminya. Raksa takut dan Ralin hanya perlu menenangkannya.


Diedarkannya pandangan Raksa ke sisi kanan dan sisi kirinya. Terlihat gemerlap gedung perkotaan dengan lampu lampu yang menyinarinya. Benar kata Ralin, ini sangat menyenangkan.


Dari atas sana, Raksa bisa melihat banyak hal. Ternyata ketakutannya selama ini tidak seperti apa yang dirinya bayangkan.


Malam ini bersama wanita pertamanya, Raksa berhasil menghilangkan satu rasa takutnya. Kedepannya, Raksa berharap satu persatu rasa takutnya akan hilang.


Dan semua itu karena Ralinka.


Wanita pertama dan terakhir, setelah ibunya yang akan Raksa perjuangkan.

__ADS_1


__ADS_2